ISLAM


Oleh: Ahmad Saefudin

Bagaimana kita ber-Islam dengan baik? Pertanyaan ini muncul setelah saya membaca buku “Islamku, Islam Anda, Islam Kita” yang berisi kumpulan tulisan2 Gus Dur. Sekilas, terlihat ada pengotak2an istilah Islam dengan akhiran (ku, anda, kita). Perbedaan tersebut secara sederhana bisa dimaknai sebagai berikut:

ISLAMKU
Adalah Islam yang khas sesuai dengan pengalaman individu setiap muslim. Sifatnya sangat mempribadi dan sulit diseragamkan. Islamnya kaum santri (orang yang mempelajari Islam dari kultur pesantren) tentu mempunyai corak tersendiri (jika kita enggan menyebutnya berbeda) dengan Islamnya kalangan akademisi (yang mempelajari Islam dari lingkungan kampus).

Islamnya orang desa (sengaja menghindari kata “ndeso” agar tidak dikasuskan) dengan segala kesederhanaannya, sangat mungkin lain dari Islamnya kaum urban yang biasa hidup berkalang glamor. Gaya dakwah Islamnya Habib Luthfi bin Yahya berbeda dengan retorikanya Habib Rizieq Shihab dalam mengajak jamaahnya, meskipun sama2 bergelar habib. Islamnya NU Garis Lurus, tidak sama jika kita bandingkan Islamnya NU Garis Lucu, padahal sama2 NU.

Pemikiran Islamnya Buya Syafi’i Ma’arif kerapkali berseberangan dengan Yunahar Ilyas, walaupun keduanya berasal dari gerbong Muhammadiyah. Jadi, terdapat keunikan yang khas ketika kita ber-Islam dari sudut pandangan “Islamku”.

ISLAM ANDA
Basisnya ialah keyakinan yang sudah mentradisi dalam masyarakat. Yang namanya “yakin” pasti sulit untuk dibantah. Di dunia pesantren, misalnya, tidak penting, apakah budaya cium tangan seorang santri kepada kiainya benar2 berefek langsung pada kebermanfaatan ilmunya kelak, yang pasti di benak kaum santri sudah terbangun konsep “barokah”.

Memang tidak logis, ketika santri berebut minuman sisa kiai hanya untuk mengharapkan transmisi ilmu. Tetapi, fenomena ini sudah terlanjur diyakini, diamalkan, dan dipercayai secara kolektif sebagai sebuah kebenaran. Sehingga, logika yang disandarkan pada akal tersingkirkan oleh perasaan yakin yang bersumber dari hati.

Apakah itu tidak Islami? Takhayul? Bidengah? Kuropat? Yang harus dibasmi, disucikan, dan dimurnikan? Tidak. Itu jawabannya. Karena, santri tersebut sedang mempraktikkan cara ber-Islam versi “Islam Anda”.

ISLAM KITA
Islam yang dibingkai menggunakan terminologi “kita” diakui oleh Gus Dur sulit dirumuskan. Sebab, Islam Kita merupakan pertemuan antara “Islamku” yang berdasar atas pengalaman dengan “Islam Kita” yang berlandaskan keyakinan. Ketika tidak disikapi dengan arif oleh kaum muslimin, “Islam Kita” berpotensi memunculkan bibit2 perpecahan.

Seseorang yang sudah terlanjur kokoh memahami Islam dalam dimensi “Islamku” dan “Islam Anda” mustahil diintimidasi untuk mengikuti cara ber-Islam ala “kita”. Ironisnya, masih saja ada sebagian kecil kelompok yang menginginkan keseragaman dalam ber-Islam. Tentunya Islam versi mereka.

Mulai dari penampilan fisik. Harus semuanya berjenggot, berjubah, menghitamkan jidat, bercelana cingkrang, dan berhijab model “syar’i” (entah bagaimana standar bakunya). Kalau tidak, berarti bukan Islam yang ideal.

Dari gaya komunikasi, mereka lebih percaya diri mengunakan istilah2 Arab; ana, antum, akhi, ukhti, hijrah, Ahad, dll. Seakan2 arabisasi sama dengan Islamisasi. Padahal tidak. Bahkan yang paling naif, mereka mencoba menyeragamkan cara berpikir. Ini bagaimana urusannya. Islam itu, menurut mereka, harus kembali ke al-Qur’an-Sunnah dan berideologi khilafah. Mungkin mereka lupa, slogan “kembali ke al-Qur’an-Sunnah” hanyalah monopoli jargon, sebab hakikatnya ialah “kembali ke ‘tafsir mereka tentang’ al-Qur’an-Sunnah”. Bukan al-Qur’an-Sunnah itu sendiri.

Berat kawan! Bertemu orang yang susah diajak ngopi memang menjadi beban hidup tersendiri bagi kita. Diminta dialog malah ngajak ribut. Berbeda pendapat dianggap melawan. Terus? Apa saya harus ikut geng kalian? Sorry, ya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s