REFLEKSI PERILAKU KEBERAGAMAAN KADER PMII


REFLEKSI PERILAKU KEBERAGAMAAN

KADER PMII

Oleh: Ahmad Saefudin[1]

 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Menguak tema “keberagamaan” dalam tubuh organisasi mahasiswa Islam, sungguh bukan perkara mudah. Apalagi jika konklusi yang nanti tertelurkan menjadi refleksi kolektif sebagai gambaran umum yang kini terjadi. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) secara definitif membawa embel-embel Islam dalam wajah organisasi. Islamnya pun jelas, karena secara spesifik (tertuang dalam AD/ART) berhaluan ahlu as sunnah wal jamaah sebagai manhaj al fikr. Kemudian timbul pertanyaan besar; mengapa repot-repot membuang energi untuk merefleksikan keberagamaan (baca: keislaman) kita? Apakah PMII tersandung masalah dengan perilaku keberagamaan kader-kadernya sehingga perlu proses re(de)konstruksi? Apakah Gus Dur dengan pluralismenya, Asghar Ali Engineer dengan teologi pembebasannya, dan Hasan Hanafi dengan paradigma kritisnya belum cukup  (kalau tidak ingin menyebut pantas) dijadikan acuan gerak keberagamaan kita?

Tidak terpungkiri, tak sedikit kader PMII yang fasih berretorika tentang “agama”, tetapi seolah berhenti pada tataran kognisi tanpa manifestasi laku. Contoh kasus yang sering terjadi di PMII Jepara, ketika semalaman suntuk kita mengkaji manfaat sholat dari berbagai perspektif (psikologis, fisiologis, dan al-Qur’an), justru subuh kita berlalu begitu saja akibat kalah dengan mentari saat bangun pagi. Mengapa bisa terjadi? kasus lain, kita sering mengkritisi teks kitab kuning seperti uqud al-ijayn yang dianggap bias jender dan prakteknya sudah tidak relevan lagi dalam konteks Indonesia, namun (ketika kita dipaksa) membedakan mana yang fi’il  (kata benda) dan mana yang isim (kata benda) saja kita kelabakan. Ironis bukan?

 Untuk menelisik lebih detail, maka penulis mengangkat tema “Refleksi Perilaku Keberagamaan kader PMII”.

Alasan Pemilihan Judul

Penulis memilih judul di atas karena ingin merefleksikan perilaku keberagamaan kader PMII dengan segala karakteristik keberagamannya.

Penegasan Istilah

Untuk menghindari kesalahpahaman istilah, dan supaya pembahasan penulisan tetap fokus dan tidak meluas, maka penulis memandang perlu menegaskan beberapa istilah yang berkaitan dengan judul makalah ini, yaitu:

  1. Refleksi

Yaitu pemantulan; pembiasan; pantulan (cahaya); noda; nokhtah; syakwasangka; praduga; renungan/pemikiran/pertimbangan.[2] Adapun “refleksi” yang dimaksud dalam makalah ini adalah proses perenungan/pemikiran/pertimbangan tentang perilaku keberagamaan yang terjadi pada kader PMII.

  1. Perilaku

Adalah tindakan, perbuatan, sikap.[3] Yaitu sikap keberagamaan yang tercermin dalam kehidupan organisasi PMII. Bukan, perilaku keseharian dalam lingkungan keluarga.

  1. Keberagamaan

Yaitu keyakinan dan kepercayaan kepada Tuhan; akidah, din.[4] Keberagamaan yang dimaksud tidak lain adalah perilaku keislaman kader PMII.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis merumuskan masalah yang akan dibahas yaitu bagaimana perilaku keberagamaan (keberislaman) kader PMII.

Tujuan Penulisan

Penulis mempunyai tujuan dalam pembahasan ini yakni untuk merefleksikan perilaku keberagamaan kader PMII.

Metode Penulisan

Penulisan makalah ini menggunakan metode analisis filosofis yaitu prosedur pemecahan masalah melalui penyelidikan secara rasional dengan perenungan atau pemikiran yang terarah berdasarkan kaidah-kaidah logika.[5] Teknisnya adalah menganalisa dan merenungkan kembali perilaku keberagamaan kader PMII. Karena itu, penarikan konklusi nantinya, murni dari sudut pandang penulis (subyektif).

BAB II

REFLEKSI PERILAKU KEBERAGAMAAN KADER PMII

Pemahaman Islam ala Aswaja.

Kader PMII tentunya sudah paham betul dengan istilah keislaman ala keindonesiaan dengan ahlu as sunnah wal jamaah sebagai metode berpikirnya.  Tersebut dalam penjelasan Anggaran Dasar (AD) PMII tentang pokok pikiran alinea ke lima:

Kewajiban dan tanggung jawab keislaman, keindonesiaan, dan intelektual, menginspirasikan terbentuknya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia sebagai organisasi mahasiswa Islam yang berhaluan ahlu as sunnah wal jamaah”.[6]

Pemahaman aswaja dalam PMII, tidak dimaknai sebagai madzhab, melainkan sebagai metode berpikir. Sehingga, kader PMII boleh dan sah-sah saja bermadzhab Syi’ah, Mu’tazilah, ataupun madzhab lain yang pernah ada di dunia Islam, asalkan metode berpikirnya tetap berlandaskan aswaja.[7] Lalu, apa yang dimaksud perilaku aswaja dalam PMII?

Prinsip aswaja sebagai manhaj dalam PMII meliputi beberapa aspek, antara lain meliputi:[8]

  1. Aqidah; mencakup tiga pilar yaitu uluhiyyah (ketuhanan), nubuwwat (kenabian), dan al maad (keyakinan bahwa manusia kelak bangkit dari kubur dan mempertanggungjawabkan semua amal perbuatannya).
  2. Bidang sosial politik; meliputi prinsip syura (musyawarah), al ‘adl (keadilan), al khurriyyah (kebebasan), dan al musawah (kesetaraan derajat).
  3. Bidang isinbath al hukm (pengambilan hukum syariat); mencakup Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.
  4. Bidang tasawuf; mengetahui konsep tasawufnya Al Ghazali.

Sudah pas kah perilaku keberagamaan kader PMII saat kita kontekskan dengan pemahaman aswaja di atas?

Perilaku Keberagamaan Kader PMII

PMII sebagai wadah kader, berusaha mengemban amanat dan tanggung jawab keislaman sebagai bagian integral yang tak mungkin terpisahkan dari tanggung jawab kemahasiswaan serta keindonesiaan. Ini terlihat dari berbagai proses kaderisasi (formal, informal, dan non formal) yang selama ini berlangsung. PMII tidak tabu dengan ritual formal keagamaan seperti pembacaan manakib Syaikh Abdul Qodir al-Jailani, pembacaan Sirah Nabawiyah, dan perilaku keagamaan lain yang sifatnya normatif. Bahkan, ritual ini sudah menjadi rutinitas, meskipun banyak kritikan dari internal struktural PMII sendiri. Pro dan kontra dalam masalah ritual ini sangat menarik untuk kita bahas. Bagi firqah yang pro, beralasan bahwa dengan melakukan ritual keagamaan di atas, akan menimbulkan efek ketenangan batin. Perantara manakib, maka barokah sang wali akan mengalir dalam setiap gerak organisasi meskipun terkadang tidak tahu makna tekstual kitab yang dibaca. Selain itu, manakib, sudah dianggap sebagai budaya Islam yang patut dilestarikan. Bukankah kita sering mendengungkan prinsip al mukhafadzah ‘ala al qadim al shalih wal akhdzu bi al jadidi al ashlah?

Maka, sangat tepat ketika Rektor  Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Komaruddin Hidayat mengatakan bahwa agama dan budaya tidak bisa dipisahkan. Lebih lanjut dia berpendapat ketika agama berkembang, kebudayaan yang menyertainya juga turut berkembang.[9]

Bagi yang kontra, mereka beranggapan bahwa tradisi manakib wa akhawatuhu tak ada gunanya. Islam itu bukan simbol yang harus diformalkan. Haji, bukanlah mereka yang memakai pecis putih, sorban panjang, dan tasbih besar sedangkan kelakuan mereka tak ubahnya bagai preman jalanan. Untuk apa kita sholat, jika hati kita tetap lupa kepada Yang Maha Disembah? Buat apa baca manakib, kalau dengan Syaikh Abdul Qodir saja tidak mengenal. Lebih subtansial ketika kita membaca sejarah beliau, mempelajari bagaimana pemikiran-pemikirannya tentang Islam, dari pada sekedar membaca sesuatu yang tak tahu maksud dan inti apa yang termaktub dalam lembaran teks mati.

Kemudian bagaimana cara kita menyikapi dua pandangan tersebut? Sebenarnya, kita bisa mengambil sintesa dari tesa dan anti tesa di atas. Kalau memang masih bisa berjalan beriringan, mengapa harus mendikotomikan salah satu kutub yang sama kuat?

Banyak jalan menuju Roma, begitu orang bijak berkata. Kita bisa menyiasatinya dengan teknis berikut:

Pertama, ritualitas keagamaan wajib seperti sholat, zakat, dan puasa maupun non wajib (lebih bersifat furu’iyyah) tetap penting sebagaimana pentingnya memahami substansi ritual itu sendiri. Jadi, Bukan hanya membaca manakib, namun juga berusaha memaknai esensi yang diharapkan sang mu’allif.

Kedua, Kajian wacana keagamaan merupakan metode efektif untuk mengembangkan intelektual kader, tanpa menafikan ritual formalnya. Untuk mencapai hakikat, tidak berarti harus mengabaikan syariat bukan? Jika kita mampu memahami keberagamaan  secara normatif dan substantif, maka penulis berani menjamin perilaku kader PMII tak akan mentok dalam ranah pengetahuan (kognitif) an sich , tetapi juga mahir mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sungguh amat disayangkan, ketika kita menemukan kader PMII yang sudah berani meninggalkan sholat, padahal baru mempelajari segelintir pokok bahasan tentang ilmu filsafat. Itu pun belum begitu mendetail. Pertanyaannya sekarang; di mana letak kesadaran kita dalam beragama? Apakah krisis kesadaran beragama telah menjalar akut merasuki jiwa-jiwa kader PMII?

Apabila masalah keberagamaan internal kader PMII saja belum selesai, bagaimana kita bisa merubah eksternal (mahasiswa di luar PMII)? Meminjam istilah Muhammad Al-Fayyadl dalam kata pengantar “Kembali ke Masa Depan”nya Ziauddin Sardar, bisa dikatakan bahwa kader PMII sedang mengalami krisis epistemologis dengan memudarnya kesadaran umat Islam untuk memahami ajaran-ajaran normatif agamanya secara kontekstual.[10] Al-Fayyadl juga mengatakan bahwa sejumlah cendekiawan muslim kontemporer, sebutlah misalnya Mohammed Arkoun, M. Abid al-Jabiri, atau Hasan Hanafi, mengidentifikasi krisis kesadaran ini sebagai kegagalan memaknai Islam secara autentik.[11]

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Setelah membahas pokok permasalahan di atas, maka penulis menyimpulkan:

  1. PMII sebagai wadah kader, berusaha mengemban amanat dan tanggung jawab keislaman sebagai bagian integral yang tak mungkin terpisahkan dari amanat dan tanggung jawab kemahasiswaan serta keindonesiaan.
  2. Perilaku keberagamaan kader PMII bisa dikatakan terbagi menjadi dua:
    1. Perilaku keberagamaan normatif yaitu lebih mengedepankan praktek beragama dalam aspek ritual formal dan simbolis dan mengabaikan substansi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
    2. Perilaku keberagamaan substantif yaitu dengan mengutamakan substansi praktek ritual keagamaan dari pada sekedar formalitas.

Saran

Saran yang dapat penulis berdasarkan kesimpulan di atas adalah dengan mengambil sintesa antara dua perilaku keagamaan tersebut. Kita bisa menumbuhkan kesadaran terhadap kader PMII mengenai epistemologi keislaman mereka.

Kata Penutup

Akhirnya, berkat karunia dari-Nya penulis bisa menyelesaikan makalah sederhana ini sebagai bahan refleksi untuk kader pergerakan. Saran kritik konstruktif selalu diharapkan. Mohon maaf atas segala kekurangan yang terjadi dalam penulisan makalah ini. Tetap semangat dan selalu tangan terkepal dan maju ke muka.

Wallahu a’lamu bi al shawab.


DAFTAR PUSTAKA

Kompas, Kamis, 29 Mei 2008.

Nawawi, Hadari, Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta: Gajah Mada University Perss, 1985.

Pius A Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arkola Surabaya, 1994.

Sardar, Ziauddin, Kembali ke Masa Depan, Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2003.

Tim Materi SC Kongres XVI PMII 2008 “Materi-Materi Sarasehan Nasional & Kongres  XVI” PMII yang dilaksanakan di Batam, Kepulauan Riau pada tanggal 16-21 Maret 2008.


[1] Revisi makalah yang pernah penulis susun sebagai syarat mengikuti Pelatihan Tim Instruktur Kaderisasi PMII Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh PKC PMII Jawa Tengah Tahun 2008.

[2] Pius A Partanto dan M Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 1994), hlm. 660.

[3] Ibid., hlm. 587.

[4] Ibid., hlm. 8.

[5] Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta: Gajah Mada University Perss, 1985) hlm. 62.

[6] Lihat lebih lanjut dalam “Materi-Materi Sarasehan Nasional & Kongres  XVI” PMII yang dilaksanakan di Batam, Kepulauan Riau pada tanggal 16-21 Maret 2008.

[7] Sebagaimana pernah disampaikan KH. Said Agil Siraj dalam acara Halal bi Halal Yayasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (YAPTINU) Jepara tahun 2007.

[8] Materi-Materi Sarasehan Nasional & Kongres  XVI PMII, op. cit., hlm. 4-10.

[9] Kompas, Kamis, 29 Mei 2008.

[10] Muhammad Al-Fayyadl dalam Ziauddin Sardar, Kembali ke Masa Depan, (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2003), hlm. 7.

[11]Ibid.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s