SARJANA PENDIDIKAN ISLAM VS PENGANGGURAN


SARJANA PENDIDIKAN ISLAM VS PENGANGGURAN

Oleh: Ahmad Saefudin

Setiap tahunnya, Perguruan Tinggi (PT) di masing-masing daerah di Indonesia meluluskan ribuan mahasiswa dengan berbagai bidang keahlian sesuai dengan disiplin ilmu yang ditekuninya. Kehadiran orang terdidik bergelar sarjana tersebut tentunya sangat dibutuhkan masyarakat sebagai problem solver atas berbagai permasalahan sosial. Ironisnya, sarjana yang baru keluar dari dunia akademik kampus terkadang tidak langsung terserap oleh kebutuhan tenaga kerja. Akhirnya, mereka mengisi daftar baru pengangguran terdidik.

Fakultas Tarbiyah sebagai produsen Sarjana Pendidikan Islam pun tidak lepas dari masalah tersebut. Betapa banyak calon guru Pendidikan Agama Islam (PAI) yang tenaganya tidak digunakan oleh lembaga pendidikan. Kesempatan mengamalkan teori pengetahuan pascawisuda harus tertunda karena banyak faktor. Faktor internal di antaranya ialah minimnya kompetensi dan skill kesarjanaan. Orientasi lulus cepat, dapat ijasah, dan langsung kerja mengakibatkan ketidakseriusan mahasiswa dalam mengikuti proses perkuliahan. Pengalaman pembelajaran di kampus sebagai penggemblengan keterampilan dilalui dengan proses biasa-biasa saja. Apalagi, tidak ditopang dengan aktivitas di luar kegiatan perkuliahan yang mendukung kematangan kapabilitas, misalnya aktif di organisasi kemahasiswaan. Efeknya, sarjana PAI terkesan gagap ketika dihadapkan pada problem realitas sosial. Secara eksternal, jumlah jam tatap muka pembelajaran PAI yang relatif sedikit -jika dibandingkan dengan mata pelajaran lain- menyebabkan kuota lapangan kerja yang tersedia bagi calon guru PAI terbatas. Selain itu, penyerapan yang tidak merata antara satu wilayah dengan wilayah lain menambah antrean panjang pengangguran calon guru PAI.

Oleh karena itu, mahasiswa fakultas Tarbiyah hendaknya mengasah kompetensi individual –terutama skill di luar basis disiplin keilmuan sehingga tidak hanya mengandalkan ijasah untuk mencari pekerjaan. Pemerintah sebagai pemangku kebijakan seyogyanya mengintensifkan kerja sama dengan PT di seluruh Indonesia agar program studi yang dibuka oleh masing-masing PT tidak mengalami over load ketika dihadapkan dengan dunia kerja. Selain itu, bisa juga memaksimalkan program pengiriman sarjana PAI ke daerah-daerah terpencil dalam rangka pemerataan pendidikan. Sarjana PAI harus berani membuka jalan baru untuk berdiaspora ke seluruh pelosok Negeri apabila di tempat asal mereka, tenaganya belum terpakai. Wallahu a’lamu bi al shawab. []

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s