MEMBONGKAR ASWAJA PERSPEKTIF HISTORIS



Oleh: Ahmad Saefudin

Di Pesawat Saat Pulang Kongres PMII dari Banjarmasin Tahun 2012

Di Pesawat Saat Pulang Kongres PMII dari Banjarmasin Tahun 2012

IDEOLOGI DAN PERUBAHAN
Islam harus dipahami dalam kerangka kondisi kehidupan yang baru, dan kegagalan menyesuaikan diri dengan perubahan akan mengakibatkan kemunduran. Analisis Ziauddin Sardar ini memancing penulis untuk mengelaborasi tautan makna di balik klausa sederhana, Islam;Kehidupan Baru;Menyesuaikan diri dengan perubahan;Kemunduran. Bukan tanpa sebab, Sardar tentu mempunyai argumentasi kuat sehingga berani mengharuskan Islam agar dipahami (oleh kaum muslim maupun non-muslim) secara kontekstual selaras dengan dinamika perkembangan kehidupan, dan tanpa segan menjamin, -jika hal ini gagal- kemunduran dunia Islam.

Sardar tidak sendirian. M. Su’ud juga memberikan implikasi bahwa ketika tatanan nilai dan paradigma lama sudah kehilangan daya pikat dan disertai dengan memudarnya daya panggil terhadap tuntutan realitas hidup sebuah masyarakat, maka pencarian terhadap tatanan nilai dan paradigma yang baru yang bisa menjawab (usefull), akan terus menggelinding. Sejatinya, masih menurut M. Su’ud, kehancuran peradaban sebuah bangsa atau Negara sedang dimulai saat status quo terus membangun benteng prinsip dan nilai-nilai usang;ia bersiap menjadi bangsa atau Negara yang terjajah.
Namun, manifestasi perubahan meniscayakan pengerahan sumber daya pengetahuan teoritis yang diteruskan dalam langkah praksis dan tidak jarang membentur tembok bangunan lama berupa nilai-nilai kemapanan berbasis budaya, kuasa, dan agama. Keruntuhan kemapanan pun tidak akan serta merta menghindarkan Actor of Change dari cibiran, cacian, dan sterotip yang lahir dari sisa-sisa pemegang otoritas yang enggan menanggalkan dominasi kuasa. Tanpa ideologi , mustahil bagi Actor of Change bertahan dalam lingkaran sistem yang menindas, rakus, dan eksploitatif.
Mengurai kajian ideologi dalam Islam, penulis sangat terbantu oleh karya Sarbini, Islam di Tepian Revolusi;Ideologi Pemikiran dan Gerakan yang menjelaskan:
Dalam Islam, sebagaimana tradisi-tradisi relijius dunia lainnya, ada kecenderungan historis kepada objektifikasi, yang menjadikan agama sebagai sebuah entitas tersendiri di antara aspek-aspek lain dalam kehidupan sosial dan personal. Akibatnya, kepercayaan dan praktek keagamaan begitu sentral bagi visi koheren tentang dunia…. Kecenderungan doktrin keagamaan pun menjadi sulit dipisahkan dari ideologi, cara, atau isi pemikiran yang dianggap sebagai karakteristik individu, kelas, atau partai politik.

Penentuan doktrin “paling Islam” inilah yang menjadi polemik dan perdebatan panjang di kalangan intelektual muslim sehingga memunculkan istilah baru yang dikenal dengan teologi atau ilmu Ketuhanan yang lahir sesudah disiplin ilmu lain seperti al-ma’rifah atau al-‘irfan (gnosis) dan filsafat. Barometer penilaian “paling Islam” semakin sulit ditentukan dan tidak tepat disandarkan pada golongan atau sekte tertentu karena dalam Islam, salah satu alasan menurut kajian Henderson, memang berbeda dengan tradisi Katolik Romawi, tidak memiliki lembaga yang terpusat dengan legitimasi tertinggi untuk secara otoritatif menggariskan doktrin yang benar yang kemudian diistilahkan dengan “ortodoksi”. Meskipun ortodoksi tidak memiliki padanan istilah yang pas dalam bahasa Arab, -setidaknya menurut Abdurrahman Mas’ud-, tetapi, Fauzan Saleh ketika mengulas gerakan keagamaan Islam, tidak menampik fakta bahwa intelektual Islam, khususnya para teolog, sejak masa awal Islam secara serius peduli terhadap upaya menghindarkan agama dari penyimpangan agama. Dialektika inilah yang akan segera penulis bahas dalam sub bahasan berikutnya.

ASY’ARIYAH; PELETAK DASAR MAZHAB ASWAJA
Setelah peristiwa mihnah , ideologi Mu’tazilah yang telah lama berkuasa pada masa dinasti Abbasiyah bergeser ke Asy’ariyah. Munculnya Mu’tazilah berdasarkan Analisis Harun Nasution sebagai berikut:
Nama Mu’tazilah berasal dari adanya perdebatan yang terjadi di dalam masjid Basrah antara al-Hasan al-Basri (w.110 H/728 M) dengan Wasil Ibn ‘Ata’ dan temannya Amr ibn Ubaid (w. 144 H/761 M). Pada suatu hari, datanglah seorang mahasiswa menghadap kepada al-Basri untuk menanyakan pendapatnya mengenai status orang yang berdosa besar. Dalam pandangan kaum khawarij , pelaku dosa besar adalah kafir, tetapi menurut kaum Murji’ah , dia masih mukmin. Ketika al-Basri sedang berpikir tentang hal itu, Wasil langsung berdiri dan menyatakan pendapatnya bahwa pelaku dosa besar bukan kafir dan bukan pula mukmin, tetapi berada di antara keduanya. Wasil kemudian meninggalkan halaqah al-Basri dan memisahkan diri serta mengambil tempat lain di sudut lain dalam masjid tersebut. Pada saat itulah al-Basri menyatakan “Wasil telah memisahkan diri dari kita” (I’tazala ‘anna Washil). Begitulah, Wasil dan kawan-kawannya disebut Mu’tazilah.

Selain menggunakan terminologi Mu’tazilah –lanjut Nasution-, kelompok ini juga sering menyebut diri mereka dengan ahl al-‘adl dan terkadang ahl al-‘adl wa al-tawhid. Tidak jarang juga disebut oleh musuh-musuh mereka sebagai qadariyah karena kegigihannya mempertahankan paham free will. Juga al-mu’athillah sebab enggan mengakui sifat-sifat Tuhan serta al-wa’idiyyah mengacu pada keyakinan mereka bahwa Tuhan tidak akan lupa menimpakan siksa-Nya kepada mereka yang melanggar perintah-Nya.

Sedangkan kelompok Asy’ariyah diprakarsai oleh Abul al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari keturunan dari Abu Musa al-Asy’ari, salah seorang tokoh sentral dalam sengketa antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah.
Ahmad Hanafi dalam “Teologi Islam (Ilmu Kalam)”nya mendeskripsikan bahwa al-Asy’ari lahir tahun 260H/873 M dan wafat pada tahun 324 H/935 M di Basra. Dari kecil sampai usia 40 tahun al-Asy’ari akrab dengan Mu’tazilah di bawah bimbingan gurunya al-Jubba’i.

Konon, -sebagaimana catatan dalam http://id.wikipedia.org/ ketika mencapai usia 40 tahun ia bersembunyi di rumahnya selama 15 hari, kemudian pergi ke Masjid Basrah. Di depan banyak orang, mula-mula ia menyatakan bahwa Quran adalah makhluk; Allah SWT tidak dapat dilihat mata kepala; perbuatan buruk adalah manusia sendiri yang memperbuatnya. Pendapat ini tidak lain hasil dari doktrin Mu’tazilah. Kemudian ia mengatakan: “saya tidak lagi memegangi pendapat-pendapat tersebut; saya harus menolak paham-paham orang Muktazilah dan menunjukkan keburukan-keburukan dan kelemahan-kelemahannya”.

Pada era awal, tidak mudah bagi Asy’ariyah -sebutan untuk pengikut al-Asy’ari- untuk menyebarkan paham ajarannya agar diterima secara luas sebagai madzhab ortodoks. Sikap Asy’ariyah dalam menggunakan logika spekulatif, seolah mengingkari bunyi teks yang harus diterima apa adanya, dipandang oleh ulama konservatif saat itu, mirip dengan argumentasi yang dipraktekkan kaum Mu’tazilah. Terlalu mengakomodasi pendapat Empat Imam Madzhab -padahal dalam satu golongan biasanya hanya memprioritaskan salah satu dari pemikiran para ahli hukum Islam- dan tidak ditegaskannya doktrin imamah atau kepemimpinan umat, apakah condong kepada Kaum Sunni, Syi’ah, atau Khawarij semakin menambah ketidakjelasan posisi Asy’ariyah. Tetapi, setelah pandangan-pandangan teologisnya mengenai wujud Tuhan, dan sifat-sifat-Nya, kenabian, penolakan terhadap orang musyrik, orang kafir, dan ahli kitab, serta keberanian mencerca paham yang berseberangan dengan Ahli Hadis seperti kaum Jahmiyah , Mu’tazilah, dan Qadariyah , membuat Kaum Sunni bersimpati dan menggolongkan Asy’ariyah sebagai bagian dari Ahl al-Sunnah.

PMII=NU=ASWAJA?
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dikenal mempunyai kader-kader berlatar belakang kehidupan teologis sangat kuat. Selain berakar dari alumnus pesantren , kader PMII juga dibekali dengan materi-materi doktrinasi sebagai landasan berpikir dan berpijak sesuai nilai-nilai kemahasiswaan, keislaman, dan keindonesiaan. Salah satu materi wajib yang harus dikonsumsi ialah aswaja (ahlusunnah wal jamaah), yang biasanya dipahami sebagai manhaj al fikr (metode berpikir). Aswaja sebagai manhaj al fikr menjadi alternatif wacana di kalangan kader PMII sebagai reaksi terhadap pemaknaan aswaja mayoritas warga nahdliyyin yang menganggap aswaja sebagai madzhab.

Dari awal, Penulis sengaja tidak “terjebak” dan larut terlalu jauh memanggungkan aswaja sebagai manhaj al-fikr perspektif prinsip ajaran-ajarannya seperti tawassut (moderat), ta’adul (keadilan), tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleransi), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kebaikan sekaligus mencegah kemaksiatan). Lebih daripada sekedar alasan keterbatasan waktu, ruang, maupun referensi, namun juga sikap “baik sangka” yang sudah terlanjur melekat dalam benak Penulis, bahwa diskurus aswaja perspektif prinsip ajaran sudah habis terlahap kader-kader PMII pasca Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) sampai fase sebelum pendidikan formal berikutnya;Pelatihan Kader Dasar (PKD).
Kampanye aswaja sebagai metode berpikir dipelopori oleh KH. Said Agil Siradj yang diamini oleh kalangan intelektual muda NU, tak terkecuali kader PMII. Abdul Karim, setelah mengutip pendapat Badrun, mencirikan aswaja sebagai manhaj al-fikr dalam lima hal pokok. Pertama, Selalu mengupayakan untuk interpretasi ulang dalam mengkaji teks-teks fiqih untuk mencari konteksnya yang baru. Kedua, makna bermadzhab diubah dari bermadzhab secara tekstual (madzhab qauli) menjadi bermadzhab secara metodologis (madzhab manhaji). Ketiga, melakukan verifikasi mendasar terhadap mana ajaran yang pokok (ushul) dan mana yang cabang (furu’). Keempat, fiqih dihadirkan sebagai etika sosial, bukan sebagai hukum positif. Dan kelima, melakukan pemahaman metodologi pemikiran filosofis terutama dalam masalah-masalah sosial dan budaya. Dalam hal ini, Badrun terkesan memberikan porsi yang lebih besar dalam memaknai aswaja sebagai manhaj al-fikr di bidang fikih sekaligus sedikit mengesampingkan bidang teologi dan tasawuf.

Aswaja dalam wacana Indonesia berarti “para pengikut Nabi dan konsensus ulama”. Aswaja juga diidentikkan dengan Kaum Sunni, yaitu mereka yang senantiasa tegak di atas Islam berdasarkan Al Qur’an dan hadits yang shahih dengan pemahaman para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi’ah.

Ketika identitas aswaja melekat pada Kaum Sunni, Ibn Taimiyah tidak sependapat, karena menurutnya, sudah dikenal sejak sebelum munculnya empat mazhab fikih, jauh sebelum masa al-Asy’ari. Istilah ini ditujukan kepada sekelompok golongan yang ingin mendapatkan rujukan langsung dari teks al-Qur’an dan sunah dalam soal-soal agama. Jika tidak terjawab, mereka akan tinggal diam, sebab mereka tidak ingin melanggar batasan-batasan yang telah ditentukan oleh kedua sumber doktrin tersebut. Mereka kemudian disebut sebagai Ahli Hadis yaitu sahabat Nabi dan para pengikutnya (tabi’in). Juga dinamakan salaf (para pendahulu), antitesa dari Ahli Rakyu (pendukung pemikiran rasional-spekulatif) dengan analogi (qiyas) sebagai sandaran hukumnya .

Aswaja juga sering disematkan pada golongan yang “paling selamat” dari jilatan api neraka berdasarkan salah satu hadis yang diriwayatkan Imam Tirmizi dari empat jalur sanad; Abu Hurairah, Sa’ad, ‘Abdullah ibn ‘Amr dan ‘Auf ibn Malik. Sedangkan Abu Dawud meriwayatkan hadis ini dari jalur sanad Abi Hurairah.
Bunyi hadis tersebut:
Umat Yahudi terpecah 71 atau 72 golongan dan Umat Nasrani terpecah sejumlah itu. Umatku (akan) terpecah 73 golongan. Semua masuk neraka kecuali satu golongan. Sahabat bertanya, “Siapakah golongan itu, ya Rasul?”. Rasul menjawab, “yang mengikuti aku dan para sahabatku” .

Jawaban Nabi tentang golongan yang “paling selamat” sebenarnya tidak secara jelas menggunakan istilah ahlusunnah wal jamaah, melainkan “ma ana ‘alaihi wa ashabihi, yang mengikuti aku dan para sahabatku”.
Klaim Aswaja bagi kaum Sunni tidak lepas dari penelitian Al-Baghdadi (w. 1037) dalam al-Farq bayn al-Firaq yang mencoba menentukan 73 golongan yang dimaksud oleh Nabi dalam sabdanya. Awalnya, Al-Baghdadi hanya menemukan 100 golongan dan setelah melakukan kategorisasi ulang, ia melengkapi penemuannya tepat disesuaikan dengan hadis Nabi, 73 golongan. Sebagai penganut paham ortodoks, tanpa ragu ia berani mengungkapkan bahwa golongan tersebut ialah Sunni. Penggolongan ini –yang oleh Fauzan Saleh disebut sebagai- kategorisasi dari sistem keagamaan yang dipaksakan.
Akhir al kalam, meskipun tidak sedikit –individu, kelompok, ormas keagamaan- yang berkeyakinan dan memproklamirkan diri, bahkan mengajak kelompok lain untuk ikut dalam golongannya karena merasa paling ortodoks, tetap saja tidak ada yang berhak memonopoli golongan yang dianggap “paling selamat” di mata Tuhan. Mencari kebenaran Tuhan bagi manusia tidak harus –jika tabu untuk mengatakan tidak boleh- mengeluarkan manusia dari hakikat kemanusiaannya. Penerjemahan terhadap teks keagamaan sah untuk dikompromikan dengan batas pengetahuan agar tidak ada celah -“bagi mereka yang senang berlindung di balik kalam Tuhan”- untuk menggadaikan dengan ambisi murahan yang sebenarnya jauh dari kehendak-Nya.

Wallahu a’lamu bi al shawab
“Tangan Terkepal dan Maju ke Muka”

CATATAN AKHIR
Disampaikan dalam Pelatihan Kader Dasar (PKD) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat RA. Kartini Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nahdlatul Ulama (STIENU) Jepara pada Ahad, 17 Pebruari 2013 di Gedung Majlis Wakil Cabang (MWC) NU Kembang Jepara Jawa

Penulis adalah Pendidik Swasta di SMP Islam Terpadu Kholiliyah Wedelan Bangsri Jepara yang kebetulan pernah didaulat menjadi Ketua PMII Komisariat Ratu Kalinyamat Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara periode 2008-2009; Departemen Kaderisasi Pengurus Cabang (PC) PMII Jepara (2010-2011); dan Ketua I Bidang Internal (Kaderisasi) PC PMII Jepara (2011-2012).

Ziauddin Sardar, Kembali ke Masa Depan;Syariat sebagai Metodologi Pemecahan Masalah, (Jakarta: Serambi, 2005), Cet. 1, hlm. 69.

M. Su’ud dan Syukron Affani, Islam dan Transformasi Budaya;Mewujudkan Perubahan Menuju Masyarakat Progresif, (Yogjakarta: Logung Pustaka, 2009), Cet. 1, hlm. 25.

Meskipun ideologi bisa saja mati karena ditinggalkan oleh pengikutnya, sebagaimana diungkap Sarbini dalam Islam di Tepian Revolusi, tetapi sampai kapan pun, ideologi akan terus menopang keyakinan manusia sepanjang daya tampung akal sebagai penerima pengetahuan tidak terganggu fungsinya. Ideologi mulai populer setelah Filsuf Perancis Destutt de Tracy mengenalkan istilah ini pada tahun 1796 yang kemudian dipakai oleh Napoleon. Ideos berarti “gagasan” dan logos dimaknai “ilmu”. Bisa disimpulkan ideologi adalah ilmu tentang gagasan. Sarbini mengingatkan bahwa ideologi bukan sekedar gagasan, melainkan gagasan yang diikuti dan dianut sekelompok besar manusia untuk merealisasikan gagasan tersebut. Ilustrasi mudahnya, -kali ini Sarbini meminjam paparan Dawam Raharjo- meskipun gagasan seseorang, betapapun ilmiah, rasional, dan luhurnya, belum bisa disebut ideologi, apabila belum dianut oleh banyak orang dan diperjuangkan serta diwujudkan, dengan aksi-aksi yang berkesinambungan. Lebih lanjut, lihat Sarbini, Islam di Tepian Revolusi;Ideologi Pemikiran dan Gerakan, (Yogjakarta: Pilar Media, 2005), hlm. 1-2.

Ibid, 9-10.

Menurut A. Hanafi dalam Theology Islam, teologi diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang fakta-fakta dan gejala-gejala agama dan hubungan-hubungan antara Tuhan dan manusia. Teologi disebut juga Ilmu Kalam atau Ilmu Tauhid karena masalah perselisihan yang paling sering diperdebatkan di antara berbagai golongan masyarakat Islam yaitu masalah kalam Tuhan (Abdul Karim Syahristani, hlm. 42). Ibn Khuldun dalam Mukaddimah terkenalnya mendefinisikan Ilmu Kalam sebagai ilmu yang mengandung argumen-argumen rasional untuk membela akidah-akidah imaniah dan mengandung penolakan terhadap golongan-golongan bid’ah yang dalam bidang akidah menyimpang dari madzhab salaf dan madzhab sunnah. Lih. Imam Chanafie Al-Jauhari, Hermeneutika Islam:Membangun Peradaban Tuhan di Pentas Global, (Yogjakarta: Ittaqa Press, 1999), Cet. 1, hlm.87-88.

Seyyed Hossein Nasr dan William C. Chittick, Islam Intelektual;Teologi, Filsafat, dan Ma’rifat, (Depok: Perenial Press, 1991), Cet. 3, hlm. 16.

Henderson menambahkan pendapat dari Alexander Knysh bahwa [dalam Islam] tidak adanya lembaga kependetaan atau kewenangan gereja yang terpusat yang bisa memberikan ketegasan seperti apa doktrin ortodoks itu seharusnya, [dapat diartikan sebagai] tidak ada ajaran agama yang dapat dinyatakan secara resmi sebagai doktrin yang “ortodoks”. Fauzan Saleh, Teologi Pembaruan;Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad XX, (Jakarta: Serambi, 2004), Cet. 1, hlm. 80-81.

Ortodoksi ialah terminologi gereja Katolik untuk membedakan antara keyakinan yang benar dan yang salah. Ibid, 78.
Ibid.

Mihnah adalah suatu kebijaksanaan yang dilakukan oleh khalifah al Makmun pada masa Dinasti Abbasiyah tentang diberlakukannya pemeriksaan atau lebih tepatnya dikatakan pemaksaan kepada rakyatnya terhadap penerimaan doktrin al-Qur’an itu makhluk. Peristiwa ini dilaksanakan dengan menggunakan kekuatan politik, bahkan dengan kekerasan. Sebagaimana penjelasan H.M. Joesoef Sou’yb yang dikutip Rohmat, “Sunni Pasca Tragedi Mihnah (Telaah Historis atas Hegemoni Kekuasaan Bani Abbas)”, Ibda`. Jan-Jun 2005, 3, hlm. 2. Ensiklopedi Islam mengartikan mihnah sebagai “ujian aqidah” terhadap pejabat dan para ulama. Ibid.

Mu’tazilah didirikan oleh Wasil Ibn ‘Ata’ (w. 131 H/748 M) yang dipandang oleh ahli-ahli Keislaman Barat periode awal sebagai pemikir bebas dan rasionalis Islam yang menekankan pada kebutuhan penalaran dan pentingnya kehendak bebas manusia. Aktivis Mu’tazilah lain yang terkenal ialah Abu’l-Hudhayl al-‘Allaf (w. 226 H/840 M), Abu Ishaq al-Nazzam (w. 231 H/845 M), ‘Amr ibn Bahr al-Jahiz (w. 255 H/869 M), semuanya dari Basra serta dari Baghdad yaitu Bisyr al Mu’tamir (w. 210 H/825 M) dan Abu ‘Ali al-Jubba’i (w. 303 H/915 M). Selengkapnya dalam Seyyed Hossein Nasr dan William C. Chittick, Op. cit., hlm. 20.

Harun Nasution menambahkan dua tokoh dari Baghdad yakni Abu Musa al-Murdar (w. 226 H/841 M), Abu al-Husain al-Khayyat (w. 300 H/912 M). Harun Nasution dalam Fauzan Saleh, Op. cit., hlm. 282.

Khawarij adalah bentuk jamak dari kharij. Kata ini berarti orang yang menyempal dari kepatuhannya kepada pemimpin atau imam yang sah. Seorang Khawarij mendemonstrasikan ketidakpatuhannya, dan membentuk wilayah tersendiri yang eksklusif. Ulama fiqih menyebut kaum Khawarij dengan istilah al-baghy atau pemberontak. Kaum Khawarij adalah sekelompok kaum Syi’ah yang menyempal dari kepemimpinan ‘Ali ibn Abi Thalib. Mereka tidak menyetujui tahkim (arbitrase) untuk perdamaian dalam perang Siffin, sebagaimana masyhur dalam sejarah. Mahmud az-Za’by, “Sunni yang Sunni
Tinjauan Dialog Sunnah-Syi’ah-nya al-Musawi”, http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/.

Nama Murji’ah diambil dari kata irja atau arja’a yang berarti penundaan, penangguhan, dan pengharapan. Kata arja’a mengandung pula arti memberi harapan, yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah. Selain itu arja’a berarti pula meletakkan dibelakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan amal dari iman. Oleh karena itu, Murji’ah artinya orang yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa, yakni Ali dan Muawiyah serta pasukannya masing-masing ke hari kiamat kelak. Untuk mengetahui doktrin dan ajaran murji’ah, tidak ada salahnya berkunjung ke http://ajiraksa.blogspot.com/2011/08/murjiah-asal-usul-kemunculan-dan.html.

Harun Nasution dalam Fauzan Saleh, Op. cit., hlm. 276.

http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_al-Hasan_al-Asy%27ari. Agak sedikit berbeda dengan ulasan M. Abdul Hye yang dikutip Seyyed Hossein Nasr dan William C. Chittick ketika menceritakan proses al-Asy’ari keluar dari Mu’tazilah. Setelah diduga mimpi bertemu Rasulullah SAW –ungkap M. Abdul Hye-, al-Asy’ari pergi ke masjid Basra dan menyatakan, “Siapa yang mengetahui saya, dan siapa yang tidak mengetahui saya, kemudian mengetahui bahwa saya adalah Abu’l-Hasan ‘Ali al-‘Asy’ari, yang dahulu mempertahankan bahwa Al-Qur’an diciptakan, mata manusia tidak akan dapat melihat Tuhan, dan menyatakan bahwa makhluk menciptakan aktivitas gerak mereka sendiri. Oh! Saya menyesal bahwa saya telah menjadi seorang Mu’tazili. Saya meninggalkan aliran ini dan mengekspose pertumbuhan dan kejahatan mereka”. M. Abdul Hye dalam Hossein Nasr dan William C. Chittick, Op. cit. hlm. 26.

Jahmiyah ialah golongan yang menuduh kalangan Ahl al-Sunnah telah menyerupakan Allah dengan makhluk atau musyabbihah. Perbedaan interpretasi terhadap sifat-sifat Tuhan yang tertuang dalam teks al-Qur’an dan al-Hadis seperti pendengaran Tuhan (al-sam’a), penglihatan Tuhan (al-bashr), pembicaraan Tuhan (al-kalam), Tangan Tuhan (yad allah) menjadi pemicu polemik dan menimbulkan perbedaan sikap dan pandangan di internal umat Islam. Seluruh Ahl al-Sunnah telah bersepakat untuk menetapkan sifat-sifat yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengartikan secara zhahirnya. Tetapi mereka tidak menggambarkan bagaimananya sifat-sifat tersebut. Adapun Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Khawarij mereka mengingkari sifat-sifat Allah dan tidak mengartikannya secara lahiriah. Lih. http://manhaj-ahlussunnah.blogspot.com/2013/01/jahmiyah-dan-asyariyah-menuduh-ahlus.html.

Paham yang –versi Harun Nasution- tidak mau tunduk pada qadar Tuhan karena menganggap bahwa manusia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendak-Nya. Harun Nasution dalam Gusri Wandi, “Aliran dalam Ilmu Kalam (Qadariyah dan Jabariyah)”, http://gusriwandi.blogspot.com/2012/03/aliran-dalam-ilmu-kalam-qadariyah-dan.html

M. Dwi Satya Afriza, Gerakan Sosial Baru PMII dan Transformasi Nilai-Nilai Pergerakan di Ranah Akar Rumput, (t.p: Malta Printindo, 2008), Cet. 1, hlm. 91.

Greg Fealy, Peneliti Politik dan Sejarah Islam di Indonesia, dengan fokus Nahdlatul Ulama (NU) mengartikan “pesantren” secara harfiah sebagai “tempat para santri” yang lebih umum digunakan untuk menyebut sekolah Islam Tradisional. Nama sejenis yang dikenal di Jawa dan Madura ialah pondok sebagaimana meunasah di Aceh dan surau di Sumatera Barat. Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama;Sejarah NU 1952-1967, (Yogjakarta: Lkis, 2003), Cet. 1, hlm. 22-23.

Nahdliyyin adalah sebutan bagi penganut ormas Islam NU, organisasi yang berdiri pada tanggal 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagi Rais Akbar. Lihat selengkapnya di situs resmi NU dalam http://www.nu.or.

Madzhab yang dimaksud dalam tulisan ini merujuk pada konsepsi KH. Hasyim Asy’ari tentang qanun asasi (Undang Undang Dasar) NU yang secara eksplisit menganut paham Ahlussunah Wal Jama’ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Secara sederhana mengacu pada pemikiran Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi, mengikuti empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali dalam bidang fikih atau hukum Islam dan mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat. Ibid.
Setelah mengalami beberapa kali perubahan Anggaran Dasar, dimulai tahun 1961 yang tidak menyebutkan secara eksplisit term “ahlusunnah waljamaah” sebagai dasar ideologinya, melainkan dengan kalimat lain yang berbunyi, “menegakkan syariat Islam dengan haluan salah satu dari Empat Mazhab”, kemudian direvisi pada Muktamar NU XXVI di Semarang tahun 1979 dengan mengganti tujuan organisasi, “menegakkan syariat Islam menurut haluan Ahlusunnah waljamaah ialah Ahlil-Mazahibil-Arbaah”, dan mengalami perubahan lagi pada Muktamar NU XXVII di Situbondo yang menetapkan Pancasila sebagai asas organisasi dan menambah pasal akidah, “Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyyah diniyyah Islamiyah beraqidah Islam menurut faham ahlusunnah wal jamaah mengikuti salah satu mazhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Namun, perubahan-perubahan anggaran dasar tersebut, meminjam istilah M. Ali Haidar, bukanlah soal yang penting untuk menilai ciri pokok faham keagamaan NU. Anggaran Dasar hanyalah “simbol kelamin organisasi”, lebih penting dari semua itu ialah memahami esensi substantif di balik simbol-simbol normatif. Pembahasan komprehensif bisa merujuk M. Ali Haidar, Nahdlatul Ulama dan Islam Indonesia,; Pendekatan Fikih dalam Politik, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1998), Cet. 2, hlm. 69-70.

Abdul Karim, “Reformulasi Aswaja sebagai Manhajul-fikr&Manhajul-amal”, http://aswajacenterpati.wordpress.com/

Ronald Alan Lukens-Bull, Jihad ala Pesantren di Mata Antropolog Amerika, Yogyakarta: Gama Media, 2004), Cet. 1, hlm. 121.

“Sunni”, http://id.wikipedia.org/wiki/Sunni

Ibn Taimiyah dalam Fauzan Saleh, Op. cit, hlm. 98.

Kajian lebih detail tentang penilaian para muhadditsin tentang kesahihan status hadis tersebut, lih. M. Ali Haidar, Op. Cit., hlm.

Fauzan Saleh, Op. cit., hlm. 101-102.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s