BENCANA ALAM DAN SOLIDARITAS SOSIAL


 

Oleh: Ahmad Saefudin (Anggota Forum TERAS KITA dan Alumni Fakultas Tarbiyah Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara Jawa Tengah)

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS. Al Baqarah:155).

Merapi di Jawa Tengah sedang menjalani siklus kealamannya. Begitupun dengan alam di Wasior Papua dan laut di Mentawai Sumatera Barat. Tapi bagi manusia, ini adalah salah satu bentuk bencana. Lebih tepatnya bencana alam. Mulai kini, meminjam bahasanya Sasongko Tedjo, kita dipaksa untuk belajar “mengakrabi bencana” (Suara Merdeka, 5 Nopember 2010).

Sebagai muslim, kita meyakini bahwa setiap kejadian yang dialami mahluk, tidak pernah lepas dari kehendak-Nya. Termasuk bencana alam. Bagi orang-orang yang sabar, bencana dalam bentuk apapun merupakan cobaan yang datang dari Tuhan sebagai bentuk ujian keimanan. Merapi yang “batuk” dan lautan yang “muntah”, membawa efek ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Semua itu disebut “cobaan”. Allah menjanjikan kebahagiaan bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi cobaan. Indikator kesabaran perspektif Al Qur’an sebagaimana tercantum dalam surat Al Baqarah ayat 156 ialah mereka yang ketika tertimpa musibah selalu berucap, inna lillahi wa inna ilaihi roj’un (segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya). Orang-rang yang sabar pula yang kelak, pasca “cobaan” yang dideritanya, akan mendapatkan rahmat dan petunjuk-Nya sehingga akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Jika kita memaknai ayat Al Qur’an tersebut secara tekstual, kiranya hanya sabar yang menjadi solusi terbaik bagi saudara-saudara kita di kawasan Merapi, Mentawai, dan Wasior.

Namun, di balik “bencana alam” tersebut terkandung beribu-ribu hikmah yang bisa kita ambil, selain membentuk sikap sabar. Di antaranya ialah meningkatnya rasa solidaritas sosial sesama anak bangsa, tanpa memandang suku, ras, agama, maupun golongan tertetentu. Semuanya kembali pada rasa senasib seenanggungan sebagai manusia. Tumbuhnya empati ini menggugah mayoritas masyarakat untuk menggalang bantuan bagi masyarakat korban bencana. Baik atas nama individu maupun institusi. Bagi aktivis mahasiswa, mereka rela melakukan aksi turun jalan melawan terik matahari yang tidak biasanya mereka lakukan, sambil menenteng kotak amal dan membentangkan spanduk berisikan ajakan untuk peduli terhadap nasib saudara-saudara kita di daerah bencana. Bagi politisi, terlepas dari maksud dan kepentingan politis, mereka langsung mengagendakan “turba” ke masyarakat korban bencana, dengan mendirikan posko peduli bencana. Ada juga keluarga “kristani” yang merelakan jatah liburan natal dan tahun barunya untuk disumbangkan kepada masyarakat korban bencana. Bahkan, bangsa-bangsa lain di dunia menaruh perhatian khusus terhadap bencana bertubi-tubi yang melanda Indonesia. Ternyata, di balik derita masyarakat Merapi, Wasior, dan Mentawai, justeru membuka kesadaran kita untuk kembali memaknai arti solidaritas sosial sesama manusia. Menanggalkan segala bentuk dan atribut agama, negara, partai, status sosial dan posisi-posisi yang selama ini menjadi jurang pemisah hubungan sesama manusia.

Bisakah solidaritas sosial ini tetap tumbuh subur, tanpa dibarengi oleh bencana? Inilah yang perlu kita jawab dan perjuangkan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s