PEMILU 2009; antara Tua dan Muda*


Oleh: Ahmad Saefudin**

Menjelang pesta demokrasi terakbar di bumi Indonesia ini, persiapan demi persiapan perlu dilakukan. Bukan hanya kontestan PEMILU saja (baca: partai) yang berhak memoles wajahnya agar terlihat anggun pada perhelatan tersebut, melainkan semua pihak baik kalangan elit maupun alit hendaknya menata diri.

Politikus sering berkoar, “nasib bangsa lima tahun ke depan ditentukan hari ini yakni ketika Anda masuk dalam bilik suara dan memilih calon pemimpin yang kelak dipercaya sebagai sosok yang mampu membawa kesejahteraan (meskipun kadang yang menyoblos tidak dalam keadaan sadar ketika menjatuhkan pilihan mereka)”.

Jargon-jargon syarat kepentingan mulai menghiasi telinga kita. KEADILAN, KEMAKMURAN, PERSATUAN, KEBANGKITAN, dan saudara-saudaranya terlontar begitu murah dari politikus (yang lagaknya seperti marketing atau bahasa kerennya sales dari perusahaan politik). Tapi, mengapa manifestasi kata-kata murahan tadi begitu mahal?
KEADILAN bagi siapa jika dalam mewujudkannya rela mengorbankan KEADILAN lain? KEMAKMURAN mana yang belum mampu mengangkat 34,96 juta rakyat berlabel MISKIN? (Suara Merdeka, Jumat, 18 Juli 2008). PERSATUAN seperti apa yang telah merenggut Sipadan dan Lilitan dari pangkuan Ibu Pertiwi? KEBANGKITAN? Sejak seratus tahun silam kita mendengungkan kata BANGKIT, tapi hasilnya? (Maaf jika emosi Saya labil).

Banyak kalangan termasuk Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) Arief Mudatsir Mandan pesimis jika pemilu mendatang menghasilkan pemimpin ideal (Suara Merdeka, Jumat, 18 Juli 2008). Lebih lanjut Anggota Dewan Kehormatan DPR RI ini mengatakan bahwa ideologi parpol saat ini hanya berorientasi pada modal. Bahkan, kapitalisasi diteguhkan dalam UU Penanaman Modal Asing yang notabene sangat pro kepada investor dan mengebiri rakyat.

Jangan salahkan bila SLANK berkreasi dengan lirik-lirik nakal yang membuat elit politik meradang. Mafia di Senayan/Kerjanya buat peraturan/Bikin UUD/Ujung-ujungnya Duit…. Dewan Perwakilan Rakyat berevolusi menjadi Duit Perwakilan Rakyat. Untungnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih berkomitmen dengan tugas dan fungsinya. Satu per satu lintah negara terpangkas. Jika tidak, pohon Nusantara yang lebat ini terancam punah tergerogoti ganasnya benalu tak tahu malu.

Setelah merenung ke masa lalu, mari kita berangan-angan ke Indonesia masa depan. Indonesia dengan tanah suburnya yang memungkinkan petani tidak lagi sengsara. Indonesia dengan minyaknya yang (seharusnya) mampu memenuhi pasokan kebutuhan rakyat tanpa harus mengimpor dari bangsa lain. Indonesia dengan keanekaragamannya yang mampu memikat hati turis manca. Indonesia bukan hanya Bali. Ada Aceh, Papua, Bangka, dan banyak lagi potensi yang belum tergali. Semua itu mustahil terjamah hanya melalui tangan pemimpin (baca: presiden), melainkan kita yang bisa mengolahnya. Presiden hanya satu, kita seribu. Tangan presiden cukup dua, kita sejuta. KEADILAN, KEMAKMURAN, PERSATUAN, dan KEBANGKITAN Republik Indonesia ada dalam genggaman kita. Bukan di tangan DPR, politisi, polisi atau siapapun.

Meraba bursa pencalonan pemimpin bangsa, issu klasik kembali muncul. Padahal, setelah peristiwa Rengasdengklok, pertentangan wacana antara istilah tua dan muda tenggelam. Setidaknya sudah ada beberapa nama kandidat yang terang-terangan dan gelap-gelapan mem(di)proklamirkan sebagai presiden RI seperti Susilo Bambang Yudhoyono (maaf, Saya tak mau menyingkat nama beliau karena bisa salah tafsir), Megawati Soekarnoputri, Sri Sultan Hamengkubuwono X, Hidayat Nur Wahid, Wiranto, Jussuf Kalla, Gus Dur, dan Yusril Ihza Mahendra. Saya tidak menyebutkan nama lagi, bukan berarti menyempitkan ruang bagi calon lain. Namun karena faktor efisiensi saja. Apalagi jika diteruskan, nanti dianggap pak guru yang sedang mengabsen murid-muridnya. (jadi tidak seru kan?). Anda bisa mengaitkan nama-nama di atas dengan issu tua-muda yang lagi merebak. Jangan hanya dinilai dari aspek fisik maupun usia an sich, tetapi lebih kepada semangat mereka. Gamblangnya, bagaimana visi dan komitmen mereka ngopeni (mengurus) rakyat. Percuma tanah subur, tapi rakyat hancur. Beras melimpah, namun saudara kita masih ada yang menyandang busung lapar. Ikan tersebar di hamparan samudera, tapi nelayan tak mampu menuai karena perahu-perahu mereka kalah cepat dengan pelaut asing.

Pemilu 2009 merupakan tonggak sejarah baru untuk menciptakan pemimpin masa depan (Saya tidak terhegemoni ucapan politikus di atas, apalagi terkooptasi). Siapapun pemimpinnya yang penting bisa membuat rakyat sejahtera, tidak peduli tua ataupun muda. Bagaimana menurut Anda?

* Tulisan ini pernah dimuat di majalah “BURSA” LPM INISNU Jepara edisi Januari 2009
**Penulis adalah pengurus Lembaga Pers Mahasiswa Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s