ASA PEDAGANG LAPAK SEDERHANA


ASA PEDAGANG LAPAK SEDERHANA*

Guratan kulit kasarnya simbol resistensi terhadap pengaruh kapitalisme global. Lapak sederhana menjadi tumpuan ekonomi bagi keluarga. Kilatan mata tajamnya kian menurun, namun tak sedikit pun menyurutkan etos kerja. Menemani gemerlap bintang yang setia menanti “kokok ayam” di fajar yang petang. Menyapa seberkas sinar yang kemudian berbias membawa aroma kehidupan di bumi Tuhan ini.

Pelanggan setia sudah menanti hasil olahan rutin, bakwan panas. Pengalaman kemandirian mengajarkan pantang berkeluh kesah. Keikhlasan senyum membuat lapaknya tak pernah sepi. Terutama bagi manusia berkantong tipis macam aku. mahasiswa pengangguran.

“Mbok! Mie goreng pedas!” pintaku sambil memegang perut yang entah sudah dari kapan tidak mengakrabi nasi.

“Tolong! Kasih kuah sedikit!”

“Gorengannya habis ya Mbok?” Lanjutku.

“Iya, Kak! Tadi sudah dipesan sama Ibunya Pak RT untuk ngaji selapanan,” jawab Mbok Ton ramah. Padahal kalau pun masih tersisa, belum tentu Aku membelinya. “Irit!” kenang orang tuaku kala menasehati anak-anaknya yang hidup di rantau orang.

Tak ku sangka, hampir satu tahun kutinggalkan rumah kontrakan karena harus pindah ke kampung sebelah untuk mengabdi di lembaga pendidikan swasta setelah lulus dari kampus. Mencoba menerapkan teori-teori ideal yang sering ku diskusikan. Di lapak sederhana inilah, Kita, anak-anak kontrakan yang masih  mendambakan perubahan di setiap tatanan sosial menghabiskan malam-malamnya, hanya untuk bercengkerama.

Dari sekedar membincangkan hal-hal sederhana macam cita-cita, masa depan, pendamping hidup, kegiatan kuliah, hingga isu-isu hangat seputar kampus seperti, oligarki kekuasaan dari para birokrat, feodalisme kepemimpinan, transparansi keuangan, penataan manajemen perguruan tinggi. Semuanya dikupas tuntas.

Bahkan isu-isu nasional dan internasional. Seperti kisruh elit partai politik, perselingkuhan borjuasi lokal dengan aparatur pemerintah, efek buruk cengkeraman  modernisasi  sebagai setting global Negara adidaya, kapitalisme, developmentalisme, sosialisme, marxisme, Islam Kiri, Islam Kanan, radikalisme agama, dan tema-tema menarik lainnya.

“Nih! Gorengannya sudah matang, tadi nanyain?” sela Mbok Ton dengan sopan yang ku tanggapi dengan senyum miris sembari memegangi kantong celana yang hanya berisi uang tiga ribu rupiah.

“Ya Mbok! Tenang saja, ada bos yang mau ntraktir kok. Si Lukman kan baru gajian dari hasil mengajarnya di Madrasah Ibtida’iyah (MI)”

“Siap! Asal tidak lebih dari seribu rupiah per orang,” jawab Lukman yang terlanjur terdesak dan secepat kilat pasang kuda-kuda biar nafsu makan kami terkendali.

Begitulah aktivitasku selama di rumah kontrakan mahasiswa. Kebiasaan yang menurut sebagian mahasiswa lain menjenuhkan, tidak ada manfaatnya, dan buang-buang waktu. “Ngapain kebanyakan diskusi, omong-omong tok, begitu kata mereka. Tapi, sekarang sangat ku rasakan manfaatnya, ketika sudah bergelut di dunia nyata. Dunia pendidikan. Tentunya sudah banyak fakta yang membuatku yakin bahwa, diskusi mampu melatih nalar dan insting kemanusiaanku untuk menghadapi  situasi yang sulit. Sehebat apa pun permasalahnya, pasti bisa menemukan titik solusi dengan diskusi.

Biarlah mereka yang tidak simpatik terhadap forum-forum semacam ini mencibir. Setiap manusia punya hak kemerdekaan dalam menentukan pola pikir dan cara pandang yang berbeda dalam menilai problem realitas sosial. Itu pula yang sering didengungkan oleh seniorku untuk melawan virus-virus parasit yang datang dari luar forum diskusi. Menurut hasil bacaanku, yang diperlukan hanyalah sedikit pergeseran perspektif, dan tidak merubah pendirian agar kita mampu mengenali sesuatu dengan wujud baru yang sama sekali berbeda.

*******

Tak seperti biasanya, Mbok Ton kelihatan murung. Seperti ada yang terpendam untuk segera dikeluarkan. Binar harap yang tersembunyi di balik kerling mata tuanya redup. Tidak terdeteksi oleh naluri liarku. Pikirannya jauh menembus ruang waktu. Bertukar pikiran jadi barang mahal bagi janda beranak dua ini setelah sepuluh tahun lalu suaminya pergi mendahului ke pangkuan ilahi. Dia membesarkan dua anaknya seorang diri, pastinya dengan segala permasalahan yang telah dilalui.

Anak pertama yang laki-laki harus berhenti sekolah dan dengan sadar memutuskan untuk bekerja. Mencari uang sebagai buruh paruh waktu untuk sekedar meringankan beban keluarga. Sementara anak perempuan terakhirnya baru saja lulus dari Madrasah Aliyah. Dengan beasiswa dari yayasan sekolah, ia berhasil meraih predikat Lulusan Terbaik. Bangku kuliah dambaannya telah menanti. “Sekolah tanpa seragam, idaman setiap orang,” ujarnya mantap.

Setelah lama berjuang untuk mendapatkan tiket Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN), mengalahkan saingannya yang juga tidak kalah cerdas, ia memancangkan niat untuk menembus kampus ternama di Semarang. Sayang, sistem memaksanya untuk hengkang dari perebutan kursi SMPTN. Impiannya untuk kuliah di perguruan tinggi negeri yang murah kandas. Dari tiga ribu pendaftar, hanya diambil lima puluh calon mahasiswa terbaik. Selebihnya yang belum berkesempatan, harus menempuh jalan lain jika tetap ingin melanjutkan kuliah.

“Jangan patah semangat!” Kata Mbok Ton datar, ia menirukan gaya bicara anak perempuannya setelah menerima nasehat terakhir dari panitia seleksi sebelum keluar ruangan ujian.

“Bagaimana kabar Lia, Mbok? Jadi melanjutkan ke mana setelah lulus?”

Pertanyaanku tidak sedikit pun mengganggu renungannya. Padahal, bau bakwan gosong semakin menyengat. “Mbok! Bakwannya gosong!”

“Astaghfirullah!” Bergegas mengambil gorengan dari wajan panas dengan alat.  Pengangkat yang terbuat dari aluminium dengan gagang yang sudah terlihat berkarat.

“Kenapa Mbok? Dari tadi melamun?”

“Kasihan dengan Lia, Kak! Setelah lulus, di rumah tidak ada kegiatan. Keinginannya untuk kuliah terbentur dengan keadaan ekonomi. Kak Udin kan tahu, untuk mencukupi kebutuhan keluarga saja harus mengandalkan dagangan ini. Apa lagi di musim hujan seperti sekarang, pelanggan sepi. Biaya sekolah selama ini ditanggung oleh yayasan. Sejak di Madrasah Tsanawiyah, saya cukup memberi uang saku harian. Dan sekarang, jika harus kuliah, apa sanggup? Bukankah kuliah itu mahal?”

“Sudah seminggu ini Lia bengong di rumah. Sedih melihatnya,” lanjut Mbok Ton menceritakan kegundahannya. “Harapan setiap orang tua pastilah ingin selalu menuruti keinginan si buah hati. Tapi, mau bagaimana lagi? Ujung-ujungnya tetap pada kondisi keuangan keluarga. Kakaknya juga tidak yakin mampu membantu pembiayaan jika Lia jadi kuliah. Pekerjaannya sebagai Tukang Kayu di perusahaan meubel kecil, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup pribadi. Buat beli rokok saja terkadang kurang.”

“Berdoa saja Mbok! Semoga ada kemudahan jalan supaya Lia bisa segera kuliah, dengan prestasi yang diraihnya, kenapa tidak coba ikut beasiswa?” Hiburku.

“Meskipun peluangnya kecil, siapa tahu keberuntungan memihak?”

“Sudah dicoba, tapi gagal. Justru temannya yang lolos seleksi, padahal nilai rapornya sedikit di bawah perolehan Lia, mungkin belum rejeki,” selidik Mbok Ton.

Cerita Mbok Ton menggiring ingatanku kembali pada masa dua tahun silam. Saat baru lulus dari kampus, kucoba mempertaruhkan nasib untuk ikut seleksi beasiswa pascasarjana yang diselenggarakan kementerian agama. Syarat administratif lolos. Namun ketika seleksi tertulis, langsung gugur. Nilai Bahasa Inggris terlampau rendah, dan itu memang sudah ku sadari dari awal.

Melihat ijazahku, semua nilai mata kuliah yang berhubungan dengan bahasa Inggris tertera C+, yang artinya sama saja cukup, mendekati gagal. Writing, Reading, Structure, semuanya C+. Kecuali speaking yang dapat nilai A, Baik Sekali. Itu pun karena faktor dosen yang ketika mengajar sangat telaten. Orangnya easy going. Nyantai, kata teman sekelasku.

“Apa Kak Udin punya kenalan supaya Lia bisa kuliah?”

“Ya Mbok! Nanti kucarikan informasi tentang beasiswa. Lia harus kuliah. Sayang kalau harus nganggur”

Tiga ribu rupiah kubayarkan ke Mbok ton setelah melahap Mie goreng ditambah Bakwan. “Air putihnya gratis,” kata Mbok Ton.

Nalar kemanusiaanku membantu Mbok Ton semakin membuncah. Tapi apa yang harus kulakukan? Mengurusi diri saja masih tertatih, sok mau jadi pahlawan.

**********

Langit biru mencerahkan Kamis pagi di Kota Ukir, Jepara. Tangkapan angin di jemuran teras kontrakan membuat pakaian yang masih basah berkelebat. Cerita Mbok Ton masih menari-nari di memori ingatanku. Entah mengapa? Aku merasa bertanggungjawab untuk membantunya. “Mencarikan beasiswa buat Lia,” tekadku heroik. Motor bututku meraung. Tanda aktivitas hari ini dimulai. Menyusuri jalan raya yang dipenuhi deret show room meubel para pangusaha lokal. Sesekali, tampak mereka sedang melayani buyer dari mancanegara. Terus saja berjalan. Hingga berhenti di tempat tujuan. Kantor Pemerintah Daerah.

Sejak dulu, kantor yang berada dekat alun-alun kota ini tidak asing bagiku. Di dalamnya ada pendopo kabupaten yang menjadi kediaman dinas bagi Bupati. Ketika ada kebijakan pemerintah yang tidak memihak pada rakyat kecil, kantor ini menjadi target demonstrasi.  Tidak pernah ada aksi massa yang terlewatkan olehku. Kenanganku tatkala masih memakai baju mahasiswa terngiang, “Tuntut Perubahan! Revolusi!”. Itulah yang sering ku perjuangkan.

Kali ini, kedatanganku membawa misi yang berbeda. Satu tahun lebih tidak menginjakkan kaki di gedung ini. Tempat parkir masih sama. Di depan pintu bagian utara, berjejer rapi motor dengan penjaga parkir berpakaian Pegawai Negeri Sipil.

Memasuki pintu utama, pikiranku tertuju pada ruangan kantor bagian umum, pangkal dari setiap persoalan masyarakat “Bumi Kartini” diadukan. Lalu lalang PNS dengan berbagai tugas dan kepentingan membuat kantor ini kelihatan sibuk.  Tapi, tidak jarang pula terlintas pemandangan oknum PNS yang katanya digaji oleh uang rakyat itu, justru banyak nganggurnya. Ngerumpi dengan rekan-rekannya di ruang kerja. Ada yang online membuka situs jejaring sosial sambil senyam-senyum sendiri. Intinya, pekerjaan yang tidak produktif.

Jika kinerjanya seperti itu, mubazir sekali pemerintah untuk menggaji mereka. Padahal di luar sana, banyak sekali masyarakat yang butuh pelayanan. Baru kemarin, Bupati Jepara mengesahkan regulasi tentang aturan kenaikan tambahan penghasilan PNS. Lima puluh milyar rupiah dialokasikan sebagai pemantik etos kerja. Meskipun kebijakan ini mendapat banyak kritik baik dari mahasiswa, Lembaga Swadaya Masyarakat, ormas, dan banyak lagi elemen masyarakat, tetap saja kebijakan ini diberlakukan. Sayangnya, kenaikan upah PNS ini tidak berbanding lurus terhadap kualitas hasil kinerja. Setidaknya itu menurut pengamatanku.

“Pagi Mbak! Kalau ingin tahu informasi tentang beasiswa bagi keluarga kurang mampu, bisa berkoordinasi dengan siapa?” Tanyaku kepada siswa SMK yang sedang magang di bagian sekretariat.

“Maaf! Anda dari mana?”

“Saya dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, salah satu organisasi ekstra kampus yang ada di Jepara”

“Oh! PMII! Iya. Anda bisa menemui Pak Selamet di bagian Kesejahteraan Masyarakat! di lantai II, lewat tangga sebelah pintu masuk, Mas!”

“Terima kasih Mbak!”

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), memang sudah dikenal di kalangan birokrasi pemerintah karena gerakan kritisnya menyikapi setiap kebijakan. Mungkin itu juga, yang membuatku lebih mudah untuk menemui Pak Selamet tanpa perlu melewati banyak prosedur admisnistratif.  Di atas kepalaku, bayang-bayang kesedihan Mbok Ton masih mendominasi, dan semakin membuatku semangat. Sebentar lagi, Aku akan megganti kesedihan itu menjadi kebahagiaan. Karena anaknya, Lia akan mendapat beasiswa kuliah.

“Begini Mas! Untuk mendapatkan bantuan beasiswa perkuliahan bagi masyarakat yang kurang mampu, harus memenuhi beberapa persyaratan. Foto copy kartu Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) atau kartu BLT (Bantuan Langsung Tunai) dari pemerintah, bukti slip pembayaran sebagai mahasiswa baru yang terdaftar di perguruan tinggi, KTP, KK (Kartu Keluarga), dan surat pengantar dari kepala desa. Baru bisa saya ajukan. Kalau disetujui oleh pimpinan, nanti yang bersangkutan mendapatkan bantuan sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah. Sifatnya satu kali seumur hidup. Jadi, kalau sudah dapat bantuan tahun ini, tahun berikutnya tidak bisa mengajukan lagi,” terang Pak Selamet setelah mendengar maksud dan tujuanku menemuinya.

“Begitu ya Pak! Masalahnya saya belum tahu, apakah yang bersangkutan mempunyai syarat-syarat sesuai tadi yang Bapak katakana atau tidak. Seumpama ada satu saja yang terlewat, apakah Bapak bisa membantu mencairkan beasiswa itu? Orangnya benar-benar membutuhkan Pak! Yatim sejak sepuluh tahun lalu. Selama ini mengandalkan uluran dermawan untuk menyelesaikan sekolahnya. Keinginan kuatnya untuk kuliah terlalu sayang jika harus terhenti hanya karena faktor ekonomi. Tolonglah Pak! Diusahakan!” pintaku mengiba.

“Mas! Saya bekerja sesuai aturan. Lebih baik Masnya pulang! Segera komunikasi dengan yang bersangkutan. Semoga saja bisa terpenuhi segala persyaratan pengajuan bantuan. Akan saya prioritaskan. Tapi, kalau syaratnya tidak lengkap, mohon maaf Mas! Saya tidak bisa berbuat banyak. Masih banyak orang lain yang antre. Menunggu bantuan yang sama dari pemerintah”

“Ya Pak! Saya segera kembali untuk menemui Bapak. Tentunya dengan membawa segala persyaratannya!”

“Dan ingat!” Pak Selamet menghentikan langkahku yang sudah mendekati pintu keluar.  “Jangan sampai ada manipulasi data. Soalnya banyak kasus yang sekarang masih disorot oleh atasan tentang pemalsuan kartu Jamkesmas, saya tidak mau menanggung resiko!”

“Iya Pak! Terima kasih peringatannya. Niat saya membantu orang lain, tidak menjerumuskannya melalui cara-cara yang bertentangan dengan moralitas, insyaallah saya bisa dipercaya!”

“OK. Semoga beruntung!”

**********

Gema adzan Dzuhur berkumandang dari Masjid Agung Baitul Makmur, jaraknya kurang dari seratus meter dari pendopo kabupaten. Sambari istirahat di teras masjid setelah berjamaah, aku mencoba menghubungi Lia melalui ponsel.

“Halo! Lia?”,

“Iya Kak. Ini Lia. Kak Udin bagaimana kabarnya?”

“Kabar Baik. Masih ingin kuliah?”

“Em….”

“Kenapa diam?”

“Sebenarnya pingin. Tapi….”

“Tapi khawatir tidak ada biaya? Mbok Ton, Ibu kamu sudah cerita semua, makanya aku menelpon kamu. Tadi aku sudah menemui pegawai kabupaten, menanyakan tentang peluang bantuan beasiswa untuk kamu. Alhamdulillah kamu bisa mengajukannya. Tapi, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.”

Lama sekali aku berbincang dengan Lia. Menanyakan aktivitasnya sekarang, berbagi cerita tentang pengalaman kegagalannya menembus SMPTN, dan rencana ke depan jika memang tidak bisa melanjutkan kuliah.

“Ok! Besok kuhubungi lagi. Silahkan meminta pertimbangan Ibu kamu. Satu juta lima ratus ribu lumayan buat ongkos pendaftaran. Biaya semester selanjutnya bisa dipikirkan sambil jalan.”

“Ok! Terimakasih bantuannya ya, Kak!”

Ternyata, Lia tidak mempunyai kartu Jamkesmas. Kata Mbok Ton, waktu pendataan, kuota jamkesmas hanya diperuntukkan bagi satu orang setiap kepala keluarga. Karena Lia masih kecil, yang didaftarkan nama kakaknya. Ibunya juga tidak mendapatkan kartu BLT. Peluang untuk mendapatkan bantuan beasiswa dari pemerintah pupus. Aku pun tidak menindaklanjutinya lagi. sampai sekarang, Pak Selamet mungkin masih menunggu kehadiranku di kantor Pemda.

“Petugas pendata sensus penduduk yang salah, mengapa Mbok Ton dan Lia harus menanggung resikonya? Sistem yang ada di Negara ini membuat orang miskin dipaksa bodoh, karena diskriminasi dan pembedaan perlakuan dalam mengakses pendidikan,” gerutuku.

“Aku tidak boleh menyerah! Pasti ada cara, aku masih percaya, Tuhan akan menolong hamba-Nya yang membutuhkan. Mbok Ton dan Lia pasti akan mendapat keadilan Tuhan, masih ada satu cara! Semoga berhasil!”

Ku buka daftar nomor telepon. Yupp! Ku cari. “Yah! Ini. Semoga berhasil! Senjata pamungkas.”

Assalamualaikum! Halo! Posisi sekarang di mana Pak?”

Dengan sedikit menahan rasa malu, karena selalu saja merepotkan beliaunya, ku paksakan meminta bantuan lagi.

“Sebentar lagi mau mengisi acara tausiyah Ramadhan sore di Radio Suara Jepara, sudah siap-siap mau berangkat ke studio, ada apa?”

“Biasa Pak! Mau silaturahim

“Bagaimana kalau kita ketemu di sana saja, nanti di sela-sela siaran, bisa ngobrol-ngobrol!”

“Ya Pak! Insyaallah saya temui Bapak di sana!”

Dosenku yang satu ini banyak sekali membantuku. Beliau juga yang memberiku rekomendasi beasiswa di Kementerian Agama RI. Meskipun tidak lolos, dan sekarang belum sempat membalas budi baiknya. Namun, sekarang aku harus merepotkan beliau lagi. Beruntung saja, beliau berperawakan ramah dan baik. Di tengah kepadatan aktivitas, masih saja menyempatkan waktu untuk menemuiku yang statusnya bukan lagi menjadi mahasiswanya.

Sepeda bututku setia mengantar. Studio Radio “Suara Jepara” tujuanku.

**********

 “Begini saja! Suruh segera mendaftar di fakultas Dakwah kampus kita. Ada jatah beasiswa bagi beberapa calon mahasiswa baru di satu tahun pertama. Lumayan!” Nasehat Pak Dosen yang baru saja meraih gelar Doktoral ketika ku temui di sela-sela acara tausiyahnya.

Solusi yang solutif menurutku. “Berarti Lia bisa kuliah dengan beasiswa di tahun pertama ya pak? Biaya selanjutya . . . ” kalimatku terputus. Kemudian dengan nada optimisme tinggi, aku berujar, “bisa dipikirkan sambil berjalan.”

Dua hari kemudian. Lapak Mbok Ton nampak ramai oleh pembeli. Dengan cekatan ia melayani pelanggan. Entah berapa laba per harinya? Aku juga tidak habis pikir, dengan berbekal dagangan semurah itu, apakah keuntungannya sebanding dengan ganti begadangnya tiap malam? Di sisi lain, Mbok Ton tak bisa menipu usianya. Satu tahun terakhir ini, ia harus rutin mengkonsumsi suplemen tambahan untuk menjaga kebugaran agar asam uratnya tidak kambuh.

“Bagaimana  Mbok? Kabarnya sehat?”, tanyaku setelah lapak itu sepi.

“Sehat Kak!”

“Lia, juga sehat?”

Alhamdullilah, sehat juga,” jawab Mbok Ton sembari mengurai senyum rentanya.

“Kemarin aku sudah menemui dosenku, katanya Lia bisa kuliah di kampus INISNU,   Institut Islam Nahdlatul Ulama dengan beasiswa, tapi harus masuk di fakultas Dakwah. Karena fakultas lainnya tidak menyediakan bantuan Mbok,” jelasku penuh semangat.

“Sudah kami putuskan Kak! Tahun ini Lia tidak kuliah”

“Kenapa?” Sahutku heran. Usahaku mondar-mandir mencarikan bantuan tiada berguna.

“Semalam kami musyawarah keluarga, dengan Lia dan kakaknya. Kalau dipaksakan masuk kuliah tahun ini, tampaknya berat. Belum ada simpanan uang yang cukup untuk membayar biaya semester tahun berikutnya, dari pada putus di tengah jalan, lebih baik kami menahan diri barang sejenak. Semoga tahun depan tabungan kami cukup untuk mendaftarkan Lia di perguruan tinggi”

“Tapi Mbok! Lia kan bisa masuk di fakultas Dakwah dengan beasiswa!”

“Mbok tidak begitu paham, apa itu fakultas? Dari cerita Lia, tawaran Kak Udin belum bisa mengantarkannya mencapai cita-cita awal ketika masuk kampus. Ijazah dari INISNU tidak bisa digunakan untuk melamar pekerjaan sebagai guru. Lia ingin sekali menjadi Guru Bahasa Inggris.”

“Kalau tidak kuliah, setahun ini apa yang bisa Lia lakukan? Menganggur di rumah hanya akan membuatnya suntuk, Lia harus punya kesibukan Mbok!”

“Terima kasih perhatiannya, Kak! Kemarin Lia dapat tawaran pekerjaan dari salah seorang kenalan Mbok sebagai penjaga toko pakaian. Ya, setidaknya itu akan mengalihkan keinginannya untuk kuliah di tahun ini, sekaligus hiburan. Upahnya bisa disimpan untuk menambah tabungan”

“Begitu ya Mbok?”

Dengan upah tiga ratus ribu rupiah per bulan, Lia berusaha hemat dalam mengatur pengeluaran. Tahun ini impiannya untuk kuliah terpaksa tertunda. Setelah malang melintang, akhirnya harus tumbang juga. Namun, harapan besar masih tersirat dalam kerja kerasnya.

“Semoga kamu bisa segera kuliah! Amin!” Batinku lirih dalam setiap untaian doa yang terpanjat sesudah shalat.

 

 

*Jepara, 26 Maret 2013 pukul 15.15 WIB

Cerpen ini Aku dedikasikan buat Mbok Ton dan Lia, serta siapapun yang dipaksa merelakan penundaan cita-cita kuliah hanya karena faktor ekonomi

Oleh: Ahmad Saefudin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s