MENYEMAI BENIH KEBENARAN DALAM STUDI KEISLAMAN KLASIK


 MENYEMAI BENIH KEBENARAN DALAM STUDI KEISLAMAN KLASIK

Oleh: Ahmad Saefudin

Dalam studi keislaman klasik, nalar bayani (bahasa/teks) pernah merajai cara pandang para pemikir Muslim. Ilmu gramatika Bahasa Arab seperti nahwu, sharaf, balaghah dan sejenisnya menjadi syarat mutlak yang wajib dikuasai oleh siapapun yang ingin bergulat dengan pemahaman teks wahyu Tuhan. Esensi makna di balik teks akan terkuak oleh kecakapan berbahasa (baca: Arab). Padahal, bahasa –tanpa bermaksud membuat enteng- rentan dengan keterbatasan. Paling tidak (Muhammad Abed al-Jabiri, 2003) bahasa memiliki peran mendasar dalam membatasi pandangan dan konsepsi manusia terhadap alam baik secara general maupun partikular. Apalagi ketika bahasa dijadikan alat analisis untuk mengetahui maksud Tuhan di balik kalam-Nya. Tentunya, masih terdapat banyak kelemahan. Meskipun tidak kita pungkiri, mau tidak mau harus sering bersinggungan dengan seperangkat disiplin ilmu kebahasaan, terutama Bahasa Arab, ketika berinteraksi dengan teks al-Qur’an.

Oleh karena itu, nalar bayani hendaknya ditopang kuat oleh nalar burhani (logika/akal) dan nalar ‘irfani (intuisi/ilham). Nalar burhani telah melahirkan banyak filosof Muslim dengan berbagai penemuan mutakhir pada zamannya seperti al-Kindi dan al-Farabi. Logika sebagai warisan peradaban Yunani –dengan Aristoteles sebagai penyokongnya- telah dielaborasi dua pemikir Muslim di atas sehingga mengintrodusir umat Islam untuk mendalami ilmu-ilmu alam. Sebagaimana paparan al-Jabiri, al-Kindi mengadopsi asumsi keagamaan melalui pernyataan “barunya alam”. Argumentasinya ialah isi atau volume alam adalah terbatas, waktu juga terbatas, dan gerak pun demikian. Kesimpulan dari “barunya alam” dimaksudkan bahwa Allah menciptakannya dari ketiadaan dan tanpa perantara. Allah adalah “sebab pertama yang tidak ada sebab lagi di atasnya”. Urgensi logika dalam mempengaruhi corak pemikiran Islam pada zaman abad pertengahan semakin kentara saat al-Farabi mengemukakan, “pendapat-pendapat yang ada dalam agama, menemukan dalil dan buktinya dalam filsafat teoritis”.

Ternyata, kebenaran agama tidak melulu bergantung pada wujud lahiriah teks, tetapi juga perlu memasukkan dimensi burhan (akal) sebagai perangkat pertimbangan. Toh, bayani dan burhani saja tidak cukup. Unsur irfani juga memiliki peran yang tidak sedikit, terutama ketika dihadapkan pada sebuah kasuistik, di mana teks dan daya logis manusia tidak mampu lagi berbicara banyak. Para sufi merupakan representasi dari optimalisasi nalar irfani. Landasan kebenaran bersumber pada lantunan intuitif mata batinnya. Mungkin saja, sesuatu yang sudah (dianggap) “benar” oleh nalar bayani dan burhani, hakikatnya hanyalah kebenaran artifisial yang belum menyentuh substansi. Terma manunggaling kawula gusti, wihdat al wujud, mahabbah, dzauq, kassyaf, ma’rifat adalah sedikit contoh dari konstruksi pemikiran kaum sufi dalam menjalin relasi seorang hamba terhadap Tuhannya.

Dunia tasawuf memang bukan segalanya untuk menyingkap kebenaran. Lebih-lebih, di tengah kultur ilmiah yang dibangun atas pondasi materialisme-positivistik, perkembangan Ilmu Tasawuf mengalami stagnasi. Tasawuf semakin eksklusif. Tasawuf abai dengan realitas sosial. Tasawuf terjebak pada kepentingan individualistik; antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Segmentasi kajian sufistik didominasi kaum tua, komunitas kaum uzur yang entah berapa lama lagi akan hidup di dunia. Sementara kaum muda yang digadang-gadang menjadi tonggak peradaban suatu bangsa, tetap asyik terninabobok-an oleh budaya hedon. Budaya kelezatan sesaat tanpa kesejatian. Entah kapan nalar bayani, burhani, dan ‘irfani bisa ditempatkan pada konteks yang tepat dalam menyemai benih kebenaran? Wallahu a’lamu bi al-shawab.[]

Yogyakarta, 13 Maret 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s