SANTRI; “KAUM BERSARUNG” SIAP BERTARUNG


SANTRI; “KAUM BERSARUNG” SIAP BERTARUNG

Oleh: Ahmad Saefudin

Makna yang muncul dari sebuah fenomena tidak selamanya sejalan dengan nomena. Di balik makna, terselip pertarungan kuasa. Relasi hegemonik antarwacana saling berebut, mengisi ruang kognisi masyarakat dalam kurun tertentu sebagai upaya konstruksi kesadaran kolektif. Begitupun makna “santri”. Pernah pada suatu masa, kaum bersarung ini dipersepsikan sebagai komunitas lusuh, kumal, ndeso, lugu, kolot, katrok, penyakitan, dan seribu image kurang sedap lain. Santri tergolong dalam lapisan sosial madesu (masa depan suram). Paling banter, keahlian lulusan pesantren hanya sanggup merapal doa dengan predikat “ustaz kampung”. Itupun jika dipake. Tidak sedikit dari mereka yang nasibnya berkesudahan tragis; nirguna dan nganggur. Potensi intelektualitas kepesantrenan yang sempat membuncah, kendur, terbentur oleh kompleksitas persoalan laju hidup yang kian deras.

santriwanNamun, belakangan ini simbol “santri” mengalami pergeseran makna ke arah positif. Rating mereka menukik tajam. Dari yang terlunta menjadi idola. From zero to hero. Keberanian elit pesantren dalam merestrukturisasi kurikulum agar tanggap terhadap problem realitas, berdampak signifikan dalam mengangkat derajat kaum bersarung. Diskursus multidisipliner ilmu yang terkombinasi secara eklektik menjadikan kaum bersarung siap bertarung. Santri yang sedari dulu berkutat pada perbendaharaan kajian kitab kuning, kini merevolusi diri, bergumul erat dengan wacana-wacana yang relatif kontemporer. Mereka sanggup bermetamorfosis dari generasi kuper (kurang pergaulan) ke generasi cyber. Metode dakwah oral, dengan segenap kegigihan usaha mereka, berganti menjadi dakwah literal, bahkan digital. Tunjangan soft skill dan hard skill merubah status sosial, dari kalangan “pinggiran” ke “pusat” peradaban. Kaum sarungan mengalami fase pencerahan. Enlightenment. Mereka tidak tabu mengalihkan kiblat keilmuan -yang sejauh ini bersifat Timur Tengah sentris-, ke dunia Barat. Mimpi mereka mengais ilmu boleh jadi berawal dari Madura, tapi bukan mustahil berlanjut sampai Amerika. Dari Yogyakarta, bisa saja melebarkan sayap hingga Rusia. Dan sudah banyak contohnya.

Epilog tulisan ini ditutup dengan penggalan lagu inspiratif –tentunya melalui sedikit modifikasi- gubahan anak Negeri, “Santri yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu ditendang, sekarang dia disayang.”

Wallahu a’lamu bi al shawab!

 

Yogyakarta, 2 Pebruari 2014. Pukul 11.20 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s