NALAR “ISLAM PRIBUMI”; COUNTER HEGEMONI ATAS FORMASI NALAR ARAB


NALAR “ISLAM PRIBUMI”; COUNTER HEGEMONI ATAS FORMASI NALAR ARAB

Oleh: Ahmad Saefudin

“Berpikir Islam” tidak akan pernah lepas dari konteks sejarah dan budaya. Pemahaman “Islam” yang “sebenarnya” bergerak dinamis seiring dengan konstruksi nalar dalam menyerap pengetahuan. Pemikiran tentang “Islam” -sebagai doktrin maupun agama- terhampar dalam bentangan geografis yang amat luas, bukan lagi didominasi oleh kultur masyarakat tertentu. Counter Hegemoni terhadap formasi Nalar Arab sebagai genealogi peradaban Islam datang dari pemikir-pemikir Muslim kontemporer baik yang berlatar intelektual Arab atau non-Arab.

Di Indonesia, gagasan “Islam Pribumi” kian nyaring terdengar untuk merespons corak Islam kearab-araban yang sering melakukan ekspansi intelektual melalui Gerakan Islam Transnasional. Bagi pejuang “Islam Pribumi” (M. Imdadun Rahmat, 2003), jargon “Islam Kaffah” bukan dimaknai sebagai realisasi pengislaman seluruh sistem hidup, ekonomi, masyarakat, negara lengkap dengan bentuk dan simbolnya, melainkan Islam yang kontekstual, toleran, progresif, membebaskan, dan menghargai tradisi. Kualitas keislaman seseorang terlalu murah jika digadaikan dengan simbol terminologis semacam jubah, serban, jenggot, jidat hitam, celana cingkrang, khilafah, penegakan syariat, dan wacana kearab-araban lainnya. Islam bukanlah Arab dan Arab belum tentu merepresentasikan nilai-nilai keislaman. Arab hanyalah satu dimensi untuk memahami Islam. Dimensi lain masih perlu kita gali sebagai tool of analize untuk membedah otentisitas Islam.

Salah satu pemikir Muslim Nusantara yang siap berkelahi dengan penentang ide “Pribumisasi Islam” ialah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Pendekar Pluralisme dari Nahdlatul Ulama (NU) ini menilai bahwa citra Islam ditampilkan ke ranah publik melalui tiga pendekatan (Abdurrahman Wahid, 1993). Pertama, pendekatan sosial politik. Watak ideologis Islam harus terwakili dalam sistem kekuasaan yang ada. Kepentingan Islam adalah kredonya dan solidaritas Islam adalah pengikatnya. Orang yang masuk dalam golongan ini rentan dengan sikap eksklusif dan cenderung menyandarkan ideologi politiknya pada partai-partai yang menggembar-gemborkan Islam sebagai asasnya. Kedua, pendekatan kultural semata-mata. Perwujudan Islam ditampakkan dalam kehidupan sehari-hari, tanpa terkait dengan kelembagaan apapun, kecuali dalam penyebaran Islam secara budaya sendiri. Namun, coraknya yang semula inklusif bisa berubah ketika terjadi konflik internal antaranggotanya, terutama perseteruan antara kelompok yang pro dan yang kontra dengan sistem kekuasaan. Mereka pun saling menyalahkan satu sama lain. Akhirnya, kelompok yang menggunakan pendekatan kedua ini, bagi Gus Dur tidak lebih baik dari kelompok pertama. Ketiga, pendekatan sosio-kultural. Pendekatan ini mementingkan aktivitas budaya dalam konteks pengembangan lembaga-lembaga yang dapat mendorong transformasi sistem sosial secara evolutif dan gradual. Sasaran perubahan bukan pada sistem pemerintahan atau sistem politik, tapi pada sub-sub sistemnya. Pendek kata, Islam tidak harus diwujudkan dalam bentuk pemerintahan sebuah Negara.

Nalar Arab (Muhammad Abed al-Jabiri, 2003) dalam posisinya sebagai nalar dominan yang ditopang oleh asas-asas dan kaidah yang mendasari pengetahuan dalam kebudayaan Arab seyogyanya ditempatkan pada konteks yang tepat. Belum tentu, Nalar Arab sesuai dengan Nalar “Islam Pribumi” di Indonesia yang plural, majemuk, dan multietnis. Nalar Arab semata-mata sebuah perangkat pemikiran untuk menelurkan produk-produk teoritis yang dibentuk oleh suatu kebudayaan, yakni kebudayaan Arab. Sedangkan, kita mempunyai karakteristik budaya berbeda, yaitu kebudayaan Indonesia dengan keanekaragamannya. Budaya Arab tidak mengenal wayang sebagai media dakwah penyebaran Islam seperti yang dipraktikkan Sunan Kalijaga. Bukan budaya Arab yang membangun peradaban santri yang kelak berperan penting dalam proses Islamisasi Pribumi Nusantara. Budaya Arab tidak pernah mengalami kegemilangan kerajaan-kerajaan besar berpengaruh pada zamannya seperti Sriwijaya dan Majapahit. Lantas untuk apa memaksakan Nalar Arab ke benak kita? Tidakkah Nalar Islam Pribumi lebih akomodatif? Wallahu a’lamu bi al-shawab.[]

Yogyakarta, 6 Maret 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s