TEORI KIRI II


[Karl_Marx,_Friedrich_Engels]_The_German_Ideology,(BookFi.org) [Karl_Marx,_Friedrich_Engels]_The_German_Ideology_(BookFi.org) ‘Bacaan Liar’ Budaya dan Politik pada Zaman Pergerakan Anti-Duhring, Revolusi Herr Eugen Duhring dalam Ilmu Pengetahuan (Engels) Bab1, Memahami Globalisasi dan Neoliberalisme di Indonesia bentuk2 interaksi Bergerak di Hindia Belanda_ Mosaik Bacaan Kaoem Pergerakan Tempo Doeloe BMoeliono0901 Boemipoetra edisi kedua 2007 Buku Neolib Che_Guevara_-_Revolusi_Kuba Contemporary Materialism Dari ‘Kiri’ Menjadi ‘Kanan’_ Pergeseran Ideologi Semaoen dalam ‘Tenaga Manusia…’ Dibawahlenteramerah.soehokgie Diskusi Marxisme Di Indonesia–Marx Muda Dan Marx Tua—Ruang Granada, Jum`at, 15 Juni 2007 Dunia Ketiga Dari dan Ke mana_ Negara Protektif Versus Pasar Agresif durkheim GEORGE NOVACK-Pengantar Logika GEORGE NOVACK-Sejarah Internasionale Goenawan-Mohammad Haji Misbach Islam Kiri_ Melawan Kapitalisme Modal Dari Wacana Menuju Gerakan Kamus Ketjil Istilah Marxis kapital2-bag1 karl-marx_kerja-upahan konversi-modal-sosial-menuju-modal-politik Lekra vs Manikebu_ Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965 Logika Marx Marxisme Berkembang Maju (Bagian I)_ Tentang Perjuangan Kelas dan Diktatur Proletariat Marxisme Tiongkok dalam Pergolakan (1978-1984) Marx-is-Me neokonservatisme dan politik As njoto_marxisme_ilmu dan amalnya PA-Adam Smith’s Political Philosophy pertarungan elite politik Plekhanov_fundamental problems of marxisme Plekhanov_Seni dan kehidupan Sosial plekhanov_Sosialisme Utopian problems marxisme Rosa Luxemburg-biografi The Economics of Karl Marx tradisi-marxisme-di-nusantara WTO dan Sistem Pangan Dunia_ Suatu Pendekatan Serikat Pekerja

TUHAN! APAKAH ENGKAU TIDAK MENEMUI MEREKA?


Oleh: Ahmad Saefudin

Tuhan! Tidak sedikit dari mereka yang mencari-Mu di masjid dan mushalla. Di balik lipatan-lipatan mushaf. Di pojok-pojok pesantren. Di bangku sekolah dan universitas berlabel “Islam”. Di sepertiga malam terakhir. Di sekeliling Ka’bah. Di majelis-majelis pengajian.

Namun, sehabis dari masjid dan mushalla, mereka tetap saja memusuhi gereja, wihara, klenteng, dan tempat-tempat ibadah lain yang juga digunakan oleh mahluk-Mu. Sesudah membaca kalam-Mu, mereka masih saja mengambil hak-Mu, untuk menilai manusia mana yang benar dan yang salah, iman atau kafir, surga atau neraka, bahkan jika perlu, mereka menyitir ayat-ayat-Mu. Sepulang mengaji dari pesantren, mereka masih risau dengan persoalan khilafiyah, qunut, tahlil, dan bilangan rakaat tarawih, seolah mereka lupa, kalau semua itu hanyalah cara pandang fuqaha’ untuk membumikan syariat agar mudah dijalani. Pasca lulus dari jagat akademik, mereka masih tabu mengambil seperangkat disiplin ilmu pengetahuan yang datang dari luar Islam, senantiasa berpikir dikotomis, “ini” ilmu Islami, sementara “itu” ilmu sekuler. Lantunan zikir dan doa pada saat tahajud, selalu diakhiri dengan rapalan serapah, yang menjelek-jelekkan manusia lain di luar agamanya. Sekembali dari haji dan umrah, kepongahan mereka menjadi-jadi. Tanpa embel-embel “Pak Haji,” mereka enggan menoleh saat disapa. Begitu juga ketika majelis pengajian berakhir, mutiara kata dari para mubalig dan ustaz seakan-akan sirna tanpa bekas, seperti taburan debu di atas batu yang tersapu lebatnya air hujan.

Tuhan! Sejatinya, apakah Engkau tidak menemui mereka? Atau Mereka tidak bertemu Engkau? Ketika mereka mencari-Mu di masjid dan mushalla, di balik lipatan-lipatan mushaf, di pojok-pojok pesantren, di bangku sekolah dan universitas berlabel “Islam”, di sepertiga malam terakhir, di sekeliling Ka’bah dan di majelis-majelis pengajian?

Yogyakarta, Rabu, 1 Juli 2015

Al-QUR’AN LANGGAM JAWA: ANTARA SAKRALITAS WAHYU TUHAN DAN BUDAYA PROFAN MANUSIA


Oleh: Ahmad Saefudin

Sebagian kalangan umat Islam merasa kebakaran jenggot ketika mendengar lantunan al-Qur’an bercengkok Jawa. Mereka tidak menyadari, atau lebih tepatnya belum bisa membedakan antara “langgam” -yang notabene sebagai produk budaya hasil olah pikir manusia- yang dengan sendirinya bersifat profan dan dinamis berdasarkan konteks ruang dan waktu dengan “al-Qur’an” itu sendiri sebagai wahyu Tuhan yang sakral dan statis.

Semestinya, praktik progresif yang terejawantah dalam seni tilawah yang dilakukan oleh Muhammad Yasser Arafat, akademisi UIN Sunan Kalijaga saat peringatan Isra’ Mi’raj 1436 H/2015 M di Istana Negara Jakarta beberapa waktu lalu, diapresiasi secara positif. Mengapa? Indonesia sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sudah waktunya melakukan ekspansi hegemonik melalui pemikiran-pemikiran inovatif di bidang kajian keislaman -yang sementara ini masih didominasi oleh Timur Tengah-. Menyusupkan langgam Jawa hanyalah salah satu cara menuju ke arah tersebut. Ayat al-Qur’an yang dilantunkan dengan suara merdu nan gemulai ala Jawa (dan bisa juga versi Melayu, Bugis, Madura, dll.) sepanjang tidak keluar dari koridor Ilmu Tajwid dan bukan bermaksud menghinakan, apalagi merubah substansi makna al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup umat Islam, justru mencerminkan keluasan mukjizat al-Qur’an dalam aspek seni dan budaya. Langgam Jawa tak ubahnya seperti kaidah seni tilawah mainstream yang selama ini kita dengar, misalnya bayyati (qoror, nawa, jawab, jawabul jawab), shoba (awal maqom shoba, asyiron, ajami, quflah bustanjar), nahawand, hijaz, rost, sika, dan jiharka.

Perlu diingat, pada awalnya, Kalam Tuhan yang turun kepada Nabi bersifat auditori dan verbatim. Baru beberapa abad kemudian, setelah melalui proses panjang yang selektif, Khalifah Usman bin Affan berhasil mengkodifikasikan al-Qur’an secara utuh (30 Juz) dalam bentuk keaksaraan (literacy). Hal ini terjadi, mengingat kuantitas umat Islam yang terus bertambah, bukan hanya dari kalangan Arab, melainkan juga golongan ‘ajam (non-arab). Perubahan aspek auditori ke literasi merupakan hasil konvensi atas perenungan radikal dan mendalam oleh elit intelektual muslim pada zamannya. Siklus ini akan terus bergerak mengikuti arus budaya. Begitu juga, perubahan domain literasi ke auditori.

Sebagai epilog, saya tegaskan sekali lagi, langgam Jawa ataupun cengkok lain yang bersumber dari budaya Nusantara mampu berdiri sejajar dengan langgam-langgam lain yang sudah terlebih dahulu ada dan sama sekali tidak mereduksi keagungan al-Qur’an sebagai mukjizat Nabi Muhammad yang terbesar.

Yogyakarta, 27 Mei 2015 di Pojok Sempit Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

TEORI-TEORI KIRI


20313208-S43683-Materialisme, Dialektika Aidit (1952) – Menempuh Jalan Rakyat Aidit (1963) – PKI dan AD R Aidit (1964) – Politik Luar Negeri Alimin (1947) – Analisis anti-duhring BUKU PANDUAN_PELATIHAN BASIS_MANIFESTO WACANA KIRI CC PKI (1950) – Partai Tipe Baru R GRAMSCIN kapital2-bag1 kapital2-bag2 kapital2-bag3 kapital3-bab1-20 kapital3-bab21-36 kapital3-bab37-43 kapital3-bab44-52 logikamarx marxisme-ilmu-dan-amalnya-njoto-1962 Masalah Dasar Marxixme MasalahPerumahan Mulyanto-review-MATM-2-13 Menemukan Indonesia On-DKapital seni Tan Malaka (1948) – Nasrani Dalam Tinjauan Madilog R UpahHargaLaba utopian

LITERASI PEREMPUAN


LITERASI PEREMPUAN
Oleh: Ahmad Saefudin
(Alumni Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara dan sekarang sedang menyelesaikan Program Pascasarjana di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

ABSTRAK

Ahmad Saefudin. Literasi Perempuan. Tulisan ini berupaya menjernihkan status perempuan dari justifikasi negatif yang diproduksi oleh kultur sosial, merekonstruksi realitas perspektif gender dan melakukan dekonstruksi terhadap diskursus mapan tentang perempuan.

Pendekatan analisis wacana kritis digunakan untuk mendudukkan wacana perempuan sebagai sebuah bentuk praktik sosial yang menyiratkan hubungan dialektik antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi sosial yang mewadahinya. Penulis berusaha mencari efek ideologis yang sering kali tidak jelas dan tersembunyi.

Kesimpulan: 1) Kisah Drama Kosmis muncul dari ideologi penafsiran al-qur’an yang bersifat justifikatif-rasialistik. Hal ini akibat dari kegagapan penafsir (pada saat itu) dalam menjelaskan peristiwa menstruasi dari sudut pandang saintifik. 2) Praktik berhijab pada perempuan terdorong oleh wacana ideologis, motif kultural-sosiologis, dan rentan dengan penyusupan agenda-agenda kapitalisme global. 3) Mitos “cantik” bagi perempuan hanyalah citra tubuh yang dipersepsikan oleh lingkungan sekitar.

Saran dari penulis di antaranya: 1) Kaum perempuan hendaknya terus melakukan gerakan literasi, mengkaji secara elaboratif terminologi tafsir tendensius yang dilahirkan dari wacana dominan. 2) Perempuan seyogyanya berhati-hati ketika memutuskan berhijab. Jangan sampai laku mulia ini tercemari kepentingan oportunistik agen kapitalis yang ingin meluaskan lahan bisnis dan komoditinya. 3) Perempuan sebaiknya tidak larut oleh wacana citra “cantik” yang bersifat simbolik (fisik).

Kata kunci: literasi, drama kosmis, hijab, cantik. Baca Selengkapnya…