NEGERI PARA TIKUS


NEGERI PARA TIKUS
Oleh: Ahmad Saefudin

Tikus bagi sebagian orang menjadi piaraan favorit dalam kehidupan rumah tangga, menyisihkan kucing, anjing, ikan dan jenis hewan lainnya. Bahkan, tidak sedikit yang rela nguber-uber sampai ke mancanegara hanya untuk memiliki hewan mungil ini. Apakah karena bulunya atau kelucuannya, saya juga tidak tahu pasti.

Bagi sebagian yang lain, tikus tidak ubahnya sebagai hewan menjijikan yang tidak pantas dipelihara, harus diusir, jika perlu dibunuh.

Sekilas, penilaian subyektif tentang terminologi “tikus” kurang begitu menarik untuk diulas. Masih banyak jenis lain yang lebih elok untuk dijadikan topik pembahasan. Begitupun anggapan saya sejauh ini. Sampai pada suatu hari, secara tidak sengaja, saya dibuat jengkel oleh perilaku seekor –mungkin lebih- tikus yang menurut ukuran etis manusia sudah tidak lagi wajar.

Kisah itu dimulai ketika tanpa sadar, kardus mie instan yang belum lama tersimpan rapi di dapur makanan -entah bagaimana prosesnya- ditemukan berlubang. Dari lubang yang kecil, semakin hari lubang tersebut tampak semakin besar. Menyadari hal tersebut, kardus berlubang itu kemudian saya tutup menggunakan lakban plastik. Ternyata, upaya ini tidak membuahkan hasil, karena tidak lama setelah ditutup, kardus tersebut kembali berlubang, dengan volume yang lebih besar. Usut punya usut, ternyata setiap malam, ada rombongan tikus yang mengobrak-abrik kardus untuk mendapatkan mie instan yang ada di dalamnya. Lima bungkus berhasil mereka habiskan dalam beberapa hari. Agar peristiwa itu tidak berlanjut, kardus pun dipindah ke tempat yang lebih tinggi, supaya aman dari jangkauan tikus. Namun, masih saja -saat malam telah larut-, saya dibangunkan oleh ulah para tikus yang tiada bosan menyambangi kardus, meskipun kali ini gagal mendapatkan makanan kesukaannya.

Fenomena di atas, nampaknya dekat dengan kehidupan sekeliling kita, di mana “para tikus” setiap saat siap menggerogoti kekayaan negeri yang makmur ini. Mereka menempati lahan basah seperti jabatan strategis pemerintah. Bisa saja berbaju presiden, menteri, wakil rakyat, polisi, jaksa, hakim, elit perusahaan, bahkan pada lembaga yang mengaku sebagai penangkal perilaku koruptif macam KPK (komisi Pemberantasan Korupsi). Terlena sejenak, para tikus tidak segan menghabiskan simpanan kekayaan negara untuk kepentingan individu dan kelompoknya. Ada “tikus” yang dulunya dinobatkan sebagai ratu kecantikan di negeri manusia. Ada lagi tikus yang senang menggunakan bahasa “kitab suci” untuk menangkap mangsanya. Berlindung di balik partai bersimbol agama. Juga ada golongan para tikus, yang sejak awal meneriakkan anti korupsi. Tiada hari tanpa kritik bagi koruptor. Meskipun ujung-ujungnya, ikut terseret dalam kubangan lumpur hitam KKN.

Jumlah tikus yang terjerat dan masuk ke dalam perangkap, secara kuantitas bertambah setiap harinya. Tetap saja belum membuat tikus yang lain jera. Harus dengan perangkap dan obat apa lagi sehingga negeri ini aman dari kendali para tikus? Apakah sudah menjadi titah Tuhan, ketika bangsa ini berlabel “negeri para tikus?” Ragam tikus di negeri ini warna-warni. Kita akan lihat edisi tikus selanjutnya. To be continued! Wallahu a’lam.

Blok O (Yogyakarta), Jumat, 6 September 2013
Pukul 11.43 WIB.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s