KEPRIBADIAN PENDIDIK DALAM AL-QUR’AN


KEPRIBADIAN PENDIDIK DALAM AL-QUR’AN

Oleh: Ahmad Saefudin

 

A.    Pengertian Kepribadian Pendidik

Terma kepribadian sangat populer dalam ranah disiplin Ilmu Psikologi, -lebih spesifik lagi Psikologi Kepribadian. Salah satu tokoh yang sering menjadi rujukan untuk mendefinisikan arti kepribadian ialah Gordon W. Allport. Konsepsi kepribadian menurutnya ialah organisasi dinamis dalam individu sebagai sistem psikofisis yang menentukan caranya yang khas dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungan.[1] Apa yang membedakan antara “kepribadian”, “watak”, “sifat”, dan “sikap”? Bagi Allport, sebagaimana penjelasan Sumadi Surya Brata, watak (character) dan kepribadian (personality) adalah satu dan sama, akan tetapi dipandang dari segi yang berlainan.[2] “Watak” diidentikkan dengan pelekatan norma-norma dan penilaian terhadap seseorang, sedangkan “kepribadian” lebih bersifat netral dan gambaran apa adanya.

Sedangkan sikap (attitude) selalu berhubungan dengan sesuatu obyek, sedangkan sifat (trait) tidak. “Sifat” hampir selalu lebih besar/luas daripada sikap. Semakin besar jumlah obyek yang dikenai “sikap”, maka “sikap” semakin  mirip dengan “sifat”. “sikap” biasanya memberikan pernilaian (menerima atau menolak) terhadap obyek yang dihadapi, sedangkan sifat tidak.[3] Secara simplistis, kepribadian kemudian diartikan sebagai sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang yang membedakannya dari orang lain.[4]

Ketika istilah “kepribadian” disandingkan dengan  “pendidik/guru”, cara pandang kita kemudian mau tidak mau perlu bergeser dari perspektif ilmu psikologi ke ilmu pendidikan. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, mengamanatkan guru sebagai pendidik[5] profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.[6] “Kepribadian” merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh pendidik sebagai cerminan profesionalisme seperti yang termaktub dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.[7]

Al-Qur’an, -yang dalam pandangan M. Quraish Shihab, memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, syari’ah, dan akhlak, dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsipil mengenai persoalan-persoalan tersebut[8]-, dalam narasi ayat-ayatnya menjelaskan kepribadian manusia dan ciri-ciri umum yang membedakannya dengan makhluk lain.[9] Rif’at Syauqi Nawawi mengulas beberapa ayat Al-Qur’an mengenai kepribadian manusia seperti yang tercantum dalam QS. Asy-Syams (91): 7-10 yang berbunyi:

Artinya: “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.[10]

Dari ayat tersebut, kita dapat melihat bahwa kesejatian “nafs/jiwa” manusia mempunyai dua kecenderungan sekaligus, yaitu potensi berkepribadian “baik” yang direpresentasikan dengan “taqwa”,  juga “buruk” dengan tabiat “kefasikan”. Manusia yang mampu membersihkan “nafs” dari segala kotoran termasuk dalam kategori “beruntung” sebab mampu memanifestasikan “kepribadian qur’ani” yaitu kepribadian (personality) yang dibentuk dengan susunan sifat-sifat yang sengaja diambil dari nilai-nilai yang diajarkan Allah dalam Al-Qur’an.[11]

Di lihat dari ruang lingkup pembahasan Psikologi Kepribadian Islam, paling  tidak ada tujuh istilah substansial yang semakna dengan kepribadian, yaitu al-fithrah[12] (citra asli), al-hayah[13] (vitality), al-khuluq[14] (karakter), al thab’u[15] (tabiat), al-sajiyah[16] (bakat), al-sifat (sifat-sifat) dan al-‘amal[17] (perilaku).[18]

B.     Profil Pendidik dalam Al-Qur’an

Profil pendidik di dalam Al-Qur’an setidaknya ada 4, yaitu: Allah, para nabi dan rasul, orang tua, dan orang lain (yang dalam hal ini disebut guru).[19] Allah sebagai pendidik terdapat dalam QS. Al-Baqarah ayat 32 yang berbunyi:

Artinya: “Mereka menjawab: Maha suci Engkau, tidak ada yang Kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana”.[20]

Allah SWT juga menjelaskan dalam firman-Nya tentang kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai pendidik:

Artinya: “1. Hai orang yang berkemul (berselimut), 2. Bangunlah, lalu berilah peringatan! 3. Dan Tuhanmu agungkanlah! 4. Dan pakaianmu bersihkanlah,5. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, 6. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. 7. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.[21]

Pendidik berikutnya yang tersebut di dalam al-Qur’an ialah orang tua sebagaiman diceritakan dalam Surat Luqman berikut:

Artinya: “12. Dan Sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, Yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. dan Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan Barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. 13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. 14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. 15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. 16. (Luqman berkata): “Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui. 17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). 18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. 19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai”.[22]

Profil pendidik terakhir di dalam al-Qur’an yaitu orang lain seperti yang tergambar dalam Surat al-Kahfi di bawah ini:

Artinya: “60. Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya[23]: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke Pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”. 61. Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu. 62. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: “Bawalah kemari makanan kita; Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”. 63. Muridnya menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mecari tempat berlindung di batu tadi, maka Sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali”. 64. Musa berkata: “Itulah (tempat) yang kita cari”. lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. 65. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami[24]. 66. Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” 67. Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. 68. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” 69. Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun”. 70. Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, Maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu”. 71. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidhr melobanginya. Musa berkata: “Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?” Sesungguhnya kamu telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar. 72. Dia (Khidhr) berkata: “Bukankah aku telah berkata: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku”. 73. Musa berkata: “Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku”. 74. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, Maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena Dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”. 75. Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?” 76. Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, Maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, Sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku”. 77. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”. 78. Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. 79. Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. 80. Dan Adapun anak muda itu, Maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan Kami khawatir bahwa Dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. 81. Dan Kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya). 82. Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”.[25]

 C.    Kepribadian Pendidik dalam Al-Qur’an

Setelah mengetahui profil pendidik di dalam al-Qur’an, kemudian kita memahami berbagai bentuk kepribadian yang melekat pada masing-masing empat profil pendidik tersebut. Berdasarkan surat al-Baqarah ayat 32 kita bisa mencontoh sifat Allah SWT berupa al-‘alim (Maha mengetahui) dan al-hakim (Maha Bijaksana). Pendidik yang berkepribadian al-‘alim tidak pernah berhenti untuk belajar dan senantiasa mematangkan kapabilitas intelektual. Pendidik bisa tidak bisa harus cerdas, buka saja dari aspek materi pembelajaran, tetapi juga bidang paedagogis (pengelolaan pembelajaran).[26] Bersikap bijaksana berarti seorang pendidik selalu menggunakan akal budinya, arif,  tajam pikiran, pandai dan hati-hati, cermat dan  teliti apabila menghadapi kesulitan.[27]

Dari pemaknaan kita terhadap surat al-Muddatsir ayat 1-7, pendidik diharuskan untuk memberi peringatan terhadap peserta didik ketika melanggar norma, menyandarkan profesinya pada keagungan Tuhan, rapi dan bersih dalam berbusana, meninggalkan larangan-larangan agama, tidak pamrih, dan bersikap sabar baik di dalam maupun di luar kelas.

Surat Luqman ayat 12-19 mengajarkan kepada pendidik untuk bersyukur kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya, anti kezaliman, berbuat baik kepada dua orang tua (terutama ibu) dan taat kepada mereka dalam hal kebaikan, tidak meninggalkan kewajiban seperti shalat lima waktu, mengerjakan kebaikan serta mencegah kemungkaran, tidak angkuh, sombong, dan membanggakan diri, hidup penuh kesederhanaan, dan lemah lembut. Sedangkan surat al-Kahfi ayat 60-82 memberikan pelajaran bagi pendidik untuk pantang putus asa dalam mencapai target dan tujuan pembelajaran, tidak malu untuk belajar kepada pendidik lain atau bahkan muridnya sendiri, sabar menghadapi problem kependidikan, tidak mudah untuk menghakimi (memberi cap “buruk”) kepada peserta didik, tidak memberi hukuman di luar batas kemampuan peserta didik, dan tidak mempersulit pembelajaran, dan tidak memberikan kesimpulan pada setiap materi pembelajaran tanpa didahului analisis mendalam.[28]

Mohd. Athiyah Al-Abrasyi mengidentifikasi sifat-sifat yang harus dimiliki oleh guru dalam pendidikan Islam. Di antaranya meliputi: 1) zuhud, artinya pendidik tidak mengutamakan materi dan melakukan kegiatan pembelajaran hanya karena Allah SWT semata; 2) membersihkan diri baik fisik maupun psikisnya dari dosa besar, sifat ria, dengki, permusuhan, dan sifat tercela lainnya; 3) ikhlas dalam pekerjaannya; 4) bersifat pemaaf, sabar, dan mampu mengendalikan dirinya; 5) mencintai peserta didik seperti ia mencintai anaknya sendiri; 6) mengetahui tabiat peserta didik; dan 7) berkompeten dalam menyampaikan materi pelajaran.[29]

Sifat zuhud bukan berarti tidak membolehkan guru untuk menerima gaji sesuai dengan proporsi kinerjanya. Sebagai profesi, menjadi guru  tidak beda dengan matapencaharian lain seperti petani, buruh, pegawai, yang semuanya menuntut konsekuensi logis berupa honorarium. Al-Abrasyi menyatakan:

Menurut pendapat kita, menerima gaji itu tidak bertentangan dengan maksud mencari keridlaan Allah dan zuhud di dunia ini, oleh karena seorang alim atau sarjana –betapapun zuhud dan kesederhanaan hidupnya – membutuhkan juga uang untuk menutupi kebutuhan-kebutuhan hidup.[30]

Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dalam karyanya Propethic Parenting; Cara Nabi SAW Mendidik Anak menjelaskan tentang karakter pendidik sukses sebagai perasan nilai-nilai ajaran al-Qur’an dan Hadis. Setidaknya pendidik yang sukses harus memiliki sikap dan sifat berikut: 1) Tenang dan tidak terburu-buru, 2) Lembut dan tidak kasar, 3) Hati yang penyayang, 4) Memilih yang termudah selama bukan termasuk dosa, 5) Toleransi, 6) Menjauhkan diri dari marah, 7) seimbang dan proporsional, dan 8) Selingan dalam memberi nasehat.[31]

D.    Kesimpulan

Kesimpulan makalah ini yaitu:

  1. Kepribadian secara sederhana berarti sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang yang membedakannya dari orang lain.
  2. Profil pendidik di dalam Al-Qur’an setidaknya ada 4, yaitu: Allah, para nabi dan rasul, orang tua, dan orang lain (yang dalam hal ini disebut guru).
  3. Kepribadian pendidik dalam al-Qur’an tercermin dari:
  1. Surat al-Baqarah ayat 32 yaitu pendidik hendaknya mencontoh sifat Allah SWT berupa al-‘alim (Maha mengetahui) dan al-hakim (Maha Bijaksana).
  2. Surat al-Muddatsir ayat 1-7, pendidik diharuskan untuk memberi peringatan terhadap peserta didik ketika melanggar norma, menyandarkan profesinya pada keagungan Tuhan, rapi dan bersih dalam berbusana, meninggalkan larangan-larangan agama, tidak pamrih, dan bersikap sabar baik di dalam maupun di luar kelas.
  3. Surat Luqman ayat 12-19 mengajarkan kepada pendidik untuk bersyukur kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya, anti kezaliman, berbuat baik kepada dua orang tua (terutama ibu) dan taat kepada mereka dalam hal kebaikan, tidak meninggalkan kewajiban seperti shalat lima waktu, mengerjakan kebaikan serta mencegah kemungkaran, tidak angkuh, sombong, dan membanggakan diri, hidup penuh kesederhanaan, dan lemah lembut.
  4. Surat al-Kahfi ayat 60-82 memberikan pelajaran bagi pendidik untuk pantang putus asa dalam mencapai target dan tujuan pembelajaran, tidak malu untuk belajar kepada pendidik lain atau bahkan muridnya sendiri, sabar menghadapi problem kependidikan, tidak mudah untuk menghakimi (memberi cap “buruk”) kepada peserta didik, tidak memberi hukuman di luar batas kemampuan peserta didik, dan tidak mempersulit pembelajaran, dan tidak memberikan kesimpulan pada setiap materi pembelajaran tanpa didahului analisis mendalam.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Abrasyi, Mohd. Athiyah, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, cet. ke-7, terj. Bustami A. Gani dan Djohar Bahry L.I.S., (Jakarta: PT. Bukan Bintang, 1993).

As’ad, A. Tauhedi, “Konsep Kepribadian Pendidik Menurut Nalar Al-Qur’an”, http://tauhediasad.blogspot.com/2013/02/konsep-tentang-kepribadian-pendidik.html. diakses pada 31 oktober 2013.

Basri, Hasan dan Beni Ahmad Saebani, Ilmu Pendidikan Islam (Jilid II), cet. ke-1, (Bandung: Pustaka Setia, 2010).

Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an Terjemah Edisi Tahun 2002, (Jakarta: Al Huda, 2005).

Hifza, “Pendidik dan Kepribadiannya dalam Al-Qur’an”, Tesis, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2010.

http://kbbi.web.id/. Diakses pada 31 Oktober 2013.

Mujib, Abdul, Kepribadian dalam Psikologi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007).

Nawawi, Rif’at Syauqi, Kepribadian Qur’ani, cet. ke-1, (Jakarta: Amzah, 2011).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 tentang Guru.

Shihab, M. Quraish, Membumikan Al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Edisi ke-2, cet. ke-1, (Jakarta: Mizan, 2013).

Software KBBI Offline versi 1.5.1.

Software Quran_in_Word.

Suryabrata, Sumadi, Psikologi Kepribadian, cet. ke-3, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986).

Suwaid, Muhammad Nur Abdul Hafizh, terj. Farid Abdul Aziz Qurusy, Prophetic Parenting; Cara Nabi SAW Mendidik Anak, (Yogyakarta: Pro-U Media, 2010), hlm. 237.

Undang-Undang Republik IndonesiaNomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.


[1] Definisi tersebut kemudian diperjelas oleh Sumadi Suryabrata dengan merinci beberapa keyword agar tidak terjadi kesalahpahaman. “organisasi dinamis” menekankan kenyataan bahwa kepribadian itu selalu berkembang dan berubah. “psikofisis” menunjukkan bahwa kepribadian bukanlah eksklusif (semata-mata) mental dan bukan pula semata-mata neural. Organisasi kepribadian melingkupi kerja tubuh dan jiwa. “menentukan” berarti kepribadian mengandung tendens-tendens determinasi yang memainkan peranan aktif dalam tingkahlaku individu. Kepribadian bukanlah hanya susunan si pengamat, bukan pula sesuatu yang hanya ada selama ada orang lain yang bereaksi terhadapnya. Jauh dari itu kepribadiaan mempunyai eksistensi riil termasuk juga segi-segi neural dan fisiologis. Kata “khas (unik)” menunjukkan bahwa tidak ada dua orang yang mempunyai kepribadian sama. “Menyesuaikan diri terhadap lingkungan” menunjukkan bahwa kepribadian mengantarai individu dengan lingkungan fisis dan psikologisnya, kadang-kadang menguasainya. Jadi, kepribadian adalah sesuatu yang mempunyai fungsi atau arti adaptasi dan menentukan. Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, cet. ke-3, (Jakarta: CV. Rajawali, 1986), hlm. 240-241.

[2] Ibid., hlm. 2-3.

[3] Ibid., hlm. 244.

[4] http://kbbi.web.id/. Diakses pada 31 Oktober 2013.

[5] Kata “pendidik” berasal dari “didik” yang bermakna memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. “Pendidik” berarti orang yang mendidik. Ibid.

[6] Undang-Undang Republik IndonesiaNomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 1 ayat (1).

[7] Kompetensi merupakan seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup: beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, arif dan bijaksana, demokratis, mantap, berwibawa, stabil, dewasa,jujur, sportif, menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat, secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri, dan mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 tentang Guru, pasal 3 ayat (1) dan (5).

[8] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, Edisi ke-2, cet. ke-1, (Jakarta: Mizan, 2013), hlm. 45.

[9] Rif’at Syauqi Nawawi, Kepribadian Qur’ani, cet. ke-1, (Jakarta: Amzah, 2011), hlm. 28.

[10] Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an Terjemah Edisi Tahun 2002, (Jakarta: Al Huda, 2005), hlm. 596.

[11] Ibid., hlm. 49.

[12] Konsep fitrah terdapat dalam surat ar-Rum ayat 30 yang berbunyi:

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Ar-Rum (30): 30). Departemen Agama RI melalui Mushaf Al-Qur’an Terjemah Edisi Tahun 2002 menambahkan keterangan dalam  catatan kaki singkat bahwa fitrah Allah maksudnya ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Departemen Agama RI, Mushaf Al-Qur’an …, hlm. 408. Fitrah juga bisa diartikan bersih tanpa dosa dan noda, baik dalam akal maupun nafsunya. Dengan demikian, manusia yang masih fitrah adalah manusia yang masih bersih dari dosa. Lihat selengkapnya dalam Hasan Basri dan Beni Ahmad Saebani, Ilmu Pendidikan Islam (Jilid II), cet. ke-1, (Bandung: Pustaka Setia, 2010), hlm. 124.

[13] Hayah adalah daya, tenaga, energi, atau vitalitas hidup manusia yang karenanya manusia dapat bertahan hidup. Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 44. Ada lebih dari 50 bentuk lafal hayah dengan segala derivasinya. Seperti yang tercantum dalam Surat Ibrahim ayat 3:

(yaitu) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh. (QS. Ibrahim (14): 3).

[14] Khuluq (bentuk tunggal dari akhlaq) adalah kondisi batiniah (dalam) bukan lahiriah (luar). …dalam terminologi psikologi, karakter adalah watak, perangai, sifat dasar yang khas; satu sifat atau kualitas yang tetap terus menerus dan kekal yang dapat dijadikan ciri untuk mengidentifikasikan seorang pribadi. Ibid., hlm. 45. Di dalam Al-Qur’an terdapat dalam surat al-Qalam ayat 4:

Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS. Al-Qalam (68): 4).

[15] Tabiat yaitu citra batin individu yang menetap (al-sukun). Tabiat diklasifikasikan menjadi dua bagian, pertama natur baik merupakan natur asli tabiat manusia seperti: 1) memikul amanah Allah (QS. Al-Ahzab (33): 72), 2) memiliki potensi untuk memahami, melihat, dan mendengarkan ayat-ayat Allah, 3) memiliki ilmu pengetahuan melalui penguasaan asma-asma, 4) memiliki beberapa sifat dan insting yang lengkap, 5) tabiat biologisnya diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (ahsani taqwim). Kedua, natur tabiat yang buruk, diantaranya: 1) diciptakan dalam kondisi lemah, 2) tergesa-gesa (QS. Al-Anbiya’ (21): 37, 3) keluh kesah dan kikir, 4) memiliki kebiasaan putus asa dan kufur nikmat, 5) suka melampaui batas, 6) tidak mau menyadari karunia Allah yang diberikan kepadanya, dan 7) mudah lalai apa yang telah diberikan. Ibid., hlm. 46.

[16] Yaitu kebiasaan (‘adah) individu yang berasal dari hasil integrasi antara karakter individu (fardiyayah) dengan aktivitas-aktivitas yang diusahakan (al-muktasab). Dalam terminologi psikologi, sajiyah diterjemahkan dengan bakat (aptitude) yaitu kapasitas, kemampuan yang besifat potensial. Ibid., 47.

[17] Yaitu tingkah laku lahiriah individu yang tergambar dalam bentuk perbuatan nyata. Ibid., hlm. 48.

[18] Ibid., hlm. 43.

[19] Hifza, “Pendidik dan Kepribadiannya dalam Al-Qur’an”, Tesis, Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga, 2010, hlm. 24.

[20] QS. Al-Baqarah [2]: 32. Diambil dari software Quran_in_Word.

[21] QS. Al-Muddatsir [74]: 1-7. Ibid.

[22] QS. Luqman [31]: 12-19. Ibid.

[23] Menurut ahli tafsir, murid Nabi Musa a.s. itu ialah Yusya ‘bin Nun. Ibid.

[24] Menurut ahli tafsir hamba di sini ialah Khidhr, dan yang dimaksud dengan rahmat di sini ialah wahyu dan kenabian. sedang yang dimaksud dengan ilmu ialah ilmu tentang yang ghaib seperti yang akan diterangkan dengan ayat-ayat berikut.

[25] QS. Al-Kahfi [18]: 60-82. Ibid.

[26] Kemampuan paedagogis sekurang-kurangnya meliputi: pemahaman wawasan atau landasan kependidikan, pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum dan silabus, perancangan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, pemanfaatan teknologi pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Peraturan Pemerintah …, pasal 3 ayat (4).

[27] Software KBBI Offline versi 1.5.1.

[28] Jika kita amati, hal ini sejalan dengan rumusan kompetensi sosial pendidik yang meliputi kemampuan berkomunikasi lisan, tulis, dan atau isyarat secara santun, menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional, bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, pimpinan satuan pendidikan, orang tua, atau wali peserta didik, bergaul secara santun dengan dengan masyarakat sekitar, dengan mengindahkan norma, serta sistem nilai yang berlaku, dan menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan. Selain kompetensi sosial, pendidik juga dituntut cakap dalam penguasaan kompetensi profesional yaitu kemampuan guru dalam menguasai bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau seni budaya sesuai dengan standar sisi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan atau kelompok mata pelajaran yang akan diampu. Peraturan Pemerintah …, pasal 3 ayat (6) dan (7).

[29] Mohd. Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, cet. ke-7, terj. Bustami A. Gani dan Djohar Bahry L.I.S., (Jakarta: PT. Bukan Bintang, 1993), hlm. 136-141. Lihat juga dalam Tauhedi As’ad A., “Konsep Kepribadian Pendidik Menurut Nalar Al-Qur’an”, http://tauhediasad.blogspot.com/2013/02/konsep-tentang-kepribadian-pendidik.html. diakses pada 31 oktober 2013.

[30] Mohd. Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok …, hlm. 137.

[31] Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid, terj. Farid Abdul Aziz Qurusy, Prophetic Parenting; Cara Nabi SAW Mendidik Anak, (Yogyakarta: Pro-U Media, 2010), hlm. 67-75.

2 pemikiran pada “KEPRIBADIAN PENDIDIK DALAM AL-QUR’AN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s