KESUKSESAN ALA MAHASISWA


Oleh: Ahmad Saefudin

Term “sukses” begitu subjektif. Tidak ada standar baku sebagai indikatornya. Apakah “sukses” tersebut diukur dari materi, finansial, jabatan, atau kecerdasan. Beda manusia, tidak sama pula pikirannya dalam menilai arti kesuksesan.

Tetapi, Jawahral Nehru -Tokoh Besar India- mengatakan bahwa sukses sering datang kepada orang yang berani bertindak. Jarang datang kepada penakut yang tidak berani menerima konsekuensi.

Pointer penting dari perkataan Nehru di atas ialah bahwa kesuksesan harus dibarengi dengan keberanian dalam aksi serta keberanian dalam manghadapi resiko.

Dengan cara pandang di atas, kita seharusnya pandai menempatkan posisi dalam menilai kesuksesan yang akan kita raih. Berperan sebagai apakah kita sekarang? Pertanyaan ini mungkin akan sedikit membantu untuk memaknai kesuksesan dalam hidup.

Katakanlah kini, posisi kita adalah mahasiswa. Bagaimana kita mengukur standar kesuksesan mahasiswa? Apakah yang berindeks prestasi komulatif tinggi? Atau yang selalu mengikuti ceramah dosen (yang terkadang membosankan akibat hanya itu-itu saja referensi yang dipakai)?

Masih bertolak pada pandangan Nehru di atas, Mahasiswa yang sukses adalah Mahasiswa yang berani bertindak dan mengambil segala resiko dari tindakannya. Pernahkah kita (sebagai Mahasiswa) berani memperdebatkan sistem perkuliahan yang cenderung jauh dari kualitas yang diharapkan, meskipun dengan resiko dicap dan masuk dalam daftar hitam para birokrat kampus?

Indikator dari carut marutnya sistem perkuliahan (setidaknya yang pernah Penulis rasakan):
1. Jadwal perkuliahan tidak pasti. Apa lagi ditambah banyaknya jam libur dan meliburkan diri. Imbasnya, materi perkuliahan tidak tuntas.

2. Kapasitas dosen kurang mumpuni. Di bidang kompetensi, masih tak beda jauh dengan lulusan S1, meskipun mengaku sudah lulus S2. Diktat dan buku rujukan dalam mengampu mata kuliah yang diajarkan pun terkesan tidak variatif bahkan kuno. Meskipun kurikulum perkuliahan telah berubah, yang jadi sumber bacaan utama hanya buku itu-itu saja, tak ada perkembangan. Ini juga yang menyebabkan stagnasi pemikiran mahasiswanya. Faktor lain adalah profesi dosen masih dianggap sebagai profesi sampingan. Terutama bagi kampus swasta. Bagaimana ingin mencetak mahasiswa yang berkarakter intelektual tinggi jika mengajarnya pun menggunakan tenaga sisa?

3. Sarana dan pra sarana kurang memadai. Alat-alat teknologi seperti komputer, note book, LCD, internet, belum semuanya mampu termanfaatkan dengan baik.

4. Fungsi perpustakaan kampus kurang maksimal. Bisa jadi karena perpustakaan kampus masih miskin referensi pokok yang mendukung materi perkuliahan, manajemen perpustakaan yang amburadul seperti sering hilangnya buku, jadwal buka-tutup yang sering tidak tepat waktu, dan desain ruang yang menjenuhkan sehingga mahasiswa enggan masuk, atau bahkan faktor apatisme mahasiswa yang phobia terhadap perpustakaan kampus.

5. Visi dan misi Perguruan Tinggi yang masih bersifat formal-simbolik. Dalam arti belum ada rancangan infrastruktur yang matang untuk mendukung terwujudnya visi-misi kampus tersebut. Sangat disayangkan indahnya visi-misi kampus hanya terpampang dan menggantung di pintu gerbang dan tembok-tembok kelas perguruan tinggi, tanpa implementasi berarti.

6. Feodalisme Birokrasi Kampus. Di era demokrasi ini, masih ada saja para pimpinan kampus yang belum bisa keluar dari kungkungan feodalisme. Terpaku pada pimpinan yang dianggap lebih senior (baca: tua). Akhirnya yang terjadi adalah tidak adanya daya progresif yang tercipta. (Dosen) yang muda berperan sebagai tokoh inferior dan harus dikondisikan mematuhi segala perintah pimpinan yang notebene (men)superior(kan diri tanpa mengaca lebih jeli). Seandainya sang inferior bertindak keluar dari frame umum, langsung diarahkan, dibimbing agar tidak neko-neko, dan kalau masih membangkang, disikat dan diganti dengan yang baru. Yang selalu taat dan tunduk pada fatwa-fatwanya dalam melanggengkan praktek feodalisme birokrasi.

Kemudian, apa yang bisa kita harapkan dari kampus dengan segala problematikanya di atas? Siapa yang menjamin alumnus dari kampus yang bercirikan di atas akan sukses?

Karena itu, tanamkan dalam diri kita. Lawan dan hancurkan segala bentuk feodalisme birokrasi kampus. Walaupun DO (Drop Out) konsekuensinya. Paling tidak, kita sudah bisa berperan sebagai mahasiswa sukses ala Jawahral Nehru.

Satu pemikiran pada “KESUKSESAN ALA MAHASISWA

  1. Ping balik: DARI INISNU KE UNISNU; TITIK STRATEGIS PEMBENAHAN INSTITUSIONAL | Teras Kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s