FORMULASI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM (ANALISIS KOMPARATIF ANTARA PEMIKIRAN OMAR MOHAMMAD AL-TOUMY AL-SYAIBANI DAN MUHAMMAD JAWWAD RIDLA DENGAN GEORGE R. KNIGHT TENTANG FILSAFAT PENDIDIKAN)


FORMULASI FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM (ANALISIS KOMPARATIF ANTARA PEMIKIRAN OMAR MOHAMMAD AL-TOUMY AL-SYAIBANI DAN MUHAMMAD JAWWAD RIDLA DENGAN GEORGE R. KNIGHT TENTANG FILSAFAT PENDIDIKAN)

Oleh: Ahmad Saefudin

Filsafat Pendidikan Islam bagaikan “alat kelamin” bagi pendidikan Islam yang memberikan perbedaan karakteristik terhadap pendidikan sekuler. Setidaknya, dengan mengacu pada gagasan-gagasan filosof Muslim, pendidikan Islam “tidak malu” menunjukkan identitasnya dalam mengembangkan cakrawala pengetahuan yang berguna bagi perkembangan peradaban. Islam dalam pandangan Muhammad Jawwad Ridla pada dasarnya mengandung “potensi-potensi” perekat di antara pemikiran para ahli pendidikan Islam.[1] Bahkan, Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany mengharuskan penentuan filsafat pendidikan Islam bagi sistem pendidikan agar pendidikan Islam memberikan corak yang khas sesuai dengan prinsip-prinsip dan nilai-nilai keislaman berdasarkan konteks kebudayaan yang berlaku di kalangan umat Islam.[2] Konstruksi sistem pendidikan yang melandasi praktik pendidikan Islam mau tidak mau harus ditopang oleh orisinalitas nilai-nilai ajaran yang bersumber dari “rahim” Islam itu sendiri. Bagi Al-Toumy, selain Al-Qur’an al-Karim yang menjadi sumber utama Filsafat Pendidikan Islam, juga terdapat sumber pendukung lain yang tidak kalah penting, seperti teori-teori yang diterima akal, nilai dan tradisi sosial, hasil penelitian dan kajian-kajian pendidikan, dan norma serta perundang-undangan yang berlaku baik di tingkat lokal, Nasional, maupun internasional.[3] Dengan begitu, pendidikan Islam mampu mengantarkan peserta didik menjadi manusia yang berkepribadian luhur (tujuan individu), berguna bagi masyarakat (tujuan sosial), dan kapabel sesuai dengan kapasitas keilmuannya (tujuan profesional).[4]

Perwujudan tujuan pendidikan tersebut akan mengalami kendala jika Filsafat Pendidikan Islam tidak memenuhi berbagai dimensi yang disyaratkan oleh al-Toumy, yaitu: 1) Dalam segala prinsip, kepercayaan, dan kandungannya, falsafah pendidikan Islam disesuaikan dengan ruh (spirit) Islam, 2) Falsafah pendidikan Islam berkaitan dengan realitas masyarakat dan kebudayaan serta sistem sosial, ekonomi, dan politiknya, 3) Bersifat terbuka terhadap segala pengalaman kemanusiaan yang baik, 4) Pembinaannya haruslah didasarkan pada hasil kajian mendalam terhadap berbagai faktor dan aspek kehidupan, berbagai ilmu serta cabang-cabang pengetahuan, 5) Falsafah pendidikan Islam harus universal yang mengambil ukuran berbagai faktor; spiritual, budaya, sosial, ekonomi, politik pendidikan, psikologikal yang akan mempengaruhi proses dan usaha-usaha pendidikan, 6) Sumber falsafah pendidikan Islam meliputi segala ilmu keislaman, ilmu sosial, kemanusiaan, sains, dan ilmu-ilmu kontemporer, 7) Bebas dari segala pertentangan antara prinsip-prinsip dan kepercayaan yang mendasarinya, dan 8) Falsafah pendidikan Islam harus mendalam, terperinci, dan jelas.[5]

Guru sebagai pendidik Muslim memiliki peran fundamental dengan menyadari bahwa pendidikan hanya akan berhasil melalui proses interaktif antara peserta didik dengan alam (lingkungan) sekitar.[6] Pendidik harus menentukan falsafah dan tujuannya, merancang kurikulum, media pembelajaran, sampai taraf yang paling detail yakni mengetahui karakteristik peserta didiknya.[7]

Kurikulum dalam pendidikan Islam tidak boleh diartikan secara sempit terfokus pada terma manhaj yang diartikan sebagai jalan yang dilalui oleh pendidik dan peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka.[8] Akhirnya, makna kurikulum terbatas pada content materi pelajaran yang ditetapkan guru atau institusi pendidikan, menafikan aktivitas lain peserta didik di luar mata pelajaran seperti bakat keolahragaan, seni, dan hobi.[9] Kurikulum harus menjangkau pengalaman-pengalaman peserta didik di luar sekolah sehingga memudahkan guru untuk menentukan tujuan pembelajaran, kandungan materi pelajaran, metode pembelajaran, dan evaluasi.[10] Secara rinci, al-Toumy menjelaskan pentingnya keberadaan kurikulum pendidikan Islam:

Kurikulum pendidikan Islam bertujuan memberi sumbangan untuk mencapai perkembangan menyeluruh dan berpadu bagi pribadi pelajar, membuka tabir tentang bakat-bakat dan kesediaan-kesediaannya dan mengembangkan minat, kecakapan, pengetahuan, kemahiran, dan sikap yang diingini; menanamkan padanya kebiasaan, akhlak, dan sikap yang penting bagi kejayaannya dalam hidup dan kemahiran asas untuk memperoleh pengetahuan; menyiapkannya untuk memikul tanggung jawab dan peranan-peranan yang diharapkan dalam masyarakat; dan mengembangkan kesadaran agama, budaya, pemikiran, sosial, dan politik pada dirinya. Di samping itu, dia (kurikulum) juga bertujuan untuk memberi sumbangan dalam perkembangan yang menyeluruh dan terpadu bagi masyarakat Islam, memperkuat pribadi Islam yang berdiri sendiri; memelihara kebudayaan dan peninggalannya dan mengembangkan serta memperbaharuinya terus-menerus; mencapai kemajuan, perubahan yang diinginkan, kesatuan, kekuatan, keteguhan, kemuliaan, kebebasan dan kebebasan anggota-anggotanya; dan memenuhi kebutuhannya kepada tenaga-tenaga ilmiah, teknis, dan tenaga kerja terampil.[11]

Idealitas kurikulum dalam berbagai formulasinya, hanyalah konsepsi abstrak. Di sinilah fungsi metode pembelajaran yang akan “membumikan kurikulum dari dunia langit”. Ringkasnya, metode mengajar bermakna segala segi kegiatan terarah yang dikerjakan guru untuk mencapai proses belajar yang diinginkan dan perubahan tingkah laku peserta didik yang dikehendakinya.[12] Al-Toumy menyadari bahwa tidak ada satu metode mengajar yang efektif, yang bisa dimanfaatkan untuk seluruh proses pembelajaran. Oleh karena itu, pemilihan metode pembelajaran yang tepat sepenuhnya dipasrahkan pada guru sebagai kreatornya.[13] Selain itu, metode pengajaran yang umum digunakan oleh pendidik Muslim sebagaimana catatan al-Toumy yaitu: 1) Metode pengambilan kesimpulan (induktif-deduktif), 2) Metode perbandingan, 3) Metode kuliah, 4) Metode dialog dan diskusi, dan 5) Metode halaqah.[14] Guru memadukan beragam metode tersebut secara luwes dan tidak kaku disesuaikan dengan kebutuhan proses pembelajaran. Proses belajar dalam pendidikan Islam bukan saja proses menghafal dan mengingat, atau proses pencerdasan akal saja, tetapi proses perubahan dan pertukaran tingkah laku serta proses perbaikan dalam pencapaian (performance).[15]

Dari uraian di atas, falsafah pendidikan Islamnya al-Toumy belum memetakan aliran-aliran filosofis yang melandasi teori pendidikan Islam. Pemahaman tentang peta aliran tersebut bisa dirujuk pada karya Muhammad Jawwad Ridla yang membagi aliran-aliran utama pemikiran pendidikan Islam menjadi tiga, yaitu agamis-konservatif, religius-rasional, dan pragmatis-instrumental.[16]

Aliran pertama disebut juga al-muhafidz karena menggumuli persoalan pendidikan dalam perspektif pure agama. Ilmu masih dimaknai secara sempit, terbatas pada ilmu-ilmu yang dibutuhkan saat sekarang. Peserta didik diharuskan mengawali petualangan keilmuannya dengan mempelajari al-Qur’an. Ragam ilmu setidaknya terbagi menjadi dua yaitu ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap individu yang berkaitan dengan tata cara melakukan kewajiban (ulum- al-faraidl al-diniyyah) dan ilmu yang berstatus wajib kifayah yaitu ilmu keduniawian seperti kedokteran dan ilmu hitung. Al-Ghazali yang ditempatkan Ridla sebagai tokoh aliran konservatif mengklasifikasikan ilmu-ilmu cabang tersebut ke dalam empat kategori, yaitu ilmu ukur dan ilmu hitung, ilmu mantik (logika), ilmu ketuhanan (teologi), dan ilmu kealaman.[17]

Aliran religius-rasional (al-diniy al-‘aqlaniy) beranggapan bahwa ilmu yang tidak mengantarkan pemiliknya kepada kehidupan akhirat, maka ilmu tersebut tidak berguna, bahkan menjadi bumerang. Peserta didik dipandang sebagai individu yang sudah mempunyai potensi untuk berilmu. Inti dari proses pendidikan ialah upaya maksimalisasi potensi tersebut.[18]

Aliran pragmatis (al-dzarai’iy) mengklasifikasikan ilmu pengetahuan berdasar tujuan fungsionalnya, yaitu ilmu yang bernilai intrinsik (ilmu-ilmu keagamaan) dan ekstrinsik-instrumental (ilmu bahasa Arab, ilmu hitung, logika, filsafat, ilmu kalam dan usul fikih).[19]

Sayangnya, dalam kajian lebih lanjut, Ridla tidak mengulas topik-topik yang berkaitan dengan filsafat pendidikan berdasarkan ke tiga aliran utama yang telah disebutkan di atas. Misalnya, ketika membahas kecenderungan pemikiran konservatifnya al-Ghazali, Ridla justru terjebak pada kajian tentang kewajiban peserta didik dan guru. Diskursus filosofisnya belum menyentuh tema-tema sentral dalam kajian filsafat pendidikan seperti posisi guru dan peserta didik dengan segenap peranannya, fungsi kurikulum, dan metodologi pembelajaran. Ridla tidak mengelaborasi karya-karya al-Ghazali secara komprehensif, dengan hanya menampilkan sedikit nukilan dari kitab Ayyuh al-Walad. Memang, Ridla menyitir masterpeacenya al-Ghazali (ihya’ ulum al-din) dalam upaya melacak pemikiran Sang Hujjat al-Islam tersebut, namun upaya tersebut belum cukup merepresentasikan pandangan al-Ghazali mengenai filsafat pendidikan Islam. Ridla juga tidak mencantumkan sumber referensi dari al-Ghazali secara jelas (nama judul buku, penerbit, dan nomor halaman) sehingga akurasi keilmiahannya, -perspektif akademik-, patut dipertanyakan.

Hal yang berbeda, dipaparkan Ridla dalam mendeskripsikan pemikiran rasional Ikhwan al-Shafa dalam pendidikan. Pada diskurus ini, dengan sistematis Ridla menjelaskan gagasan Ikhwan al-Shafa, dimulai dengan tujuan pendidikan, konsepsi tentang manusia, epistemologi ikhwan al-Shafa mengenai pendidikan dan guru sebagai pendidik, dan diakhiri dengan kesimpulan.[20] Tetapi, cakupan pembahasan tersebut belum mampu menunjukkan “identitas” filsafat pendidikan Islam “yang sesungguhnya”.

Topik terakhir dari pembahasan Ridla tentang aliran filsafat pendidikan Islam ialah pemikiran pragmatis Ibnu Khaldun. Ridla mengistilahkan pragmatis sebagai terjemahan kata dzara’iyyah yang berari sarana atau instrumen. Dengan kata lain, tujuan pendidikan ialah tujuan praktis yang erat terkait dengan demand (tunututan/kebutuhan) masyarakat yaitu kesejahteraan hidup. Bagi Ibnu Khaldun, prestasi atau keberhasilan dalam pembelajaran adalah malakat (profesionalitas) yang terbentuk dari proses latihan dan keseriusan, bukan bakat bawaan. Metode pembelajaran lebih efektif jika dilakukan secara gradual (sedikit demi sedikit) dimulai dari penyampaian oleh guru tentang  permasalahan pokok tiap bab, kemudian dijelaskan secara global sesuai dengan taraf kemampuan peserta didik. Ibnu khaldun juga mengkritik metode pembelajaran yang masih menggunakan cara-cara kekerasan.

Dalam buku Tiga Airan Utama Teori Pendidikan Islam, Ridla menyediakan sedikit porsi ketika mengupas materi tentang teori pendidikan Islam.[21] Dalam catatan Ridla, belum ada karya-karya pakar pendidikan Islam yang mengulas secara komprehensif teori-teori pendidikan Islam. Sebab, di kalangan umat Islam, telah terjadi polarisasi pemikiran pendidikan antara kubu rasional-filosofis dengan kubu agamis-murni. Selain itu, sebagian risalah-risalah pendidikan Islam diorientasikan untuk penuntut ilmu (peserta didik) tingkat lanjut. Hal yang paling memungkinkan, -masih menurut Ridla-, ialah menghimpun prinsip-prinsip utama pemikiran pendidikan yang kemudian diklasifikasikan ke dalam enam bagian, meliputi konsep pengajaran dan pembelajaran,[22] dasar-dasar psikologis aktivitas belajar,[23] pemahaman tentang subjek didik dan kejiwaannya,[24] metode pengajaran atau pembelajaran,[25] konsep guru,[26] dan penyiapan individu dalam masyarakat.[27]

Secara sekilas, baik analisis filosofis al-Toumy maupun Ridla tentang pendidikan Islam belum mampu menjawab secara utuh posisi guru dan murid dalam proses pembelajaran. Berbeda dengan al-Toumy dan Ridla, gagasan George R. Knight tentang filsafat pendidikan (sekuler) lebih mudah dicerna oleh pikiran awam, terutama isu-isu seputar guru, murid, kurikulum, dan proses pembelajaran. Setelah mengulas isu-isu filosofis dalam pendidikan, Knight kemudian menggolongkan tipologi aliran filsafat menjadi dua, yaitu tradisional (idealisme, realisme, dan neoskolastisise) dan modern (pragmatisme dan eksistensialisme). Dua aliran ini memberikan warna yang berbeda dalam sumbangsihnya terhadap teori-teori pendidikan kontemporer. Dari aliran filsafat idealisme dan realisme kemudian memunculkan teori pendidikan esensialisme. Selain itu, perpaduan realisme dengan positivisme melahirkan teori pendidikan behaviorisme. Neoskolastisisme sebagai bagian dari aliran filsafat tradisional menginspirasi timbulnya teori perenialisme dalam pendidikan. Teori pendidikan rekonstruksionisme dan humanisme merupakan pengembangan dari teori progresivisme yang bersumber dari filsafat pragmatisme. Adapun kelanjutan dari filsafat eksistensialisme ialah teori pendidikan deschooling.[28]

Bagi penganut idealisme, guru berada pada posisi krusial sebagai penghubung antara  Yang Absolut (makrokosmis) dan murid (mikrokosmis). Peran guru sebagaimana diistilahkan oleh Knight adalah menjangkau pengetahuan tentang realitas dan menjadi contoh keluhuran etis. Guru menjadi panutan murid baik dalam sisi intelektual maupun kehidupan sosial.[29] Kurikulum disusun pada lingkup mataeri-materi kajian yang mengantarkan murid bergelut langsung dengan ide-gagasan. Metode pengajaran berlandaskan pada kata-kata baik tulis maupun ucap. Metodologi guru di ruang kelas seringkali menggunakan lecturing (penyampaian kuliah), mengesampingkan metodologi kunjungan lapangan.[30]

Lain lagi dengan realisme yang memandang pelajar sebagai organisme hidup yang dapat menangkap tatanan alam dunia melalui pengalaman inderawiah. Pelajar harus dibina, dilatih, dan dibentuk hinggabia belajar dan mahir untuk membuat respons-respons yang sesuai dari lingkungan sekitar. Peran guru sebagai pemberi informasi yang akurat menyangkut realitas kepada pelajar dengan cara yang paling efisien dan paling cepat. Kurikulum di sekolah menekankan pada materi pengajaran tentang dunia fisik. Metode pegajaran memusaatkan pada pemanfaatan indra seperti demonstrasi (peragaan di ruang kelas), karya wisata, dan penggunaan media audio-visual. Pengajaran paling baik manakala ia paling objektif dan didehumanisasikan (tidak dimanusiawikan), karena manusia merupakan sumber kesalahan.[31]

Filsafat neoskolastisisme memandang pelajar sebagai makhluk rasional yang memiliki potensi alamiah untuk menggapai kebenaran dan pengetahuan. Pelajar adalah makhluk spiritual yang dapat berhubungan dengan Tuhan. guru merupakan sosok yang berdisiplin mental dengan kemampuan mengembangkan rasio, ingatan, dan daya kemauan pada diri anak didiknya. Tanggung jawab guru ialah bekerjasama dengan tenaga kependidikan lainnya, menentukan pengetahuan apa yang harus dipelajari oleh pelajar. Penentuan ini diselaraskan pada minat dan keingintahuan pelajar, meskipun fokus muatan materi pengajaran tetap berada pada pundak guru. Peran guru juga sebagai pemimpin spiritual yang mengarahkan anak didik tidak hanya melalui ranah rasio, melainkan juga melalui ranah yang lebih penting dari keimanan. Kurikulum menekankan pada materi kajian yang berkaitan dengan aspek intelektual dan spiritual dari kebudayaan. Metodologi berpusat pada pelatihan daya-daya kecerdasan intelektual.[32]

Aliran pragmatisme yang mewakili filsafat modern, -mengacu pada pemikiran Knight- memposisikan pelajar sebagai subjek yang memiliki pengalaman. Dalam proses belajar, pelajar dihadapkan kepada situasi problematis yang menuntutnya untuk bereaksi mengambil tindakan berdasarkan pengetahuannya. Guru bukan orang yang “serba tahu”, melainkan hanya pendamping berpengalaman yang tugasnya memandu dan mengarahkan siswanya. Materi pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Kurikulum disusun atas dasar unit-unit alamiah (wajar) yang tidak membuat siswa tertekan. Metodologi ditujukan untuk memberikan kebebasan kepada siswa memilih pengalaman belajar sesuai dengan yang mereka butuhkan. Kaum pragmatis, lebih memilih metode karyawisata atau aktivitas belajar lain yang memungkin siswa untuk mengalaminya secara langsung. Sederhananya, kurikulum lebih memperhatikan proses daripada muatan materi pembelajaran.[33]

Dalam analisis Knight, aliran filsafat modern terakhir yaitu eksistensialisme yang menganggap peserta didik sebagai subjek dan individu kreatif yang bebas menentukan pilihan-pilahan dalam belajar. Guru, menurut aliran ini, berperan sebagai fasilitator yang menghargai aspek-aspek emosional dan irasional. Tugas guru tidak lain ialah meningkatkan kesadaran peserta didik sehingga menemukan jati dirinya. Kurikulum didesain fleksibel berdasarkan pilihan subjek didik. Metodologi pembelajaran tidak boleh dibatasi secara kaku. Metode pembelajaran berpusat pada konsep “anti pemaksaan” agar siswa menemukan dan menjadi dirinya sendiri[34]

Dari analisis komparatif antara ke tiga tokoh di atas (Al-Toumy, Ridla. dan Knight) dapat ditarik benang merah bahwa formulasi filsafat pendidikan Islam belum sepenuhnya terkodifikasi dengan baik. Hipotesa ini semestinya menyadarkan umat Islam, khususnya para teorisi dan praktisi pendidikan Islam untuk sedikit lebih keras dalam “berijtihad” menemukan basis filosofis yang melandasi praktik kependidikan Islam yang telah mengakar kuat di masyarakat. Wallahu a’lamu bi al-shawab.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Syaibany, Omar Mohammad Al-Toumy, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan Langgulung, cet. ke-1, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

Knight, George R., Filsafat Pendidikan, terj. Mahmud Arif, cet. ke-1, Yogyakarta: Gama Media, 2007.

Ridla, Muhammad Jawwad, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam; Perspektif Sosiologis-Filosofis, terj. Mahmud Arif, cet. ke-1, Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002.

[1] Muhammad Jawwad Ridla, Tiga Aliran Utama Teori Pendidikan Islam; Perspektif Sosiologis-Filosofis, terj. Mahmud Arif, cet. ke-1, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2002), hlm. 59.

[2] Omar Mohammad Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, terj. Hasan Langgulung, cet. ke-1, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 36.

[3] Ibid., hlm. 43-46.

[4] Ibid., hlm. 399. Selanjutnya al-Toumy membuat spesifikasi tujuan pendidikan yang dibedakan menjadi tujuan umum pendikan, meliputi pembentukan jasmani yang sehat dan kuat, penumbuhan daya bertindak berdasar pada fakta dan pemikiran yang teratur, penumbuhan daya hidup individu dalam komunitas, penumbuhan kepercayaan diri, dan penumbuhakn sikap dan tingkah laku ke arah kebaikan. Sedangkan tujuan khusus pendidikan mencakup perkenalan kepada generasi muda tentang akidah Islam, penumbuhan kesadaran beragama pada diri pelajar, penanaman keimanan kepada Allah, penumbuhan minat generasi muda untuk menambah pengetahuan sesuai dengan hukum-hukum agama, penanaman rasa cinta kepada a-Qur’an, penumbuhan rasa bangga terhadap sejarah dan kebudayaan Islam, menumbuhkan sikap optimis, percaya diri, taanggung jawab, dan tolong menolong dalam kebaikan, serta pembersihan hati peserta didik dari dengki, iri hati, benci, dan sifat-sifat negatif lainnya. Ibid., hlm. 414-424.

[5] Ibid., hlm. 47-50.

[6] Al-Toumy mengartikan pendidikan sebagai proses pertumbuhan membentuk pengalaman dan perubahan yang dikehendaki dalam tingkah laku individu dan kelompok. Ibid., hlm. 57. Dalam kalimat lain, pendidikan menurut al-Toumy ialah usaha yang dicurahkan untuk menolong manusia menyingkap rahasia alam, memupuk bakat, mengarahkan kecenderungan (potensi) serta membimbingnya demi kebaikan individu dan masyarakat. Ibid., 101-102.

[7] Ibid.

[8] Ibid., hlm. 478.

[9] Ibid., hlm. 480.

[10] Ibid., hlm. 487.

[11] Ibid., hlm. 533.

[12] Ibid., hlm. 553.

[13] Sebagai rambu-rambu dan alternatif pilihan, al-Toumy mengelompokkan berbagai metode mengajar berdasarkan: a) Alat-alat dan bahan-bahan (seperti metode kitab, perpustakaan, laboratorium, dan metode proyek, b) Berdasarkan cara yang diikutinya dalam mengemukakan fakta (misalnya metode ceramah, demonstrasi, lawatan ilmiah, partisipasi untuk latihan, dll.), c) Berdasar pada penyusunan mata pelajaran (fisika, psikologi, biologi, matematika), d) Berdasar pada tujuan yang ingin dicapai oleh guru (metode nasehat, petunjuk dan bimbingan, latihan, penaksiran (diagnosa), dan metode pengembangan pengalaman, e) Berdasarkan tujuan murid (metode penyelesaian masalah dan proyek), f) Berdasar pada hubungan timbal balik antara murid dan guru (metode pelajaran terarah, metode proyek), g)  Berdasarkan hubungan timbal balik sesama murid (tugas individu, tugas kelompok, kerja tim), h) Berdasarkan partisipasi murid dalam proses pendidikan (metode bermain peran, drama, dan kepanitiaan dalam sebuah agenda kegiatan), i) Berdasarkan pada derajat kebebasan berpikir (metode analitis dan eksperimental), j) Berdasarkan cara yang digunakan dalam evaluasi (metode lisan, laporan tertulis, ujian tertulis), dan k) Berdasarkan pada pancaindra luar (metode penglihatan, pendengaran dan gerakan (observasi).Ibid., hlm. 559-560.

[14] Ibid., hlm. 561-582.

[15] Ibid., hlm. 593.

[16] Muhammad Jawwad Ridla, Tiga Aliran Utama…, hlm. 74.

[17] Ibid., hlm. 74-76.

[18] Ibid., hlm. 77-78.

[19] Ibid., hlm. 104-105.

[20] Ikhwan al-Shafa mengkonsepsikan ilmu bukan sebagai sesuatu yang mengandung tujuan dalam dirinya sendiri, melainkan harus difungsikan untuk pelayanan tujuan luhur kependidikan, yaitu pengenalan diri. “Manusia” menurut Ikhwan al-Shafa tersusun dari unsur fisik-biologis dan unsur jiwa-ruhaniah. Unsur pertama membuat manusia berkecenderungan untuk kekal di dunia dan hidup selama-lamanya, sedangkan unsur ke dua, sebaliknya, cenderung untuk meraih kehidupan akhirat. Pandangan epistemologis Ikhwan al-Shafa tentang penetahuan merupakan antitesis dari pemikiran Plato. Ikhwan al-Shafa menganggap pengetahuan berpangkal dari cerapan inderawiah. Segala sesuatu yang tidak terjangkau oleh indera, tidak mampu terimajinasikan, sehingga tidak dapat dirasionalkan. Pendidikan tidak lain ialah aktivitas perbaikan moral. Pendidik berada pada posisi strategis daninti dari proses pendidikan. Pendidik adalah bapak kedua bagi peserta didik. Ibid., hlm. 145-172.

[21] Dari 224 halaman buku tersebut, hanya sepuluh halaman terakhir saja yang secara khusus mewacanakan teori pendidikan Islam. Ibid., hlm. 200.

[22] Pendidikan (al-tarbiyah) lebih luas ruang lingkupnya dari pengajaran (al-ta’lim). Pendidikan tidak sebatas pengajaran semata.

[23] Al-idrak (kognisi) adalah dasar utama pembelajaran. Potensi-potensi intelektual peserta didik berkaitan erat dengan materi yang diajarkan.

[24] Usia yang pantas untuk pengajaran awal ialah 6 tahun. Pendidikan keutamaan (nilai) tidak cukup diajarkan di sekolah. Sanksi (hukuman) dalam pendidikan harus yang bersifat edukatif.

[25] Guru berusaha mendekatkan materi pengetahuan yang diajarkan dengan pemahaman subjek didik seiring dengan perkembangan usianya. Guru mengawali pembelajaran dengan penyampaian problem inti dari setiap bab kemudian diulas secara elaboratif-diskursif dan diakhiri dengan penyusunan strategi lanjut berupa diskusi, dialog, dan adu argumentasi.

[26] Posisi guru tidak tergantikan oleh apa dan siapapun, termasuk oleh buku.

[27] Ibid., hlm. 197-199.

[28] Hubungan teori-teori pendidikan dengan sumber-sumber filosofisnya ini bisa dilihat dalam George R. Knight, Filsafat Pendidikan, terj. Mahmud Arif, cet. ke-1, (Yogyakarta: Gama Media, 2007), hlm. 144.

[29] Ibid., hlm. 78.

[30] Ibid., hlm. 79-80.

[31] Ibid., hlm. 90-91.

[32] Ibid., hlm. 101-102.

[33] Ibid., hlm. 118-123.

[34] Ibid., hlm. 135-139.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s