REFLEKSI PENGKADERAN PMII JEPARA


Tangan Terkepal dan Maju ke Muka
Tangan Terkepal dan Maju ke Muka

NGOBROL BARENG MBAK MAYA[1]

TENTANG REFLEKSI PENGKADERAN PMII 2009[2]

OLEH: AHMAD SAEFUDIN

Murah senyum, itulah kesan pertama jika kita melihat sosok Mbak Maya. Perempuan asli Jepara ini masih fasih ketika membincangkan problematika pengkaderan yang dihadapi PMII. Setelah lama tidak bertemu dengan koordinator LAKPESDAM NU Jepara ini, akhirnya beliau menyempatkan waktunya untuk sekedar berbagi pengalaman dengan kader-kader PMII.

Sebagai mukadimah beliau mangusulkan agar semua audiens yang terdiri dari pengurus Cabang, Komisariat, dan Rayon untuk mengeksplorasi problematika sistem kaderisasi yang selama ini berjalan. Tujuannya adalah untuk mengerucutkan tema apa yang akan menjadi topik pembicaraan dalam obrolan. Selain itu, eksplorasi ini juga dimaksudkan untuk meng-up date mindset beliau pasca sekian lama jarang kongkow bareng mengulas dunia pergerakan. Maklum, karena sebagian besar waktunya dipusatkan untuk mengurusi LAKPESDAM dan kuliah S2 nya.

Mengawali perbincangan, sahabat Zaenal Arifin yang juga Ketua Umum PMII periode 2008-2009 menjelaskan bahwa agenda penting pengurus cabang terkait dengan kaderisasi yaitu membedah hasil loka karya yang terumuskan pada masa sahabat Harun Salim (2004).Konklusi yang nanti tersepakati akan menjadi bahan loka karya pengkaderan PMII Jepara akhir bulan ini (Pebruari). Kader PMII asal Keling Donorojo ini juga meminta saran kritik dari para alumni terutama Mbak Maya supaya ruh gerakan tetap tertanam dalam jiwa kader.

Paparan tersebut kemudian berkembang menjadi diskusi menarik. Mbak Maya, meskipun diundang sebagi nara sumber, menerapkan metode andragogi sehingga pertemuan itu tidak berlangsung monoton. Peserta bebas menungkapkan keluh kesah, kegundahan, dan kendala-kendala dalam internal maupun eksternal organisasi.

Menyambung paparan Kang Klunthung, panggilan akrab sahabat Ketua Umum, Nor Sholeh menegaskan jika momen ini adalah salah satu dari rangkaian praloka karya. Kader dari Troso Jepara yang dalam masa ini menjabat sebagai Kabid III bidang keagamaan pengurus cabang PMII, megusulkan agar nara sumber mengupas aspek historisitas struktural cabang dari masa ke masa. Ini penting, masih menurutnya, karena dengan belajar sejarah, kita akan memahami lika-liku pergulatan gerakan dengan segala hiruk pikuknya sebagai referensi berharga guna menatap masa depan.

Persoalan klasik namun aktual dan selalu seksi dalam kaca mata kaderisasi masih berputar dalam bingkai yang sama. Dari waktu ke waktu, problem abadi organisasi adalah apatisme, hedonisme, dan pragmatisme kader. Mereka yang masuk PMII dewasa ini cenderung menginginkan hasil instan. Orientasi mereka kalau boleh menganut system ekonomi pasar yaitu keluar modal sedikit mungkin, untuk mencapai laba sebanyak-banyaknya. PMII dituntut untuk selalu memanjakan keinginan kader. Tipologi seperti ini mangakibatkan output pengkaderan melenceng dari garis ideal. Karena mengesampingkan proses dan mengutamakan hasil, maka PMII menghasilkan motif kader karbitan plus oposan. Loyalitas yang tertanam pun kurang begitu mengakar dalam jiwa.

Kita juga perlu merefleksikan system yang sejauh ini menjadi formula kaderisasi. Belum adanya standar baku, indicator yang spesifik, dan format yang selalu berubah menyebabkan kita sulit untuk mengukur tinkat keberhasilan pengkaderan. Lagi-lagi, kita sering terjebak pada bentuk pengkaderan structural dan formal.

Pengkaderan structural lebih mengandalkan posisi kepengurusan mulai tingkat PB sampai Rayon dan melahirkan metode top down bergaya instuksional. Pola seperti ini secara tidak sadar membungkam kreatifitas dan menimbulkan efek ketergantungan kader yang berada pada jajaran structural tingkat bawah. Konkritnya, pengurus rayon tak akan bergerak jika tidak mendapat instruksi komisariat. Komisariat selalu menunggu tuntunan cabang, cabang pun menanti fatwa pengurus PKC. Tugas pengkaderan tertumpu pada PB yang pada hakikatnya tidak bersinggungan langsung dengan kader jelata.

Kelemahan system kaderisasi structural yang lain ialah mendistorsi loyalitas dan tanggung jawab mantan pengurus. Bayangkan saja ketika sudah tak lagi menduduki kursi sruktur organisasi, bukan tidak mustahil dari mereka yang terberangus rasa tanggung jawabnya terhadap pendampingan kader.

Keterperangkapan kita pada model pengkaderan formal juga menjadi kendala. Pada kognisi kita, kesuksesan pengkaderan bisa terukur dari keberhasilan melaksanakan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA), Pelatihan Kader Dasar (PKD), dan Pelatihan Kader Lanjut (PKL). Padahal, pengkaderan formal merupakan sub dari skema besar system kaderisasi di PMII. Sangat munafik saat kita mendewakan MAPABA yang hanya beberapa hari, PKD yang begitu singkat, dan PKL yang belum tentu ada tiap tahunnya, sebagai senjata untuk mencetak kader PMII bertitel ulul albab.

Salah satu tawaran yang bisa dirumusakan supaya pengkaderan PMII efektif ialah memaksimalkan model pengkaderan informal. Bagaimana keseharian kita di PMII, sapaan kita terhadap kader (meskipun sekedar basa-basi), dan hal-halkecil yang menurut kita remeh, justeru itulah yang kadang membuat kader merasa diperhatikan. Dengan demikian, sense of belonging (rasa memiliki) terhadap PMII membumi dalam relung hati. PMII bukan semata organisasi eksternal kampus, tetapi lebih dari itu, PMII dianggap sebagai rumah kedua mereka.

Secara teori PB PMII telah merumuskan gambaran umum tentang kondisi dan situasi mahasiswa kontemporer, di antaranya:[3]

  1. Apatis.

Yaitu acuh tak acuh terhadap keadaan social dan politik.

  1. Pragmatis.

Ciri-cirinya adalah memperhitungkan keuntungan dan manfaat pribadi yang sifatnya sesaat. Selain itu, mereka (baca: mahasiawa) memilih organisasi yang secara langsung mendukung perkuliahan dan menjamin masa depan.

  1. Hedonis.

Adalah mahasiswa yang gemar bersenang-senang.

  1. Agamis.

Mahasiswa yang mengutamakan religiusitas formal-simbolis.

  1. Idolisasi.

Mahasiswa yang mencari panutan dan tauladan berupa tokoh atau figure untuk ditiru baik dalam hal intelektualitas, religiusitas, akademik, dan aktivis sosial.

  1. Citra mahasiswa aktivis.

Biasanya image tipe ini adalah nilainya anjlok, lulus lambat. IPK rendah, masa depan monolitik (politik dan sosial).

  1. Idealis.

Suka menggebu-gebu dalam menyikapi keadaan sekeliling (social, ekonomi, politik, agama) dan berpandangan biner (benar-salah).

Termasuk dalam tipologi mahasiswa yang seperti apa diri kita? Raba relung hati sejenak dan refleksikan bersama!

Jikka mau ditambahkan, factor penghambat kaderisasi PMII disamping hal di atas adalah:

1.Pendampingan kader

2.Format pengkaderan belum jelas aplikasinya.

3.Indikator keberhasilan pengkaderan belum terstandarisasi.

4.Terjebak pada pengkaderan struktural

5.Terjebak pada pengkaderan formal dan non formal

6.Loyalitas kader berkurang.

Setelah ngalor-ngidul berwacana ria, akhirnya Mbak Maya mendapat giliran. Menurutnya, strategi pengkaderan MLM sebenarnya sudah lama didengungkan sejak beliau menjadi ketua cabang. Formula MLM dianggap paling efektif namun kendalanya adalah kapasitas dan kompetensi para pendamping. Problemnya ada di metodologi pendekatan. Kadang kita tidak mengetahui kultur dan latar belakang kader.

Langkah awal yang harus segera dilakukan adalah membentuk para pendamping terkait dengan skill maupun kompetensi intelektualnya. Penuhi otak mereka dengan formulasi pengkaderan yang tepat sesuai konteks kader. Sekarang mayoritas dari kita sedang mengalami defisit keikhlasan. Sense of belonging (rasa memiliki) terhadap PMII perlu ditanamkan. Caranya? Internalisasi NDP dan memahamkan tujuan PMII kepada kader. Apakah jiwa kita sudah menubuh dengan NDP dan citra diri PMII?

Problem materi dalam PMII bukanlah kendala utama jika kita tetap ingat terhadap tujuan PMII. Ketika kita berjalan, tanpa ada tujuan yang jelas ibarat orang mabuk. Ketika ini sudah tertanam dalam jiwa, kita akan meninggalkan organisasi pun akan merasa berdosa. Jadikanlah PMII untuk mencapai tujuan kita.

Sebelum melakukan gerakan praktis kita harus memenuhi otak kita dengan berbagai wacana yang dibutuhkan. Kita sah saja berpikir sesuatu yang besar, tetapi juga harus berani melakukan hal yang kecil. Kita masih lemah dalam model kepemimpinan. Supaya tidak bosan, kita harus kreatif dalam mengemas bungkus kegiatan sehari-hari organisasi. Contoh nyata dengan cara membuat angket tentang kesukaan dan ketidaksukaan kader pada awal masa kepengurusan. Kalau memang problem dana menjadi sangat krusial, maka perlu adanya konsep jelas tentang pencarian materi.

Cabang harus segera melakukan up grading calon-calon pengkader masa depan.

Pola pengkaderan PC PMII Jepara harus rigit dan seoperasional mungkin.


[1] Nama lengkapnya Maya Dina Musfiroh (Ketua Umum PC PMII Jepara tahun 2003)

[2] Dilaksanakan DI Kantor PC PMII Jepara pada hari Sabtu, 7 Pebruari 2009 pukul 20.22 WIB.

[3] PB PMII, Multi Level Strategi Gerakan PMII, Jakarta, Desember 2006.

Iklan

4 Replies to “REFLEKSI PENGKADERAN PMII JEPARA”

  1. Acara ini dah lama banget sahabat! Tapi masih ada kesempatan untuk kita memikirkan nasib pengkaderan. Terutama PC PMII Jepara. Tetap semangat TANGAN TERKEPAL DAN MAJU KEMUKA!

  2. Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    artikelnya sangat bagus, sahabat..
    salam kenal dari Komisariat Merdeka (UNMER) Malang
    Wallahul muwafiq ilaa aqwamittharieq..

  3. Waalaikum Salam Sahabat! Dengungkan selalu SUMPAH MAHASISWA. “Kami Mahasiswa-Mahasiswi Indonesia bersumpah: Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan. Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan. Berbahasa satu, bahasa kebenaran. Hidup Mahasiswa!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s