Al-QUR’AN LANGGAM JAWA: ANTARA SAKRALITAS WAHYU TUHAN DAN BUDAYA PROFAN MANUSIA


Oleh: Ahmad Saefudin

Sebagian kalangan umat Islam merasa kebakaran jenggot ketika mendengar lantunan al-Qur’an bercengkok Jawa. Mereka tidak menyadari, atau lebih tepatnya belum bisa membedakan antara “langgam” -yang notabene sebagai produk budaya hasil olah pikir manusia- yang dengan sendirinya bersifat profan dan dinamis berdasarkan konteks ruang dan waktu dengan “al-Qur’an” itu sendiri sebagai wahyu Tuhan yang sakral dan statis.

Semestinya, praktik progresif yang terejawantah dalam seni tilawah yang dilakukan oleh Muhammad Yasser Arafat, akademisi UIN Sunan Kalijaga saat peringatan Isra’ Mi’raj 1436 H/2015 M di Istana Negara Jakarta beberapa waktu lalu, diapresiasi secara positif. Mengapa? Indonesia sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia sudah waktunya melakukan ekspansi hegemonik melalui pemikiran-pemikiran inovatif di bidang kajian keislaman -yang sementara ini masih didominasi oleh Timur Tengah-. Menyusupkan langgam Jawa hanyalah salah satu cara menuju ke arah tersebut. Ayat al-Qur’an yang dilantunkan dengan suara merdu nan gemulai ala Jawa (dan bisa juga versi Melayu, Bugis, Madura, dll.) sepanjang tidak keluar dari koridor Ilmu Tajwid dan bukan bermaksud menghinakan, apalagi merubah substansi makna al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup umat Islam, justru mencerminkan keluasan mukjizat al-Qur’an dalam aspek seni dan budaya. Langgam Jawa tak ubahnya seperti kaidah seni tilawah mainstream yang selama ini kita dengar, misalnya bayyati (qoror, nawa, jawab, jawabul jawab), shoba (awal maqom shoba, asyiron, ajami, quflah bustanjar), nahawand, hijaz, rost, sika, dan jiharka.

Perlu diingat, pada awalnya, Kalam Tuhan yang turun kepada Nabi bersifat auditori dan verbatim. Baru beberapa abad kemudian, setelah melalui proses panjang yang selektif, Khalifah Usman bin Affan berhasil mengkodifikasikan al-Qur’an secara utuh (30 Juz) dalam bentuk keaksaraan (literacy). Hal ini terjadi, mengingat kuantitas umat Islam yang terus bertambah, bukan hanya dari kalangan Arab, melainkan juga golongan ‘ajam (non-arab). Perubahan aspek auditori ke literasi merupakan hasil konvensi atas perenungan radikal dan mendalam oleh elit intelektual muslim pada zamannya. Siklus ini akan terus bergerak mengikuti arus budaya. Begitu juga, perubahan domain literasi ke auditori.

Sebagai epilog, saya tegaskan sekali lagi, langgam Jawa ataupun cengkok lain yang bersumber dari budaya Nusantara mampu berdiri sejajar dengan langgam-langgam lain yang sudah terlebih dahulu ada dan sama sekali tidak mereduksi keagungan al-Qur’an sebagai mukjizat Nabi Muhammad yang terbesar.

Yogyakarta, 27 Mei 2015 di Pojok Sempit Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

TEORI-TEORI KIRI


20313208-S43683-Materialisme, Dialektika Aidit (1952) – Menempuh Jalan Rakyat Aidit (1963) – PKI dan AD R Aidit (1964) – Politik Luar Negeri Alimin (1947) – Analisis anti-duhring BUKU PANDUAN_PELATIHAN BASIS_MANIFESTO WACANA KIRI CC PKI (1950) – Partai Tipe Baru R GRAMSCIN kapital2-bag1 kapital2-bag2 kapital2-bag3 kapital3-bab1-20 kapital3-bab21-36 kapital3-bab37-43 kapital3-bab44-52 logikamarx marxisme-ilmu-dan-amalnya-njoto-1962 Masalah Dasar Marxixme MasalahPerumahan Mulyanto-review-MATM-2-13 Menemukan Indonesia On-DKapital seni Tan Malaka (1948) – Nasrani Dalam Tinjauan Madilog R UpahHargaLaba utopian

LITERASI PEREMPUAN


LITERASI PEREMPUAN
Oleh: Ahmad Saefudin
(Alumni Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara dan sekarang sedang menyelesaikan Program Pascasarjana di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

ABSTRAK

Ahmad Saefudin. Literasi Perempuan. Tulisan ini berupaya menjernihkan status perempuan dari justifikasi negatif yang diproduksi oleh kultur sosial, merekonstruksi realitas perspektif gender dan melakukan dekonstruksi terhadap diskursus mapan tentang perempuan.

Pendekatan analisis wacana kritis digunakan untuk mendudukkan wacana perempuan sebagai sebuah bentuk praktik sosial yang menyiratkan hubungan dialektik antara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi sosial yang mewadahinya. Penulis berusaha mencari efek ideologis yang sering kali tidak jelas dan tersembunyi.

Kesimpulan: 1) Kisah Drama Kosmis muncul dari ideologi penafsiran al-qur’an yang bersifat justifikatif-rasialistik. Hal ini akibat dari kegagapan penafsir (pada saat itu) dalam menjelaskan peristiwa menstruasi dari sudut pandang saintifik. 2) Praktik berhijab pada perempuan terdorong oleh wacana ideologis, motif kultural-sosiologis, dan rentan dengan penyusupan agenda-agenda kapitalisme global. 3) Mitos “cantik” bagi perempuan hanyalah citra tubuh yang dipersepsikan oleh lingkungan sekitar.

Saran dari penulis di antaranya: 1) Kaum perempuan hendaknya terus melakukan gerakan literasi, mengkaji secara elaboratif terminologi tafsir tendensius yang dilahirkan dari wacana dominan. 2) Perempuan seyogyanya berhati-hati ketika memutuskan berhijab. Jangan sampai laku mulia ini tercemari kepentingan oportunistik agen kapitalis yang ingin meluaskan lahan bisnis dan komoditinya. 3) Perempuan sebaiknya tidak larut oleh wacana citra “cantik” yang bersifat simbolik (fisik).

Kata kunci: literasi, drama kosmis, hijab, cantik. Baca Selengkapnya…

PENDIDIKAN NILAI; UPAYA MENGATASI KONFLIK IDENTITAS DAN KRISIS NILAI


PENDIDIKAN NILAI; UPAYA MENGATASI KONFLIK IDENTITAS DAN KRISIS NILAI

Oleh: Ahmad Saefudin

Pengertian Nilai

Definisi “nilai” sangat abstrak dan subyektif tergantung dari konteks pemaknaan seseorang. Ketika berucap, “buku ini sangat bernilai, melebihi apapun,” maka asumsi kita sebagai audiens tidak akan sama. Mungkin saja, ada yang berpikir bahwa buku tersebut bernilai secara ekonomis karena mahal. Ada lagi yang beranggapan bahwa buku itu berharga, meskipun secara nominal murah, sebab penerbitnya sudah tidak cetak ulang dan sulit mendapatkannya. Juga bisa jadi, kadar nilai buku tersebut terletak pada goresan tanda tangan asli sang penulis di balik sampulnya. Deskripsi singkat ini menunjukkan betapa tidak mudah menerjemahkan istilah “nilai”. Belum lagi jika menafsirkan “nilai” yang melekat pada “sesuatu” yang tidak kasat mata, seperti kebenaran, kejujuran, tanggung jawab, dan lain-lain. Oleh karena itu, tidak salah apabila Max Scheler seperti yang dikutip Purwo Hadiwardoyo menegaskan bahwa “nilai” merupakan suatu kenyataan yang pada umumnya tersembunyi di balik kenyataan-kenyataan lain.[1]

Walaupun sulit meramu padanan kata yang pas dalam mendefinisikan “nilai”, bukan berarti tidak ada patokan standar dari para ahli. Gordon Allport, misalnya, sebagai seorang psikolog berpendapat bahwa “nilai” adalah keyakinan seseorang bertindak atas dasar pilihannya.[2] Persoalan keyakinan menjadi cakupan dimensi kejiwaan (psikologis) manusia di mana setiap individu mempunyai pandangan tersendiri dan tidak seragam. Lain lagi dengan Kupperman yang menganggap nilai sebagai patokan normatif yang mempengaruhi manusia dalam menentukan pilihannya di antara cara-cara tindakan alternatif.[3] Kepakarannya di bidang Sosiologi membuat Kupperman menitikberatkan interpretasi “nilai” dikaitkan dengan norma sosial. Sesuatu yang bernilai ialah sesuatu yang sesuai dengan tatanan norma yang berlaku di masyarakat.

Sedangkan “nilai” yang benar dan diterima secara universal mengacu kepada ulasan Linda dan Richard Eyre adalah nilai yang menghasilkan perilaku dan perilaku itu berdampak positif baik bagi yang menjalankan maupun orang lain.[4] Kejujurandianggap bernilai ketika terejawantahkan dalam tindakan seseorang, tidak cukup hanya tersimpan dalam pikiran, hati, maupun dalam bentuk verbalisasi an sich.

Supaya tidak terlalu lama berkutat pada ruang definitif dan menghindari bertambahnya perdebatan terminologis dalam tulisan ini, ada baiknya mengupas konsep “nilai” dimulai dari akar katanya, yaitu bahasa Latin vale’re yang berarti berguna, mampu akan, berdaya, dan berlaku.[5]Nilai adalah sesuatu yang dipandang baik, bermanfaat, dan paling benar menurut keyakinan seseorang atau sekelompok orang.[6] Rohmat Mulyana menambahkan bahwa nilai adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan.[7] Apapun bentuknya, -baik disandarkan pada aspek psikologis, etis, atau moral,- jika “sesuatu” itu mampu dijadikan rujukan dan membuat yakin si pelaku dalam menentukan pilihan tindakan, maka “sesuatu” tersebut sudah bisa dikatakan mempunyai “nilai”. Baca Selengkapnya …

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA SEKOLAH; UPAYA MENJAWAB PROBLEMATIKA MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM DI SEKOLAH ISLAM TERPADU


KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA SEKOLAH; UPAYA MENJAWAB PROBLEMATIKA MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM DI SEKOLAH ISLAM TERPADU

Oleh: Ahmad Saefudin

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Fenomena maraknya “Sekolah Islam Terpadu”[1] yang menerapkan keseimbangan antara materi-materi pembelajaran yang bersifat umum (baca: di luar disiplin ilmu-ilmu keislaman) dengan materi keagamaan, patut kita apresiasi. Setidaknya, sinisme masyarakat terhadap lembaga pendidikan formal berlabel “Islam-Swasta” -yang selama ini dianggap sebagai second institusi- mulai terkikis. “Sekolah Islam Swasta” tidak lagi berstatus sebagai pelengkap “Sekolah Negeri”. Bahkan, di beberapa daerah, tingkat kepercayaan publik (public trust) terhadap “Sekolah Islam Terpadu” lebih tinggi jika dibandingkan dengan “Sekolah Negeri”.[2] Sebagai contoh, di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), masyarakat muslim lebih nyaman menitipkan putra-putrinya di “Sekolah Islam Swasta” baik yang bernaung di bawah Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), maupun organisasi kemasyarakatan lain.

Di satu sisi, sudah menjadi “rahasia umum” bahwa manajemen pendidikan di “Sekolah Islam Swasta” masih perlu banyak perbaikan. Manajemen kepemimpinan yang masih mengedepankan sistem “dinasti” berlatar belakang keluarga atau teman dekat, rekruitmen personalia yang kurang profesional, kegiatan kesiswaan sesuka hati dan tidak berbasis pada potensi peserta didik, kurikulum yang tidak komprehensif, tata kelola keuangan yang tidak transparan, dan keterbatasan sarana dan prasarana merupakan problem yang tidak bisa tidak harus segera terselesaikan.

Supaya tuntas dan untuk menghindari ulasan kajian yang terlalu luas, dalam uraian ini penulis membatasi topik permasalahan seputar problem manajemen kepemimpinan di Sekolah Islam Terpadu sebagai ikhtiar untuk menjawab problematika manajemen pendidikan Islam. Harapannya, dengan pelaksanaan kepemimpinan yang efektif, “Sekolah Islam Terpadu” mampu bersaing secara kompetitif dengan “Sekolah Negeri” di tengah pusaran arus pendidikan global.

Rumusan Masalah

Pada makalah ini, penulis merumuskan beberapa masalah yang akan menjadi fokus pembahasan, di antaranya:

  1. Apa yang dimaksud dengan manajemen pendidikan Islam?
  2. Bagaimana problematika manajemen kepemimpinan di Sekolah Islam Terpadu?
  3. Bagaimana solusi atas problematika manajemen kepemimpinan di Sekolah Islam Terpadu?

Baca selengkapnya …

NASIHAT BAPAK


NASIHAT BAPAK

Oleh: Ahmad Saefudin

Hidup itu misteri. Sama seperti mati. Kemarin masih bergelimang harta. Sekarang menderita. Esok yang tahu siapa. Lusa juga begitu adanya. Kemarin memegang cangkul sebagai senjata. Bercucur keringat melawan terik. Kini berbekal pena. Bekerja di balik kursi. Berdasi rapi. Esok tersangka korupsi. Lusa masuk bui. Kemarin masih tertawa di depan televisi. Wawancara seputar kampanye dan janji-janji. Mengulas strategi. Menduduki jabatan suci. Pemangku negeri. Kini pesta demokrasi. hiruk pikuk survei menjadi-jadi. Menempatkan sang calon dalam urutan tertinggi. Besok ternyata tidak jadi. Tetap tak tahu malu di depan televisi. Mengincar posisi menteri. Melebur dalam koalisi.

Tahukah kawan? Apa yang tidak berubah? Bapakku. Yah! Bapakku! Meskipun rezim silih berganti. Bapakku masih saja bertani. Berangkat pagi. Sawah ladang disiangi. Berharap kepada serumpun padi. Murah mahal tidak jadi soal. Bapakku terus saja menanam. Menanam dan menanam lagi. Hingga pulang di sore hari.

Menunggu senja Bapakku selalu menyempatkan diri. Menonton televisi. Berteman secangkir kopi. Melihat tingkah polah elit di Jakarta sana. Politisi rebutan kursi. Entah paham atau tidak, Bapakku melayang pandang. Matanya menerawang. Ternyata, politisi yang dianggapnya kyai, juga tersandung skandal korupsi. Korupsi dana haji. Kendati kaget setengah mati. Esoknya Bapakku tetap bertani. Berangkat pagi. Sawah ladang disiangi. Berharap kepada serumpun padi. Murah mahal tidak jadi soal. Bapakku terus saja menanam. Menanam dan menanam lagi. Hingga pulang di sore hari.

Suatu malam, di depan televisi yang belum mati, Bapakku menasihati, “Nak! Kalau tidak mau dibui karena korupsi, jadilah petani. Jangan jadi politisi.” Anak yang berbakti, tidak berani bertanya lagi. Hanya bisa mengamini. Bapakku bicara lagi, “Tapi bukan petani seperti Bapak! Berangkat pagi, pulang sore hari, tetap saja begini. Kuliah yang tinggi. Bukan untuk jadi apa-apa. Cukup jadi manusia yang berhati. Kalaupun jadi politisi, jangan sampai korupsi! Biar setiap sore, kuburan Bapak kelak tidak pernah sepi. Selalu Kamu ziarahi.”

Yogyakarta, 24 Mei 2014

Dari Anak seorang Petani!