PERTANYAAN PENGGANGGU?


PERTANYAAN PENGGANGGU?

Oleh: Ahmad Saefudin

Tintaku semakin habis. Lembar demi lembar kisah tertoreh. Tetap saja petanyaanmu itu menohok sampai ke ulu hati. Impian yang masih sekedar mimpi, di tengah gulita malam menyeramkan. Mimpi itu terus menambat, menjulang tinggi mengejek angkasa. Mempermainkan awan.

Tidak lama lagi, tulisan-tulisanku akan menghiasai ruang-ruang intelektual. Menemani para mahasiswa yang sedang mencocokkan teori-teori ilmiah. Dibawa ke mana-mana oleh para kandidat Doktor yang tengah berjibaku menemukan postulat-postulat baru. Terpampang gagah di media cetak lokal maupun nasional. Rujukan bagi para pembelajar yang haus pengetahuan. Tertata rapi pada rak dan lemari si “kutu buku”. Tambahan koleksi “Taman Baca Masyarakat” seantero tanah air. Mendapat apresiasi dari para kritikus nasional, bahkan internasional. Semua adalah gagasanku. Tulisanku. Dan karyaku.

Setiap terbayang pertanyaan polos darimu, selalu saja impian yang terus meninggi itu terancam sirna terseret tsunami.  Memporakporandakan bangunan cita yang sekian lama bertaut.  Begitu Aku melihat tulisan sejawat yang terbit, ada iri bercampur motivasi. Perasaanku berontak, mengapa akal belum bekerja maksimal? Membimbing hati menerobos celah kesunyian ilmu. Sehingga jemari tak kaku menyentuh tuts “keyboard”. Mengalirkan kata, kalimat, paragraf, mendeskripsikan dengan indah, menarasikan dengan logis, menganalisis setiap argumentasi yang muncul, menemukan sintesis dari setiap dialektika yang diperdebatkan oleh para teorisi. Dan menarik konklusi realistis.

Bukan hanya pertanyaan polos itu yang mengganggu dan seolah mendekati kebenaran. Daya bacaku menurun. Setiap hari tidak lebih dari 1,5 jam. Masih kalah jauh dengan kompetitorku. Meskipun usianya belia, namun, kuantitas berinteraksi dengan referensi setidaknya selalu di atasku. Lebih dari 1,5 jam per hari. Koleksi buku yang berderet di lemariku masih bisa dihitung dengan jari dan itu pun belum semuanya terbaca. Masih banyak yang harus Kukejar. Minat disiplin ilmu juga belum terkonsentrasi. Meskipun alumnus Fakultas Pendidikan Islam, terkesan gagap dalam menyikapi realita pendidikan Islam di lapangan. Forum pemantik pengetahuan seperti diskusi dan pelatihan semakin jarang kuikuti. Semuanya terlewatkan. Alasan rutinitas sebenarnya apologi sebagai penghibur hatiku yang belum mau menerima kenyataan ini. Memang, kegemaranku sampai saat ini hanya mengutip pendapat mereka yang lebih dulu berkarya. Tapi, justru itulah yang kemudian memunculkan pertanyaan “pengganggu itu”. “Gemar sekali menulis kata-kata dari buku, kalau karangan sendiri jarang?”, katamu polos.

Ku tak bisa menggerutu. Berbenah. Bukan untuk menjawab, tapi membuktikan. Dan Aku pun tersadar dari lamunan dan mimpi-mimpiku. Terima kasih membangunkanku. Ternyata, tekad saja belum cukup, perlu kerja keras. I am coming my dream!

2 pemikiran pada “PERTANYAAN PENGGANGGU?

  1. Hidup Mahasiswa! Salam Tangan Terkepal dan Maju ke Muka! Doakan semoga bisa segera jadi mahasiswa lagi. Dan diberi kemudahan dalam berkarya. Good Luck juga buat kamu. Terima kasih sudah berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s