ISLAM YANG MANA? ENTAHLAH!*


Oleh: Ahmad Saefudin

* Anggota TERAS KITA yang juga sedang bergelut menyelesaikan tugas akhir skripsi program studi PAI pada Fakultas Tarbiyah Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara

Sekularisasi, Karl Marx, Soekarno! Nasakom, Pancasila, sosialis atau Islam. Begitulah ketika melirik sekilas sampul buku yang mencoba membingkai segudang pemikiran Ahmad Wahib. Saya sendiri tak sanggup mencerna pergolakan pemikiran mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini (lebih tepatnya bingung bercampur takjub). Maklum! Teman sejawatnya saja kala itu juga mengklaim bahwa ide gagasannya terkesan “ekstrim”.

Ketika saya membuka bagian awal yang diberi titel Ikhtiar Menjawab Masalah Kegamaan, dahi terpaksa berulang-ulang mengernyit karena kenakalan pemikirannya. Saya membaca baris demi baris, helai demi helai, berusaha memahami apa maksud sang penulis. Terus terang, telinga saya lebih tidak asing ketika mendengar nama Nurkholis Madjid, Dawam Rahardjo, dan Mukti Ali. Sedangkan Ahmad Wahib, siapa dia? Tahu namanya saja dari pamflet perlombaan penulisan esai. Tapi, setelah mengarungi ide gagasan beliau tentang Islam, kebudayaan, pluralisme, dan masih banyak lagi (Saya tulis demikian karena (jujur) banyak inspirasinya yang terlewat begitu saja setelah berkali-kali membaca), Saya jadi berani menyejajarkan dengan nama-nama di atas, di tambah Gus Dur tentunya.

Sedikit bercerita, saya sempat terbengong saat berhenti pada kata, “andaikata hanya tangan kiri Muhammad yang memegang kitab, yaitu al hadits, sedang dalam tangan kanannya tidak ada wahyu Allah (al Qur’an), maka dengan tegas Aku berkata bahwa Karl Marx dan Frederik Engels yang luar biasa pula, akan meyakinkan setiap orang bahwa ke dua orang besar itu adalah penghuni surga tingkat pertama, berkumpul dengan para nabi dan syuhada” [Pergolakan Pemikiran Islam, Catatan Harian Ahmad Wahib].

Berkali-kali kubaca ulang dan ingin sekali mencari jawaban dari pertanyaan yang langsung saja terbeslit dalam benak; mengapa seorang Ahmad Wahib yang aktivis muslim mempunyai ijtihad demikian? Apakah Dia sudah tidak percaya lagi dengan Nabinya sehingga menomorduakan sang Rasul? Atau otaknya sudah terracuni oleh doktrin-doktrin komunismenya Karl Marx?

Entahlah! Saya hanya bisa meraba dan tak mungkin bertanya langsung kepada beliau (karena sudah wafat). Menurut saya, Wahib mencoba mendobrak pemikiran umat (yang mengaku mengikuti ajaran) Muhammad dan mengagung-agungkan, bahkan mengultuskan beliau tanpa dasar yang jelas. Mereka memakan mentah-mentah perkataan Nabi (meskipun hal itu belum jelas apa memang benar-benar perkataan nabi atau hanya bualan orang-orang sesudah nabi yang syarat dengan kepentingan politis). Celakanya lagi, tidak sedikit muslim yang antipati terhadap pemikiran tokoh-tokoh sekaliber Marx dan Engels (Juga tanpa argumen yang patut dipertanggungjawabkan).

Wahib menyadarkan Saya, bahwa banyak orang telah terhasut omongan-omongan ulama-ulama palsu pembawa dalil-dalil murahan demi tujuan materi semata. Jubah mereka memang anggun, jenggot juga panjang. Jidat hitam. Pokoknya, ulama bangetlah! Mereka berkoar membela Muhammad. Melepaskan Islam dari orang-orang sesat. Lebih jelasnya, orang-orang kafir. Caranya? Tentu saja dengan melawan sekuat tenaga. Pakai senjata kalau perlu. Dan faktanya terjadi juga; sesama ikhwan muslim saling mengklaim bahwa hanya kelompok saya-lah yang paling benar. Yang paling “Islam”. Yang terdepan dalam membela sunnah. Dan tak jarang menyitir hadits Nabi segala. “Bukankah ketika kita melihat kemungkaran, maka kita harus memeranginya sekuat tenaga yang ada? Saya punya kekuatan untuk menghancurkan tempat maksiat (bar, kafe remang-remang, dan sejenisnya) karena massa Saya banyak. Ratusan, bahkan ribuan. Saya tidak bisa beralasan apapun untuk tidak menolak menyegel club malam, meskipun kadang perlu sedikit kekerasan” (Ini renungan ulama apa provokator?).

Kemudian Saya berpikir, “siapa sebenarnya orang Islam?” apakah yang setiap hari membawa tasbih dengan komat-kamit dzikir semu ala mbah dukun baca mantra? Atau yang teriak Allahu Akbar-nya paling kenceng? Apa mungkin yang terbanyak memecahkan kaca diskotik? Lagi-lagi, entahlah! Padahal mereka yang berbuat demikian memakai baju dakwah. Dakwah Islam lebih tepatnya. Dakwah membela Allah dan Rasul-Nya.
Benarkah demikian? (berontak Saya dalam hati, karena jika terang-terangan bukan tidak mungkin sasaran setelah diskotik adalah saya). Apakah kemudian apabila diskotik itu hancur luluh lantak, Allah senang karena melihat makhluk ciptaan-Nya telah membela-Nya? Saya pun tak habis pikir, padahal tiap hari saya mendengar dari mulut mereka (yang juga mengatakan sedang berdakwah) bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Aneh memang. Lain di bibir lain di perbuatan. Lalu apakah juga lain di hati? Itu munafiq namanya!

Saat berhenti di halaman empat puluh, pikiran saya tercerahkan oleh fenomena yang terjadi. Kata Wahib, “Tuhan adalah Maha Pengasih dan sumber segala kasih. Sedang di masjid atau langgar-langgar, dalam ucapan da’i-da’i kita, Tuhan tidak lebih mulia dari hantu yang menakutkan dengan neraka di tangan kanannya dan pecut api di tangan kirinya”.

Masih miris dalam ingatan saya, peristiwa beberapa bulan lalu tentang insiden monas. Walaupun hanya melihat di televisi, tapi setiap orang yang nuraninya masih normal termasuk Saya (Alah… Ngaku-ngaku), begitu merasakan kengerian wajah-wajah bringas Islam. Ketakutan anak-anak yang melihat kejadian itu dengan mata telanjang, teriak ibu-ibu sambil mencoba lari dari gumulan kerusuhan. Juga pemandangan brutal lain yang tak kalah menampakkan kebringasan manusia. Anehnya, mereka sama-sama menjunjung nama Islam. Sebenarnya “Islam” yang mana? Memang Islam ada berapa di belahan nusantara ini? Entahlah! Apa mungkin Islamnya Abu Bakar Baasyir berbeda dengan Islamnya Gus Dur? Atau Islamnya Habib Riziq tidak sama dengan Islamnya Hidayat Nur Wahid? Terus saya harus mengikuti Islam siapa? Islam yang bagaimana? Andai saja Wahib masih hidup, saya pasti tahu reaksi beliau saat menanggapi fenomena ber-Islamnya orang sekarang. Dengan begitu saya bisa yakin dan mengikuti pendapatnya. Tapi, apabila beliau mengatakan yang paling benar adalah Islamnya Rhoma Irama, apakah saya juga mesti ikut? Tambah bingung lagi bukan? Betulkah Islam telah menjadi pelangi yang warna-warni?

Yang jelas, Allah tak perlu pembelaan! (sedikit memaksakan memang). Dia lebih mampu membela diri tanpa bantuan makhluk-Nya yang notabene masih perlu pembelaan. Buat apa saya susah payah membela Allah, padahal membela diri melawan cerita kehidupan yang juga disutradarai-Nya saja tak becus? Percuma kawan! Sampai sekarang saya masih percaya bahwa Allah Maha Perkasa. Tanpa di bela pun Dia masih Tuhan kita. Bukankah lebih etis, tenaga yang diberikan-Nya saya gunakan untuk mencari uang agar kaya dan bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu meringankan beban makhluk-Nya yang menderita karena hidup di bawah titik kemiskinan? Pastinya ini lebih bermanfaat dari pada membuang tenaga untuk membela Sosok Yang Telah Terbela tanpa harus dibela (semua boleh tidak sepakat!).

Toleransi dan Dialog; sebuah kata kunci

Sebenarnya tidak begitu sulit kalau kita mau hidup harmonis dalam masyarakat plural. Prakteknya yaitu kita tidak hanya memahami dan menghormati budaya yang telah mengakar pada masyarakat kita, melainkan juga memahami dan menghormati (sengaja saya ulang) yang ada pada masyarakat lain. Memerhatikan hak dan kewajiban kita, bersamaan dengan menjunjung tinggi hak dan kewajiban orang lain. Bukan saja toleransi terhadap agama kita, tapi sedikit melatih toleransi kita terhadap agama lain. Lebih mendalam lagi, dengan belajar bersikap baik pada keyakinan dan aqidah yang telah dianut masyarakat di luar kita (karena hal ini bersifat sakral dan benar dalam perspektif mereka), dengan itu pula kita telah mantap dan yakin dengan aqidah dan keyakinan yang benar menurut kita.

Ijinkan saya mengutip pendapat Zuhairi Misrawi dalam Toleransi sebagai Kuasa Nilai (kompas, 24/05/2008) (bukan bermaksud memaksakan Anda untuk mengikuti pendapat Direktur Moderate Muslim Society tersebut); setidaknya ada dua modal yang dibutuhkan untuk membangun toleransi sebagai nilai kebajikan: pertama, toleransi membutuhkan interaksi sosial melalui percakapan dan pergaulan yang intensif. Kedua, membangun kepercayaan di antara pelbagai kelompok dan aliran (mutual trust).

Dialog sangat urgen fungsinya untuk mewujudkan sikap toleran. Tentunya dialog yang bertujuan mencari kesepahaman dalam perbedaan, bukan menimbulkan perbedaaan baru dalam perbedaan yang sudah ada. Saat NU dan Muhammadiyah (bukan bermaksud menonjolkan dua organisasi Islam ini, melainkan sebatas contoh) duduk dalam satu meja, tak akan mencapai kata sepakat jika rumpian yang mengalir berkutat seputar tawassul, qunut subuh, dan tahlil. Tetapi berbeda jika isu yang mereka bahas menyangkut bagaimana metode pemberantasan kemiskinan yang semakin lama semakin subur, kebodohan yang masih merajai bumi Nusantara, dan langkah apa yang harus mereka tempuh agar Indonesia berdiri sama tegak (kalau bisa melebihi) dengan Amerika. Pernahkah elit-elit Agamawan kita melakukan hal demikian?

Budaya dialog memang mulai menjamur di kalangan muslim Indonesia kerangka menyikapi berbagai polemik yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Siapapun bisa melihat di media cetak maupun elektronik. Namun, sampai kini substansi dialog masih sulit tergapai (karena apologis senantiasa mengiringi peserta dialog dengan banyak mengedepankan ke-Aku-an dalam setiap tutur pendapatnya). Paling banter, kita sebagai pemirsa dan pendengar hanya memetik tambahan wacana keilmuaan saja, tanpa melihat dan menemukan solusi alternatif yang bisa membuat legowo (menerima dengan ikhlas) masing-masing pihak. Gagalnya pengejawantahan nilai-nilai toleransi juga tidak lepas dari belum maksimalnya penanaman pendidikan multikulturalisme. Padahal, Tatang Iskarna (Dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta) berani menjamin bahwa pendidikan multikulturalisme akan membuka kesadaran masyarakat tentang adanya pengakuan dan penghormatan terhadap perbedaan latar belakang suku, agama, etnis, dan golongan. Lebih lanjut Dia menawarkan kepada kita untuk mencontoh Asrama Mahasiswa Multikultural Yogyakarta (Yogyakarta Multicultural Dorm). Yaitu asrama yang penghuninya berasal dari berbagai etnis, agama, dan suku, juga dari luar negeri. Mereka diberi kesempatan mengekspresikan sebebas-bebasnya mengenai latar belakang budaya yang selama ini dianut untuk kemudian saling memberikan pandangan yang bernuansa prasangka terhadap budaya lain melalui sistem dialog yang berkelanjutan.

Implementasi yang ditawarkan beliau saya anggap menarik karena berani membongkar paradigma kungkungan budaya yang selama ini melilit ruang pikir. Saya (kita) tak bisa memungkiri rasa berat dan enggan untuk memberikan ucapan selamat hari raya kepada umat lain. Tak salah ketika dalam Teologi Kebangsaan (Kompas, 9/5/2008) Yonky Karman memaparkan bahwa teologi keumatan membuat antar umat tidak saling menyapa dan tidak menjunjung toleransi. Umat mudah terjangkit rasa curiga, reaktif, bahkan agresif. Republik demokrasi pun tidak menjaga jarak dalam hal keyakinan agama. Negara terjebak wacana teologi keumatan. Lagi-lagi sebabnya ada dua hal yaitu sikap bahwa (aliran) agama sendiri sebagai yang terbaik serta overdosis dalam beragama dan soal-soal keagamaan, yang akhirnya mengembangkan sikap mudah menghakimi orang lain.

Akibatnya, timbul-lah pengkotak-kotakan dalam Islam dengan munculnya label Islam pelangi. Ada yang menyebut Islam garis keras, Islam moderat, Islam ala arab, Islam radikal, dan Islam-Islam lain. Inikah makna Islam rahmatan lil ‘alamin?

Padahal, Rasulullah Muhammad SAW (yang sampai saat ini saya (baca: muslim) percaya sebagai makhluk termulia setelah Allah Tuhan semesta alam) mengajarkan nilai-nilai edukatif kepada umatnya. Entah kapan, di mana, dan dari ulama aliran apa, saya pernah mendengar bahwa kita bisa disebut muslim jika mampu menjaga muslim lain dari tajamnya bibir dan jailnya tangan kita (teks arabnya saya [me]lupa karena memang bukan orang arab dan saya lebih bangga dengan bahasa saya). Jangankan memvonis sesat terhadap kelompok lain yang masih se-syahadat, lha wong menggosipkan saja tidak etis, apalagi sampai memukul, menyerang tempat ibadah, dan anarkisme lainnya yang juga mengusung nama Islam. Di mana kita meletakkan makna Islam? (Mungkin di pantat, tidak di jidat).

Wallahu A’lamu bi Shawab!

Catatan Akhir

sebenarnya tulisan ini Saya buat dan selesai pada Sabtu, 1 November 2008 sebagai bahan untuk mengikuti Kompetisi Pembuatan Esai Tingkat Nasional tentang Pemikiran Ahmad Wahib dalam Buku “Pergolakan Pemikira Islam”. Tapi, karena berbagai hal, naskah ini enggan (ku)selesai(kan). Dari pada mandeg di file komputer, lebih baik diposting aja. Mudah-mudahan menambah wacana baru dalam ruang pikir pembaca dan bermanfaat. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s