AGAMA MASYARAKAT; ANTARA “YANG SAKRAL” DAN “YANG PROFAN”


AGAMA MASYARAKAT; ANTARA “YANG SAKRAL” DAN “YANG PROFAN”

Oleh: Ahmad Saefudin

The Elementary Forms (1912) merupakan hasil pemikiran Emile Durkheim tentang agama yang berbeda dengan teori-teori yang muncul sebelumnya. Jika Taylor, Frazer, dan Freud memandang agama sebagai kepercayaan kepada kekuatan supernatural, maka tidak bagi Durkheim. Baginya, masyarakat sama sekali tidak sempat berpikir dikotomis antara dunia natural dan supernatural, tetapi lebih kepada konsep tentang “Yang Sakral” dan “Yang Profan”. Istilah pertama dimaknai sebagai sesuatu yang superior, berkuasa, dan selalu dihormati, sedangkan yang kedua merupakan bagian dari kehidupan keseharian yang bersifat biasa-biasa saja. Agama selalu dikaitkan dengan “Yang Sakral” yang memiliki pengaruh luas dan menentukan kesejahteraan seluruh anggota masyarakat. Durkheim tidak memposisikan agama sebagai pengganti jalan “magis” –sebagaimana kepercayaan Frazer- untuk menjelaskan cara kerja alam. Agama dan magis memiliki konsentrasi yang berbeda. Magis berkaitan dengan urusan-urusan yang bersifat pribadi dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan “Yang Sakral” seperti juga agama yang identik dengan wilayah-wilayah sosial.

Dalam pengamatannya terhadap Suku Aborigin di Australia, Durkheim menyimpulkan bahwa praktik totemisme –simbolisasi kekuatan gaib yang disembah oleh masyarakat- merupakan bentuk agama yang paling simpel, dasar, dan asli. Totem juga dianggap sebagai gambaran nyata sebuah klan. Totem adalah simbol klan dan tuhan sekaligus, karena tuhan dan klan pada dasarnya adalah hal yang sama. Penyembahan terhadap tuhan atau dewa-dewa sebenarnya adalah wujud ekspresi masyarakat primitif untuk memperkuat kepercayaan mereka kepada klan. Caranya ialah dengan melakukan ritual-ritual komunal. Dalam upacara besar, masyarakat penganut agama totem menyatakan kesetiaannya kepada klan. Segala yang bersifat privasi (Yang Profan) ditenggelamkan ke dalam diri yang tunggal dari masyarakat. Dengan begitu, individu akan mengingat kelemahannya sehingga dengan penuh kesadaran menggabungkan identitas diri mereka ke dalam diri klan yang lebih besar. Dari upacara ritual inilah mereka mendapatkan energi, antusiasme, kenyamanan, komitmen pribadi, dan merasa terlindungi. Tujuan utama totemisme adalah untuk menyatakan kesalingterkaitan berbagai hal, hubungan-hubungan yang sangat rumit yang mengikat seseorang dengan orang lain di dalam klan, kaitan klan dengan alam fisik, dan kaitan antara berbagai fenomena alam itu sendiri yang pada akhirnya berpengaruh pada perkembangan bahasa, penalaran, dan ilmu pengetahuan.

Dalam praktik totemisme, bentuk pemujaan dapat dibagi menjadi tiga bentuk, yaitu negatif, positif, dan piacular. Pemujaan negatif ialah pemujaan yang bertujuan menjaga Yang Sakral agar selalu terpisah dengan Yang Profan. Biasanya berisi larangan-larangan (taboo) seperti berhubungan seks, mengkonsumsi makanan yang enak, serta kemewahan yang lain. Pemujaan positif atau yang disebut dengan intichiuma merupakan sebuah “pertukaran sakral” di mana masyarakat menyerahkan hidup mereka kepada tuhan kemudian tuhan memberikannya kepada mereka kembali. Dengan memakan daging totem –setelah sebelumnya melakukan ikrar penyerahan terhadap klan-, setiap orang menerima kembali pancaran kekuatan ilahiyah dalam jiwa mereka. Inti dari pemujaan terhadap totem sesungguhnya adalah pernyataan kesetiaan pada klan dan memakan totem adalah penegasan dan bantuan kepada kelompok yang dengan sendirinya melambangkan keutamaan kepentingan klan daripada kepentingan individu. Fungsi ritual keagamaan yang jauh lebih penting daripada sekedar keyakinan memberikan kesempatan bagi setiap anggota masyarakat untuk memperbaharui komitmen mereka kepada komunitas, mengingatkan bahwa dalam keadaan apapun, diri mereka akan selalu bergantung pada masyarakat. Ritual terakhir (piacular) ialah ritual yang dilakukan untuk menebus kesalahan atau karena duka cita, yang biasanya dilaksanakan setelah kematian seseorang atau setelah terjadinya bencana besar. Ketika seseorang meninggal, bukan berarti keluarga yang ditinggalkan saja yang merasa kehilangan, tapi seluruh klan merasakan dampaknya. Akibat kehilangan salah satu anggotanya, kurang pula satu bagian kekuatan klan tersebut. Pemujaan dimaksudkan untuk mengembalikan spirit dan kekuatan klan yang sempat terguncang akibat peristiwa kematian tersebut.

Jadi, agama menurut Durkheim berfungsi sebagai pembangkit perasaan sosial, memberikan simbol dan ritual-ritual yang memungkinkan masyarakat mengekspresikan perasaan mereka yang selalu terikat dengan komunitasnya. Agama tidak ada kaitannya dengan “sesuatu yang ada di luar dunia”. Wallahu a’lamu bi al-shawab.[]

Yogyakarta, 10 April 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s