MEMBINGKAI ISLAM SUBSTANTIF; SEBUAH CATATAN KRITIS


MEMBINGKAI ISLAM SUBSTANTIF; SEBUAH CATATAN KRITIS

Oleh: Ahmad Saefudin

Para teorisi Islam, baik yang lahir dari rahim Islam itu sendiri, maupun mereka yang mengkaji Islam dari sudut pandang “the others” yang dikenal dengan orientalis, ketika membingkai “Islam” (sengaja diberi tanda kutip) dalam pergulatan diskursus akademik (Islamic Studies) meniscayakan pendekatan multidisipliner keilmuan. Setidaknya, “Islam” bukan saja dilihat dari dimensi keyakinan teologis (iman) yang bersifat individualistik, tetapi juga merambah kepada aspek ritus keseharian yang diformulasikan dalam simbol formal agama sebagai institusi. Selain itu, “Islam” juga bisa dipahami sebagai objek kajian epistemologis yang saling berdialektika memunculkan khazanah intelektual.

M. Amin Abdullah (1996) misalnya, memandang “Islam” dari sisi normativitas dan historisitasnya. Titik tekan “Islam normatif” terletak pada ranah doktrinal yang direpresentasikan oleh wahyu. Interpretasi Kalam Tuhan bercorak skriptualis tanpa memperhitungkan konteks ruang dan waktu. Dalam perspektif demikian, “Islam” seolah-olah sudah paten dan tidak bisa diotak-atik lagi. Akal sebagai ujung tombak pengetahuan manusia yang profan, mustahil menjangkau matra Tuhan yang sakral. Meskipun Amin Abdullah tidak bermaksud mendudukkan aspek normativitas-historisitas secara diametral, namun tersirat bisa dipahami bahwa cara pandang “Islam normatif” berbeda seratus delapan puluh derajat dengan “Islam historis”. Haluan kedua ini tidak resisten terhadap pendekatan-pendekatan lain dalam upaya memaknai dan membingkai “Islam” substantif, seperti latar sejarah, setting sosiologis, antropologis, dan lain-lain. Sehingga, “Islam” bukanlah entitas eksklusif bagi kalangan tertentu, melainkan petunjuk universal yang bercorak visioner (rahmatan lil ‘alamin). Agama (dalam hal ini “Islam”) menopang konstruksi “komunitas kognitif” baik dalam kapasitasnya sebagai substansi ajaran, kendali kehidupan sosial, maupun pedoman interaksi sosial (Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim, 2004).

Lebih jauh lagi, Amin Abdullah (2012) menawarkan konsep jaring laba-laba keilmuan;teoantroposentrik-integralistik dalam mengembangkan wacana studi keislaman. Lapisan lingkar jaring laba-laba ini dihuni oleh berbagai disiplin keilmuan yang berbeda dan seharusnya digunakan secara integratif-interkonektif. Dimulai dari kajian Islam klasik (Ilmu Kalam, Falsafah Tarikh, Fiqh, Tafsir, Lughah), modern (Antropologi, Sosiologi, Psikologi, Filsafat) dan kontemporer (regulasi Hak Asasi Manusia, Pluralisme Agama, Sains-Teknologi, Ekonomi, Civil Society, Studi Budaya, Isu-isu Lingkungan, dan Hukum Internasional).

Sayangnya, gagasan cerdas ini belum terejawantah secara utuh oleh kalangan umat Islam. Akses pendidikan, terutama di perguruan tinggi belum sepenuhnya dinikmati. Sedangkan, bagi mereka yang sudah menggeluti jagat akademik, masih terkendala oleh kemiskinan metodologis dalam memahami diskursus keislaman ditinjau dari berbagai aspeknya. Untungnya, geliat umat Islam Indonesia untuk membangun kembali “peradaban Islam yang sempat hilang” tidak pernah surut. Putra-putri terbaik bangsa tidak tabu lagi menimba pengetahuan di Negeri “kafir”, -yang diakui atau tidak, sejauh ini masih “menggenggam kunci peradaban dunia”- tanpa harus khawatir tergadaikan keimanannya. Sepulangnya ke Tanah Air, mereka digadang-gadang mampu mengibarkan panji “Islam” di Nusantara dengan value dan perspektif lain. Kesadaran Muslim kontemporer secara kolektif menempatkan “sejarah” –meminjam istilahnya Nourouzzaman Shiddiqi- dijadikan pisau bedah ilmu keislaman. Sehingga, dalam “berislam”, kita tidak lagi puas pada kenikmatan ritus simbolik dan terjebak pada “romantisme keemasan masa silam”. Wallahu a’lam bi al-shawab.[]

DAFTAR REFERENSI

Abdullah, M. Amin, Studi Agama; Normativitas atau Historisitas?, cet. ke-1, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

Abdullah, M. Amin, Islamic Studies di Perguruan Tinggi; Pendekatan Integratif-Interkonektif, cet. ke-3, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012.

Abdullah, Taufik dan M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian Agama; Suatu Pengantar, cet. ke-2, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s