PELATIHAN KADER LANJUT (PKL) PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII) SE-NUSANTARA PENGURUS CABANG PMII KABUPATEN JEPARA TAHUN 2012


Membumikan Empat Pilar Bangsa (Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia) Menuju Reproklamasi Indonesia”

Oleh: Ahmad Saefudin (Ketua SC PKL PC PMII Jepara Jawa Tengah Tahun 2012)

 

Pelatihan kader lanjut (PKL) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), sebagaimana kita pahami merupakan fase pengkaderan untuk membangun dan memperkuat basis pengetahuan (Kongres XVI PMII: 2008). Alumni PKL setidaknya bermetamorfosis dari mujahid (kader militan dan memiliki komitmen terhadap nilai-nilai pergerakan dengan indikator selalu siap mewakafkan dirinya untuk kepentingan gerakan serta memiliki kemampuan dan keterampilan mengelola organisasi) menjadi kader mujtahid (mampu mengembangkan kualitas kepemimpinan, merancang strategi gerakan jangka pendek dan jangka panjang, memiliki kematangan dalam pengetahuan, sikap dan organisasi, mengidentifikasi ruang gerak dirinya saat ini dan di masa yang akan datang dan mampu mengembangkan diri sebagai subyek yang percaya pada kapasitas individunya).

Penerjemahan dari orientasi ideal tersebut kemudian terejawantahkan dalam konsep pelatihan dengan mengambil materi-materi pokok yang dipresentasikan oleh narasumber yang mempunyai kapabilitas di bidangnya. Sebagai elaborasi, metode Focus Group Discussion (FGD) yang dibantu fasilitator, menjadi kunci penting dalam menyerap dan mempertajam analisis kita agar materi yang disampaikan narasumber tidak menguap, bias, dan tanpa konklusi.

Sebagai wujud peneguhan dan keseriusan dalam menjalankan proses kaderisasi formal PMII, Pengurus Cabang (PC) PMII Kabupaten Jepara Jawa Tengah berikhtiar untuk melaksanakan PKL PMII dengan mengambil grand tittle Membumikan Empat Pilar Bangsa (Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia) Menuju Reproklamasi Indonesia”.

Dalam prolog ini, bukanlah tempat yang representatif untuk memperdebatkan istilah empat pilar kebangsaan (Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang santer dikampanyekan Majlis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), karena bisa merembet pada argumentasi-argumentasi politis. Lebih penting dari itu, ialah semangat untuk mempertahankan dan melaksanakan Pancasila bukan hanya sebagai dasar ideologi Negara, tetapi realisasi sila-sila tersebut  yang hari ini semakin kabur. Peri ketuhanan tak lagi membuat masyarakat Indonesia merasa “bertuhan” dengan timbulnya aksi-aksi kekerasan yang mengatasnamakan Tuhan dalam simbol agama (tertentu). Sehingga dengan sendirinya menggerus substansi sila kemanusiaan. Keber”adab”an dan kebi”adab”an duduk sejajar dan saling mencari pengikut. Persatuan kini terkotori oleh primordialisme sehingga muncul banyak sekte dengan berbagai kepentingan. Permusyawaratan yang dahulu menjadi kunci problem solving segala persoalan, kemudian mengkristal dalam sistem demokrasi prosedural, bersembunyi dibalik adigium dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, tapi tetap saja ujung-ujungnya tidak kembali kepada rakyat.  Keadilan belum bisa dirasakan oleh semua anak bangsa dengan dikuasainya sebagaian besar aset-aset Negara oleh pihak asing sehingga memaksa pribumi menjadi buruh di negerinya sendiri.

Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 telah dinodai oleh anak bangsa kita sendiri. Pasal-pasal yang termaktub sudah bukan lagi menjadi titah sakti yang wajib dipatuhi. Hanyalah sekedar tulisan mati tanpa implementasi. Bahkan, telah teramandemenkan dengan pasal-pasal titipan dari kaum kapitalis.

Bhineka Tunggal Ika telah hilang bersamaan dengan terbangnya “burung garuda”. Dan berganti dengan “garuda di dadaku”. Bukan “garuda di hatiku”. Penerjemahan Nasionalisme seakan cukup dengan kita mendukung tim nasional Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), meskipun kegaduhan kisruh pengurusnya sampai kini tak menemukan solusi.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terancam mengalami disintegrasi akibat kesenjangan sosial yang makin melangit. Kesejahteraan bak ilusi di tengah Republik salah urus ini.

Inilah realitas. Dan realitas inilah yang harus dijawab oleh insan pergerakan. Sudah semestinya kaum muda nan intelektual menyepahamkan persepsi dan mengesampingkan egosektoral jika ingin bangsa ini segera keluar dari kubangan lumpur keterpurukan. Tiga ratus lima puluh tahun tentunya sudah cukup menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk mempelajari kolonialisme dengan segala praktik penghisapannya. Proklamasi yang didengungkan Soekarno-Hatta dengan disaksikan leluhur kita memerlukan pengawalan serius dari kaum muda era kini sehingga benar-benar terwujud bangsa yang berdaulat, yang mampu menentukan nasib rakyatnya tanpa intervensi dan campur tangan bangsa lain. Memang bukan pekerjaan mudah, semudah membalikkan telapak tangan, tapi juga bukan hal yang mustahil. Kesempatan untuk berdiri tegak di atas kaki sendiri, duduk berdampingan dan sejajar dengan bangsa lain tanpa perasaan inferior, masih terbuka. Momentum ini hanya akan menjadi kesempatan emas yang terbuang percuma, jika kita tidak menyambutnya dengan “tindakan” nyata.

Oleh karena itu, semoga PKL PMII ini menjadi alternatif jawaban untuk mengawali langkah kita dalam menyemai benih-benih kemerdekaan.

Satu pemikiran pada “PELATIHAN KADER LANJUT (PKL) PERGERAKAN MAHASISWA ISLAM INDONESIA (PMII) SE-NUSANTARA PENGURUS CABANG PMII KABUPATEN JEPARA TAHUN 2012

  1. Ping balik: PSSI-KPSI Minta KONI Bentuk Timnas | ligaindonesia.biz

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s