UNEG UNEG ENEG MAHASISWA?


 

Oleh: Ahmad Saefudin (Mahasiswa INISNU yang ga’ lulus lulus)

Kalau pemuda sudah berumur 21, 22, sama sekali tidak berjuang, tak bercita-cita, tak giat untuk tanah air dan bangsa…
Pemuda yang begini baiknya digunduli saja kepalanya…
(Pesan Bung Karno)

Mendengar nasehat Sang Singa Podium di atas, kita layak malu dan baiknya lekas berinstropeksi. Sambil tarik napas sedalam-dalamnya, simpan sejenak dalam hati kemudian bertanya pada diri; di usia kita sekarang, apa yang sudah kita berikan pada bangsa? Kemudian keluarkan napas Anda dan mulai berpikir untuk menjawabnya.
Alah… Jangan ngomong bangsa, ngurusin diri aja ga’ becus. Mungkin ini jadi salah satu jawabannya. Ada benarnya juga. Mahasiswa sekarang susah untuk diajak membincangkan bangsa. Berat. Pusing. Impossible. Kita lebih sibuk mikirin bagaimana ngilangin jerawat di wajah culun kita daripada pusing mikirin jerawat dan borok wajah Ibu Pertiwi. Lebih sering meluangkan waktu untuk ngurusin rambut biar ga’ ketombean dan ga’ out of date model potongannya daripada susah payah membincangkan penampilan bangsa di mata dunia. Inilah fenomena mahasiswa kontemporer.

Padahal kalau dulu, mahasiswa seusia kita macam Bung karno, Hatta, Natsir, Syahrir, Tan Malaka, Tjipto Mangun Kusumo dan kawan-kawannya yang kalau kusebutin kita pasti tambah ga’ kenal, tak pernah lepas sedetik pun membincangkan persoalan kebangsaan dalam setiap aktivitasnya.

Sedikit bercerita, Bung Karno terkenal dengan kegarangannya dalam berpidato. Kalau mau lihat isi pidatonya bisa cari buku yang berjudul ”Di Bawah Bendera Revolusi”. Saya jamin isinya lebih menarik ketimbang ceramahnya dosen ataupun pimpinan kampus saat memberikan mata kuliah yang kadang menjemukan. Bikin ngantuk dan gerah. Mau tahu kisah perjalanan Presiden RI pertama di masa mudanya? Nich sedikit kutipan kata-katanya (sedikit aja, kalau mau banyak beli sendiri bukunya):

“….saya sendiri kalau berhadapan dengan pemuda rasa hatiku kok lantas panas…bukan panas benci, tidak, tapi panas karena semangat…Aku ini, he, anak-anakku sekalian, dulu tatkala Aku berumur 15 tahun…Bapak sudah mencantumkan cita-cita Bapak setinggi bintang di langit, umur 16 tahun Bapak menjadi anggota pergerakan pemuda, umur 18 tahun bapak sudah masuk gerakan politik dan umur 29 tahun Bapak dijebloskan ke penjara…”

Keren kan ceritanya..? Petualangaannya seru melebihi kisah sinetron di televisi. Itu lho… Kisah fiktif yang sering kita tongkrongin ga’ berkedip.

Lalu, pemuda seperti apa yang bisa membuat Bung Karno panas? Apakah pemuda seperti kita yang dalam usia 15 tahun baru bisa belajar bagaimana menyetrika baju supaya penampilan enak dipandang? Yang bingung ketika ditanya apa cita-citanya? Yang memasuki usia 16 tahun, baru bisa belajar serius bagaimana cara dapetin gebetan? Usia 17 tahun masih takut buat KTP sendiri sehingga harus diantar bokap-nyokap (ini nich! Contoh pemuda korban budaya… pake bahasa gaul gitu loh…) ke kantor kecamatan? 18 tahun belum mengenal organisasi selain OSIS dan pramuka?

Jawab aja sendiri. Boleh dalam hati ko’. Biar ga’ ketahuan yang lain. Bagiku, tentu bukan pemuda seperti itu. Yang dikagumi Bung Karno adalah pemuda seperti Tjipto Mangun Kusumo yang marah perangainya ketika ngeliat tingkah polah kaum feodal, yaitu kaum yang merasa dirinya lebih berharga ketimbang yang lain. Kaum anti kritik dan merasa sok benar sendiri. Yang malas diajak diskusi dengan bahasa halus. Yang menganggap dirinya keturunan darah biru. Celakanya, kaum-kaum seperti ini sekarang rupa-rupa macamnya. Ada yang berbaju politisi, menteri, rektor, dosen, bupati, camat, hingga ketua RT. Kaum kaya’ gini harus digilas. Yang bisa nandingi cuma kaum progresif berdarah muda. Keresahan Tjipto dengan kaum seperti ini dilampiaskan dalam kritiknya:

“….Saya sebut bangsawan dan pemerintah dalam satu nafas sebab mereka harus dianggap secara bersama sebagai akar sebab keseewenang-wenangan…”.

Selain Tjipto, Bung Karno juga kagum pada sosok pemuda jenius, Moh. Natsir. Dengan yang satu ini, ia pernah berdebat tentang tradisi membaca kaum muda pada saat itu. Natsir berkomentar:

“Menurut hemat kita: membatja dan membatja itu ada dua. Ada orang jang membatja sadja seumur hidupnya akan tetapi tidak mendapat apa-apa dari pembatjaannya, malah makin banjak membatja semakin mendjadi bingung. Ibarat kutjing dibawa ke Mekkah, sepulangnya mengeong djuga. Ada orang jang pembatjaannya tidak begitu banjak, akan tetapi pandai ia mengatur pembatjaannya itu, sanggup pula ia memilih sumber-sumber pembatjaan, sehingga pembatjaannya lebih berhasil dan lebih efektif”.

Gila bener..! Natsir muda begitu perhatian dengan gaya baca masyarakat pada waktu itu. Ngga’ kaya’ kita. Mungkin karena dari kecil dicekoki bacaan LKS (Lembar Kerjaan Siswa), jadinya pengetahuan kita setengah-setengah. Udah gitu, malas pula pergi ke perpustakaan. Apa lagi beli buku. Foto kopi aja eman-eman. Mending duwitnya buat beli pulsa. Bisa diskusi ama pacar lewat HP. Makanya , jangan salahkan jika otak kita culun, ga’ kenal ama tokoh-tokoh muda di atas.

Udah akh.. kaya’nya cukup nggosipin permasalahan bangsa. rasanya berat banget. Kalau gitu, enakan ngerumpiin problem kampus.

Kegerahan atas kondisi kampus sudah selayaknya dipublish sebagai auto kritik bagi civitas akademika. Sayangnya, media aktualisasi penyampaian kritik ini masih terasa mahal meskipun di sana sini digemborkan konsep kebebasan berpendapat dan berekspresi. Istilah populernya adalah iklim berdemokrasi. Bagaimana mau nyampekan kritik, lha wong bertatap muka dengan pimpinan birokrasi untuk sekedar sharing saja ribetnya bukan main. Bikin janji lah. Buat surat yang berstempel BEM lah. Harus ngatur jadwal segala. Maklum! Mereka kan termasuk orang sibuk. Saking sibuknya, kadang ngantor sebagai kewajibannya aja bisa dihitung dengan jari dalam seminggunya. Aneh memang. Tapi ini nyata. Kenapa orang sibuk seperti mereka masih dipercaya memimpin kampus? Bagaimana mereka tahu apa yang harus dilakukan untuk memajukan perguruan tinggi jika enggan sharing dengan mahasiswa? Pingin ketemu di kampus, jarang ngantor. Silaturahim di rumah, ga’ boleh. Katanya urusan kampus harus dibicarakan di kampus. Nambahin masalah kan? Bukankah yang tahu dalamnya kampus itu mahasiswa?

Nah! Mumpung ada kesempatan, setidaknya kita ingin berbagi uneg-uneg eneg pada pimpinan. Jangan salah! Uneg-uneg ini udah mengkristal dalam pikiran kita (kalau boleh mengatasnamakan) sebagai mahasiswa.
Uneg yang pertama, kita belum menemukan jawaban atas pertanyaan; sebenarnya siapa yang mempunyai otoritas penuh di kampus kita? Rektor kah? Padahal selama ini beliau ga’ pernah menginjakkan kaki di kampus selain dalam agenda ceremonial kaya’ stadium general, wisuda, dan rapat-rapat khusus pimpinan yang agendanya pun abu-abu tiap tahunnya. Jawaban dari pertanyaan ini menjadi penting karena akan merembet pada pertanyaan-pertanyaan lain seperti profesionalisme, transparansi anggaran kampus, dll.

Konsep otoritas menjadi menarik untuk dibahas, setelah kita diberitahu Max Weber yang mengatakan bahwa ciri distingtif otoritas ialah sistem keyakinan yang mendefinisikan pelaksanaan kontrol sosial yang sah. Kontrol sosial inilah yang akan membawa stabilitas kehidupan kampus. Secara mendetail, sosiolog kondang tersebut membagi tiga tipe otoritas, yaitu:

1. Otoritas tradisional.

Ciri dari tipe otoritas ini ialah tatanan sosial (baca: masyarakat kampus) yang berlaku saat ini dipandang suci, abadi, dan tidak bisa dilanggar. Mahasiswa terikat dengan penguasa kampus karena merasa ketergantungan personal dalam bingkai tradisi kesetiaan. Bahkan menurut Weber, otoritas tradisional cenderung mengabadikan status quo dan tidak cocok bagi perubahan sosial.

2. Otoritas kharismatis.

Tipe ini mendefinisikan seorang pemimpin (baca: birokrat kampus) dan misinya diilhami oleh Tuhan atau kekuatan supranatural. Ketaatan pada pimpinan dan keyakinan bahwa keputusan mereka meliputi semangat dan citacita gerakan menjadi sumber ketaatan kelompok (mahasiswa).

3. Otoritas legal.

Tipe ini melandaskan pada supremasi hukum. Asumsinya ialah bahwa aturan-aturan legal sengaja dibuat untuk memajukan pencapaian rasional atas tujuan-tujuan kolektif. Dalam sistem semacam ini, kepatuhan tidak disebabkan oleh orang -apakah ketua tradisional atau pemimpin kharismatik- melainkan seperangkat prinsip impersonal (netral).

Kajian analisis dari tipe otoritas menurut Weber perlu kita diskusikan. Terlebih jika kita kontekskan dengan realitas tatanan kehidupan kampus. Termasuk dalam tipe otoritas yang mana sistem birokrasi kampus kita?
Apakah masuk dalam terminologi tradisional? Jika fakta mengatakan bahwa civitas akademika masih merasa ketergantungan dengan pimpinan kampus, seolah-olah tak ada lagi yang sanggup menggantikan peranannya, maka tentunya tidak salah jika kita mengklaim bahwa kampus kita termasuk dalam tipe ini. Jika otoritas tradisional ini terus berlanjut, maka status quo sebagai musuh bersama demokrasi akan menggurita. Tipe otoritas kedua kaya’nya ga’ mungkin. Alasannya, selain kapasitas pimpinan kampus kita tidak ada yang terlalu menonjol dalam kompetensi dan kapabilitas (kalau mungkin terlalu lancang bila dikatakan biasa saja), belum ada gebrakan progresif yang bersifat kolektif yang dilakukan mereka dalam ranah kebijakan sehingga dampaknya mampu langsung dirasakan mahasiswa. Sudah sepatutnya bagi kita untuk memperjuangkan tipe otoritas yang ketiga. Kita mendambakan kampus yang punya aturan baku tentang hak, kewajiban, tugas, dan wewenang pimpinan, dosen, pegawai dan mahasiswa. Biar semuanya transparan dan terang benderang (meminjam perkataan presiden SBY). Termasuk tuntutan transparansi anggaran kampus. Biar tidak dimonopoli oleh oknum-oknum tertentu saja. Bagaimana iningin mencapai profesionalisme kinerja jika aturan aja ga’ jelas. Yang ada malah saling lempar tanggung jawab. Ga’ ada kejelasan job description. Makanya ga’ kaget ketika kita sering mendengar carut marut dan amburadulnya manajemen kampus.
Udah gitu, ditambah konflik internal antar pimpinan yang tak berujung. Bahkan terkadang, konflik pribadi masuk ke dalam institusi. Sudah tua, tapi ko’ ga’ kelihatan dewasa juga ya? Tanya kenapa? Konflik inilah yang juga berpengaruh pada visi organisasi. Slogannya aja keren dan bijak, terpampang di setiap sudut ruangan kampus. Implementasinya mana?

Masih ada uneg-uneg lain. Kali ini menyangkut pada kesejahteraan dosen. Berapa sich gaji dosen sekarang? Ko’ ngajarnya ga’ niat (meskipun tidak semuanya). Kadang masuk kadang engga’. Apa bayarannya kurang? Apakah dengan alasan lillahi ta’ala kemudian menafikan profesionalisme? Ngajar di INISNU kan sambatan… Benarkah demikian? Bukankah mahasiswa juga mbayar pakai duwit. Nominalnya pun standar dengan kampus swasta yang lain. Tapi kenapa servis dosen kurang memuaskan? Jangan-jangan gajinya kurang? Pimpinan kampus perhatian dong ama kesejahteraan dosen! Biar ngajarnya semangat. Ilmu yang diterima mahasiswa kan juga tambah berkualitas. Upss!!! Udahan dulu akh!. Ga’ usah bahas gaji. Ntar dikira khubbud dunya lho… pamali.. ora ilok… Tapi, bukan masalah ora ilok nya. Kita di sini sedang bicara tentang relasi antara mahasiswa dan dosen dalam proses perkuliahan. Apa ga’ boleh? Kalau ga’ boleh ya udah. Ganti ke topik lainnya.
Uneg-uneg terakhir dalam kesempatan ini yaitu bagaimana menumbuhkan rasa cinta terhadap kampus. Istilah kerennya nasionalisme kampus. Sudah jadi rahasia umum, jika mayoritas mahasiswa malu untuk mengakui INISNU sebagai kampusnya. Ga’ ada bangganya sama sekali pokoknya kuliah di INISNU. Benarkah demikian? Bisa dikroscek sendiri. Bukan hanya mahasiswa, dosen dan birokrainya pun lebih membanggakan kampus lain ketimbang kampusnya sendiri. Bahkan ada pimpinan kampus (merangkap dosen) yang secara terang-terangan mengklaim bahwa mahasiswa INISNU itu beda pemikirannya dengan mahasiswa IAIN Semarang. Intinya kalah jauh. Mahasiswa INISNU itu katrok, pikirannya dangkal, ga’ cerdas. Beda ama mahasiswa Semarang. Mereka lebih pintar dan maju. Mendengar khutbah pimpinan kaya’ gini, hati siapa yang tidak sakit, kecewa, marah, dan ingin berontak. Pimpinan aja ga’ punya jiwa nasionalisme terhadap lembaganya, gimana mau memajukan kampus? Apa lagi mahasiswanya… cape’ dech… Belum lagi masalah fasilitas kampus, pelayanan, dll. Masih panjang untuk didiskusikan. Tapi redaksinya ga’ cukup jika dimuat dalam kertas ini. udahan dulu ya! Sambung next time!

2 pemikiran pada “UNEG UNEG ENEG MAHASISWA?

  1. Mohon doanya saya mau ujian kompre dan munaqosah bsk tgl 23 dan 24 April, doakan ya smg lulus dengan nilai maksimal, Thank You Very much

  2. Sama-sama. Kelulusan adalah gerbang awal bagi kita untuk menatap masa depan selanjutnya. Kita masih sama-sama belajar mengamalkan “khairun nas anfa’uhum linnas”. Sukses untuk kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s