PMII KU, PMII ANDA, DAN PMII KITA


OLEH: AHMAD SAEFUDIN*

Judul di atas sengaja ditulis setelah Saya membaca karya dedengkot NU yang di akhir tahun 2009 lalu wafat –KH. Abdurrahman Wahid- yang berjudul “Islamku, Islam Anda, dan Islam Kita”, selain juga self experience selama menggeluti aktivitas organisasi kemahasiswaan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

PMII sebagai organisasi kemahasiswaan ekstra kampus tersebar hampir di seluruh kabupaten yang berada di wilayah Indonesia. Landasan Nilai Dasar Pergerakan (NDP) yang mengatur kader bagaimana berinteraksi kepada Tuhan (khablu min Allah), hubungan sosial (khablu min al-nash), dan relasi kader terhadap alam semesta (khablu min al-alam) serta berpedoman pada Paradigma Kritis-Transformatif (PKT) di setiap gerakan praksis-ideologis, faktanya belum mampu –bahkan gagal- menyatukan persepsi ideologis tentang bagaimana ber-PMII yang ideal dan sesuai dengan cita-cita gerakan yakni predikat kader ulul albab.

Ternyata, setelah menelisik bait demi bait guratan kalimat dari Sang Pluralis inilah, Saya mulai sedikit memperoleh pencerahan mengenai pertanyaan mengapa “PMII Ku” tidak sama dengan “PMII Anda”, dan “PMII Kita” (kader-kader yang lain). Pembahasan dalam paper sederhana ini jauh dari kaidah ilmiah karena memang murni dari kegelisahan dan kenakalan (karena kadang memang Saya sering berbeda pendapat dengan elit struktural Pengurus Cabang PMII) pemikiran saya sebagai individu dalam sebuah organisasi yang masih dianggap besar dan mengedepankan kritisisme. Juga tak akan merambah pada elaborasi sosio-geografis ke masing-masing Cabang PMII yang berada di berbagai wilayah, karena keterbatasan waktu dan aktivitas serta kesadaran mobilisasi Saya selama ini yang masih berkutat dalam ruang lingkup lokal Jepara (kabupaten kecil di Propinsi Jawa Tengah yang mungkin kalau tak ada Kartini dan Ukiran Kayu, tak akan dikenal hingga level internasional).

PMII KU, PMII ANDA, DAN PMII KITA
Dengan bahasa yang sangat mudah dicerna manusia bodoh macam Saya ini, Gus Dur menarik benang merah ketika memberikan interpretasi istilah “Islamku” dengan menitikberatkan pada pengalaman. Islam yang dipahami Gus Dur tidak akan jauh dari pengalaman dan pergumulan intelektual yang selama ini ia peroleh mulai dari nyantri, menjadi mahasiswa, ulama’, politisi, budayawan, cendekiawan, dan masih banyak symbol lain yang melekat pada dirinya dan tak mungkin semuanya disebutkan di sini. Maka, sangat masuk akal jika Islamnya Gus Dur berbeda dengan Nur Kholis Majid, Harun Nasution, Abu Bakar Ba’asyir dan tentunya Habib Riziq Shihab, karena meskipun mereka sama-sama mendalami ajaran dalam satu frame; Islam, namun cara dan pengalamannya berbeda antara satu dengan yang lain. Diferensiasi ini pula yang terkadang memberikan karakteristik masing-masing tokoh dalam menyikapi persoalan keagamaan dan kenegaraan yang kian hari kian marak.

Metode Gus Dur dalam memahami “Islam Ku” inilah yang kemudian membangkitkan hasrat Saya untuk memahami “PMII Ku”. Sejak dulu –sampai Saya membaca tulisan Gus Dur -, tak sedikit dari kader PMII (tanpa membedakan jenis kelaminnya, apalagi “jender” yang katanya rentan diskriminasi itu) bingung ketika mengartikan “kader PMII yang sukses”. Ada yang mengklaim, kader PMII yang berhasil adalah mereka yang bisa menduduki jabatan strategis di institusi pemerintah seperti menjadi anggota Dewan (DPRD II, DPRD I, dan DPR RI), anggota Komisi Pemilihan Umum (KPUD, KPU Propinsi, dan KPU Pusat), masuk dalam jabatan eksekutif (Kepala Dinas, Bupati, Gubernur, Menteri, sampai Presiden). Sering pula saya dengar bahwa indikator kesuksesan kader PMII ialah mereka yang jadi pengusaha, wartawan, dosen, akademisi, atau teknokrat. Juga ada yang menilai bahwa kader ideal PMII ialah yang survive menjalani hidup dan tidak tergerus oleh ganasnya pertarungan global dalam kondisi atau profesi apapun. Mana yang tepat (kalau tak mau mengatakan benar) dari berbagai alternatif pilihan ini?

Terlepas dari prinsip relativisme, dan sekali lagi setelah saya membaca tulisannya Gus Dur, semua opsi mengenai tolak ukur keberhasilan menjadi kader PMII di atas ialah benar. Basis argumentasi Saya tidak lain mengacu pada pandangan bahwa kualitas “PMII Ku” sesuai dengan pengalamanku di organisasi. Pengalamanku di PMII tidak akan pernah sama dengan pengalaman “PMII Anda”. Jadi, ada dua tesis besar kajian ini yakni jika kita mengatakan “PMII Ku” berarti berorientasi pada “pengalaman”, dan apabila menyebut istilah “PMII Anda” berarti landasan pijaknya pada “keyakinan”. Pengalaman Saya di PMII tak bisa dan tak boleh memaksakan keyakinan PMII Anda .

Celakanya, tidak sedikit kader PMII yang tanpa ewoh pakewoh mengaku dirinya telah sukses (meskipun standar kesuksesan belum mencapai kata mufakat) mencoba memprovokasi kader-kader baru, bahkan memaksa untuk menyeragamkan persepsi tentang idealnya menjadi kader PMII perspektif mereka. Jangan kaget, ketika dalam forum diskusi yang menghadirkan senior dan alumni, kita dicekoki supaya harus jadi ini, harus berprofesi itu. Padahal, absurditaslah yang akan jadi kesimpulannya. Secara sosiologis, keadaan mereka di PMII dulu niscaya berbeda dengan kondisi kita di PMII masa sekarang. Lebih ekstrimnya, mereka adalah masa lalu, dan sekarang adalah waktu kita untuk mewarnai dinamika organisasi. Dan sah-sah saja ketika kita (baca; kader dan alumni) berbeda. Pengalaman mereka dan keyakinan kita sangat mungkin untuk tidak sama.

Apa lagi ketika beranjak pada diskursus “PMII Kita”, sudah sangat sulit untuk menyeragamkan konsepsi ini. Menurut saya, “PMII Kita” belum mampu menjadi sintesis dari tesis (PMII ku) dan antithesis (PMII Anda). Lalu apa yang bisa kita simpulkan dari pembahasan ini?

Kesimpulannya sudah jelas, yakni kita tak mungkin dan sudah seharusnya tak boleh memaksakan “PMII Ku” sebagai “PMII Anda” dan “PMII Kita”. Biarlah semuanya berjalan alami sesuai pergulatan proses kaderisasi masing-masing kader. Semuanya demi menjaga koridor idealism gerakan dari benalu pragmatisme.

SALAM PERGERAKAN! TETAP SEMANGAT “TANGAN TERKEPAL DAN MAJU KE MUKA”
*Penulis adalah Kader PMII Jepara Anti Pragmatisme

2 pemikiran pada “PMII KU, PMII ANDA, DAN PMII KITA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s