DULU DAN SEKARANG


Oleh: Ahmad Saefudin

Banyak keluhan dari teman2 mahasiswa era awal 2000-an tentang penurunan budaya akademik. Ukuran penilaian yang biasa dipakai adalah instrumen perbandingan antara zaman mereka dengan kebiasaan iklim kampus masa kini.

Dulu, mahasiswa demo di jalan melawan rezim subversif bermodal idealisme. Sekarang, demo hanya untuk gagah2an. Massa yang ikut seupil dan target aksi tidak membumi.

Dulu, mahasiswa rajin membaca buku. Di perpustakaan, parkiran, kelas, kantin, basecamp organ kemahasiswaan, dan di sudut2 strategis kampus. Buku menjadi teman nongkrong dan ngopi. Sekarang, mahasiswa yang doyan baca bisa dihitung dengan jari. Kita tidak bisa membedakan, mahasiswa yang berkacamata sebab kutu buku, atau memang hanya pelampiasan “lifestyle”.

Dulu, mahasiswa gemar berdiskusi. Mulai obrolan ringan tentang kesamaan hobi, aktivitas harian, hingga topik2 berat mengenai kebijakan kampus, kondisi kebangsaan terkini, dan isu2 populis yang dianggap krusial. Sekarang, kegemaran diskusi berubah menjadi komunitas “gosip” pinggiran. Obrolan yang muncul tidak pernah keluar dari tema pinggiran. Misalnya, cara mengajar dosen yang “killer”, judul lagu yang lagi “hitz”, model tas dan hijab terbaru, dan gosip perselingkuhan antara dosen dari fakultas A dengan mahasiswa berondongnya. Tidak ada obrolan substantif yang berhubungan dengan mata kuliah.

Dulu, mahasiswa kuliah dengan cucuran keringat. Waktu di luar kampus dihabiskan untuk bekerja keras supaya SPP terbayar sesuai jadwal. Sekarang, mahasiswa tinggal “ongkang2” menunggu transferan dari orang tua. Mungkin mereka tidak tahu, apa yang mereka makan, uang jajan harian, biaya kost bulanan, semua itu ditebus dengan kisah2 perjuangan heroik orang tua. Siapa yang peduli ketika keluarga di rumah jungkir balik, menggadaikan sertifikat tanah, meng-uangkan simpanan kalung “mahar” dari suami, kerja pagi pulang pagi, pinjam uang sana-sini, supaya anak mereka dirantau tidak kehabisan bekal.

Dulu adalah sejarah. Sekarang adalah realita. Bisakah mahasiswa sekarang mengambil hikmah dari cerita yang dulu2 itu? Entahlah! Saya kan bukan mahasiswa. Ditinggal nyanyi aja, cin! Lagu favorit zaman dulu. Semasa mahasiswa. He..He..

Foto Ahmad Saefudin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s