PENYELAMATAN NASIB PESANTREN


PENYELAMATAN NASIB PESANTREN

Oleh: Ahmad Saefudin

Fenomena kiai terjun ke gelanggang politik praktis pasca reformasi menuai kontroversi. Bagi kalangan yang sepaham, peran kyai di ranah politik merupakan keniscayaan karena terdorong misi mulia; memperjuangkan lembaga pendidikan Islam, terutama pesantren dari sisi kebijakan politik. Kyai diharapkan memutus mata rantai diskriminasi Pemerintah terhadap pesantren, sehingga menempatkan lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara ini sejajar dengan lembaga-lembaga pendidikan lain seperti sekolah formal (SD, SMP, SMA) dan perguruan tinggi.

Sedangkan kubu lain yang berseberangan, beranggapan bahwa keberadaan kyai di panggung perpolitikan justru menjadi blunder dan menurunkan kharisma kewibawaan kyai. Figur sentral kyai di pesantren tidak mungkin tergantikan oleh siapapun, termasuk badal (pengganti), walaupun sudah mencapai predikat santri senior. Ketika kyai berpolitik, secara otomatis akan meninggalkan jagad kepesantrenan. Nasib santri terbengkelai. Peran pesantren sebagai benteng terakhir pelestari faham keislaman abad pertengahan akan mengalami reduksi sistematis dari dalam akibat ditinggalkan Sang Empunya.

Di dalam sistem pendidikan Nasional, pesantren belum ditempatkan sebagai lembaga pendidikan formal. Imbasnya, dari aspek kebijakan politik anggaran, pesantren masih ter(di)anaktirikan. Aliran dana segar dari total dua puluh persen anggaran pendidikan nasional belum bisa dinikmati maksimal. Sampai sekarang, secara formal kelembagaan, pesantren berada di bawah Kementerian Agama (kemenag). Namun, peran kemenag dalam ngrumati pesantren pun belum bisa dikatakan “baik”. Tidak sedikit pesantren-pesantren tradisional yang gulung tikar karena tidak memperoleh santri. Sementara, pesantren yang masih penuh dengan santri, tidak dibarengi dengan kualitas penataan sistem manajemen. Sarana dan prasarana pembelajaran tidak memadai. Identitas pesantren, -kecuali pesantren yang mempunyai akar historis yang kuat- kian pudar di mata masyarakat.

Salah satu reaksi agar tetap diminati publik, tidak jarang pesantren kemudian membuka lembaga pendidikan formal dengan perpaduan kurikulum yang terintegrasi antara ilmu-ilmu kepesantrenan dan ilmu umum. Santri senior didaulat sebagai tenaga pendidik meskipun secara akademis minim pengalaman tentang teori-teori pembelajaran. Wal hasil, pesantren kian kehilangan orientasi keilmuan.

Oleh karena itu, pakar pendidikan Islam, baik yang berlatar belakang pendidikan pesantren maupun umum, hendaknya berpikir keras untuk menyelamatkan nasib pesantren agar tetap kompetitif di tengah persaingan global. Kalau memang perlu, lembaga perguruan tinggi Islam semacam Universitas Islam negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) negeri maupun swasta mulai membuka program studi khusus yang membidangi kepesantrenan. Kajian keilmuan terfokus pada manajemen kelembagaan, pengembangan kurikulum, dan pemberdayaan santri. Jika tidak segera dilakukan, entah cepat ataupun lambat, pesantren akan hilang dari sejarah pendidikan Nusantara. Akan ada masa di mana suatu generasi sama sekali tidak mengenal pesantren, kyai, dan kitab kuning. Naudzibillah min dzalik.

2 pemikiran pada “PENYELAMATAN NASIB PESANTREN

  1. maka pilih pmimpin yg pduli dgn hal dmikian, dan jadikan psantren sbagai pndidikan formal untuk yg bragama islam. Prcuma gembar gembor kemajuan negara namun akhlak bangsanya rusak.
    Ksalahan trbesar umat islam adalah meningglkan ajaran islam itu sndiri, -j. Al afghani.
    salam humaniora !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s