“JIHAD ILMIAH” DARI JEPARA-WONOSOBO-YOGJAKARTA


“JIHAD ILMIAH” DARI JEPARA-WONOSOBO-YOGJAKARTA

Oleh: Ahmad Saefudin[1]

Melelahkan. Satu kata yang mewakili remuk redam tubuh ini setelah melakukan, oleh apa yang diistilahkan Prof. Yudian Wahyudi sebagai, “jihad ilmiah” dari Jepara-Wonosobo-Yogjakarta. Agenda yang sempat tertunda selama 3 bulan tersebut (karena proposal pengajuan studi banding dari SMP Islam Terpadu Kholiliyah Wedelan Bangsri Jepara sudah diajukan bulan oktober 2012 silam ke SMP Takhassus Al-Qur’an Kalibeber Mojo Tengah Wonosobo, namun baru di acc april 2013) akhirnya terlaksana. Persiapan pemberangkatan dengan segala “tetek bengek”nya begitu menguras tenaga. Tak lama setelah bus yang membawa rombongan melaju, ekspektasi besar terpancar dari sorot mata setiap peserta didik. Entah apa yang mereka pikirkan sehingga tidak ada yang tidak tersenyum dan semuanya berwajah sumringah.

KH. Muchottob Hamzah (paling kiri) memberikan motivasi kepada Rombongan Jihad Ilmiah dari JeparaTema besar yang dibidik dalam even rutin tahunan kelembagaan ini ialah “Efektivitas Model Pembelajaran Takhassus Al-Qur’an”. Sejak tahun 2007, institusi pendidikan formal berbasis pesantren ini meneguhkan diri sebagai lembaga swasta yang concern dalam mencetak tunas-tunas bangsa yang cerdas, terampil, berahlak mulia dan berwawasan qurani ala ahlu al-sunnah wa al-jama’ah. Di bawah Yayasan Kholiliyah Bangsri yang menaungi beberapa lembaga seperti  Pondok Pesantren “Darut Ta’lim” Bangsri, Madrasah Diniyah, dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Islam Kholiliyah, secara integral SMP Islam Terpadu Kholiliyah menyelenggarakan pola pembelajaran yang berorientasi kepada penguatan “tafaqquh fi al-din dan tamassuk bi al-dien” sebagai ikhtiar pengembangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.

Bagiku, “jihad ilmiah” dari Jepara-Wonosobo-Yogjakarta ini juga sebagai implementasi dari perintah Sang Nabi Panutan Muhammad SAW untuk selalu bergumul dengan ‘ilm dan ’alim, di manapun, kapanpun, dan bagaimanapun caranya. “Uthlub al ‘ilma walau bi al-shin”. Dalam konteks ini, makna yang terkandung dari maqalat tersebut tidak jauh-jauh dari  upaya pencarian yang tak pernah lelah terhadap ilmu pengetahuan. Meskipun dari Jepara yang secara geografis terletak di pesisir pantura (pantai utara) Pulau Jawa, ku rela menjemputnya ke Wonosobo-Yogjakarta yang berada di pesisir pantai selatan. Demi secercah “tinta pencerah”.

 

NGALAP BAROKAH DARI AGENDA “JIHAD ILMIAH; DARI JEPARA-WONOSOBO”

Semilir angin dan udara dingin yang membalut langit Wonosobo tidak menurunkan semangat ibu-ibu dan bapak-bapak yang usianya sudah di atas 40 tahun untuk mengikuti jamaah shalat subuh di masjid utama kompleks Pesantren Al-‘Asy’ariyah Kalibeber Mojo Tengah Wonosobo. Zikir asma al husna menyenandung lirih dari mulut mereka , menambah kehidmatan komunikasi transendental dari hamba kepada Rabb Al ‘Izzati dalam singsingan remang fajar. Tambahan tausiyah singkat dari sang imam bak cawan madu yang mengisi kegersangan spiritual kalbu.

Kunjungan pertama, sowan ke rumah KH. Muchottob Hamzah selaku Ketua Yayasan ‘Asy’ariyah. Pembawaan bersahaja dari paras wajahnya mencerminkan kharisma Sang kyai yang juga menjabat sebagai Pembantu Rektor III Universitas Sains dan Ilmu Al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo. Sebagai motivasi awal, beliau menceritakan bagaimana pentingnya nguri-uri al-Qur’an agar bangsa muslim tidak tertinggal dari bangsa non-muslim. Sangat menarik ketika beliau mengaitkan sains yang selama ini terkadang dipahami sebagai ilmu dunia, justeru berkaitan erat dengan maksud yang terkandung dalam teks-teks suci al-Qur’an. “Dari al-Qur’an”, kata beliau, “muncul sains dan dari sains muncul teknologi”.

Dalam kasus penentuan waktu shalat, misalnya, al-Qur’an secara gamblang menjelaskan batasan-batasan waktunya.

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. (QS. Al-Isra’: 78).[2]

Dalam ayat di atas, deskripsi batasan waktu shalat hanya menyebut “matahari” dan “gelap malam” sebagai detektornya. Timbul persoalan bagi kita, ketika alam sedang tidak bersahabat dengan manusia. Seperti mendung, hujan, atau bagi anak manusia yang hidup di belahan bumi yang tidak secara terus menerus menerima sinar matahari. Bagaimana cara mengetahui waktu shalat?

Dari permasalahan ini, kemudian manusia berpikir tentang alat yang bisa mendeteksi waktu. Dalam catatan sejarah, kemudian kita mengenal Saintis Muslim, Ibn al-Shatir yang membangun sebuah “jam matahari” yang megah untuk menara Masjid Umayyah di Damaskus[3] jauh sebelum perusahaan The Hamilton Watch Co of Lancaster, Pennsylvania sekitar tahun 1950 mengembangkan jam digital yang dikenal sekarang.

Abah Chottob, panggilan akrab kyai yang pernah menjadi anggota DPR RI periode 2004-2009,  juga membuka cakrawala rombongan “mujahid” dari Jepara tentang saintis muslim lain seperti Abu Ja’far Muhammad bin Musa al-Khawarizmi, penemu angka “nol” yang sekarang lebih akrab dengan panggilan al-Jabbar. Kontribusi al-Khawarizmi sebagaimana dicatat oleh wikipedia.org tak hanya berdampak besar pada matematika, tapi juga dalam kebahasaan. Kata Aljabar   dari kata al-Jabr, satu dari dua operasi dalam matematika untuk menyelesaikan notasi kuadrat, yang tercantum dalam buku beliau. Kata logarisme dan logaritma diambil dari kata Algorismi, Latinisasi dari nama beliau. Nama beliau juga di serap dalam bahasa Spanyol Guarismo dan dalam bahasa Portugis, Algarismo yang berarti digit. Tanpa ketekunan al-Khawarizmi sehingga mampu mencetuskan konsepsi angka “nol”, kita akan mengalami banyak kendala dalam mempelajari disiplin ilmu yang berhubungan dengan angka-angka matematis.

Sebagai epilog, Acbah Chotttob memberikan dua kata sakti sebagai ijazah yang harus diamalkan para pembelajar, yakni “belajar tiada henti” dan “belajar melayani”.

NGALAP NGELMU DARI AGENDA “JIHAD ILMIAH; DARI JEPARA-YOGJAKARTA”

Perjalanan Wonosobo-Yogjakarta terasa panjang dan membosankan setelah sopir bus sok tau (begitu rombongan menjulukinya) mengambil rute memutar dan melewati beberapa kabupaten seperti Banyumas, Kulon Progo, Kebumen, Purworejo, dan Sleman sebelum sampai Yogjakarta. Padahal, sang sopir sudah diingatkan supaya mengambil rute yang lebih singkat dari Wonosobo-Temanggung-Magelang-Sleman. “iku ak malah adoh”, kata sang sopir keras kepala. Kesabaran rombongan “mujahid” semakin diuji akibat pelayanan yang sangat tidak memuaskan dari jasa transportasi PO. Lili 700 NI. Padahal, panitia rombongan sudah membayar tarif sewa bus dengan nominal di atas rata-rata menurut ukuran kelaziman persewaan jasa perusahaan transportasi  di kawasan Jepara. Sampai di Yogjakarta pukul 19.30 WIB. Itu artinya molor 3 jam.

Sudah jatuh, ketiban tangga. Kami tak bisa menikmati 3.500 alat peraga permainan edukatif yang disuguhkan wahana wisata “Taman Pintar” sebagai tujuan utama kami ke Yogjakarta karena sudah tidak melayani kunjungan. Sebagai hiburan, rombongan pun menyisir kawasan Malioboro. Ribuan wisatawan domestik dan mancanegara menghabiskan malam minggunya dengan berburu souvenir khas Yogja sebagai buah tangan. Tidak terkecuali dengan kami. Ada yang beli Batik Yogja, Kaos Yogja, Gudeg Yogja, Bakpia Patok, dan apapun yang berbau “Yogja”.

Kebiasaan yang tak pernah kulewatkan saat menginjakkan kaki di “kota pelajar” ialah shopping for books sebagai investasi pengetahuan. Koleksi perpustakaan pribadi bertambah lagi dengan referensi-referensi baru seperti, Sosiologi Feminisme, Etika Hamka;Konstruksi Etik Berbasis Rasional Religius, Membaca Sejarah Nusantara;25 Kolom Sejarah Gus Dur, Tabayun Gus Gur;Pribumisasi Islam, Hak Minoritas, Reformasi Kultural dan dua buku titipan teman untuk menyelesaikan tugas akhir skripsi dengan judul Sosiologi;Skematika, Teori dan Terapan  dan Sosiologi; Suatu Pengantar.

Wa ba’du, kami pun harus kembali ke “Bumi Kartini” untuk melakukan tugas “jihad ilmiah” selanjutnya.

Wallahu a’lamu bi al shawab

Jepara, 29 April 2013.


[1] Catatan singkat penulis setelah melakukan agenda Studi Banding & Wisata Ilmiah SMP Islam Terpadu “Kholiliyah” Wedelan Bangsri Jepara ke SMP Takhassus Al-Qur’an Kalibeber Mojo Tengah Wonosobo Jawa Tengah dengan tema “Efektivitas Model Pembelajaran Takhassus Al-Qur’anyang dilaksanakan pada Jumat-Ahad, 26-28 April 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s