CINTA DALAM PANDANGAN ISLAM*


Fasilitator : Jazirotul Faida
Moderator : Ahmad Anif Syaifuddin
Notulen : Edi Susilo
Editor : Ahmad Saefudin

*Diskusi “TERAS KIT
A” pada Selasa, 20 Oktober 2009 di taman Kerang SMIK Jepara

Pada kesempatan yang indah ini, Alhamdulillah kita masih diberi kenikmatan oleh Allah SWT. atas limpahan rahmat, taufiq, dan hidayahnya kita masih bisa berkumpul dalam forum diskusi yang insyaallah akan bermanfaat bagi kita baik untuk kehidupan sekarang, maupun di masa yang akan datang. Shalawatullah wa salamuhu, semoga senantiasa hadir ke pangkuan baginda Nabi Muhammad SAW. mudah-mudahan dengan kita berdiskusi diiringi niat menjalankan sunnahnya, kelak kita termasuk golongan umat yang mendapatkan hadiah syafaatul udzma fi yaum al makhsyar. Amin.

Tulisan ini adalah hasil dari kajian diskusi rutinan TERAS KITA yang diadakan di Taman Kerang SMIK Jepara pada Selasa, 20 Oktober 2009 pukul 19.00-21.00 WIB dengan berbagai tambahan dan pengurangan seperlunya dari editor tanpa mengurangi substansi kesimpulan.

Bertindak sebagai fasilitator yang berperan membedah materi dengan judul “Cinta dalam Pandangan Islam”
adalah Sahabati Jazirotul Faida [Mahasiswa Fakultas Tarbiyah semester lima Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara] dengan dimoderatori oleh Ahmad Anif Syaifuddin (Mahasiswa Fakultas Dakwah semester tiga INISNU Jepara). Edi Susilo (teman satu angkatan fasilitator di kampus dan fakultas yang sama) didaulat sebagai notulen yang bertugas mencatat alur diskusi. Audiens yang hadir di antaranya: Anisa Rahmanti (Fakultas Tarbiyah semester satu INISNU Jepara), Rina, Misbahul Ulum, Muhimmatun Nisa’, Shofiatul Hanifah (Semuanya adalah mahasiswa Fakultas Tarbiyah semester tiga INISNU Jepara), Ali Shodikin, Purwanto (mahasiswa Fakultas Syariah semester tiga INISNU Jepara), Muhammad Hasan (Mahasiswa Fakultas Dakwah semester lima INISNU Jepara), dan Ahmad Saefudin (Mahasiswa Fakultas Tarbiyah INISNU Jepara yang masih bergulat pada penyelesaian tugas akhir; skripsi). Setelah moderator membuka acara dengan surat Al Fatikhah, maka obrolan pun dimulai.

Membahas cinta menjadi hal menarik, apalagi jika kita kontekskan dengan remaja Muslim. Timbul pertanyaan, bagaimana remaja Muslim era kontemporer memandang cinta perspektif Islam?
Sepintas, ketika mendengar istilah cinta, yang terbeslit dalam mind set kita identik dengan pacaran.

Karenanya, perlu kita bedakan dulu makna definitif antara cinta dan pacaran. Merujuk kepada Kamus Ilmiah Populer karya Pius A Partanto dan M Dahlan Al Barry, definisi cinta adalah kasih-sayang; rasa kasih; asmara . Budiono dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia menambahkan bahwa cinta adalah birahi; menyukai. Sedangkan pacaran –masih menurut Budiono- berakar dari kata pacar yang berarti teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih. Berpacaran maknanya adalah bercintaan atau berkasih-kasihan.

Ditinjau dari definisi di atas, berarti ada perbedaan mendasar antara cinta dengan pacaran. Istilah yang kedua ini lebih menekankan pada proses hubungan antara teman lawan jenis dengan landasan cinta sebagai pijakannya. Bisa disimpulkan bahwa hubungan Pacaran, sesuai dengan paparan Budiono, bisa dilandasi dengan rasa kasih sayang di satu sisi, juga bisa diikuti oleh birahi (nafsu) pada sisi yang lain.

Menjawab pertanyaan, bagaimana cinta dalam pandangan Islam dan bagaimana remaja Muslim kontemporer mengartikan cinta, ada baiknya Kita diskusikan bersama agar kesimpulan yang nanti muncul tidak terkesan subjektif.

Paling tidak, ada 3 macam tingkatan cinta menurut Fasilitator sesuai dengan apa yang dikatakan ‘Abdullah Nashih Ulwan dalam karyanya Cinta dalam Pandangan Islam antara lain:

Pertama, fenomena cinta tingkat tinggi. Yaitu cinta manusia baik laki-laki maupun perempuan kepada Allah Yang Maha Mencintai dan Rasulullah Muhammad SAW. Derajat ini tidak semua orang bisa meraihnya. Hanya mereka yang mempunyai kejernihan hati dan kekayaan ilmu sehingga bisa menancapkan kesungguhan cinta nya kepada Sang Maha Pecinta; Allah SWT. dan Kekasih-Nya; Muhammad SAW. mengalahkan kecintaannya kepada dunia seisinya. Siapa mereka? Kita tidak akan menyebutkan inisial nama, karena takut terlalu lancang menghakimi seseorang. Silahkan membaca kembali literature (Al Qur’an, Hadits, ataupun buku-buku sejarah yang mengisahkan orang-orang saleh), kemudian renungkan untuk mendapatkan jawabannya.

Kedua, cinta tingkat menengah, yaitu cinta kepada sesama Muslim, kerabat, dan cinta yang terbungkus dalam jalinan persahabatan. Cinta pada tahap inilah yang umumnya dialami mayoritas umat manusia. Cinta ibu kepada anak, cinta antar suami isteri, dan cinta antar teman.
Ketiga, cinta tingkat bawah, yaitu cinta manusia kepada musuh-musuh Allah SWT. dan taghut. Realita cinta pada kasta ini sering kita lihat dalam diri kita. Jika kita mencintai harta melebihi cinta kita kepada-Nya, sehingga demi mendapatkan serpihan rupiah kita lari dari bingkai ketakwaan dan menerjang koridor-koridor syar’iyyah, bukan tidak mungkin kita termasuk golongan pecinta pada fase ini. Jadi, taghut di sini bukan saja dimaknai berhala-berhala, dewa-dewa, ataupun makhluk-makhluk mistis seperti jin yang semasa Islam awal (dan bahkan sampai sekarang) disembah oleh manusia-manusia laknat. Taghut zaman modern bisa berupa apa pun yang intinya dapat melalaikan kita dari Tuhan Yang Maha Tahu.

‘Abdullah Nasih Ulwan dalam menerangkan fenomena cinta dalam tahapan ini juga sempat menyitir QS. At Taubah ayat 24 yang dalam terjemahannya:

“Katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, pasangan-pasangan, dan kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai dari pada Allah, Rasul-Nya, dan (daripada) jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendapatkan siksa-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasiq”. (QS. At Taubah [9]: 24).

Nampaknya, bukan pekerjaan mudah dan memerlukan proses panjang serta keseriusan berlatih ketika kita mencoba beranjak dari fenomena cinta dari klasifikasi terrendah hingga derajat tertinggi. Bisakah kita melakukannya?

Selain klasifikasi cinta di atas http://rajasidi.multiply.com/journal/item/1842 menjelaskan 8 definisi cinta menurut Al Qur’an, yaitu:

1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih
memperhatikan orang yang dicintainya dibanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu, maka dalam Al Qur’an, kerabat disebut al arham, dzawi al arham, yakni

orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.

Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu bersilaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.

3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan.
Cinta jenis mail ini dalam Al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama (isteri tua).

4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku menyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengisahkan
bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (QS/12:33).

7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari Al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan Al Qur’an. Dalam Surat Al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa iltihab naruha fi qalb al muhibbi.

8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positif meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut Al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286).

Gerayangilah diri kita dan tanyakan serta jawablah dengan jujur (jangan membohongi diri sendiri); jenis cinta apakah yang sekarang terjadi pada kita?

Diskusi kita lebih hangat ketika disambung dengan tanya jawab dan saling memberi tanggapan antara fasilitator dengan audiens.

Komentar pertama dari audiens datang dari sahabat Muhammad Hasan. Berdasarkan pengalamananya, Dia mengemukakan bahwa cinta pada hakikatnya adalah fitrah yang dianugerahkan Allah SWT. kepada hamba-Nya. Namun, kita sebagai remaja, terkadang salah dalam menerjemahkan cinta sehingga berimbas pada perilaku menyimpang. Apalagi jika kita ngomong masalah pacaran. Dalam Islam, tidak ada istilah pacaran. Yang ada adalah ta’aruf yaitu proses perkenalan antara calon suami dan calon isteri sebelum memasuki gerbang pernikahan.

Tak bisa dipungkiri, kalangan kita dewasa ini tidak sedikit melakukan hal-hal yang sebenarnya di larang oleh agama, hanya karena balutan kisah pacaran. Dari yang paling ringan; berpegangan tangan (dengan pijakan nafsu), sedang; cipika-cipiki, dan berat; bersetubuh di luar nikah –naudzu billah min dzalik-.

“Bagaimana kita mencegah perbuatan-perbuatan yang dikhawatirkan akan menjerumuskan ke dalam lembah nista di atas? Benarkah dengan mengurangi intensitas pertemuan dengan pacar, akan menjamin jalinan cinta sesuai aturan-aturan agama?”, Tanya Muhimmatun Nisa’.

Belum tentu. Itu lah jawabnya. Intensitas pertemuan dengan pacar yang dikurangi belum bisa dijadikan jaminan bagi muda-mudi yang sedang mabuk cinta untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang notebene melanggar rambu-rambu normatif agama.

Banyak instrument yang perlu kita siapkan agar cinta fitri karunia Tuhan tidak disalahgunakan dalam pacaran. Tak ada rumus baku sebagai patokan dasar untuk menjaga kesucian cinta. Jika boleh memberikan sedikit resep yang mudah-mudahan manjur untuk menjaga diri dalam proses pacaran, antara lain:

1. Tanamkan rasa “hormat” kepada kekasih kita sebagaimana kita menghormati orang-orang yang dianggap paling pantas untuk kita hormati.

2. Tata hati dan niat kita sebelum menerjunkan diri dalam hubungan pacaran. Pikirkan manfaat dan kerugiannya, tentukan tujuannya sesuai garis-garis Al Qur’an, dan jangan permainkan cinta fitri kita dengan berlindung di balik topeng pacaran.

3. Belum disebut cinta hakiki (yang datang dari-Nya), ketika kita mencintai makhluk-Nya melebihi cinta kita kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya.

Demikian paper sederhana ini tersusun, dengan harapan mampu memberikan wacana baru bagi kita remaja
Muslim yang ingin mencapai cinta hakiki. Sampai jumpa di even-even TERAS KITA mendatang dengan kajian lebih menarik lainnya. Wallahu a’lam bi shawab!

SALAM “TERAS KITA”! (Dijawab serempak dengan…) NGOJE……..K!

DAFTAR PUSTAKA

Buku
Budiono., Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya: Karya Agung, 2005.
Partanto, Pius A dan Al Barry, M. Dahlan., Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arkola, 1994.
Ulwan, ‘Abdullah Nasih., Cinta dalam Pandangan Islam, terj. H. M. Nur Hasan dan Kasimun, Jakarta: Irsyad Baitus Salam, 2007, Cet. 10.

Internet
http://rajasidi.multiply.com/journal/item/1842

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s