NASIHAT BAPAK


NASIHAT BAPAK

Oleh: Ahmad Saefudin

Hidup itu misteri. Sama seperti mati. Kemarin masih bergelimang harta. Sekarang menderita. Esok yang tahu siapa. Lusa juga begitu adanya. Kemarin memegang cangkul sebagai senjata. Bercucur keringat melawan terik. Kini berbekal pena. Bekerja di balik kursi. Berdasi rapi. Esok tersangka korupsi. Lusa masuk bui. Kemarin masih tertawa di depan televisi. Wawancara seputar kampanye dan janji-janji. Mengulas strategi. Menduduki jabatan suci. Pemangku negeri. Kini pesta demokrasi. hiruk pikuk survei menjadi-jadi. Menempatkan sang calon dalam urutan tertinggi. Besok ternyata tidak jadi. Tetap tak tahu malu di depan televisi. Mengincar posisi menteri. Melebur dalam koalisi.

Tahukah kawan? Apa yang tidak berubah? Bapakku. Yah! Bapakku! Meskipun rezim silih berganti. Bapakku masih saja bertani. Berangkat pagi. Sawah ladang disiangi. Berharap kepada serumpun padi. Murah mahal tidak jadi soal. Bapakku terus saja menanam. Menanam dan menanam lagi. Hingga pulang di sore hari.

Menunggu senja Bapakku selalu menyempatkan diri. Menonton televisi. Berteman secangkir kopi. Melihat tingkah polah elit di Jakarta sana. Politisi rebutan kursi. Entah paham atau tidak, Bapakku melayang pandang. Matanya menerawang. Ternyata, politisi yang dianggapnya kyai, juga tersandung skandal korupsi. Korupsi dana haji. Kendati kaget setengah mati. Esoknya Bapakku tetap bertani. Berangkat pagi. Sawah ladang disiangi. Berharap kepada serumpun padi. Murah mahal tidak jadi soal. Bapakku terus saja menanam. Menanam dan menanam lagi. Hingga pulang di sore hari.

Suatu malam, di depan televisi yang belum mati, Bapakku menasihati, “Nak! Kalau tidak mau dibui karena korupsi, jadilah petani. Jangan jadi politisi.” Anak yang berbakti, tidak berani bertanya lagi. Hanya bisa mengamini. Bapakku bicara lagi, “Tapi bukan petani seperti Bapak! Berangkat pagi, pulang sore hari, tetap saja begini. Kuliah yang tinggi. Bukan untuk jadi apa-apa. Cukup jadi manusia yang berhati. Kalaupun jadi politisi, jangan sampai korupsi! Biar setiap sore, kuburan Bapak kelak tidak pernah sepi. Selalu Kamu ziarahi.”

Yogyakarta, 24 Mei 2014

Dari Anak seorang Petani!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s