PELATIHAN PEMBUATAN MAKALAH (EDISI REVISI)


PELATIHAN PEMBUATAN MAKALAH (EDISI REVISI)

Oleh: Ahmad Saefudin

BAB I

PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

Tema kepenulisan ilmiah dewasa ini semakin santer terdengar di hadapan publik terutama dunia kampus pasca edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nomor 152/E/T/2012  tertanggal 27 Januari 2012 terkait kewajiban bagi mahasiswa S-1, S-2, dan S-3 untuk memublikasikan karya tulis ilmiahnya[1]. Para pakar dan praktisi pendidikan masih berpolemik, ada yang mendukung dengan dalih mengembangkan budaya akademik mahasiswa dan ada pula yang pesimis, resisten bahkan antipati.[2]

Tanpa menafikan polemik yang terjadi, kebijakan publikasi jurnal ilmiah semakin menegaskan urgensi karya tulis mahasiswa bagi pengembangan kompetensi akademik sehingga agen perubahan bisa tidak bisa, mau tidak mau, harus mulai fokus mematangkan keterampilan tulis tulis menulis. Tentunya, orientasi kepenulisan mahasiswa bukan hanya berlandaskan paksaan kebijakan pemerintah semata, melainkan lebih kepada tanggungjawab intelektual dan sosial mereka terhadap keberlangsungan mata rantai pengetahuan yang tidak boleh terputus. Dengan menulis, mahasiswa menjadi –oleh apa yang diistilahkan Soekarno sebagai- “penyambung lidah” cerdik cendekia yang secara berkesinambungan senantiasa melakukan transfer of knowledge sebagai cikal bakal peradaban sebuah bangsa.

Untuk ke sekian kalinya penulis[3] berkesempatan mendiskusikan topik tentang dunia kepenulisan. Lebih tepatnya mengenai “makalah”. Seringnya kajian ini dielaborasi, sekaligus membuktikan bahwa forum-forum semacam ini masih sangat dibutuhkan, terutama oleh mahasiswa yang akan, sedang, atau bahkan sudah sering bergelut dengan disiplin ilmu jurnalistik.

Menulis, perspektif ilmu kesehatan, menurut Pennebaker, dapat menyehatkan tubuh dan jiwa.[4] Fatima Mernissi, salah seorang penulis produktif  yang concern mengangkat issu jender, juga berpendapat bahwa menulis setiap hari dapat mengencangkan kulit wajah.[5] Sebagai landasan teologis, secara eksplisit Al Quran juga memotivasi para pembacanya untuk selalu membuka ruang pengetahuan dengan membaca dan menulis. Melalui firman-Nya; alladzii ‘allama bi al qalami (“Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam”)[6], Allah SWT telah memuliakan manusia dengan ilmu pengetahuan. Terkadang, meminjam istilahnya Ibnu Katsir[7], ilmu berada di dalam akal fikiran dan terkadang juga berada dalam lisan. Juga terkadang berada dalam tulisan. Lebih lanjut Ibnu Katsir mengutip perkataan sahabat dalam atsar mereka; “ikatlah ilmu itu dengan tulisan”.  

Prolog di atas tidak lain hanyalah sebagai penyulut spirit bagi kita supaya tidak pernah patah semangat, enggan, apalagi malas menulis.

Mengapa menulis? Lebih spesifik lagi, mengapa menulis makalah? Sering kali pertanyaan ini yang kemudian timbul.

Bagi sebagian mahasiswa, menulis merupakan aktivitas menjemukan dan memerlukan skill khusus. Bahkan ada yang bilang, menjadi penulis merupakan bakat dari Ilahi yang telah tertanam sejak lahir pada individu-individu pilihan, sehingga tidak semua mahluk Tuhan bisa melakukannya. Padahal, ilmu apapun di dunia ini sepanjang ada teorinya, tidak ada yang tidak mungkin untuk dipelajari. Apalagi kalau hanya ilmu yang bersifat materi (tampak oleh panca indra), sedangkan ilmu yang bersifat mistis dan immateri pun bisa untuk dipelajari.

Sebagai bagian dari implementasi terhadap Tri Dharma Perguruan Tinggi, Mahasiswa, selain (di)wajib(kan) mengikuti proses pendidikan dan pengabdian terhadap masyarakat, juga dituntut untuk melakukan penelitian.

“Menulis Makalah” merupakan salah satu dari beberapa bentuk ekspresi mahasiswa dalam upaya melestarikan tradisi intelektual akademik. Sayangnya, tidak sedikit dari kita yang mengeluh jika “Menulis Makalah” itu sulit, tidak gampang, ribet, banyak aturan, dan masih banyak alasan lain yang sebenarnya bisa kita carikan solusinya.

Benarkah “Menulis Makalah” itu sulit? Inilah pertanyaan yang harus segera dijawab dalam tulisan sederhana ini.

B.     Rumusan Masalah

Dalam makalah ini, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Apa yang dimaksud dengan Makalah?
  2. Bagaimana Kriteria dan Teknik Penulisan Makalah

C.    Tujuan Penulisan

  1. Supaya Mahasiswa mengetahui pengertian Makalah.
  2. Supaya Mahasiswa memahami proses pembuatan Makalah berdasarkan kriteria dan teknik penulisan.

[1] Yatimul Ainun, “Harus Diakui, Banyak Mahasiswa “Gagap” Menulis”, http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/05/08262468/. Kebijakan ini berlaku mulai kelulusan Agustus 2012.  Berarti jika lulus pada 31 Juli 2012 masih bebas dari kewajiban menulis karya tulis ilmiah yang terpublikasi di jurnal ilmiah yang ditetapkan untuk masing-masing jenjang pendidikan. Lebih lanjut lihat di http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/08.

[2] Rektor UIN Maliki Malang, Imam Suprayogo menyatakan dukungannya atas kebijakan publikasi karya ilmiah mahasiswa. Menurutnya, hal ini menjadi langkah awal dalam menjawab keprihatinan atas maraknya plagiasi yang dilakukan oleh mahasiswa karena minimnya budaya menulis. Yatimul Ainun, loc.cit.

Berbeda dengan Imam Suprayogo, Bisman Nababan salah seorang Dosen IPB; Tim Pereview Jurnal Nasional dan Internasional sebagai salah satu praktisi pendidikan yang menolak kebijakan ini beralasan bahwa  menerbitkan sebuah jurnal ilmiah bukan perkara mudah. Selain butuh dana besar, jurnal juga melibatkan tim pereview dan staf pengelola. Tak semua orang bisa jadi pereview karena biasanya sudah bergelar doktor dan menerbitkan banyak karya ilmiah. Jika setiap jurusan memiliki jurnal ilmiah dan setiap mahasiswa baru bisa lulus dengan menerbitkan paper dalam jurnal, kualitas jurnal menjadi pertanyaan berikutnya. Lebih lanjut, Bisman mengemukakan proses ribetnya penerbitan jurnal, dimulai dari tambahan waktu untuk membuat draf paper ilmiah, mengirim ke jurnal, menunggu hasil review, memperbaiki paper, mengirim kembali, dan menunggu penerbitan. Belum lagi ditambah problem eksternal para peneliti dan dosen di Indonesia yang tidak dapat fokus pada pekerjaan akibat gaji tidak mencukupi, bahkan untuk hidup sederhana. Di bidang fasilitas, minimnya peralatan laboratorium juga menjadi kendala tersendiri. Lihat dalam Bisman Nababan, “Kebijakan Dikti Berpotensi Merugikan”, http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/09/09494690/. Menurut hemat penulis, jika kebijakan ini tidak mendapatkan kontrol ketat dari pemerintah maupun lembaga perguruan tinggi, maka akan menambah problem baru di dunia akademik seperti komersialisasi jurnal ilmiah, praktek transaksi jual beli jurnal, dan semakin sulitnya membongkar jaringan “mafia skripsi/karya tulis ilmiah”.

[3] Penulis menggunakan istilah “ke sekian kalinya” bukan bermaksud untuk menyuguhkan data yang tidak valid, melainkan karena tidak ingat betul sudah berapa kali tepatnya membincangkan diskursus tentang “makalah”. Seingat penulis, berdialektika membahas tema ini berlangsung ketika diundang oleh sahabat-sahabat Pengurus Rayon PMII Fakultas Tarbiyah Institut Islam Nahdlatul ’Ulama (INISNU) pada Rabu, 19 Januari 2011 di Komisariat Ratu Kalinyamat PMII INISNU Jepara. Sebelumnya juga pernah bertukar gagasan, masih dalam issu yang sama, dengan teman-teman Pengurus Rayon PMII Fakultas Syariah dan BEM Fakultas Syariah Institut Islam Nahdlatul ’Ulama (INISNU) pada Kamis – Jumat, 21 – 22 Oktober 2010 di Welahan Jepara. Juga pada Senin – Selasa, 17 – 18 Oktober 2011 di Sowan Lor Kedung Jepara, melalui forum yang difasilitasi Pengurus Rayon PMII Fakultas Syariah dan BEM Fakultas Syariah periode 2011 – 2012. Terakhir kali, perbincangan serius dalam forum pelatihan penulisan makalah terjadi pada Sabtu, 5 Nopember 2011 di ruang microteaching Fakultas Tarbiyah INISNU Jepara bersama BEM Fakultas Tarbiyah periode 2011 – 2012.

[5] Ibid.

[7] http://sirotholmustaqim.wordpress.com

BAB II

PEMBUATAN MAKALAH

 

A.    Pengertian Makalah

Menulis bagi sebagian mahasiswa, lebih-lebih mahasiswa baru, merupakan pekerjaan yang berat dibandingkan dengan “berbicara”. Menuangkan ide gagasan dalam bentuk tulisan, memang membutuhkan waktu dan tidak langsung jadi begitu saja. Semuanya membutuhkan proses.

Dalam makalah ini, penulis tidak akan banyak membahas bagaimana cara menumbuhkan motivasi untuk menulis makalah, melainkan lebih fokus kepada teknik penulisan. Apabila pembaca menginginkan kata-kata inspiratif untuk memotivasi diri menjadi penulis profesional dari paper sederhana ini, alangkah baiknya segera menghentikan bacaan Anda dan menutup rapat-rapat kertas yang sedang dipegang ini, dan beralihlah pada sumber referensi lain yang secara spesifik mengakomodir kebutuhan Anda tentang kiat-kiat dan trik menulis ilmiah.

Berdasarkan refleksi dan perenungan penulis, dan berangkat dari hasil diskusi kecil dengan kawan-kawan mahasiswa lain, ternyata mayoritas mahasiswa sering dipusingkan dengan aturan-aturan atau kaidah penulisan ilmiah yang katanya serba njlimet dan ribet, sehingga menimbulkan keengganan   (lebih tepatnya kemalasan) mahasiswa untuk produktif menulis. Menulis Makalah, hanya dilakukan ketika mendapatkan tugas dari dosen tentang materi perkuliahan. Itu pun, masih ada yang mengambil jalan pintas dengan melakukan praktek plagiatisme; membajak karya tulis orang lain baik dari buku, majalah, koran, internet, dan media lain tanpa memperhatikan etika pengutipan.

Kemajuan teknologi informasi terutama internet tidak menjadikan mahasiswa kreatif dalam mendeskripsikan gagasan cerdasnya dalam sebuah paper, tetapi justru menjebak mahasiswa dalam kondisi diperbudak oleh kemudahan akses teknologi super canggih tersebut.

Apa  sebenarnya makalah itu?

Ada dua pengertian mendasar tentang makalah ketika kita merujuk pada Kamus Bahasa Indonesia[1]. Definisi pertama, makalah diartikan sebagai tulisan resmi tentang suatu pokok yang dimaksudkan untuk dibacakan di muka umum dalam suatu persidangan dan yang sering disusun untuk diterbitkan. Sedangkan makna kedua, makalah ialah karya tulis pelajar atau mahasiswa sebagai laporan hasil pelaksanaan tugas sekolah atau perguruan tinggi.

Tidak berbeda jauh, menurut Anwar Hasnun sebagaimana dikutip oleh Didik Komaidi, menegaskan bahwa makalah merupakan karya ilmiah, tetapi lebih khusus bila dibandingkan dengan karya tulis lainnya.[2] Makalah lebih memfokuskan pada karya tulis yang dibacakan di muka umum seperti dalam bentuk diskusi kelas, diskusi kelompok, seminar, atau lokakarya.

Meskipun sama-sama karya tulis ilmiah, jika ditilik dari tujuan pembuatannya, terdapat perbedaan yang mendasar antara makalah, skripsi, tesis, maupun disertasi. Skripsi merupakan karya tulis yang dibuat sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Strata 1, sebagaimana tesis untuk S2 dan disertasi untuk S3. Sedangkan persamaannya ialah sama-sama hasil pikiran, hasil pengamatan, tinjauan dalam bidang tertentu, yang disusun menurut metode tertentu berdasarkan pengamatan, secara sistematis dan terarah.[3]

Biasanya, setiap Perguruan Tinggi sudah menetapkan aturan baku mengenai sistematika dan teknik penulisan karya tulis ilmiah, baik berupa makalah, skripsi, tesis, maupun disertasi, meskipun secara umum tidak keluar dari kaidah-kaidah kelaziman. Sebagai contoh, di Kampus Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara, setiap tahun menerbitkan Buku Panduan Institut yang berisi gambaran umum INISNU Jepara dan sejumlah aturan dan ketentuan yang berlaku di dalamnya yang dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada pimpinan, dosen, maupun mahasiswa, agar seluruh civitas akademika, dapat memahami, menghayati, dan melaksanakan aturan dan ketentuan yang dimaksud dengan baik, sesuai dengan fungsi, tugas, dan tanggung jawabnya masing-masing.[4] Tak terkecuali mengatur teknis pembuatan karya tulis ilmiah (makalah).

B.     Kriteria dan Teknik Penulisan Makalah

Masih menurut Anwar Hasnun, kriteria atau ciri makalah secara umum ialah:[5]

  1. Logis, artinya keterangan , uraian, pandangan, dan pendapat dapat dikaji, dibuktikan, dan diterima rasio atau akal sehat. Inilah yang membedakan makalah dengan karya tulis fiksi seperti novel atau cerpen.
  1. Obyektif, artinya mengemukakan keterangan dan penjelasan apa adanya, tidak memihak, tidak berlebihan, dan sejenisnya. Penulis tidak diperkenankan memaparkan data secara subjektif, apalagi menambahkan sesuatu atas sekehendak penulis tanpa melihat fakta di lapangan.
  1. Sistematis, yakni apa yang disampaikan, disusun atau ditulis secara runtut dan berkesinambungan, ada kaitan antara awal hingga akhir. Untuk itu, terdapat sistematika tersendiri dalam teknik penulisan makalah yang biasanya dimulai dengan judul, pendahuluan, isi, dan penutup yang masing-masing mempunyai sub bahasan tersendiri yang telah diatur sedemikian rupa sehingga lebih sistematis.
  1. Jelas, maksudnya keterangan, pendapat, dan pandangan yang dikemukakan jelas, dan tidak membingungkan, lugas, tidak bertele-tele. Penulis seyogyanya menghindari kata-kata metaphor atau yang mengandung majas.
  1. Kebenarannya dapat diuji. Artinya, penyataan, pandangan serta keterangan yang dipaparkan dapat diuji, berdasarkan kenyataan yang sesungguhnya. Salah satu pengujiannya ialah dengan mempresentasikan makalah yang telah disusun kepada audiens untuk dikritisi.

Adapun langkah-langkahnya:

  1. Menentukan topik makalah.
  2. Mencari bahan atau referensi.
  3. Penelaahan atau membaca secara mendalam bahan-bahan yang telah terkumpul.
  4. Proses penulisan.
  5. Koreksi dan editing.
  6. Revisi.
  7. Presentasi.

Tahapan-tahapan proses pembuatan makalah di atas, hanya sebagai acuan dan tidak bersifat saklek, sehingga bisa saja kita mengambil langkah lain yang menurut hemat kita lebih efektif.

C.    Sistematika Penulisan Makalah

Makalah merupakan salah satu jenis karya tulis ilmiah karena harus memenuhi sistematika standar penulisan yang telah disepakati oleh para teorisi penelitian.

Secara umum, sistematika penulisan makalah[6] sebagai berikut:

  • Bagian Awal, yang terdiri dari halaman sampul luar, halaman sampul dalam, halaman motto (bila perlu), kata pengantar, daftar isi, daftar table (jika ada), daftar lampiran (kalau ada). Pada halaman sampul luar dan dalam tercantum:

a)      Judul Makalah

b)      Maksud Makalah: diajukan sebagai syarat memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan (contoh).

c)      Logo Perguruan Tinggi

d)     Nama mahasiswa

e)      Nama Fakultas dan Perguruan Tinggi dengan huruf kapital dan tahun penyelesaian penelitian

  • Bagian Isi Makalah

a)      Bab I Pendahuluan terdiri dari:

1)      Latar Belakang Masalah

Latar Belakang merupakan bagian makalah yang menggambarkan mengapa penulis tertarik meneliti masalah yang diangkat, apa pentingnya topik tersebut sehingga harus diteliti, dan apa dampaknya jika tidak segera dilakukan penelitian. Juga memaparkan hasil-hasil penelitian tema serupa dengan menyebutkan kesimpulan hasil penelitian.

2)      Rumusan Masalah

Menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dalam makalah.

3)      Tujuan Penulisan

Setelah rumusan masalah berhasil dihantarkan, maka penulis beralih mengemukakan maksud dari penulisan makalah.

b)      Bab II Pembahasan

Dalam bab ini penulis menjelaskan basis teoritis dari berbagai sumber referensi yang valid untuk dianalisis.

c)      Bab III Penutup

Setelah membandingkan beberapa rujukan baik dari buku, majalah, internet, surat kabar, studi lapangan, dan lain-lain, maka penulis menyimpulkan hasil penelitian dan memberikan saran kepada pihak-pihak terkait.

  • Bagian akhir makalah berupa daftar pustaka, yakni penyebutan referensi sebagai rujukan sumber penelitian.

Adapun teknik penulisan, dapat dibaca dalam lampiran makalah ini.


[2] Didik Komaidi, Aku Bisa Menulis; Panduan Praktis Menulis Kreatif Lengkap, (Yogyakarta: Sabda Media, 2008), Cet. 2, hlm. 153.

[3] Ibid., hlm. 142.

[4] Buku Panduan Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara, (tt.p: t.p. t.t.), hlm. 3.

[5] Didik Komaidi, op. cit., hlm. 154.

[6] Pedoman Penulisan Tesis Universitas Sains Al-Qur’an, (Wonosobo: Universitas Sains Al-Qur’an, 2009), hlm. 13. Telah disesuaikan seperlunya oleh penulis berdasarkan kebutuhan materi pelatihan.

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Sebagai penutup, penulis mendapatkan beberapa kesimpulan, yaitu:

  1. Makalah merupakan karya ilmiah, tetapi lebih khusus bila dibandingkan dengan karya tulis lainnya. Makalah lebih memfokuskan pada karya tulis yang dibacakan di muka umum seperti dalam bentuk diskusi kelas, disksusi kelompok, seminar, atau lokakarya.
  2. Kriteria atau ciri makalah secara umum ialah:
    • Logis
    • Obyektif
    • Sistematis
    • Jelas
    • Kebenarannya dapat diuji

Adapun langkah-langkahnya:

a)      Menentukan topik makalah.

b)      Mencari bahan atau referensi.

c)      Penelaahan atau membaca secara mendalam bahan-bahan yang telah terkumpul.

d)     Proses penulisan.

e)      Koreksi dan editing.

f)       Revisi.

g)      Presentasi.

  1. Sistematika Penulisan Makalah meliputi:

a)      Bagian Awal

Terdiri dari halaman sampul luar, halaman sampul dalam, halaman motto (bila perlu), kata pengantar, daftar isi, daftar table (jika ada), daftar lampiran (kalau ada)

Halaman sampul luar dan dalam tercantum:

a)      Judul Makalah

b)      Maksud Makalah

c)      Logo Perguruan Tinggi

d)     Nama mahasiswa

e)      Nama Fakultas dan Perguruan Tinggi dan tahun penyelesaian penelitian

b)      Bagian Isi Makalah

1)      Bab I Pendahuluan terdiri

      • Latar Belakang
      • Rumusan Masalah
      • Tujuan Penulisan

2)      Bab II Pembahasan

Dalam bab ini penulis menjelaskan basis teoritis dari berbagai sumber referensi yang valid untuk dianalisis.

3)      Bab III Penutup

      • Kesimpulan
      • Saran
      • Kata Penutup

c)      Bagian akhir makalah berupa daftar pustaka.

B.     Saran

  1. Sebelum menulis makalah, ada baiknya mahasiswa mengetahui terlebih dahulu definisi “makalah” serta perbedaannya dengan karya tulis ilmiah yang lain (skripsi, tesis, dan disertasi).
  2. Dalam menulis maklah, seyogyanya mahasiswa mengacu pada kriteria yang telah disepakati secara umum berdasarkan kaidah dan teknik penulisan ilmiah.
  3. Tidak perlu menunggu menjadi hebat untuk memulai menulis, tapi mulailah menulis untuk menjadi hebat.

C.    Kata Penutup

Pelatihan penulisan makalah ini hanyalah awal dari ikhtiar kita untuk mengeksplorasi kecerdasan intelektual dalam sebuah karya. Sebagai motivasi      akhir, ijinkan penulis mengutip inspirasi dari Stephen King, seorang penulis asal Amerika Serikat yang karya-karyanya sering di angkat menjadi film layar lebar:Menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan tidak hanya semua pengetahuan, daya, dan kemampuannya saja, tetapi ia sertakan seluruh jiwa dan nafas hidupnya. …… Untuk menjadi penulis, yang dibutuhkan hanyalah kemauan keras untuk menulis dan kemudian mempraktekkannya, orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis namun tidak pernah melakukannya maka ia sama saja dengan bermimpi untuk memiliki mobil, tanpa ada usaha dan kerja keras untuk memilikinya.[1]

Demikian makalah ini kami susun. Yang perlu jadi catatan penting, menulis makalah perlu pembiasaan. Adigium yang selalu penulis ingat, alah! Bisa karena biasa. Kadang berawal dari terpaksa. Sebagai pesan (yang mudah-mudahan bukan pesan terakhir) sebelum mengakhiri coretan singkat ini, marilah kita memaksa suasana hati dan pikiran kita supaya membiasakan diri untuk membaca dan menulis.

Hanya orang-orang beriman dan selalu beraktifitas produktiflah  yang kelak tidak akan rugi selepas pergi dari alam fana ini. Terima kasih atas antusiasme dari pembaca yang sudi menelaah dan mengimplementasikan isi makalah ini. Saran kritik konstruktif-progresif tetap kami harapkan sebagai bahan perbaikan. Sekian.

Waalahu a’lam bi al shawab.[2]

DAFTAR PUSTAKA

 

BUKU

Buku Panduan Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara, tt.p: t.p. t.t.

Komaidi, Didik, Aku Bisa Menulis; Panduan Praktis Menulis Kreatif Lengkap, Yogyakarta: Sabda Media, 2008, Cet. 2.

Pedoman Penulisan Tesis Universitas Sains Al-Qur’an, Wonosobo: Universitas Sains Al-Qur’an, 2009.

INTERNET

Hernowo, “Tips Motivasi”, http://www.resensi.net

http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/05/08262468/

http://edukasi.kompas.com/read/2012/02/09/09494690/

http://edukasi.kompasiana.com/2012/02/08

http://kamusbahasaindonesia.org/makalah#ixzz1b0JQRBZ7

http://sirotholmustaqim.wordpress.com

http://www.alquran-indonesia.com

 


[1] Stephen King dalam  Nur Ali Muchtar, “Kata-kata Bijak Tentang Menulis”, http://alymerenung.wordpress.com/2009/11/11.

[2] Disampaikan oleh Ahmad Saefudin (Alumni Fakultas Tarbiyah INISNU Jepara dan Pendidik di SMP Islam Terpadu Kholiliyah Wedelan Bangsri Jepara) pada acara Pelatihan Pembuatan Makalah yang diadakan Oleh BEM Fakultas Tarbiyah Institut Islam Nahdlatul ’Ulama (INISNU) Pada Kamis, 4 Oktober 2012 di Rumah Bapak Drs H Ali Murtadlo MPdI. Bawu Batealit Jepara Jawa Tengah

Lampiran 1

TEKNIK PENULISAN SKRIPSI

Pasal 7

Tata Cara Penulisan

  1. Penulisan skripsi menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar mengacu pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan; dan jika di pandang mampu maka dapat menggunakan Bahasa Arab dan atau Bahasa Inggris
  2. Informasi disajikan dengan bahasa yang lugas, sederhana, tepat dan langsung pada persoalan yang dibicarakan;
  3. Penulisan istilah yang berasal dari bahasa asing dan daerah, dengan huruf miring (italic), seperti kata istinbath al-ahkam (istinbâth al-ahkâm), drop out (drop out), gugur gunung (gugur gunung);
  4. Untuk menghindari subyektivitas, penulisan skripsi tidak diperbolehkan menggunakan kata saya, aku, kami atau kita kecuali dalam kata pengantar;
  5. Penulisan ayat al-Quran dan teks al-Hadist sesuai dengan aslinya, memperhatikan tanda-tanda baca yang tertera, disertai syakalnya dengan menggunakan mushaf Utsmâni serta menyebutkan nama surat dan nomor ayat untuk teks al-Quran dan nama perawi untuk teks al-Hadist.

Pasal 8

Bentuk dan Format Penulisan

  1. Naskah skripsi diketik dengan jenis huruf standard (Times New Roman) dengan ukuran/font 12 , Spasi ganda dan minimal 40 halaman;
  2. Skripsi berbahasa Arab menggunakan font Traditional Arabic dengan huruf ukuran 18;
  3. Kertas yang dipergunakan untuk penulisan skripsi adalah Kuarto (A4S) ukuran 21,5 x 29,7 cm berat 70 – 80 gram;
  4. Batas margin kiri dan atas 4 cm, kanan dan bawah 3 cm, sedangkan untuk skripsi yang ditulis dengan Bahasa Arab maka margin kanan dan atas 4 cm, kiri dan bawah 3 cm;
  5. Setiap satu lembar kertas kuarto hanya digunakan satu halaman saja (tidak bolak balik) diketik dengan spasi ganda, sedangkan skripsi berbahasa Arab dengan jarak 1 spasi;
  6. Alinea baru dimulai pada ketukan ketujuh dari margin kiri bagi skripsi yang berhuruf latin atau dari margin kanan bagi skripsi yang berhuruf Arab;
  7. Judul skripsi ditulis dengan huruf kapital (besar) di tengah, ukuran huruf dengan memperhatikan estetika penulisan.
  8. Judul bab ditulis dengan huruf kapital (besar) di tengah, sub judul bab ditulis dari tepi kiri, awal kata menggunakan huruf kapital, demikian juga anak sub judul atau sub anak judul disusun sedemikian rupa dengan memperhatikan estetika penulisan;
  9. Sampul skripsi menggunakan kertas buffalo atau sejenisnya dijilid tebal dan dilapisi plastik (hard cover) dengan huruf timbul warna tinta hitam;
  10. Sampul skripsi berwarna, sesuai dengan warna bendera Fakultas
  11. Penomoran halaman dimulai dari Bab I sampai akhir laporan skripsi menggunakan angka arab (1, 2, 3, 5, 6 dst.) diletakkan di sebelah kanan atas, kecuali nomor halaman bab baru yang diletakkan di tengah bagian bawah, sub judul ditulis dari tepi kiri, awal kata menggunakan huruf kapital kecuali kata penghubung/sambung, demikian juga anak sub judul atau sub anak judul disusun sedemikian rupa dengan memperhatikan estetika penulisan, sedangkan pada halaman judul sampai halaman daftar isi menggunakan huruf Romawi kecil (seperti i, ii, iii, iv, v, dst.) yang diletakkan di tengah bagian bawah;
  12. Penomoran tabel atau gambar diberi nomor urut dengan angka arab (Tabel 1., Tabel 2., dst.);
  13. Nomor kutipan atau catatan kaki pada masing-masing bab ditulis berturut-turut sampai akhir bab dan dimulai kembali dengan nomor satu pada bab berikutnya;
  14. Abstrak skripsi diketik 1 spasi maksimal 2 halaman, ditulis dalam Bahasa Indonesia.

BAB V

TEKNIK NOTASI ILMIAH

 

Pasal 9

Kutipan

 

Kutipan terdiri dari dua macam, yaitu :

  1. Kutipan Langsung adalah kutipan yang sama dengan bentuk asli yang dikutip baik dalam susunan kata maupun tanda bacanya. Kutipan langsung tidak dibenarkan lebih dari satu halaman. Kutipan langsung dipergunakan hanya untuk hal-hal yang penting saja seperti definisi atau pendapat seseorang yang khas. Kutipan langsung yang tidak lebih dari empat baris, diketik biasa dalam teks skripsi dengan diawali dan diakhiri oleh tanda petik(“) dan diberi nomor kutipan yaitu dengan pola catatan kaki (footnote). Ini dimaksudkan jika diperlukan notasi dapat lebih leluasa dan memudahkan pembaca. Kutipan yang  lebih dari empat baris, diketik dengan masuk (menjorok) tujuh ketukan dan tidak dibubuhkan tanda petik, serta ditulis dengan jarak 1 spasi. Kutipan terjemah al-Qur’an dianggap seperti kutipan langsung, diketik 1 spasi meskipun kurang dari empat baris, tidak ditulis miring dan tidak menyebut kata Artinya;
  2. Kutipan tak langsung (parafrase) adalah kutipan yang hanya mengambil isinya saja, seperti saduran, atau ringkasan. Dalam kutipan semacam ini, penulis tidak perlu memberi tanda petik, ditulis seperti teks biasa dengan menyebut sumber pengambilannya;
  3. Sumber kutipan merujuk pada ilmuwan yang ahli dalam bidangnya;
  4. Kutipan skripsi diantaranya harus mencakup minimal satu sumber/buku yang berbahasa Arab dan satu sumber/buku berbahasa Inggris yang terkait dengan pokok bahasan, tidak termasuk kamus;
  5. Kutipan Tafsir dan Hadist harus bersumber pada kitab asli (sumber primer).
  6. Kutipan dapat bersumber dari internet atau CD dengan mencantumkan situs dan menunjukkan print-outnya.

Pasal 10

Catatan Kaki (footnote)

  1. Catatan kaki merupakan catatan pada bagian kaki halaman teks yang menyatakan sumber sesuatu kutipan atau pendapat mengenai sesuatu hal yang diuraikan dalam teks;
  2. Catatan kaki dapat berfungsi sebagai tambahan yang berisi komentar atau penjelasan yang dianggap tidak dapat dimasukkan di dalam teks;
  3. Catatan kaki diketik satu spasi dan dimulai langsung dari margin kiri untuk tulisan latin dan margin kanan untuk tulisan Arab, dimulai pada ketukan kelima di bawah garis catatan kaki;
  4. Catatan kaki pada tiap bab diberi nomor urut mulai dari angka 1 sampai habis, dan diganti dengan nomor 1 kembali pada bab baru;
  5. Cara penulisannya secara berurutan: nama pengarang (nama gelar dan tidak dibalik), koma, judul sumber/buku dengan huruf kapital setiap awal kata kecuali kata tugas, koma, jilid/juz, koma, kurung buka kemudian tempat/kota penerbit, titik dua, nama penerbit, koma, tahun terbit kemudian kurung tutup, koma, nomor cetakan, koma, dan nomor halaman diakhiri dengan titik;
  6. Judul buku dengan huruf miring (italic), kecuali berbahasa Arab maka ditulis dengan huruf tebal (bold) dan halaman      (صفحة) bisa disingkat dengan hlm. atau ص. (dalam bahasa Arab), contoh :

1Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21, (Yogyakarta: Safiria Insania Press dan UII, 2003), Cet. 1, hlm. 15.

  1. Nama pengarang yang jumlahnya terdiri dari dua orang, maka kedua nama itu ditulis. Apabila lebih dari dua orang hanya disebutkan nama pengarang yang pertama dan setelah tanda koma dituliskan singkatan et. al. ditulis dengan huruf miring (italic) atau dkk., atauواخرون          (dalam bahasa Arab). Contoh: Djaali, Pudji Mulyono dan Ramly, Pengukuran dalam Bidang Pendidikan, Jakarta: PPS Universitas Negeri Jakarta, 2000. Penulisan dalam footnote sebagai berikut :

2Djaali, et. al., Pengukuran dalam Bidang Pendidikan, (Jakarta: PPS Universitas Negeri Jakarta, 2000), hlm. 10.

  1. Kumpulan karangan yang dirangkum oleh editor, yang dianggap pengarangnya atau yang dicantumkan dalam catatan kaki nama editor saja. Caranya dibelakang nama editor itu dicantumkan “(ed.)” dengan italic (ed.). Bila editornya lebih dari satu maka diberi tambahan “s” (eds.), sedangkan untuk bahasa Arab ditulis dengan    تحقيق     .Contohnya:

3Mastuhu (ed.), Penelitian Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 125.

4Harun Nasution dan Azyumadi Azra (eds.), Perkembangan Modern dalam Islam, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985), hlm. 125.

  1. Apabila dari sumber yang sama dikutip lagi pada halaman yang sama maka cukup dengan “Ibid.” (dicetak miring) atau        نفس الر جع         (dicetak tebal dalam bahasa Arab) tanpa menyebutkan halamannya lagi. Ibid. singkatan dari Ibidem yang berarti pada tempat yang sama. Sedangkan bila dari sumber yang sama dikutip lagi pada halaman yang berbeda, maka dalam catatan kaki ditulis: Ibid., lalu disebutkan halamannya, contoh:

5Sutrisno (eds.), Paradigma Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 20,

6Ibid. (bila mengutip halaman yang sama).

7Ibid., hlm. 30. (bila mengutip pada halaman yang berbeda).

  1. Apabila dari sumber tersebut dikutip lagi tetapi telah diselingi oleh kutipan dari sumber lain, maka pada catatan kaki ditulis: Nama pengarang, Judul buku / sumber (jika ada lebih dari satu buku), op.cit., (italic) atau          المر جع السابق(dicetak tebal dalam bahasa Arab) diikuti hlm. Adapun op.cit, singkatan daru “opere citato” yang artinya dalam karangan yang telah disebut. Sedangkan apabila dari halaman yang sama dikutip lagi tetapi telah diselingi kutipan dari sumber lain, maka ditulis loc.cit atau نفس المكا(dicetak tebal dalam bahasa Arab). Tanpa menyebutkan halaman. loc.cit. adalah singkatan dari “loco citato” yang artinya pada tempat yang telah dikutip. Contoh :

8Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 21.

9Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas, (Bandung: Pustaka, 1986), hlm. 65.

10Mustaqim, op.cit., hlm. 30.

11Fazlur Rahman, loc.cit.

  1. Apabila buku itu berjilid dan yang digunakan lebih dari satu jilid, maka bila ingin menyebutkan lagi sumber yang terdahulu harus dicantumkan nama pengarang dan nomor jilidnya. Contoh :

12Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid 1, (Jakarta: UI Press, 1973), Cet. 3, hlm. 25.

13 Ibid., Jilid 2, hlm. 40.

14 Harun Nasution, op.cit., Jilid I, hlm.36

15Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, (Jakarta: LP3ES, 1985), hlm. 75.

16Harun Nasution, Loc.cit., Jilid I.

  1. Kutipan yang berasal dari buku yang berbentuk bunga rampai (antologi) atau kumpulan tulisan dari beberapa penulis, cara penulisannya sebagai berikut: nama penulis, koma, tanda petik (“), judul tulisan, tanpa petik (“), koma, dalam, nama editor, koma, judul buku, (italic), koma, kurung buka, tempat terbit, titik dua, nama penerbit, koma, tahun terbit, kurung tutup, koma, dan halaman. Contoh:

17Abdurrohma Masud, “Pendidikan Islam Kontemporer: Problem Utama, Tantangan dan Prospek”, dalam Ismail (eds.), Paradigma Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 278.

  1. Kutipan yang berasal dari majalah ditulis sebagai berikut : nama penulis, koma, judul artikel diapit tanda petik (“—“), koma, nama majalah ditulis italic, koma, volume, koma, nomor edisi, koma, bulan, koma, tahun terbit, koma dan nomor halaman.

Contoh:

18Novel Ali, “Kejahatan Sebagai Akibat Lumpuhnya Pendidikan Moral”, Panji Masyarakat, XXXV, 789, April, 1994, hlm. 66.

  1. Kutipan yang berasal dari surat kabar cara penulisannya sebagai berikut: nama penulis, koma, judul artikel diapit tanda petik (“—“), koma, nama surat kabar ditulis miring, koma, tempat terbit, koma, tanggal, bulan dan tahun terbit, koma, diakhiri dengan nomor halaman sesuai sumbernya. Contoh:

19Abdurrohman Said, “Pendidikan Agama setengah Hati”, Suara Merdeka, Semarang, 4 Juli 2003, hlm. VI.

  1. Kutipan yang berasal dari karya ilimiah yang tidak / belum diterbitkan, cara penulisannya: nama pengarang, koma, judul karangan ilmiah dengan diapit tanda petik (“—“), koma, disebutkan skripsi, tesis atau disertasi, koma, kurung buka, nama kota penyimpanan, titik dua, nama tempat penyimpanan, koma, tahun penulisan, koma, kurung tutup, koma, nomor halaman, dan keterangan tidak diterbitkan yang disingkat dengan “t.d.”sedangkan untuk Bahasa Arab ditulis dengan  عخطو ط    contoh:

20Nasirudin, “Asketisisme Hasan Al-Bashri (Tinjauan Sosio-Historis)”, Tesis Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, (Yogyakarta: Perpustakaan Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2000), hlm. 23, t.d.

  1. Kutipan yang berasal dari buku / kitab yang asli dan terjemahnya, angka kutipan diletakkan di belakang terjemah; sedangkan kutipan yang berasal dari  buku / kitab berbahasa asing tanpa terjemah maka angka kutipan diletakkan di belakang kutipan tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk membedakan antara terjemahan dari penerjemah dan penulis sendiri.
  2. Sumber kutipan yang tidak ada tempat terbitnya maka tempat   terbitnya ditulis dengan singkatan tt.p. atau   بدون مكان           (dalam Bahasa Arab), jika tidak ada penerbitnya maka nama penerbit ditulis dengan singkatan t.p. (        بدون    نا شر ) dan jika tidak ada tahun terbitnya maka ditulis t.t atau بدون تاريخ          (dalam Bahasa Arab). Sedang untuk singkatan الطبعة     menggunakan ط. , dan singkatan        الجزء     menggunakan huruf  ج.
  3. Sumber kutipan yang diambil dari internet cara penulisannya adalah sebagai berikut : nama penulis, koma, judul artikel diapit tanda petik (“—“), koma, nama situs koma, nomor halaman. Contoh :

21Ahmad Sapari, “Kurikulum Berbasis Kompentensi”, http://www.surya.co.id./30052002/12pini.phtml, hlm. 2.

Pasal 11

Daftar Kepustakaan

  1. Daftar pustaka, yang merupakan keterangan mengenai bahan bacaan yang dijadikan rujukan dalam proses pembuatan skripsi, ditempatkan diakhir skripsi dengan jarak satu (1) spasi dan tidak menggunakan nomor urut. Sedangkan jarak antara dua sumber pustaka satu setengah (1,5) spasi;
  2. Daftar pustaka ditulis dengan urutan: nama pengarang (nama kedua), koma, nama lengkap (tanpa gelar), koma, judul buku dicetak miring (italic), koma, jilid atau volume, koma, tempat penerbitan, titik dua, nama penerbit, koma, tahun penerbitan, koma, nomor cetakan;
  3. Penulisan nama pengarang disusun secara alfabetik dengan mendahulukan nama keluarga dan marga (kalau ada) atau nama belakang, dan diketik pada ketukan pertama. Untuk singkatan mengikuti nama terakhir. Bila informasi tentang buku/sumber rujukan itu melebihi satu baris, maka baris kedua dan berikutnya diketik mulai ketukan kelima. Contoh :

Nasution, Harun., Islam Ditinjau dari berbagai Aspeknya, Jilid I, Jakarta: UI Press, 1973, Cet. 3.

Sapari, Ahmad “Kurikulum Berbaris Kompetensi”, http://www.surya.co.id./30052002/12pini.phtml.

  1. Apabila penulis terdiri dari dua orang, maka nama kedua-duanya ditulis, dihubungkan dengan kata dan, seperti Nashiruddin dan Karnadi. Apabila lebih dari dua orang, ditulis nama pertama dan diikuti kata dkk. (dan kawan-kawan) atau           واخرون  (dalam bahasa Arab), seperti Nashiruddin dkk. (       ناصرالدين واخرون).
  2. Apabila ada dua karangan atau lebih berasal dari pengarang yang sama, maka nama pengarang dicantumkan satu kali, lainnya cukup diganti dengan garis sepanjang lima ketukan dari garis margin kiri (tulisan latin) dan margin kanan (bahasa Arab) dan diikuti oleh koma, dengan ketentuan mendahulukan sumber pustaka yang lebih dahulu penerbitannya.

Contoh :

Nasution, Harun., Islam Ditinjau dari berbagai Aspeknya, Jilid I, Jakarta: UI Press, 1973, Cet. 3.

____, Teologi Islam, Jakarta: UI Press, 1986.

  1. Apabila berupa buku terjemahan maka ditulis pengarang yang asli, koma, judul buku, koma, kata terj. Atau  تر جمة (dalam bahasa Arab), nama penerjemah, koma, tempat penerbit, titik dua, nama penerbit, koma, tahun terbit diakhiri dengan titik. Contoh :

Benda, Harry J., Bulan Sabit dan Matahari Terbit : Islam Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang, terj. Daniel Dhakidae, Jakarta: Pustaka Jaya, 1980.

  1. Jika penulis dan tahunnya sama, sedangkan judul bukunya berbeda maka dibelakang keterangan tahun diberi kode a, b, c, dan seterusnya sesuai dengan bulan terbit. Contoh :

Nasution, Harun., Islam Ditinjau dari berbagai Aspeknya, Jilid I, Jakarta: UI Press, 1986a, Cet. 3.

____, Teologi Islam, Jakarta: UI Press, 1986b.

  1. Sumber kutipan yang diambil dari internet cara penulisannya adalah sebagai berikut: nama penulis, koma, judul artikel diapit tanda petik (“—“), koma, nama situs, titik.

Contoh : Sapari, Ahmad “Kurikulum Berbaris Kompetensi”, http://www.surya.co.id./30052002/12pini.phtml.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s