BUKAN AGAMA, TAPI EKONOMI: CATATAN KECIL TENTANG KARL MARX


BUKAN AGAMA, TAPI EKONOMI: CATATAN KECIL TENTANG KARL MARX

Oleh: Ahmad Saefudin

Sebelum membaca Seven Theories of Religion dari Daniel L. Pals, mendengar kata “Marx” sontak yang muncul dalam benak dapat dipastikan hanyalah berputar pada istilah ateis, komunis, dan anti agama. Satu maklumat penting yang sulit terhapus dari Marx ialah komentarnya tentang agama sebagai candu masyarakat. Tetapi, setelah menelusuri lembar demi lembar eksplanasi yang dituangkan L. Pals, pemahaman tentang “Marx” mengalami surplus –setidaknya perbendaharaan terma-terma baru- sehingga sisi-sisi eksotis dari gagasan besar marxisme kian terang benderang.

Akumulasi terminologi baru itu sekurang-kurangnya terletak pada teori nilai surplus (surplus of value), basis-superstruktur, alienasi, perspektif lain tentang komunisme, agama, dan ekonomi. Nilai surplus dikaitkan dengan praktik relasi antara buruh (proletar) dengan majikan (borjuis). Proses pertukaran hasil produksi yang pada awalnya menjunjung prinsip kesetaraan, lambat laun terganyang oleh ideologi kapitalistik dengan visi utama meraih untung sebanyak-banyaknya. Majikan menindas buruh melalui pemberian upah yang tidak sebanding dengan proses dan hasil kerjanya. Jasa tenaga sebagai wujud nilai surplus buruh dieksploitasi sedemikian rupa sehingga kehidupan mereka menderita berbanding seratus delapan puluh derajat dengan status majikan yang semakin melejit akibat dari pundi-pundi kapital yang terus menumpuk. Kaum proletar tidak akan pernah mampu memperbaiki nasib mereka, tanpa gerakan revolusioner berbasis komunal untuk merebut hak-hak mereka yang telah dizalimi. Satu-satunya jalan ialah dengan kekerasan, sebab kaum borjuis mustahil mau menyerahkan secara sukarela apa yang mereka miliki. Pasca kondisi chaos tersebut, zaman akan berubah menjadi lebih baik, nyaman, dan damai. Transisi dari chaos menuju masa penuh kedamaian itu diisi oleh kepemimpinan diktator proletariat sampai benar-benar terwujud masyarakat tanpa kelas.

Akar historis gagasan-gagasan brilian Marx tidak bisa lepas dari pemikiran Hegel yang mengintrodusir teori idealisme dialektika. Menurut Hegel, pertarungan antara tesis, antitesis, dan sintesis berlangsung terus menerus dalam sejarah kehidupan manusia, -yang juga diadopsi oleh Marx-. Namun, Hegel lebih mengutamakan konflik tak berujung ini pada dataran ideasional, sedangkan Marx cenderung menitikberatkan pada wilayah materi (materialisme dialektika).

Dalam konteks beragama, Marx menyatakan dirinya sebagai seorang ateis yang sama sekali tidak percaya terhadap konsep Tuhan (Yang Absolut). Agama, yang bagi mayoritas manusia dianggap sebagai media penghubung antara manusia dengan Yang Absolut, menurut Marx hanyalah sebuah ilusi dan lambang kekecewaan atas kekalahan manusia dalam perjuangan kelas. Manusia yang tidak mampu menguasai ekonomi sebagai basis (pondasi) masyarakat merasa terasing (alienasi). Mereka melampiaskan kekecewaanya dengan mengalihkan perhatian kepada agama. Janji-janji manis agama tentang pahala, surga, bidadari, dan kenikmatan-kenikmatan yang lebih hakiki kelak di alam sana, membuat manusia sedikit lupa dengan permasalahan sebenarnya, misalnya kemiskinan. Padahal, semua itu adalah fantasi semu. Sejatinya, bukan agama –yang diposisikan Marx sebagai superstruktur masyarakat- yang dapat menyelesaikan problem kemanusiaan, melainkan ekonomi. Mudahnya, jika manusia sudah tercukupi secara ekonomis, maka tidak lagi memerlukan agama. Dengan logika terbalik, manusia butuh agama ketika himpitan ekonomi melanda. Kemiskinan mendorong manusia untuk lebih dekat dekat Tuhan, sering merapal doa dan lebih khusyu’ menjalankan ritual keagamaan. Ketika kaya, lupa segalanya, seolah agama tidak pernah ada.

Asumsi di atas ada benarnya. Tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Jika memang ekonomi menjadi faktor utama persoalan manusia, mengapa masih ada frustasi, depresi, bahkan kasus bunuh diri pada kalangan orang-orang berharta? Kita juga sering melihat orang kaya yang masih rajin ke masjid dan gereja. Berarti fenomena itu sudah cukup untuk menjadi dalil bahwa teori yang diusung Marx tentang determinisme ekonomi tidak sepenuhnya berlaku dalam realitas sosial. Terlepas dari berbagai kritik yang terlontar, kita sebagai Muslim juga tidak perlu malu dan harus jujur untuk mengakui bahwa pemikiran Karl Marx memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap perkembangan peradaban dunia. Sedangkan kita? Wallahu a’lamu bi al-shawab.[]

Yogyakarta, 24 April 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s