URGENSI ORGANISASI DALAM MENGASAH NALAR KEPEMIMPINAN




Oleh: Ahmad Saefudin

Pentingkah kita mengadakan pelatihan kepemimpinan? Mengapa kita harus berorganisasi? Apakah pemimpin itu bisa dilatih? Apa syarat utama menjadi pemimpin yang baik?
Beberapa pertanyaan di atas tentunya sangat krusial untuk dijawab dalam forum kita kali ini. Di tengah karut marutnya kondisi bangsa dengan segala problematika yang menghinggapinya, kita rindu dengan sosok pemimpin yang kharismatik yang disegani bukan hanya oleh pengikut dan kawan-kawannya, tetapi juga oleh rival dan musuh-musuhnya. Jika hanya kecerdasan yang menjadi syarat untuk memimpin negeri ini, sudah pasti negara kita tak akan kesulitan keluar dari krisis multidimensional, karena berjuta sarjana dan cerdik cendekia telah lahir dari berbagai institusi pendidikan di berbagai disiplin keilmuan. Pelatihan, seminar, workshop, dan loka karya kepemimpinan pun merebak seantero negeri, bahkan dengan biaya fantastis yang hanya bisa diikuti orang-orang berduwit dengan sejuta materi yang diulas, namun seolah belum bisa memunculkan figur pemimpin dambaan. Terkadang sikap pesimis kemudian muncul, masih perlukah kita mengadakan pelatihan-pelatihan yang berorientasi menciptakan pemimpin?
Teori kepemimpinan telah muncul dan selalu berkembang mengikuti alur zaman. Perspektif teologis, skenario Tuhan menurunkan Adam ke bumi salah satunya bertujuan untuk mengemban mandat kepemimpinan (khalifah). Mengapa bukan iblis yang notabene lebih senior dan lebih intelektual? Mengapa bukan malaikat yang menerima titah ini, padahal mereka lebih taat dalam mengabdi kepada-Nya? Inilah desain Tuhan. Ternyata, senioritas, intelektualitas, dan loyalitas belum cukup untuk menjadi prasyarat dalam mengemban amanat kekhalifahan.
Dalam catatan sejarah perkembangan Islam, terjadi beberapa kubu pasca pemerintahan khalifah Usman bin Affan, saat mengulas topik kepemimpinan. Pada saat itu, wacana yang muncul dan kemudian disepakati oleh mayoritas umat ialah kepemimpinan harus dipegang oleh keturunan suku Quraisy. Pendapat ini yang kemudian diambil oleh golongan ahlusunnah. Sebagai antitesa dari pendapat tersebut, muncul kelompok yang mendengungkan bahwa pemimpin pengganti Nabi (khalifah) idealnya ialah orang yang paling dekat dengan Nabi. Setelah dianalisis, ternyata sosok yang tepat ialah Ali bin Abi Thalib. Selain keponakan Nabi (anak dari Abi Thalib), Ali juga menantu beliau. Maka, yang berhak menggantikan Nabi, ialah Ali beserta keturunannya. Sekte ini kemudian terkenal dengan nama syiah. Ada lagi golongan yang berpendapat bahwa tidak ada bedanya antara Quraisy dan non Quraisy, bahkan orang Arab dan non Arab. Sehingga siapapun berhak menjadi pemimpin menggantikan Nabi asalkan memenuhi syarat seperti adil, cerdas, dan berani. Kelompok ini kemudian populer dengan nama khawarij.
Begitulah sejarah menggambarkan fakta kepada kita, pelik dan penuh kepentingan ketika kita membahas isu tentang kepemimpinan. Belum lagi jika kita melebarkan ulasan ini pada ranah politik. Tentunya akan lebih panjang dan membutuhkan banyak analisis untuk dituangkan dalam makalah sederhana ini.
Penulis akan mengawali paparan makalah ini dengan merujuk kepada pendapat para ahli tentang definisi kepemimpinan. Definisi yang nantinya tertuang, bukanlah pengertian baku yang tidak bisa untuk dibantah. Keterbatasan ruang mungkin menjadi alasan yang mendekati tepat ketika penulis tidak menyuguhkan semua definisi kepemimpinan.
A. PENGERTIAN PEMIMPIN, KEPEMIMPINAN, DAN ORGANISASI
Pokok bahasan ini akan menjelaskan perbedaan antara pemimpin, kepemimpinan dan hubungannya dengan organisasi. Dalam Modern Dictionary Of Sociology (1996), pemimpin (leader) adalah seseorang yang menempati peranan sentral atau posisi dominan dan pengaruh dalam kelompok (a person who occupies a central role or position of dominance and influence in a group). William G.Scott (1962) mengartikan kepemimpinan sebagai proses mempengaruhi kegiatan yang diorganisir dalam kelompok di dalam usahanya mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan. Tidak beda jauh, Rauch & Behling (1984) juga menatakan bahwa kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas-aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan.
Bisa kita tarik benang merah, pemimpin atau kepemimpinan tidak akan pernah dilepaskan dari istilah “pengaruh”, “organisasi” dan “tujuan”. Kepemimpinan tidak dipandang dari posisi atau jabatan yang disandang oleh seseorang, melainkan lebih kepada tindakan. Tindakan untuk mempengaruhi kelompok atau organisasi untuk memperoleh tujuan bersama yang diharapkan.
Memang ada ungkapan terkenal bahwa setiap manusia adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang ia pimpin. Paling tidak memimpin dirinya sendiri. Tapi, maksud pemimpin dalam pembahasan ini ialah pemimpin kelompok yang terwadahi dalam satu organisasi.
Mengapa organisasi? Karena dalam organisasi, menurut Rosenzweig, meniscayakan pada tiga unsur pokok, yaitu sistem sosial, yaitu orang-orang dalam kelompok, integrasi atau kesatuan dari aktivitas-aktivitas orang-orang yang bekerja sama, dan orang-orang yang berorientasi atau berpedoman pada tujuan bersama.
Untuk mengurangi konflik antar individu dalam organisasi, maka dibutuhkan sosok pemimpin yang aspiratif, mampu menampung berbagai kepentingan yang dipimpin, serta cerdas dalam menyikapi problem keorganisasian.
B. TEORI KEPEMIMPINAN DAN KEORGANISASIAN
Sejak manusia menghuni bumi untuk menjadi khalifah-Nya, berjuta teori kepemimpinan telah dimunculkan oleh para pakar. Tentunya sangat mustahil ketika penulis menyuguhkan dalam coretan simpel ini.
Yang sering dikutip ialah pendapat Kreitner (2007) yang menyebutkan adanya 4 teori kepemimpinan yang ada sejak tahun 1950-an hingga kini. Keempat teori kepemimpinan tersebut adalah: Trait Theory, Behaviour Styles Theory, Situational Theory, dan Transformational Theory.
a. Trait Theory
Teori kepemimpinan ini mengatakan bahwa para pemimpin dilahirkan dan bukan diciptakan (leader are born and not made). Sebagai ilustrasi sederhana, ketika Megawati mampu memimpin rakyat Indonesia, mengacu teori ini, berarti sudah sejak lahir ia tercipta sebagai pemimpin. Bukan karena bakat maupun lingkungan yang mendukung sehingga ia menjadi pemimpin.
Tetapi, Kreitner kemudian menegaskan, sejalan dengan pemikiran mahzab behavioralis, para peneliti di tahun 1950-an berkesimpulan bahwa karakteristik pemimpin tidak seluruhnya merupakan bawaan sejak lahir, namun diperoleh melalui pembelajaran dan pengalaman. Karena itu mereka berkesimpulan bahwa kepemimpinan yang efektif dapat dipelajari.
b. Behaviour Styles Theory
Behaviour Styles Theory atau juga diistilahkan dengan leadership style (gaya kepemimpinan) setelah diteliti pleh para ahli pasca perang dunia II menyimpulkan secara umum ada tiga gaya dalam kepemimpinan yaitu:
1) Gaya kepemimpinan otoriter (authoritarian leadership style)
Ciri-cirinya:
• Tanggung jawab dan kewenangan mutlak di tangan pemimpin;
• Komunikasi yang berkembang menganut sistem top-down (dari atas ke bawah);
• Kurang mengakomodir usulan atau pendapat dari bawah;
• Banyak memberikan tugas-tugas tertentu tanpa ada koordinasi terlebih dahulu.
2) Gaya kepemimpinan demokratis (democratic leadership style)
Ciri-cirinya:
• Tanggung jawab utama ada di tangan pemimpin tetapi anggota berwenang untukl memberikan saran dan usulan atas kebijakan yang akan diambil;
• Komunikasi multi arah dan tidak didominasi oleh pemimpin;
• Mempercayakan job description kepada siapapun yang dianggap mempunyai kemampuan dan kemauan;
• Membrikan ruang yang besar dalam bermusyawarah dan menghargai perbedaan pendapat.
3) Gaya kepemimpinan laissez-faire (laissez-faire leadership style)
Ciri-cirinya:
• Tanggung jawab dan wewenang sepenuhnya dipercayakan pada kelompok;
• Komunikasi lebih didominasi anggota kelompok secara horizontal dan pemimpin sama sekali tidak terlibat;
• Pemberian job description sesuai dengan kehendak dan kemampuan kelompok;
• Dalam musyawarah sering menemui jalan buntu karena banyaknya perbedaan pendapat yang terjadi antar anggota kelompok dan ketidakmampuan pemimpin untuk mengambil keputusan.
c. Situational Theory
Sesuai dengan namanya, teori ini menggantungkan efektivitas kepemimpinan pada keadaan atau situasi yang mengelilingi sang pemimpin. Kebijakan yang diambil seyogyanya sesuai dengan kondisi masalah yang tengah dihadapi agar mencapai problem solving yang efektif.
Fred E Fiedler merupakan salah satu peneliti yang mendukung teori ini dengan gagasan terkenalnya yakni teori Kontingensi. Menurutnya, peran kerja seorang pemimpin bergantung kepada dua faktor fundamental yang saling berkaitan. Pertama, situasi. Artinya sejauh mana situasi yang ada memberikan kendali dan pengaruh agar pekerjaan dapat diselesaikan. Kedua, motivasi. Yaitu masalah yang sedang dihadapi organisasi akan terselesaikan berdasarkan dorongan dan semangat pemimpin dalam mempengaruhi anggotanya.
d. Transformational Leadrship Theory
Teori ini menggambarkan tentang sosok pemimpin transformative yang mampu memberikan inspirasi kepada anggotanya untuk mencapai sesuatu yang melebihi apa yang telah direncanakan organisasi. Selain itu,seorang pemimpin juga berpikir progresif-visioner yang mengajak anggotanya bergerak untuk mengikuti visinya. Sehingga, anggota kelompok menatuh hormat atas kewibawaan dan kharisma yang ada dalam sikap kepemimpinannya.
C. KORELASI (HUBUNGAN) ANTARA KEORGANISASIAN DENGAN KEPEMIMPINAN
Penulis sengaja menempatkan kata “keorganisasian” di awal dan mengakhirkan “kepemimpinan” bukan bermaksud membedakan dua istilah yang memang sama-sama penting dalam ulasan makalah ini. Tidak juga karena penulis telah melakukan penelitian kuantitatif yang hasilnya dapat diangkakan dalam menilai sejauh mana hubungan antara organisasi dengan kepemimpinan seseorang. Penempatan kata di atas, semata mengacu kepada pengalaman penulis selama bergelut dalam dunia organisasi dan mencoba mempraktikkan teori-teori kepemimpinan dalam kelompok organ yang penulis ikuti. Jadi, kesimpulan yang nantinya termaktub dalam tulisan ini bukanlah hasil penelitian penulis dengan sederet metode ilmiah yang serba njlimet itu, melainkan hanya hipotesis berdasarkan pengalaman.
Organisasi menjadi wadah yang sangat ampuh dalam mengasah bakat kepemimpinan seseorang. Dalam organisasi pula, individu-individu dipaksa untuk menanggalkan keegoisannya dan patuh terhadap sistem aturan yang disepakati oleh kelompok. Kedisiplinan, kerjasama, kedekatan hubungan emosional, nalar kepemimpinan, percaya diri, dan masih banyak hal positif lain yang bisa kita dapatkan ketika menceburkan diri dalam aktivitas keorganisasian.
Organisasi pada hakikatnya mutlak dan wajib bagi kita, karena manusia termasuk makhluk sosial yang suka berkumpul; zoon politicon. Oleh karena itu, sebelum terjun ke dalam kehidupan masyarakat (yang tidak lain adalah organisasi yang sebenarnya), sangat tepat ketika kita belajar berkelompok dalam satu wadah organisasi yang mempunyai visi positif. Baik dalam lingkup sekolah, kampus, kampung, maupun organisasi keagamaan.
Akhir kata, selamat berorganisasi! Semoga mampu menjadi pemimpin!

SUMBER REFERENSI
http://carapedia.com/pengertian_definisi_organisasi_menurut_para_ahli_info484.html
http://referensi-kepemimpinan.blogspot.com
http://www.quickstart.co.id/teori-kepemimpinan/

2 pemikiran pada “URGENSI ORGANISASI DALAM MENGASAH NALAR KEPEMIMPINAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s