RELIGIUS DAN JUJUR PERSPEKTIF AL-QUR’AN; SUMBANGAN UNTUK PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA


RELIGIUS DAN JUJUR PERSPEKTIF AL-QUR’AN; SUMBANGAN UNTUK PENDIDIKAN KARAKTER DI INDONESIA

Oleh: Ahmad Saefudin

 

Al-Qur’an dan Pendidikan Karakter

Al-Qur’an bukan sekedar kitab suci yang jika dibaca akan bernilai ibadah. Kalam Tuhan yang pada awalnya sebagai bukti kerasulan Muhammad SAW dan kebenarannya –dari zaman Abu Jahal hingga era global- tidak terbantahkan mengandung nilai-nilai ajaran universal mencakup seluruh aspek kehidupan. Sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya:

Artinya: “Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab (Al-Qur’an), kemudian kepada Tuhan mereka dikumpukan”.[1]

Penulis mengikuti pendapat sebagian mufasir yaang menerjemahkan lafal ﺍﻟﻜﺗﺍﺐ dengan Al-Qur’an seperti yang terdapat dalam catatan kaki Kitab Al-Qur’an terbitan Departemen Agama RI. Berarti, Al-Qur’an dengan 6.666 ayatnya telah menyentuh berbagai bidang kehidupan seperti pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah, dan tuntunan untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat.[2] Tetapi, esensi ajaran-ajaran Al-Qur’an tidak semuanya siap untuk “dikonsumsi”. Terdapat beberapa nilai yang tersirat sehingga untuk memanifestasikan dalam perilaku sehari-hari memerlukan “proses” penjelasan lebih lanjut agar tidak salah paham.

Pendidikan Karakter yang sejak tahun 2010 diluncurkan secara resmi oleh Pemerintah RI pun sejatinya telah diperhatikan secara serius oleh Al-Qur’an. Secara historis, Pendidikan Karakter semakin populer setelah F. W. Foerster (1869-1966) melakukan kritik terhadap teori pendidikan naturalisme (JJ. Rousseau) dan instrumentalisme (John Dewey).[3] Prioritas utama dari konsepsi Pendidikan Karakter adalah nilai-nilai transenden yang dipercaya sebagai motor penggerak sejarah, baik bagi individu maupun bagi sebuah perubahan sosial.[4] Pendidikan Karakter yaitu suatu sistem penanaman nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.[5] Pembentuk karakter ini kemudian secara sistematis memuat 18 nilai pokok yang diambil dari spirit agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan Nasional meliputi: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab.[6]

Pendidikan Karakter tersusun dari dua istilah penting yang pada awalnya berdiri sendiri yaitu “pendidikan” dan “karakter”. Terminologi “pendidikan” di dalam Al-Qur’an telah dibahas –sejak Nabi Adam As masih menghuni surga- jauh sebelum manusia mengenal konsep “pendidikan” seperti sekarang ini, seperti tergambar dalam QS. Al-Baqarah (2): 31:

Artinya: “Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”.[7]

Zakaria Stapa, intelektual Muslim dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) menegaskan bahwa ayat tersebut jelas menggambarkan bagaimana Allah SWT mengajar Nabi Adam segala nama benda yang terdapat di dalam dunia ini yang bakal dihuninya.[8] Sedangkan kata “akhlak” yang artinya budi pekerti atau kelakuan[9] menurut analisis M. Quraish Shihab tidak ditemukan dalam Al-Qur’an.[10] Tetapi, bukan berarti sama sekali tidak disinggung, karena  bentuk tunggalnya yaitu “khuluq” tercantum dalam QS. Al-Qalam ayat 4 yang berbunyi:

Artinya: “Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”.[11]

Keluhuran “akhlak” menjadi salah satu modal Nabi Muhammad SAW sebelum ditahbiskan sebagai seorang Rasul[12] panutan seluruh umat manusia. Lebih luas lagi, “khuluq” adalah kondisi batiniah bukan lahiriah. Perpektif psikologi, “khuluq” sama dengan “karakter” yaitu perangai, sifat dasar yang khas; satu sifat atau kualitas yang tetap terus menerus dan kekal yang dapat dijadikan ciri untuk mengidentifikasikan seorang pribadi.[13]

Religiusitas Perspektif Al-Qur’an

Pondasi penopang tangguhnya karakter manusia yang pertama ialah dimensi religiusitas. Agama merupakan ajaran atau sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.[14] Banyak para pemikir yang mencoba mengupas teori tentang asal-usul agama. M. Crawley mengusung teori masa kritis yang berpendapat bahwa agama muncul karena adanya rasa takut yang menyertai manusia ketika menghadapi kejadian atau gejala alam yang memilukan. Emile Durkheim dengan teori sentimen kemasyarakatannya menganggap bahwa agama muncul karena adanya getaran jiwa yang berupa rasa cinta terhadap masyarakatnya. Sigmund Freud menyimbolkan kebutuhan manusia terhadap agama selayaknya dorongan seksual seorang anak terhadap ibunya, yang berakhir dengan pembunuhan dan penyembahan terhadap ruh sang ayah. Teori Freud ini dalam Ilmu psikologi dikenal dengan teori oedipus kompleks.[15]

Membicarakan topik tentang “agama” terkadang sangat sensitif karena berkaitan dengan keyakinan individu. Setiap orang mempunyai pengalaman yang berbeda dalam menerjemahkan nilai dan praktik ajaran agamanya. Wabil khusus bagi umat Muslim, asas teologis yang melandasi kebutuhan beragama tercantum dalam Surat al-A’raf (7) ayat 172:

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.[16]

M. Quraish Shihab menarasikan dalam kayanya Wawasan Al-Quran mengenai proses pelekatan agama dalam nurani setiap Muslim. Menurutnya:

Agama yang diwahyukan Tuhan, benihnya muncul dari pengenalan dan pengalaman manusia pertama di pentas bumi. Di sini ia menemukan tiga hal, yaitu keindahan, kebenaran, dan kebaikan. Gabungan ketiganya dinamakan suci. Manusia ingin mengetahui siapa atau apa Yang Mahasuci, dan ketika itulah dia menemukan Tuhan, dan sejak itu pula dia berhubungan dengan-Nya, bahkan berusaha untuk meneladani sifat-sifat-Nya. Usaha itulah yang dinamai beragama, atau dengan kata lain, keberagamaan adalah terpatrinya rasa kesucian dalam jiwa seseorang. Karena itu seorang yang beragama akan selalu berusaha untuk mencari dan mendapatkan yang benar, yaang baik, lagi yang indah.[17]

Dengan menyadari kehadiran Tuhan pada dirinya, setiap Muslim selalu berusaha sesuai dengan kemampuannya untuk mewujudkan kehendak yang diperintahkan Tuhan seraya menjauhi perbuatan-perbuatan yang disinyalir akan mengundang murka-Nya. Pada ranah pendidikan, guru yang mempunyai karakter religius tanpa pamrih akan senantiasa memberikan suritauladan yang baik kepada peserta didiknya, mendidik dengan panggilan hati, berintegritas menjalankan profesi, tidak jemu mengasah kompetensi, dan tulus mengabdikan diri untuk mengeluarkan peserta didik dari jerat kebodohan sebagaimana ketulusan pengabdian menghamba kepada Tuhannya. Peserta didik religius saling menghargai dan hormat terhadap pemeluk agama lain dan selalu berupaya aktif mengejawantahkan pesan-pesan moral agama dalam kehidupan sosial.

Jujur Perspektif Al-Qur’an

Al-kisah, di malam yang pekat dan angin dingin semilir menusuk, Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab sedang menelusuri kota Medinah melalui lorong demi lorong. Di saat seluruh penduduk kota terlelap, Sang Khalifah tetap terjaga mendatangi satu demi satu rumah untuk mengetahui kondisi rakyatnya. Ia sadar bahwa kepemimpinannya kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, ia tidak ingin ada seorang pun dari rakyatnya yang terzalimi. Malam makin larut hingga tibalah fajar menyingsing. Ketika hendak beranjak ke masjid, langkahnya tertahan di depan sebuah gubuk reot. Dari dalam gubuk itu terdengar percakapan lirih antara seorang ibu dan putrinya. Dari percakapan itu ternyata mereka adalah penjual susu kambing yang akan menjual hasil perahannya di pasar pagi itu.

“Nak, campurlah susu itu dengan air,” pinta sang ibu kepada putrinya. Sang ibu berharap agar ia memperoleh keuntungan lebih banyak dari hasil penjualan susu oplosannya (campuran). Putrinya menjawab, “Maaf, Bu, tidak mungkin aku melakukannya. Amirul Mukminin tidak membolehkan untuk mencampur susu dengan air, kemudian menjualnya,” tolak putrinya dengan halus. Sang ibu tetap bersikukuh, “Itu suatu hal yang lumrah, Nak. Semua orang melakukannya. Lagi pula Amirul Mukminin tidak akan mengetahuinya,” bujuk sang ibu lagi. “Bu, boleh jadi Amirul Mukminin tidak mengetahui apa yang kita lakukan sekarang, tetapi Allah SWT Maha Melihat dan Mengetahui!” jawab sang putri salehah. Haru dan bahagia membuncah di dada Amirul Mukminin. Betapa ia kagum akan kejujuran dan keteguhan hati sang gadis miskin tersebut. Mungkin gadis tersebut miskin harta, tetapi begitu kaya hatinya. Amirul Mukminin teringat akan tujuannya semula dan bergegas menuju masjid untuk shalat Fajar bersama para sahabat.

Usai melaksanakan shalat di masjid, Umar bin Khaththab segera memangil putranya yang bernama ‘Ashim. Beliau segera memerintahkan ‘Ashim untuk melamar putri penjual susu yang jujur tersebut karena memang sudah saatnya ‘Ashim untuk berumah tangga. Tidak lupa Amirul Mukminin menceritakan keluhuran hati gadis penghuni gubuk reot tersebut kepada putranya.

“Aku melihat dia akan membawa berkah untukmu kelak jika kamu mempersuntingnya menjadi istrimu. Pergilah dan temui mereka, lamarlah dia untuk menjadi pendampingmu. Semoga kalian dapat melahirkan keturunan yang akan menjadi pemimpin umat kelak!” ujar Umar bin Khaththab kepada putranya, ‘Ashim. Akhirnya, ‘Ashim menikahi gadis berhati suci itu dan lahirlah seorang putri bernama Laila. Ia tumbuh menjadi gadis yang taat beribadah dan cerdas. Saat dewasa, Laila dipersunting oleh Abdul Aziz bin Marwan. Dari pernikahan keduanya lahirlah Umar bin Abdul Aziz, seorang pemimpin besar yang disegani. Dia mewarisi keagungan akhlak neneknya dan kepemimpinan buyutnya, Umar bin Khaththab.[18]

Jujur biasa diartikan dengan lurus hati; tidak berbohong; tidak curang.[19] Islam menempatkan orang-orang yang jujur pada derajat yang tinggi setara dengan pangkat para Nabi, orang yang mati syahid, dan orang-orang yang dalam hidupnya selalu berbuat baik. Mereka dijanjikan Allah SWT menghuni surga yang kenikmatannya tiada tara. Sebagaimana yang tertulis dalam firman-Nya dalam Surat An-Nisa’ (4): 9 dan Surat Al-Maidah (5): 119:

`Artinya: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin,[20] orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya”.

 Artinya: “Allah berfirman: “Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadapnya[21]. Itulah keberuntungan yang paling besar”.

Dari ayat Al-Qur’an dan kisah Khalifah Umar bin Khattab di atas, sejarah membuktikan bahwa “kejujuran” akan berbuah manis bagi pelakunya. Namun, masih saja ada yang ragu dengan hipotesa ini. Apalagi di zaman modern seperti sekarang ini. Pada satu sisi jujur itu murah, sebab tanpa ongkos, namun pada sisi lain, jujur teramat mahal karena semakin susah untuk ditemukan.

Oleh karena itu, pembenaman kejujuran melalui Pendidikan Karakter mutlak diperlukan. Heri Sucipto mengutip pendapat Ahmad Khalil Jumat yang membagi indikator kejujuran peserta didik berdasarkan enam tingkatan.[22] Pertama, jujur dalam perkataan. Pada tahap ini, peserta didik akan berbicara sesuai fakta, meskipun dalam posisi yang kurang menguntungkan bagi dirinya. Kedua, jujur dalam niat dan kemauan. Dengan niat yang baik, peserta didik tidak akan menggunakan cara-cara “kotor” untuk mencapai keinginannya. Ketiga, jujur dalam pendirian. Dalam ungkapan Bahasa Jawa dikenal ora mencla-mencle. Peserta didik konsisten antara apa yang diucapkan dengan apa yang diyakininya. Keempat, jujur dalam kesetiaan pada rencana. Peserta didik sedikit demi sedikit mewujudkan berbagai agenda kegiatan yang telah direncanakan di awal. Kelima, jujur dalam perbuatan. Setiap sikap dan perilaku yang tampak selaras dengan hati dan pikiran peserta didik. Keenam, jujur dalam menjalankan ajaran-ajaran agama. Peserta didik menyandarkan hidupnya pada ketentuan, aturan, dan norma yang telah digariskan oleh agamanya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an Terjemah Edisi Tahun 2002, Jakarta: Al Huda, 2005.

http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php.

http://kbbi.web.id/.

http://kumpulaninspirasi.com/2013/01/kisah-penjual-susu-kisah-inspiratif-tentang-kejujuran-dan-keyakinan/.

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/PAI%20%201%20Manusia%20dan%20Agama_0.pdf

Majid, Abdul dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, cet. ke-2, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012.

Mujib, Abdul, Kepribadian dalam Psikologi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007.

Muslich, Masnur, Pendidikan Karakter; Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, cet. ke-2, Jakarta: Bumi Aksara, 2011.

Narwati, Sri, Pendidikan Karakter; Pengintegrasian 18 Nilai Pembentuk Karakter dalam Mata Pelajaran, cet. ke-1, Yogyakarta: Familia, 2011.

Shihab, M. Quraish, Wawasan Al-Qur’an, cet. ke-11, Bandung: Mizan, 2000.

Software Quran_in_Word.

Stapa, Zakaria, dkk., “Pendidikan Menurut Al-Quran dan Sunnah serta Peranannya dalam MemperkasakanTamadun Ummah”, Jurnal Hadhari  Special Edition (2012) 7-22.

Sucipto, Heri, “Jujur dalam Perspektif Islam”, http://sucipt0.blogspot.com/2013/01/jujur-dalam-perspektif-islam.html.

www.ukm.my/jhadhari.

[1] QS. Al-An’am (6): 38. Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an Terjemah Edisi Tahun 2002, (Jakarta: Al Huda, 2005), hlm. 133.

[2] Ibid.

[3] Abdul Majid dan Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, cet. ke-2, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2012), hlm. 8.

[4] Masnur Muslich, Pendidikan Karakter; Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional, cet. ke-2, (Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 37.

[5] Sri Narwati, Pendidikan Karakter; Pengintegrasian 18 Nilai Pembentuk Karakter dalam Mata Pelajaran, cet. ke-1, (Yogyakarta: Familia, 2011), hlm. 14.

[6] Ibid., hlm. 28.

[7] QS. Al-Baqarah (2): 31. Diambil dari software Quran_in_Word.

[8] Zakaria Stapa, dkk., “Pendidikan Menurut Al-Quran dan Sunnah serta Peranannya dalam Memperkasakan Tamadun Ummah”, Jurnal Hadhari  Special Edition (2012) 7-22, hlm. 11. Bisa juga diakses melalui www.ukm.my/jhadhari.

[9] http://kbbi.web.id/. Diakses pada 5 Januari 2014.

[10] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, cet. ke-11, (Bandung: Mizan, 2000), hlm. 253.

[11] QS. Al-Qalam (68): 4. Diambil dari software Quran_in_Word.

[12] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, hlm. 253.

[13] Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 45.

[14] http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php. Diakses pada 5 Januari 2014.

[16] QS. Al-A’raf (7): 2. Diambil dari software Quran_in_Word.

[17] M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, hlm. 377.

[19] http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php. Diakses pada 5 Januari 2014.

[20] ialah: orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul, dan inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7. QS. An-Nisa’ (4): 9. Diambil dari Diambil dari software Quran_in_Word.

[21] Maksudnya: Allah meridhai segala perbuatan-perbuatan mereka, dan merekapun merasa puas terhadap nikmat yang Telah dicurahkan Allah kepada mereka. QS. Al-Maidah (5): 119. Ibid.

[22] Heri Sucipto, “Jujur dalam Perspektif Islam”, http://sucipt0.blogspot.com/2013/01/jujur-dalam-perspektif-islam.html. Diakses pada 5 Januari 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s