SEKELUMIT TENTANG JENDER


 

Oleh: Ahmad Saefudin

Rintikan air dari langit menerpa genting-genting, mengiringi malam 11 Januari 2010. Di Kantor (lebih tepatnya rumah tempat pengakumulasian intelegensia) Komisariat Ratu Kalinyamat PMII INISNU Jepara, sahabat-sahabati Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) melakukan perselingkuhan ide dan gagasan mengusung tema sensual tentang “ideologi jender” . Suhu malam kian merasuk tulang. Namun, antusiasme “komunitas Wacana Kiri”, begitulah kami menyebutnya, seakan dihangatkan oleh dinamika diskusi yang semakin malam semakin mantap.

“Persoalan jender pada dekade ini masih seksi untuk diperbincangkan karena pemahaman masyarakat (bahkan mahasiswa) masih kabur dalam bingkai terminologisnya. Bahkan, Al-qur’an sebagai referensi suci tidak menjelaskan secara eksplisit tentang istilah “jender”, sehingga perlu proses elaborasi sistematis”.

Itulah provokasi awal dari Sahabat Lukman Hakim sebagai moderator diskusi pada malam itu. Aktivis berkacamata ini selalu fasih ketika berretorika. Aura kulit gelapnya seakan sirna tertutup oleh pancaran kata demi kata dalam “bersilat lidah”. Mahasiswa dari Demak ini selalu menggebu-gebu saat mengurai problematika kampus maupun kebangsaan, tidak terkecuali saat menggosipkan tema “ideologi jender”.

“Marilah kita awali dengan bacaan ummul kitab, semoga pembahasan ini membawa barokah bagi kita khususnya dan bagi bangsa kita pada umumnya. Amin. ‘Ala hadzihi al niat al fatikhah!”. Lebih lanjut ia berterima kasih atas kedatangan sahabat-sahabati dan juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada audiens. Karena menurutnya, kader yang hadir pada malam itu telah membuktikan kosistensi dan komitmennya untuk selalu membudayakan nilai-nilai edukasi via forum ilmiah ala mahasiswa.

“Itulah prolog dari saya sebagai awalan diskusi pada kesempatan ini. Selanjutnya, Silahkan bagi masing-masing fasilitator untuk memposisikan diri”, pintanya sambil menunjukkan ibu jari ke arah kertas plano yang menempel di tembok “sarang aktivis pergerakan Jepara”.

Tim fasilitator yang didaulat pada agenda tersebut yaitu Siti Mutrofin (Ketua Forum Kajian Jender (FKJ) PC PMII Jepara), Fitriyanto (Pengurus FKJ), Fitiatun Nisa’ (Kader PMII Rayon Tarbiyah INISNU Jepara), dan Syafaatun Nafisah (Pengurus Rayon Tarbiyah PMII INISNU Jepara). Masing-masing dari mereka sudah mempersiapkan materi sesuai sub bahasan masing-masing berdasarkan modul “Manifesto Wacana Kiri” karya Nur Sayyed Santoso Kristeva, kader kultural PMII dan pemerhati para tokoh “kiri” dari Cilacap yang baru menyelesaikan gelar masternya di UGM Yogyakarta.

Fitriyanto melanjutkan forum dengan nada santai. “Malam ini bukanlah ajang pembantaian antara audiens dengan fasilitator. Kami di sini tidak akan presentasi sebagaimana mekanisme perkuliahan, melainkan akan mencoba menerapkan metode andragogi yang selama ini sering digunakan dalam dunia pergerakan. Apa pun dinamika forum diskusi yang nanti berjalan, kualitas tidaknya out put dan konklusi yang muncul, sepenuhnya kami serahkan kepada sahabat-sahabati yang ada dalam forum ini. Apa pun hasilnya, insyaallah mampu menambah wacana dan perspektif baru bagi kita”.

Tanpa memperkenalkan curriculum vitae dari masing-masing fasilitator, karena mungkin sahabat Fitriyanto mengasumsikan bahwa semua audiens sudah akrab dengan mereka, maka materi jender dibuka dengan penyampaian awal dari sahabati Fitriyatun Nisa’.

Kader perempuan PMII yang sampai kini masih semester III Fakultas Tarbiyah INISNU Jepara ini menarik para audiens untuk mengingat kembali terminologi jender baik dilihat dari sudut pandang biologis maupun kultural.
Dengan berbekal paper yang telah dipersiapkan, secara sistematis ia memeparkan bahwa kata “jender” berasal dari bahasa Inggris, gender, berarti jenis kelamin. John M. Echols kurang sepakat ketika gender diterjemahkan dengan jenis kelamin karena dengan demikian sama maknanya dengan kata sex. Dalam bahasa Indonesia, istilah jender merupakan kosakata baru sehingga belum ditemukan pengertiannya. Meskipun demikian, istilah tersebut lazim digunakan, khususnya di Kantor Menteri Negara Urusan Peranan Wanita dengan ejaan “jender” yang diartikan sebagai interpretasi mental dan kultural terhadap perbedaan laki-laki dan perempuan. Dalam bahasa sederhana, Nasaruddin Umar setelah menganalisis definisi jender dari berbagai pakar menyimpulkan bahwa jender adalah konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial-budaya.

“Kemudian, apakah perbedaan sex dan gender?”, pancingnya sambil sesekali menatap audiens. “Dua istilah penting ini harus benar-benar dipahami agar tidak ambigu yang akhirnya semakin menyuburkan bias jender dalam masyarakat”.

“Sex sering diartikan sebagai jenis kelamin yang berorientasi pada sudut pandang ciri biologis seperti bentuk fisik, reproduksi, perbedaan hormon dalam tubuh dan lain-lain. Sedangkan gender lebih berorientasi pada ranah sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek nonbiologis lainnya. Berarti, pengertian jenis kelamin apabila mengacu pada istilah sex, maka sampai kapan pun akan bersifat tetap dan sudah tak bisa lagi diubah atau lebih sering disebut kodrat. Tetapi, jika mendasarkan arti jenis kelamin pada terminologi gender, maka suatu ketika akan berubah dan tidak tetap sesuai dengan perkembangan sosio-kultur zaman. Kesalahpahaman pemaknaan sex dan gender inilah yang ditengarai menjadi pemicu timbulnya pembedaan (discrimination) terhadap relasi antara laki-laki dan perempuan yang berujung pada ketidakadilan dan penindasan. Celakanya, hingga dewasa ini, pelabelan negatif atau stereotip yang muncul akibat salah persepsi dalam pemaknaan sex dan gender tersebut lebih sering terjadi pada kaum perempuan dibandingkan laki-laki”.

Dia pun menunjukkan tabel ketimpangan yang terjadi akibat bias jender dalam masyarakat.

SEX
LAKI-LAKI Penis
Tidak Menstruasi
Umumnya berjakun
Umumnya berkumis
Memiliki buah pelir (testis)
Hormon testoterone
Berjenggot
Dada bidang
Tidak memiliki kelenjar susu

SEX
PEREMPUAN

Vagina
Menstruasi
Umumnya tidak berjakun
Umumnya tidak berkumis
Memiliki ovarium
Hormone prolactin, extrogen dan progesterone
Tidak berjenggot
Buah dada menonjol
Memiliki kelenjar susu

GENDER
LAKI-LAKI

Tidak terlalu agresif
Tidak emosional
Objektif
Tidak mudah terpengaruh
Jarang menangis
Aktif
Logis
Tidak pemalu
Tidak mudah tersinggung
Penuh rasa percaya diri
Lebih mudah membedakan antara rasa dan rasio
Lebih merdeka
Kuat
Sangat agresif

GENDER
PEREMPUAN

Emosional
Subjektif
Mudah terpengaruh
PasifKurang logis
Pemalu
Mudah tersinggung
Sering menangis
Kurang rasa percaya diri
Sulit membedakan antara rasa dan rasio
kurang merdeka
Lemah

Salam Revolusi“Persepsi masyarakat terhadap perempuan dalam kolom gender di atas lebih menguntungkan laki-laki daripada perempuan. Maka tidak salah, ketika kaum feminis dan tokoh-tokoh gerakan perempuan membantah keras skematisasi di atas dan menyebutnya hanya sebagai bentuk stereotip jender”.

Jarum jam menunjukkan pukul 21.15 WIB. Saifur, salah satu anggota “komunitas wacana kiri” membawa bungkusan plastik hitam yang ternyata berisi bakwan dan mendoan. Begitulah cara kami menepis rasa lapar atau sekedar mengusir rasa kantuk yang kadang memaksa masuk dalam ruang diskusi. Kopi hangat pun telah tertuang sebagai teman gorengan.

Sambil melahap santapan ringan tersebut, fasilitator masih asyik membawa kami menyelami pemikiran para tokoh pemerhati jender. Kali ini ia mengutip pendapat Mansour Fakih yang menyayangkan sebagian orang masih berasumsi bahwa feminisme adalah sebuah gerakan pemberontakan terhadap kaum laki-laki. Feminisme dianggap sebagai bentuk pemberontakan kaum perempuan untuk mengingkari kodrat atau fitrah perempuan, melawan pranata sosial yang ada, atau institusi sebuah rumah tangga, seperti perkawinan dan lain sebagainya. Padahal asumsi tersebut selain tidak berdasar juga menunjukkan sikap paranoid kaum laki-laki terhadap gerakan feminism. Oleh karena itu, penajaman arti feminisme menjadi keniscayaan untuk mereduksi ketakutan-ketakutan di atas.

Secara epistemologis, kata “feminisme” berasal dari bahasa Latin, yaitu femina yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi feminine, artinya memiliki sifat-sifat sebagai perempuan. Kemudian kata itu ditambah “ism” menjadi feminism, yang berarti hal ikhwal tentang perempuan, atau dapat pula berarti paham mengenai perempuan.

Dengan lancar dan cekatan, kali ini fasilitator mengalihkan perhatiannya pada pustaka lain. Ia menjelaskan kepada audiens bahwa secara terminologi, Abdul Mustaqim menyimpulkan inti gerakan feminisme adalah kesadaran terhadap adanya diskriminasi, ketidakadilan dan subordinasi perempuan, dilanjutkan dengan sebuah upaya untuk merubah keadaan tersebut menuju ke suatu sistem masyarakat yang lebih adil.
Nampaknya, sahabati Fitri mulai lelah dan meminta koleganya sesame fasilitator, sahabati Nafis, untuk meneruskan kajiannya. Sebagaimana sahabati Fitri, Nafis pun telah siap dengan segepok rujukan.

“Untuk meruntutkan alur diskusi, Saya akan menggiring kalian untuk memahami beberapa aliran Feminisme yang pernah muncul”, katanya memulai penjelasan.

“Feminisme selalu mengalami perkembangan definisi berdasarkan perkembangan sosial yang terjadi. Feminisme ialah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi dan kesetaraan perempuan. Feminisme dan gerakan perempuan sama-sama memperjuangkan keadilan perempuan. Bedanya, kalau Feminis bisa berasal dari kaum laki-laki maupun perempuan, maka tidak sebaliknya dengan ”gerakan perempuan” yang massanya adalah perempuan semua. Gerakan Feminisme adalah gerakan perempuan dari penindasan, rasisme, stereotip, seksisme”.

Di luar kantor komisariat Ratu Kalinyamat PMII INISNU Jepara, rintik hujan mulai mereda. Genangan air menghiasi permukaan halaman. Seolah tak peduli, Nafis melanjutkan pembicaraan dengan mengacu buku Paradigma Tafsir Feminis Versus Patriarki.

“Aliran yang pertama ialah Feminisme Liberal. Gerakan ini berangkat dari teori politik liberal yang menyatakan bahwa manusia secara individu dijunjung tinggi, termasuk di dalamnya nilai otonomi, nilai persamaan, dan nilai moral yang tidak boleh dipaksakan, diindoktrinasikan dan bebas memiliki penilaian sendiri”.

“Pada mulanya, Feminisme Liberal menentang diskriminasi perempuan dalam perundang-undangan, misalnya persamaan hak pilih, perceraian, dan harta benda. Kemudian mereka mulai melakukan kajian untuk mendalami pola-pola kegiatan manusia dalam masyarakat dewasa ini dan mencari akar permasalahan bagaimana cara menghapuskan penindasan terhadap perempuan. Dalam teori liberal tradisional dinyatakan bahwa hak adalah suatu pemberian yang didasarkan pada kemampuan rasio/akal, sehingga perempuan yang dinilai rasionya rendah, tidak pantas untuk menerima hak”.

“Teori liberal tradisional ditolak oleh feminis liberal, sebab menurut mereka, ketidakmampuan rasio disebabkan oleh lingkungan pendidikan yang sangat seksis dan melestarikan ideologi jender. Hal ini jelas akan menghalangi semangat perempuan untuk berkompetisi mengembangkan rasionya. Dalam perspektif feminis liberal, persoalan kaum perempuan dianggap sebagai masalah ekonomi modern atau bagian dari partisipasi politik. Keterbelakangan perempuan adalah akibat dari kebodohan dan sikap irasional, serta teguh pada nilai-nilai tradisional. Industrialisasi dan modernisasi adalah jalan untuk meningkatkan status perempuan, karena akan mengurangi dari akibat ketidaksamaan kekuatan biologis antara laki-laki dan perempuan. Upaya lain adalah dengan cara peningkatan pendidikan perempuan”.

Nafis juga menyarankan audiens untuk mendalami lebih jauh tentang feminisme liberal melalui referensi lain seperti A. Vindinction of The Right, The Subjection of Women, dan The Feminism Mystique, serta The Second Stage yang semuanya berbahasa Inggris. Tidak sedikit audiens yang menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam, “Ngomong opo… Iku…?”.

Mengacuhkan kebingungan sebagian audiens, Nafis melanjutkan penggambarannya tentang aliran feminisme.
“Aliran selanjutnya ialan Feminisme marxis sebagai reaksi atas gerakan feminis liberal. Feminis marxis berpendapat bahwa ketertinggalan yang dialami oleh perempuan bukan disebabkan oleh tindakan individu secara disengaja, melainkan lebih sebagai akibat dari struktur sosial, politik, ekonomi yang erat kaitannya dengan sistem kapitalisme”.
“Kapitalisme? Maksud loh…?”, celetuk Lisod (kader PMII rayon Syariah INISNU) nyolot kontan membuat audiens lain tertawa.
“Tenang! Tak usah bingung! Akan sedikit Saya singgung mengenai kapitalisme”, janji fasilitator.

“Dalam perspektif feminisme marxis, sebelum kapitalisme berkembang, keluarga adalah kesatuan produksi. Semua kebutuhan manusia untuk mempertahankan hidupnya dilakukan oleh semua anggota keluarga termasuk perempuan. Tetapi, pasca lahirnya kapitalisme, industri dan keluarga tidak lagi menjadi kesatuan produksi. Kegiatan produksi dan barang-barang kebutuhan telah beralih dari rumah ke pabrik. Perempuan tidak lagi ikut serta dalam kegiatan produksi. Kemudian terjadi pemagian kerja menurut jenis kelamin, di mana laki-laki bekerja di sektor publik yang bersifat produktif dan bernilai ekonomis, sedangkan perempuan bekerja di sektor domestik yang tidak produktif dan tidak bernilai ekonomis. Karena kepemilikan materi menentukan eksistensi seseorang, maka sebagai konsekuensinya, perempuan yang berada dalam sektor domestik dan tidak produktif dinilai lebih rendah dari laki-laki. Maka, menurut Engles –sahabat Karl Marx- salah satu cara untuk membebaskan perempuan dari ketertindasan sesuai dengan teori ini adalah perempuan harus masuk ke dalam sektor publik yang dapat menghasilkan nilai ekonomi (baca: uang) sehingga konsep pekerjaan domestik perempuan tidak ada lagi. Bahkan, kalau perlu melakukan penghapusan sistem institusi keluarga, karena dipandang sebagai institusi yang melahirkan kapitalisme. Sebagai gantinya adalah menciptakan keluarga kolektif di mana pekerjaan rumah tangga dilakukan secara kolektif, termasuk pengasuhan dan pendidikan anak”.

Seakan belum lelah, Nafis masih saja melawan waktu untuk menyelesaikan materi. Sambil menunggu pemasangan kertas plano setelah dari tadi penuh dan belum diganti, kader Forum Kajian Jender (FKJ) PMII Jepara melanjutkan:

“Feminisme Radikal muncul sebagai sintesis antara paham feminisme yang lahir sebelumnya. Aliran ini muncul pada permulaan abad ke 19 dengan mengangkat isu besar, menggugat semua lembaga yang diangkap merugikan perempuan seperti lembaga patriarki, karena term ini jelas-jelas menguntungkan laki-laki. Di antara kaum feminis kiberal, ada yang lebih ekstrem, tidak hanya menuntut persamaan hak antara laki-laki dengan perempuan, tetapi juga persamaan “seks”, dalam arti kepuasan seksual juga diperoleh dari sesame perempuan sehingga mentolerir praktek lesbian”.

“Karena terlalu ekstrem inilah, aliran ini mendapat tantangan luas, bukan hanya dari kalangan sosiolog, tetapi juga kaum feminisme sendiri”.

Waktu yang tidak bersahabat, harus mengakhiri presentasi dari sahabati Nafis, padahal menurutnya masih ada beberapa aliran feminism yang belum sempat disampaikan. Begitulah sang waktu, arogansinya tak tertandingi.
Kesimpulan dari diskusi pada malam itu ialah setelah memahmi seperangkat teori tentang jender dan feminisme diharapkan kaum pergerakan mampu memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan peran sosial bagi laki-laki dan perempuan tanpa adanya diskriminasi, stereotip, ataupun bentuk ketertindasan lainnya yang disebabkan bias jender.

Begitulah forum “Komunitas Wacana Kiri” berdialektika. Berbekal semangat dan keyakinan yang masih terpatri, komunitas ini akan selalu menyarakan anti ketertindasan dalam bentuk apapun, dari manapun dan oleh siapapun.

Salam Revolusi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s