SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA PADA MASA PRA KEMERDEKAAN; DARI ERA AWAL HINGGA KERAJAAN MATARAM


Oleh: Ahmad Saefudin, S.Pd.I 

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sejarah Pendidikan Islam yang diampu oleh Prof. Dr. H. Faisal Ismail, MA pada Program Studi Pendidikan Islam Konsentrasi Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Tahun 2013

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Istilah “sejarah”, menurut Sayid Quthub, bukan diartikan sebagai peristiwa-peristiwa masa lampau, melainkan tafsiran peristiwa-peristiwa dan pengertian mengenai hubungan-hubungan nyata dan tidak nyata, yang menjalin seluruh bagian serta memberinya dinamisme dalam waktu dan tempat.[1] Dalam perspektif demikian, sejarah tidak bisa terlepas dari faktor pemahaman sang penafsir sejarah (author), konteks ruang dan waktu, dan peristiwa-peristiwa terkait ketika “sejarah” tersebut dipanggungkan di ranah publik. Oleh karena itu, tidaklah mengejutkan jika kita menemukan perbedaan-perbedaan substansial pada penulisan sejarah, baik nama tokoh, penyebutan tempat, penulisan tahun, bahkan narasi kejadian yang menjadi fakta cerita pada setiap adegannya.

Begitu pula, dalam upaya pendeskripsian “sejarah pendidikan Islam di Indonesia pada masa pra kemerdekaan; dari era awal hingga Kerajaan Mataram”, dalam pencarian otentisitas fakta, masih terdapat kesulitan fundamental. Menurut Mukti Ali, sebagaimana dikutip oleh Zuhairini dalam buku Sejarah Pendidikan Islam, kesulitan tersebut disebabkan penulisnya adalah orang-orang yang tidak senang kepada Islam dan kepada bangsa Indonesia. Selain itu, juga karena rentang waktu penyelidikan yang sudah lama, sehingga penulisan sejarah pendidikan Islam oleh orang pribumi terkesan sudah ketinggalan zaman, dan sudah ada bukti-bukti lain yang lebih dahulu ditulis oleh orang non pribumi, misalnya orang Belanda.[2]

Meskipun demikian, kita tidak semestinya berhenti melakukan –oleh apa yang diistilahkan Asvi Warman Adam sebagai- pelurusan sejarah pendidikan Islam di Indonesia, agar sejarah sebagai peristiwa yang dialami (histoire-realite) tidak melenceng jauh dari  sejarah sebagaimana yang dikatakan (histoire-recit).[3]

B.     Rumusan Masalah

Dalam makalah ini, penulis merumuskan beberapa masalah sebagai pijakan kajian, di antaranya:

  1. Apa pengertian sejarah pendidikan Islam?
  2. Bagaimana sejarah pendidikan Islam di Indonesia pada masa pra kemerdekaan; dari era awal hingga Kerajaan Mataram?

C.    Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan ini yaitu:

  1. Untuk mengetahui pengertian sejarah pendidikan Islam.
  2. Untuk memahami sejarah pendidikan Islam di Indonesia pada masa pra kemerdekaan; dari era awal hingga Kerajaan Mataram.

BAB II

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA PADA MASA PRA KEMERDEKAAN; DARI ERA AWAL HINGGA KERAJAAN MATARAM

A.    Pengertian Sejarah Pendidikan Islam

Sejarah dalam bahasa Arab disebut tarikh atau sirah yang bermakna ketentuan masa atau waktu.[4] Juga bisa diambil dari kata syajarah yang berarti pohon, histore (Perancis), Gheschicte (Jerman), histoire atau Geschiedenis (Belanda).[5] Dalam Oxford Advanced Learne’s Dictionary of Curent English, As-Hornby –seperti yang dikutip Hasbullah- mengartikan sejarah (history) sebagai uraian secara tertib tentang kejadian-kejadian masa lalu.[6] Dalam Bahasa Indonesia sejarah berarti silsilah; asal-usul (keturunan); kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau.[7] Secara istilah (terminologis) sejarah diartikan sebagai  sejumlah keadaan dan peristiwa yang terjadi di masa lampau, dan benar-benar terjadi pada diri individu dan masyarakat, sebagaimana benar-benar terjadi pada kenyataan-kenyataan alam dan manusia.[8] Dalam perspektif ilmu pengetahuan, sejarah menjadi terbatas hanya mengenai aktivitas manusia yang berhubungan dengan kejadian-kejadian tertentu (unik) yang tersusuin secara kronologis.[9]

Kata “pendidikan” dalam Mu’jam al-Lughah  al-‘Arabiyah al-Mu’ashirah diambil dari kata al-tarbiyah yang diartikan sebagai education (pendidikan), upbringing (pengembangan), teaching (pengajaran), instruction (perintah), pedagogy (pembinaan kepribadian), breeding (memberi makan), raising (of animals) (menumbuhkan).[10] Al-tarbiyah dapat berarti proses menumbuhkan dan mengembangkan apa yang ada pada diri peserta didik, baik secara fisik, psikis, sosial, maupun spiritual.[11] Menurut Ki Hajar Dewantara pendidikan ialah segala usaha dari orang tua terhadap anak-anak dengan maksud menyokong kemajuan hidupnya, dalam arti memperbaiki bertumbuhnya segala kekuatan jasmani dan rohani, yang pada anak-anak karena kodrat dan iradatnya sendiri.[12] Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 mengartikan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.[13]

Berdasarkan uraian di atas, Sejarah Pendidikan Islam berarti catatan peristiwa tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam sejak lahirnya hingga sekarang ini. Atau satu cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, baik dari segi gagasan atau ide-ide, konsep, lembaga maupun operasionalisasi sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini.[14]

Sebagai batasan pembahasan, penulis hanya akan mengulas sejarah pendidikan Islam di Indonesia pada masa pra kemerdekaan yang dikhususkan pada era awal hingga Kerajaan Mataram.

B.     Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia pada Masa Pra Kemerdekaan; dari Era Awal hingga Kerajaan Mataram

Berdasarkan klasifikasi yang dibuat oleh Zuhairini, sejarah Islam di Indonesia pra kemerdekaan terbagi ke dalam beberapa fase, di antaranya, fase datangnya Islam ke Indonesia; fase pengembangan dengan melalui proses adaptasi; fase berdirinya kerajaan-kerajaan Islam (proses politik); fase kedatangan orang barat (zaman penjajahan); dan fase penjajahan Jepang.[15].

 

  • Fase datangnya Islam ke Indonesia.

 

Sejarah (Zuhairini, dkk., 2008) menyanggah pendapat yang menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada pertengahan abad 12 M oleh para muballigh dari Persi (Iran) atau dari India Barat (Gujarat). Menurut sumber bukti terbaru, Islam masuk ke Indonesia pada abad 7 M/1 H yang disebarkan oleh pedagang dan muballigh dari Arab di pantai barat Pulau Sumatera, tepatnya di daerah Baros. Interaksi penyebaran Islam kepada penduduk lokal melalui kontak jual beli, perkawinan, dan dakwah baik secara individu maupun kolektif.[16] Pada masa ini, pendidikan Islam diperkenalkan bertahap, mulai dari mengucapkan kalimah syahadat sebagai simbolisme formal masuk agama Nabi Muhammad SAW serta diajak untuk mengakui rukun iman dan Islam. Tahap selanjutnya, mereka secara informal mengenalkan syariat dan ritual ibadah Islam yang lain seperti shalat lima waktu dan membaca al-Qur’an.

 

  • Fase Pengembangan melalui Proses Adaptasi.

 

Mahmud Yunus menggambarkan pendidikan Islam pada fase ini ditandai dengan terbentuknya sistem langgar atau surau sebagai pusat studi keislaman. Dengan dipandu oleh juru dakwah yang biasanya dikenal dengan sebutan modin atau lebai, pengajian al-Qur’an dibedakan menjadi dua tingkatan. Pertama, tingkat rendah atau pemula dengan materi pembelajaran pengenalan huruf dan bacaan al-Qur’an pada malam dan pagi hari sesudah shalat subuh. Kedua, tingkat atas, yaitu dengan penambahan beberapa pembelajaran seperti pelajaran lagu, qasidah, barzanji, dan tajwid.[17] Metode yang digunakan ialah dengan cara sorogan dan halaqah.[18]

Sebagai pengembangan dari sistem langgar, kemudian berlaku sistem pesantren. Zamakhsari Dhofier setelah mengutip pendapat A.H Johns dan CC Berg, menjelaskan bahwa terma “santri” berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru mengaji. Atau dari bahasa India “shastri” yaitu mereka yang tahu buku-buku suci agama Hindu.[19] Selain sorogan dan halaqah, cara pembelajaran juga menggunakan metode bandongan yaitu belajar secara berkelompok yang diikuti oleh seluruh santri, biasanya kyai menggunakan bahasa daerah setempat dan langsung menterjemahkan kalimat demi kalimat dari kitab yang dipelajarinya.[20]

 

  • Fase Berdirinya Kerajaan-Kerajaan Islam (Proses Politik)

 

Setelah tiga abad bergulat dalam proses penyesuaian terhadap kultur masyarakat Nusantara, Islam menjelma dalam kekuatan politik dengan munculnya bentuk pemerintahan yang bercorak kerajaan di berbagai daerah, khusunya di wilayah pesisir pantai. Di antaranya adalah:

 

  • Kerajaan Islam di Aceh.

 

Paling tidak, terdapat tiga kerajaan Islam yang berkembang di bumi “Serambi Makkah”. Pertama, Samudera Pasai dengan rajanya yang pertama Al Malik Ibrahim bin Mahdum, disusul Al Malik Al Shaleh, dan yang terakhir bernama Malik Sabar Syah. Sistem pendidikan Islam pada masa ini, sebagaimana keterangan Ibnu Batutah, bercirikan:

1)      Materi pendidikan  dan pengajaran agama bidang syariat ialah Fiqh Madzhab Syafi’i.

2)      Sistem pendidikannya secara informal berupa majlis taklim dan halaqah.

3)      Tokoh pemerintahan merangkap sebagai tokoh ulama.

4)      Biaya pendidikan agama bersumber dari negara.[21]

Di samping Pasai, Perlak juga menjadi kerajaan di Aceh yang dipimpin oleh Sultan Muhammad Amin Syah (1225-1236 M). Konon, putrinya, Putri Ganggang Sari kemudian menikah dengan Raja Pasai Sultan Malik Al Shaleh (Merah Selu) sehingga ada yang mengatakan bahwa Perlak menjadi kerajaan Islam tertua di Indonesia. Namun, tegas Hasbullah, tidak banyak bahan kepustakaan yang menunjukkan bukti kuat dari pendapat tersebut. Majlis taklim telah berkembang sebagai salah satu metode pendidikan Islam, bahkan materi pembelajarannya merambah kepada kitab-kitab agama karya ulama klasik abad pertengahan seperti Al-Um karya Imam Syafi’i. Kerajaan Islam selanjutnya ialah Aceh Darussalam (1511-1874 M). Pendirinya ialah Sultan Muhammad Syah dan mencapai zaman kejayaan pada  masa Sultan Mudzaffar Syah (1450 M). Dalam bidang pendidikan Islam, Aceh Darussalam mewariskan peninggalan penting seperti Balai Seutia Hukama (sejenis lembaga ilmu pengetahuan tempat berkumpulnya para cerdik cendekia), Balai Seutia Ulama (lembaga yang mengurusi masalah pendidikan dan pengajaran),  dan Balai Jamaah Himpunan Ulama (kelompok studi para ulama). Jenjang pendidikan dimulai dari meunasah atau madrasah (sekolah dasar yang mengajarkan baca tulis Arab, bahasa Jawi/Melayu, dan Sejarah Islam), rangkang (setingkat lembaga MTs dengan materi pembelajaran Bahasa Arab, ilmu bumi, sejarah, berhitung, akhlak, dan fiqh, dayah (setara dengan Madrasah Aliyah dengan tambahan materi tasawuf, tata negara, dan ilmu pasti/faraid, dayah teuku cik (semacam perguruan tinggi yang memfasilitasi peserta didik untuk mempelajari fiqh, tafsir, hadis, ilmu kalam, mantiq, sampai filsafat.

 

  • Kerajaan Demak

 

Pasca keruntuhan Majapahit (1400 M)[22] Demak menjadi pusat pemerintahan Islam dengan Raden Patah (Panambahan Jimbun) sebagai pemimpinnya. Dengan di bantu para sunan yang lebih populer dengan sebutan wali sanga, seperti Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Kaljaga, Raden patah mengubah tata cara pemujaan berhala dan menjadi pemimpin dari semua agama. Setelah 12 tahun memerintah, Raden Patah kemudian digantikan anaknya Pangeran Sabrang Lor (1409 M). Akibat radang paru-paru yang dideritanya, kekuasaan beralih ke tangan saudaranya, Pangeran Trenggana (Panambahan Makdum Jati) dengan bantuan Sunan Kudus sebagai ulama tertinggi kerajaan. Pada masa inilah agama Islam berkembang pesat. Masjid-masjid selesai dibangun, perjanjian kerukunan damai dibuat dengan raja-raja dari Kalimantan, Palembang, Bali, Singapura dan negeri-negeri lain di bumi Nusantara.[23] Hubungan erat yang terjalin antara pihak kerajaan dengan para wali memainkan peranan penting dalam proses pendidikan keislaman.[24] Sasarannya bukan saja kalangan rakyat, tetapi juga di lingkungan kerajaan. Pusat dari segala jenis kegiatan pendidikan ditempatkan pada masjid-masjid dan pesantren.

 

  • Kerajaan Islam Mataram (1575-1757)

 

Setelah wafatnya Sultan Trenggana kerajaan Islam berpindah ke negeri Pajang. Namun, baik Zuhairini maupun Hasbullah tidak memaparkan secara rinci peran dan kiprah kerajaan tersebut dalam mengembangkan sistem pendidikan Islam. Padahal, menurut Raffles, kebesaran Pajang dalam belantika sejarah kerajaan Islam di Indonesia layak untuk diapresiasi. Kerajaan kuno di Jawa pada saat itu terbagi menjadi tidak kurang dari delapan tampuk pemerintahan yang masing-masing terpisah dan berdiri sendiri, yaitu Bantam, Jokarta, Cheribon, Prawata, Kaliniamat, Pajang, Kedu, dan Madura. Para pemimpin kerajaan tersebut bergelar kiai gede atau sultan, setingkat di atas sunan.

Dalam The History of Java, sejarawan dari Inggris tersebut menjelaskan:

“Setahun setelah kematian Sultan Trenggana, negeri Pajang tumbuh sebagai daerah penting untuk diperhitungkan. Dan pemimpinnya, karena kepemilikan atas benda-benda kebesaran tersebut, ditempatkan sebagai yang teratas dalam tingkatan para raja yang memerintah di daerah bagian timur”.[25]

Hasbullah beranggapan perpindahan kerajaan dari Demak ke Pajang tidak memberikan dampak perubahan berarti dalam sistem pendidikan dan pengajaran Islam yang sudah berjalan.[26].

Pada tahun 1586 M, pusat kerajaan Islam bergeser dari Pajang ke Mataram. Pada masa pemerintahan Sultan Agung (1683), Mataram mencapai puncak kejayaan dengan daerah kekuasaan yang terus meluas hingga mencapai seluruh Pulau Jawa dan Madura. Hampir di setiap desa terdapat tempat pengajian al-Qur’an. Pengetahuan Islam seperti fiqh, tafsir, tasawuf, dan lainnya juga diajarkan dengan metode sorogan dan halaqah di pesantren besar yang terletak di daerah kabupaten. Bahkan, pada era ini mulai berkembang sepesialisasi pengetahuan Islam dengan berdirinya pesantren takhassus, yang memfokuskan pengkajian ilmu-ilmu tertentu.

BAB III

PENUTUP

A.     Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini yaitu:

  • Perspektif etimologis, sejarah dalam bahasa Arab disebut tarikh atau sirah yang bermakna ketentuan masa atau waktu. Juga bisa diambil dari kata syajarah yang berarti pohon, histore (Perancis), Gheschicte (Jerman), histoire atau Geschiedenis (Belanda). Terminologi sejarah diartikan sebagai  sejumlah keadaan dan peristiwa yang terjadi di masa lampau, dan benar-benar terjadi pada diri individu dan masyarakat, sebagaimana benar-benar terjadi pada kenyataan-kenyataan alam dan manusia. Kata “pendidikan” dalam Mu’jam al-Lughah  al-‘Arabiyah al-Mu’ashirah diambil dari kata al-tarbiyah yaitu proses menumbuhkan dan mengembangkan apa yang ada pada diri peserta didik, baik secara fisik, psikis, sosial, maupun spiritual. Sejarah Pendidikan Islam berarti catatan peristiwa tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam sejak lahirnya hingga sekarang ini. Atau satu cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, baik dari segi gagasan atau ide-ide, konsep, lembaga maupun operasionalisasi sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini.
  • Terdapat tiga fase penting dalam Sejarah Islam di Indonesia pra kemerdekaan yakni fase datangnya Islam ke Indonesia; fase pengembangan dengan melalui proses adaptasi; dan fase berdirinya kerajaan-kerajaan Islam (proses politik). Fase awal datangnya Islam ke Indonesia dimulai pada abad 7 M/1 H yang disebarkan oleh pedagang dan muballigh dari Arab di daerah Baros. Pendidikan Islam diperkenalkan bertahap, mulai dari mengucapkan kalimah syahadat dan diajak untuk mengakui rukun iman dan Islam. Dalam fase pengembangan melalui proses adaptasi, metode pendidikan keislaman yang digunakan ialah dengan cara sorogan dan halaqah. Fase selanjutnya ialah berdirinya kerajaan-kerajaan Islam. Kerajaan penting yang mempengaruhi corak pendidikan Islam pada masa ini yaitu kerajaan di Aceh, Demak, dan Mataram.

B.    Kata Penutup

Demikian makalah ini berhasil disusun. Keterbatasan waktu dan referensi menjadi halangan bagi penulis untuk menyuguhkan diskursus ini secara sempurna. Saran dan kritik konstruktif sebagai bahan revisi sangat diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Adam, Asvi Warman, Pelurusan Sejarah Indonesia, Cet. ke-1, Yogyakarta: Tride, 2004.

Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia; Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, Cet. ke-3, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999.

Mahfud, Agus, Ilmu Pendidikan Islam Pemikiran Gus Dur, Cet. ke-1, Yogyakarta: Nadi Pustaka, 2012.

Maryam, Siti, dkk., (eds.), Sejarah Peradaban Islam; dari Masa Klasik hingga Modern, Cet. ke-2, Yogyakarta: Lesfi, 2004.

Purwadi, Kraton Pajang, Yogyakarta: Panji Pustaka, 2008.

Raffles, Thomas Stamford, The History of Java, terj. Eko Prastyaningrum, dkk., Cet. ke-1, Yogyakarta: Narasi, 2008.

Zuhairini, dkk., Sejarah Pendidikan Islam, Cet. ke-9, Jakarta: Bumi Aksara, 2008.


[1] Sayid Quthub dalam Zuhairini, dkk., Sejarah Pendidikan Islam, cet. Ke-9, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 2.

[2] Ibid., hlm. 131.

[3] Asvi Warman Adam, Pelurusan Sejarah Indonesia, cet. ke-2, (Yogyakarta: Tride, 2004), hlm. 2.

[4] Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia; Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, cet. ke-3, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 7.

[5] Siti Maryam, dkk., (eds.), Sejarah Peradaban Islam; dari Masa Klasik hingga Modern, cet. ke-2, (Yogyakarta: Lesfi, 2004), hlm. 4.

[6] Orderly description of past event, begitulah teks dalam bahasa Inggrisnya. Ibid. Dengan redaksi yang berbeda, ensyclopedia Americana menjelaskan history is the past experience of mankind yakni pengalaman masa lampau dari umat manusia. Zuhairini, dkk., Sejarah Pendidikan  …, hlm. 1.

[7] Hasbullah, Sejarah Pendidikan …, hlm. 8.

[8] Ibid.

[9] Siti Maryam, dkk., (eds.), Sejarah Peradaban …, hlm. 4.

[10] Hans Wehr dalam Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, cet. ke-1, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm. 7.

[11] Selain bersumber dari kata al-tarbiyah, pendidikan juga bisa bermakna al-ta’lim (pemberian tentang sesuatu, nasihat, pengarahan, pembelajaran), al-ta’dib (disiplin, patuh dan tunduk pada aturan, peringatan atau hukuman, beradab, bersopan santun, tata krama, budi pekerti, akhlak, moral, dan etika), al-tahdzib (pendidikan akhlak atau menyucikan diri), al-wa’dz atau mau’idzah (mengajar, kata hati, suara hati, hati nurani, memperingatkan, mendesak atau memperingatkan), al-riyadhah (menjinakkan, mendobrak atau membongkar, melatih, mengatur), al-tazkiyah (pemurnian atau pembersihan), al-talqin (pengajaran atau mengajarkan), al-tadris (kuliah), al-tafaqquh (mengerti, memahami), al-tabyin (mengemukakan, mempertunjukkan), al-tazkirah (peringatan), dan al-irsyad (menunjukkan, bimbingan). Ibid., hlm. 11-27.

[12] Hadi dalam Agus Mahfud, Ilmu Pendidikan Islam Pemikiran Gus Dur, cet. ke-1, (Yogyakarta: Nadi Pustaka, 2012), hlm. 7.

[13] Ibid.

[14] Hasbullah, Sejarah Pendidikan …, hlm. 8.

[15] Zuhairini, dkk., Sejarah Pendidikan, hlm. 7. Lihat juga dalam Hasbullah, Sejarah Pendidikan …, hlm. 16.

[16] Saifuddin Zuhri dalam Hasbullah, ibid., hlm. 20.

[17] Ibid., hlm. 22-23.

[18] Sorogan yaitu sistem pembelajaran di mana para peserta didik secara perorangan belajar dengan guru atau kyai. Berbeda dengan halaqah yang memposisikan guru atau kyai sebagai pemberi materi sedangkan posisi murid mengelilingi sang guru untuk mendengarkan dan mencatatnya. Proses halaqah bisa juga dengan diskusi untuk memahami isi kitab. Lihat dalam  Agus Mahfud, Ilmu Pendidikan, hlm. 105.

[19] Ibid., hlm. 92.

[20] Ibid., hlm. 104.

[21] Zuhairini, dkk., Sejarah Pendidikan, hlm. 136.

[22] Sejarah peradaban Jawa dari awal tradisi hingga munculnya Islam bisa dilihat dalam Thomas Stamford Raffles, The History of Java, terj. Eko Prastyaningrum, dkk., cet. ke-1, (Yogyakarta: Narasi, 2008), hlm. 430-474.

[23] Ibid., 488-489.

[24] Hasbullah, Sejarah Pendidikan …, hlm. 35.

[25] Thomas Stamford Raffles, The History of Java …, hlm. 492.

[26] Hasbullah, Sejarah Pendidikan …, hlm. 35. Penilaian berbeda datang dari Purwadi yang yang memposisikan Pajang sebagai kerajaan yang sangat vital dalam pentas sejarah nasional. Dalam sinopsis Buku Kraton Pajang karyanya, digambarkan bahwa dinasti besar Kerajaan Jawa yaitu Majapahit, Demak, dan Mataram, ketiganya bertemu di antara silsilah Keraton Pajang, tepatnya pada diri Joko Tingkir atau Mas Karebet sebagai rajanya. Lihat selengkapnya dalam Purwadi, Kraton Pajang, (Yogyakarta: Panji Pustaka, 2008).

Iklan

4 Replies to “SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA PADA MASA PRA KEMERDEKAAN; DARI ERA AWAL HINGGA KERAJAAN MATARAM”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s