Arsip | MATA KULIAH RSS feed for this section

DI BALIK BUKU “ANAK SEMUA BANGSA”; MAHA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

22 Mei

DI BALIK BUKU “ANAK SEMUA BANGSA”; MAHA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

Oleh: Ahmad Saefudin

 

Sampai halaman 112. Mataku memicing lelah dan tiada henti mengatup. Mulut pun bersepakat menguap. Memerintahkan tangan yang bertindak refleks, meskipun sebenarnya enggan untuk menutup auman. Detak jarum jam yang menggantung di sebelah lukisan pemain sepak bola favoritku, -Cristiano Ronaldo-, tepat menunjukkan angka dua. Tiga jam. Yah! Sudah tiga jam. Kusibak lembaran “Anak Semua Bangsa” dari Pramoedya Ananta Toer. Dan diharuskan berhenti di halaman 112.

Curahan anganku mencoba menelusur baris demi baris yang terlewat. Goresan pena dari Sang Begawan Sastra itu bak mutiara, yang tak pernah kuperoleh di mana pun. Di pesantren. Di kampus. Di organisasi kemahasiswaan. Dari wejangan kyai. Ceramah ilmiah dosen. Tak pernah kuperoleh. Entah dengan kalian! Yang pernah nyantri dan menjadi mahasiswa. Apakah juga akan berpendapat sama dan mengamini komentarku.Anak Semua Bangsa

Sedikit akan kuceritakan, pengalamanku membaca “Anak Semua Bangsa”.

Tentang “cinta”, Pramoedya mengingatkan kepada setiap manusia yang sedang dilanda perasaan yang satu ini di halaman 2, “Dan bayang-bayang cinta itu bernama derita”. Cinta dan derita bagai sekeping simbol mata uang yang tidak bisa terpisah dan dipisahkan. Karena jika terpisah, kepingan “cinta” tiada bernilai lagi. Berani men”cinta” harus berani “menderita”.

“kemuliaan” juga tak luput dari kacamata Pram. “Kemuliaan” terasa aneh –bagi Pram- jika dilahirkan di atas kesengsaraan yang lain (Pramoedya, 57). Tidak patut bagi kita, mendamba kemuliaan dengan segala cara. Apalagi harus digadaikan dengan “kesengsaraan” manusia lain. Peringatan keras bagi kita. Pemerintah kita. Politisi kita. Penegak Hukum kita. Kyai kita. Akademisi kita. Budayawan kita. Saintis kita. Guru kita. Murid kita. Siapapun kita.

Dalam kalimat yang agak panjang, Pram berpendapat tentang dunia pendidikan, “Memalukan. Bukan itu saja. Sesungguhnya aku menjadi geram karena kesadaran yang tak berdaya. Semakin lama aku semakin bingung dengan riuhnya pikiran dan pendapat begitu banyak orang. Sekolahan tetap yang paling sederhana. Orang hanya mendengarkan dan percaya tak bercadang pada beberapa orang guru. Dan angka terbaik diberkatkan pada setiap murid yang jadi sebagaimana dikehendaki guru-gurunya.” Memang! Kita sering terombang-ambing oleh begitu banyak pendapat yang semuanya menyatakan “kebenaran”. Dan ketidakberdayaan melingkupi kesadaran kita. Bingung. Harus memilih “kebenaran” yang mana. Sebagai orang awam, kita sering menyandarkan “kebenaran” melalui sabda para guru. Apa yang dikatakan guru kita, itulah yang kita anut karena tidak mungkin salah. Dan guru pun semakin memuncak kewibawaannya, saat tidak ada satu kata pun yang diingkari murid-muridnya. Padahal, “kebenaran” yang datang dari pikiran manusia, bersifat nisbi, dinamis, dan bisa berubah ketika ada “kebenaran” baru yang datang. Guru pun bisa salah. Dan itu lumrah. Bukan sesuatu yang luar biasa, ketika guru kita salah. Salah itu wajar. Yang tidak wajar ialah menyembunyikan kebenaran. Baca lebih lanjut …

PELATIHAN PEMBUATAN MAKALAH (EDISI REVISI)

30 Mar

PELATIHAN PEMBUATAN MAKALAH (EDISI REVISI)

Oleh: Ahmad Saefudin

BAB I

PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

Tema kepenulisan ilmiah dewasa ini semakin santer terdengar di hadapan publik terutama dunia kampus pasca edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nomor 152/E/T/2012  tertanggal 27 Januari 2012 terkait kewajiban bagi mahasiswa S-1, S-2, dan S-3 untuk memublikasikan karya tulis ilmiahnya[1]. Para pakar dan praktisi pendidikan masih berpolemik, ada yang mendukung dengan dalih mengembangkan budaya akademik mahasiswa dan ada pula yang pesimis, resisten bahkan antipati.[2]

Tanpa menafikan polemik yang terjadi, kebijakan publikasi jurnal ilmiah semakin menegaskan urgensi karya tulis mahasiswa bagi pengembangan kompetensi akademik sehingga agen perubahan bisa tidak bisa, mau tidak mau, harus mulai fokus mematangkan keterampilan tulis tulis menulis. Tentunya, orientasi kepenulisan mahasiswa bukan hanya berlandaskan paksaan kebijakan pemerintah semata, melainkan lebih kepada tanggungjawab intelektual dan sosial mereka terhadap keberlangsungan mata rantai pengetahuan yang tidak boleh terputus. Dengan menulis, mahasiswa menjadi –oleh apa yang diistilahkan Soekarno sebagai- “penyambung lidah” cerdik cendekia yang secara berkesinambungan senantiasa melakukan transfer of knowledge sebagai cikal bakal peradaban sebuah bangsa.

Untuk ke sekian kalinya penulis[3] berkesempatan mendiskusikan topik tentang dunia kepenulisan. Lebih tepatnya mengenai “makalah”. Seringnya kajian ini dielaborasi, sekaligus membuktikan bahwa forum-forum semacam ini masih sangat dibutuhkan, terutama oleh mahasiswa yang akan, sedang, atau bahkan sudah sering bergelut dengan disiplin ilmu jurnalistik.

Menulis, perspektif ilmu kesehatan, menurut Pennebaker, dapat menyehatkan tubuh dan jiwa.[4] Fatima Mernissi, salah seorang penulis produktif  yang concern mengangkat issu jender, juga berpendapat bahwa menulis setiap hari dapat mengencangkan kulit wajah.[5] Sebagai landasan teologis, secara eksplisit Al Quran juga memotivasi para pembacanya untuk selalu membuka ruang pengetahuan dengan membaca dan menulis. Melalui firman-Nya; alladzii ‘allama bi al qalami (“Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam”)[6], Allah SWT telah memuliakan manusia dengan ilmu pengetahuan. Terkadang, meminjam istilahnya Ibnu Katsir[7], ilmu berada di dalam akal fikiran dan terkadang juga berada dalam lisan. Juga terkadang berada dalam tulisan. Lebih lanjut Ibnu Katsir mengutip perkataan sahabat dalam atsar mereka; “ikatlah ilmu itu dengan tulisan”.  

Prolog di atas tidak lain hanyalah sebagai penyulut spirit bagi kita supaya tidak pernah patah semangat, enggan, apalagi malas menulis.

Mengapa menulis? Lebih spesifik lagi, mengapa menulis makalah? Sering kali pertanyaan ini yang kemudian timbul.

Baca lebih lanjut …

MEMBONGKAR ASWAJA PERSPEKTIF HISTORIS

20 Feb


Oleh: Ahmad Saefudin

Di Pesawat Saat Pulang Kongres PMII dari Banjarmasin Tahun 2012

Di Pesawat Saat Pulang Kongres PMII dari Banjarmasin Tahun 2012

IDEOLOGI DAN PERUBAHAN
Islam harus dipahami dalam kerangka kondisi kehidupan yang baru, dan kegagalan menyesuaikan diri dengan perubahan akan mengakibatkan kemunduran. Analisis Ziauddin Sardar ini memancing penulis untuk mengelaborasi tautan makna di balik klausa sederhana, Islam;Kehidupan Baru;Menyesuaikan diri dengan perubahan;Kemunduran. Bukan tanpa sebab, Sardar tentu mempunyai argumentasi kuat sehingga berani mengharuskan Islam agar dipahami (oleh kaum muslim maupun non-muslim) secara kontekstual selaras dengan dinamika perkembangan kehidupan, dan tanpa segan menjamin, -jika hal ini gagal- kemunduran dunia Islam.

Sardar tidak sendirian. M. Su’ud juga memberikan implikasi bahwa ketika tatanan nilai dan paradigma lama sudah kehilangan daya pikat dan disertai dengan memudarnya daya panggil terhadap tuntutan realitas hidup sebuah masyarakat, maka pencarian terhadap tatanan nilai dan paradigma yang baru yang bisa menjawab (usefull), akan terus menggelinding. Sejatinya, masih menurut M. Su’ud, kehancuran peradaban sebuah bangsa atau Negara sedang dimulai saat status quo terus membangun benteng prinsip dan nilai-nilai usang;ia bersiap menjadi bangsa atau Negara yang terjajah.
Namun, manifestasi perubahan meniscayakan pengerahan sumber daya pengetahuan teoritis yang diteruskan dalam langkah praksis dan tidak jarang membentur tembok bangunan lama berupa nilai-nilai kemapanan berbasis budaya, kuasa, dan agama. Keruntuhan kemapanan pun tidak akan serta merta menghindarkan Actor of Change dari cibiran, cacian, dan sterotip yang lahir dari sisa-sisa pemegang otoritas yang enggan menanggalkan dominasi kuasa. Tanpa ideologi , mustahil bagi Actor of Change bertahan dalam lingkaran sistem yang menindas, rakus, dan eksploitatif.
Mengurai kajian ideologi dalam Islam, penulis sangat terbantu oleh karya Sarbini, Islam di Tepian Revolusi;Ideologi Pemikiran dan Gerakan yang menjelaskan:
Dalam Islam, sebagaimana tradisi-tradisi relijius dunia lainnya, ada kecenderungan historis kepada objektifikasi, yang menjadikan agama sebagai sebuah entitas tersendiri di antara aspek-aspek lain dalam kehidupan sosial dan personal. Akibatnya, kepercayaan dan praktek keagamaan begitu sentral bagi visi koheren tentang dunia…. Kecenderungan doktrin keagamaan pun menjadi sulit dipisahkan dari ideologi, cara, atau isi pemikiran yang dianggap sebagai karakteristik individu, kelas, atau partai politik.

Penentuan doktrin “paling Islam” inilah yang menjadi polemik dan perdebatan panjang di kalangan intelektual muslim sehingga memunculkan istilah baru yang dikenal dengan teologi atau ilmu Ketuhanan yang lahir sesudah disiplin ilmu lain seperti al-ma’rifah atau al-‘irfan (gnosis) dan filsafat. Barometer penilaian “paling Islam” semakin sulit ditentukan dan tidak tepat disandarkan pada golongan atau sekte tertentu karena dalam Islam, salah satu alasan menurut kajian Henderson, memang berbeda dengan tradisi Katolik Romawi, tidak memiliki lembaga yang terpusat dengan legitimasi tertinggi untuk secara otoritatif menggariskan doktrin yang benar yang kemudian diistilahkan dengan “ortodoksi”. Meskipun ortodoksi tidak memiliki padanan istilah yang pas dalam bahasa Arab, -setidaknya menurut Abdurrahman Mas’ud-, tetapi, Fauzan Saleh ketika mengulas gerakan keagamaan Islam, tidak menampik fakta bahwa intelektual Islam, khususnya para teolog, sejak masa awal Islam secara serius peduli terhadap upaya menghindarkan agama dari penyimpangan agama. Dialektika inilah yang akan segera penulis bahas dalam sub bahasan berikutnya.

ASY’ARIYAH; PELETAK DASAR MAZHAB ASWAJA
Setelah peristiwa mihnah , ideologi Mu’tazilah yang telah lama berkuasa pada masa dinasti Abbasiyah bergeser ke Asy’ariyah. Munculnya Mu’tazilah berdasarkan Analisis Harun Nasution sebagai berikut:
Nama Mu’tazilah berasal dari adanya perdebatan yang terjadi di dalam masjid Basrah antara al-Hasan al-Basri (w.110 H/728 M) dengan Wasil Ibn ‘Ata’ dan temannya Amr ibn Ubaid (w. 144 H/761 M). Pada suatu hari, datanglah seorang mahasiswa menghadap kepada al-Basri untuk menanyakan pendapatnya mengenai status orang yang berdosa besar. Dalam pandangan kaum khawarij , pelaku dosa besar adalah kafir, tetapi menurut kaum Murji’ah , dia masih mukmin. Ketika al-Basri sedang berpikir tentang hal itu, Wasil langsung berdiri dan menyatakan pendapatnya bahwa pelaku dosa besar bukan kafir dan bukan pula mukmin, tetapi berada di antara keduanya. Wasil kemudian meninggalkan halaqah al-Basri dan memisahkan diri serta mengambil tempat lain di sudut lain dalam masjid tersebut. Pada saat itulah al-Basri menyatakan “Wasil telah memisahkan diri dari kita” (I’tazala ‘anna Washil). Begitulah, Wasil dan kawan-kawannya disebut Mu’tazilah.

Selain menggunakan terminologi Mu’tazilah –lanjut Nasution-, kelompok ini juga sering menyebut diri mereka dengan ahl al-‘adl dan terkadang ahl al-‘adl wa al-tawhid. Tidak jarang juga disebut oleh musuh-musuh mereka sebagai qadariyah karena kegigihannya mempertahankan paham free will. Juga al-mu’athillah sebab enggan mengakui sifat-sifat Tuhan serta al-wa’idiyyah mengacu pada keyakinan mereka bahwa Tuhan tidak akan lupa menimpakan siksa-Nya kepada mereka yang melanggar perintah-Nya.

Sedangkan kelompok Asy’ariyah diprakarsai oleh Abul al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari keturunan dari Abu Musa al-Asy’ari, salah seorang tokoh sentral dalam sengketa antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah.
Ahmad Hanafi dalam “Teologi Islam (Ilmu Kalam)”nya mendeskripsikan bahwa al-Asy’ari lahir tahun 260H/873 M dan wafat pada tahun 324 H/935 M di Basra. Dari kecil sampai usia 40 tahun al-Asy’ari akrab dengan Mu’tazilah di bawah bimbingan gurunya al-Jubba’i.

Konon, -sebagaimana catatan dalam http://id.wikipedia.org/ ketika mencapai usia 40 tahun ia bersembunyi di rumahnya selama 15 hari, kemudian pergi ke Masjid Basrah. Di depan banyak orang, mula-mula ia menyatakan bahwa Quran adalah makhluk; Allah SWT tidak dapat dilihat mata kepala; perbuatan buruk adalah manusia sendiri yang memperbuatnya. Pendapat ini tidak lain hasil dari doktrin Mu’tazilah. Kemudian ia mengatakan: “saya tidak lagi memegangi pendapat-pendapat tersebut; saya harus menolak paham-paham orang Muktazilah dan menunjukkan keburukan-keburukan dan kelemahan-kelemahannya”.

Pada era awal, tidak mudah bagi Asy’ariyah -sebutan untuk pengikut al-Asy’ari- untuk menyebarkan paham ajarannya agar diterima secara luas sebagai madzhab ortodoks. Sikap Asy’ariyah dalam menggunakan logika spekulatif, seolah mengingkari bunyi teks yang harus diterima apa adanya, dipandang oleh ulama konservatif saat itu, mirip dengan argumentasi yang dipraktekkan kaum Mu’tazilah. Terlalu mengakomodasi pendapat Empat Imam Madzhab -padahal dalam satu golongan biasanya hanya memprioritaskan salah satu dari pemikiran para ahli hukum Islam- dan tidak ditegaskannya doktrin imamah atau kepemimpinan umat, apakah condong kepada Kaum Sunni, Syi’ah, atau Khawarij semakin menambah ketidakjelasan posisi Asy’ariyah. Tetapi, setelah pandangan-pandangan teologisnya mengenai wujud Tuhan, dan sifat-sifat-Nya, kenabian, penolakan terhadap orang musyrik, orang kafir, dan ahli kitab, serta keberanian mencerca paham yang berseberangan dengan Ahli Hadis seperti kaum Jahmiyah , Mu’tazilah, dan Qadariyah , membuat Kaum Sunni bersimpati dan menggolongkan Asy’ariyah sebagai bagian dari Ahl al-Sunnah.

PMII=NU=ASWAJA?
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dikenal mempunyai kader-kader berlatar belakang kehidupan teologis sangat kuat. Selain berakar dari alumnus pesantren , kader PMII juga dibekali dengan materi-materi doktrinasi sebagai landasan berpikir dan berpijak sesuai nilai-nilai kemahasiswaan, keislaman, dan keindonesiaan. Salah satu materi wajib yang harus dikonsumsi ialah aswaja (ahlusunnah wal jamaah), yang biasanya dipahami sebagai manhaj al fikr (metode berpikir). Aswaja sebagai manhaj al fikr menjadi alternatif wacana di kalangan kader PMII sebagai reaksi terhadap pemaknaan aswaja mayoritas warga nahdliyyin yang menganggap aswaja sebagai madzhab.

Dari awal, Penulis sengaja tidak “terjebak” dan larut terlalu jauh memanggungkan aswaja sebagai manhaj al-fikr perspektif prinsip ajaran-ajarannya seperti tawassut (moderat), ta’adul (keadilan), tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleransi), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kebaikan sekaligus mencegah kemaksiatan). Lebih daripada sekedar alasan keterbatasan waktu, ruang, maupun referensi, namun juga sikap “baik sangka” yang sudah terlanjur melekat dalam benak Penulis, bahwa diskurus aswaja perspektif prinsip ajaran sudah habis terlahap kader-kader PMII pasca Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) sampai fase sebelum pendidikan formal berikutnya;Pelatihan Kader Dasar (PKD).
Kampanye aswaja sebagai metode berpikir dipelopori oleh KH. Said Agil Siradj yang diamini oleh kalangan intelektual muda NU, tak terkecuali kader PMII. Abdul Karim, setelah mengutip pendapat Badrun, mencirikan aswaja sebagai manhaj al-fikr dalam lima hal pokok. Pertama, Selalu mengupayakan untuk interpretasi ulang dalam mengkaji teks-teks fiqih untuk mencari konteksnya yang baru. Kedua, makna bermadzhab diubah dari bermadzhab secara tekstual (madzhab qauli) menjadi bermadzhab secara metodologis (madzhab manhaji). Ketiga, melakukan verifikasi mendasar terhadap mana ajaran yang pokok (ushul) dan mana yang cabang (furu’). Keempat, fiqih dihadirkan sebagai etika sosial, bukan sebagai hukum positif. Dan kelima, melakukan pemahaman metodologi pemikiran filosofis terutama dalam masalah-masalah sosial dan budaya. Dalam hal ini, Badrun terkesan memberikan porsi yang lebih besar dalam memaknai aswaja sebagai manhaj al-fikr di bidang fikih sekaligus sedikit mengesampingkan bidang teologi dan tasawuf.

Aswaja dalam wacana Indonesia berarti “para pengikut Nabi dan konsensus ulama”. Aswaja juga diidentikkan dengan Kaum Sunni, yaitu mereka yang senantiasa tegak di atas Islam berdasarkan Al Qur’an dan hadits yang shahih dengan pemahaman para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi’ah.

Ketika identitas aswaja melekat pada Kaum Sunni, Ibn Taimiyah tidak sependapat, karena menurutnya, sudah dikenal sejak sebelum munculnya empat mazhab fikih, jauh sebelum masa al-Asy’ari. Istilah ini ditujukan kepada sekelompok golongan yang ingin mendapatkan rujukan langsung dari teks al-Qur’an dan sunah dalam soal-soal agama. Jika tidak terjawab, mereka akan tinggal diam, sebab mereka tidak ingin melanggar batasan-batasan yang telah ditentukan oleh kedua sumber doktrin tersebut. Mereka kemudian disebut sebagai Ahli Hadis yaitu sahabat Nabi dan para pengikutnya (tabi’in). Juga dinamakan salaf (para pendahulu), antitesa dari Ahli Rakyu (pendukung pemikiran rasional-spekulatif) dengan analogi (qiyas) sebagai sandaran hukumnya .

Aswaja juga sering disematkan pada golongan yang “paling selamat” dari jilatan api neraka berdasarkan salah satu hadis yang diriwayatkan Imam Tirmizi dari empat jalur sanad; Abu Hurairah, Sa’ad, ‘Abdullah ibn ‘Amr dan ‘Auf ibn Malik. Sedangkan Abu Dawud meriwayatkan hadis ini dari jalur sanad Abi Hurairah.
Bunyi hadis tersebut:
Umat Yahudi terpecah 71 atau 72 golongan dan Umat Nasrani terpecah sejumlah itu. Umatku (akan) terpecah 73 golongan. Semua masuk neraka kecuali satu golongan. Sahabat bertanya, “Siapakah golongan itu, ya Rasul?”. Rasul menjawab, “yang mengikuti aku dan para sahabatku” .

Jawaban Nabi tentang golongan yang “paling selamat” sebenarnya tidak secara jelas menggunakan istilah ahlusunnah wal jamaah, melainkan “ma ana ‘alaihi wa ashabihi, yang mengikuti aku dan para sahabatku”.
Klaim Aswaja bagi kaum Sunni tidak lepas dari penelitian Al-Baghdadi (w. 1037) dalam al-Farq bayn al-Firaq yang mencoba menentukan 73 golongan yang dimaksud oleh Nabi dalam sabdanya. Awalnya, Al-Baghdadi hanya menemukan 100 golongan dan setelah melakukan kategorisasi ulang, ia melengkapi penemuannya tepat disesuaikan dengan hadis Nabi, 73 golongan. Sebagai penganut paham ortodoks, tanpa ragu ia berani mengungkapkan bahwa golongan tersebut ialah Sunni. Penggolongan ini –yang oleh Fauzan Saleh disebut sebagai- kategorisasi dari sistem keagamaan yang dipaksakan.
Akhir al kalam, meskipun tidak sedikit –individu, kelompok, ormas keagamaan- yang berkeyakinan dan memproklamirkan diri, bahkan mengajak kelompok lain untuk ikut dalam golongannya karena merasa paling ortodoks, tetap saja tidak ada yang berhak memonopoli golongan yang dianggap “paling selamat” di mata Tuhan. Mencari kebenaran Tuhan bagi manusia tidak harus –jika tabu untuk mengatakan tidak boleh- mengeluarkan manusia dari hakikat kemanusiaannya. Penerjemahan terhadap teks keagamaan sah untuk dikompromikan dengan batas pengetahuan agar tidak ada celah -“bagi mereka yang senang berlindung di balik kalam Tuhan”- untuk menggadaikan dengan ambisi murahan yang sebenarnya jauh dari kehendak-Nya.

Wallahu a’lamu bi al shawab
“Tangan Terkepal dan Maju ke Muka”

CATATAN AKHIR
Disampaikan dalam Pelatihan Kader Dasar (PKD) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat RA. Kartini Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Nahdlatul Ulama (STIENU) Jepara pada Ahad, 17 Pebruari 2013 di Gedung Majlis Wakil Cabang (MWC) NU Kembang Jepara Jawa

Penulis adalah Pendidik Swasta di SMP Islam Terpadu Kholiliyah Wedelan Bangsri Jepara yang kebetulan pernah didaulat menjadi Ketua PMII Komisariat Ratu Kalinyamat Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara periode 2008-2009; Departemen Kaderisasi Pengurus Cabang (PC) PMII Jepara (2010-2011); dan Ketua I Bidang Internal (Kaderisasi) PC PMII Jepara (2011-2012).

Ziauddin Sardar, Kembali ke Masa Depan;Syariat sebagai Metodologi Pemecahan Masalah, (Jakarta: Serambi, 2005), Cet. 1, hlm. 69.

M. Su’ud dan Syukron Affani, Islam dan Transformasi Budaya;Mewujudkan Perubahan Menuju Masyarakat Progresif, (Yogjakarta: Logung Pustaka, 2009), Cet. 1, hlm. 25.

Meskipun ideologi bisa saja mati karena ditinggalkan oleh pengikutnya, sebagaimana diungkap Sarbini dalam Islam di Tepian Revolusi, tetapi sampai kapan pun, ideologi akan terus menopang keyakinan manusia sepanjang daya tampung akal sebagai penerima pengetahuan tidak terganggu fungsinya. Ideologi mulai populer setelah Filsuf Perancis Destutt de Tracy mengenalkan istilah ini pada tahun 1796 yang kemudian dipakai oleh Napoleon. Ideos berarti “gagasan” dan logos dimaknai “ilmu”. Bisa disimpulkan ideologi adalah ilmu tentang gagasan. Sarbini mengingatkan bahwa ideologi bukan sekedar gagasan, melainkan gagasan yang diikuti dan dianut sekelompok besar manusia untuk merealisasikan gagasan tersebut. Ilustrasi mudahnya, -kali ini Sarbini meminjam paparan Dawam Raharjo- meskipun gagasan seseorang, betapapun ilmiah, rasional, dan luhurnya, belum bisa disebut ideologi, apabila belum dianut oleh banyak orang dan diperjuangkan serta diwujudkan, dengan aksi-aksi yang berkesinambungan. Lebih lanjut, lihat Sarbini, Islam di Tepian Revolusi;Ideologi Pemikiran dan Gerakan, (Yogjakarta: Pilar Media, 2005), hlm. 1-2.

Ibid, 9-10.

Menurut A. Hanafi dalam Theology Islam, teologi diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang fakta-fakta dan gejala-gejala agama dan hubungan-hubungan antara Tuhan dan manusia. Teologi disebut juga Ilmu Kalam atau Ilmu Tauhid karena masalah perselisihan yang paling sering diperdebatkan di antara berbagai golongan masyarakat Islam yaitu masalah kalam Tuhan (Abdul Karim Syahristani, hlm. 42). Ibn Khuldun dalam Mukaddimah terkenalnya mendefinisikan Ilmu Kalam sebagai ilmu yang mengandung argumen-argumen rasional untuk membela akidah-akidah imaniah dan mengandung penolakan terhadap golongan-golongan bid’ah yang dalam bidang akidah menyimpang dari madzhab salaf dan madzhab sunnah. Lih. Imam Chanafie Al-Jauhari, Hermeneutika Islam:Membangun Peradaban Tuhan di Pentas Global, (Yogjakarta: Ittaqa Press, 1999), Cet. 1, hlm.87-88.

Seyyed Hossein Nasr dan William C. Chittick, Islam Intelektual;Teologi, Filsafat, dan Ma’rifat, (Depok: Perenial Press, 1991), Cet. 3, hlm. 16.

Henderson menambahkan pendapat dari Alexander Knysh bahwa [dalam Islam] tidak adanya lembaga kependetaan atau kewenangan gereja yang terpusat yang bisa memberikan ketegasan seperti apa doktrin ortodoks itu seharusnya, [dapat diartikan sebagai] tidak ada ajaran agama yang dapat dinyatakan secara resmi sebagai doktrin yang “ortodoks”. Fauzan Saleh, Teologi Pembaruan;Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad XX, (Jakarta: Serambi, 2004), Cet. 1, hlm. 80-81.

Ortodoksi ialah terminologi gereja Katolik untuk membedakan antara keyakinan yang benar dan yang salah. Ibid, 78.
Ibid.

Mihnah adalah suatu kebijaksanaan yang dilakukan oleh khalifah al Makmun pada masa Dinasti Abbasiyah tentang diberlakukannya pemeriksaan atau lebih tepatnya dikatakan pemaksaan kepada rakyatnya terhadap penerimaan doktrin al-Qur’an itu makhluk. Peristiwa ini dilaksanakan dengan menggunakan kekuatan politik, bahkan dengan kekerasan. Sebagaimana penjelasan H.M. Joesoef Sou’yb yang dikutip Rohmat, “Sunni Pasca Tragedi Mihnah (Telaah Historis atas Hegemoni Kekuasaan Bani Abbas)”, Ibda`. Jan-Jun 2005, 3, hlm. 2. Ensiklopedi Islam mengartikan mihnah sebagai “ujian aqidah” terhadap pejabat dan para ulama. Ibid.

Mu’tazilah didirikan oleh Wasil Ibn ‘Ata’ (w. 131 H/748 M) yang dipandang oleh ahli-ahli Keislaman Barat periode awal sebagai pemikir bebas dan rasionalis Islam yang menekankan pada kebutuhan penalaran dan pentingnya kehendak bebas manusia. Aktivis Mu’tazilah lain yang terkenal ialah Abu’l-Hudhayl al-‘Allaf (w. 226 H/840 M), Abu Ishaq al-Nazzam (w. 231 H/845 M), ‘Amr ibn Bahr al-Jahiz (w. 255 H/869 M), semuanya dari Basra serta dari Baghdad yaitu Bisyr al Mu’tamir (w. 210 H/825 M) dan Abu ‘Ali al-Jubba’i (w. 303 H/915 M). Selengkapnya dalam Seyyed Hossein Nasr dan William C. Chittick, Op. cit., hlm. 20.

Harun Nasution menambahkan dua tokoh dari Baghdad yakni Abu Musa al-Murdar (w. 226 H/841 M), Abu al-Husain al-Khayyat (w. 300 H/912 M). Harun Nasution dalam Fauzan Saleh, Op. cit., hlm. 282.

Khawarij adalah bentuk jamak dari kharij. Kata ini berarti orang yang menyempal dari kepatuhannya kepada pemimpin atau imam yang sah. Seorang Khawarij mendemonstrasikan ketidakpatuhannya, dan membentuk wilayah tersendiri yang eksklusif. Ulama fiqih menyebut kaum Khawarij dengan istilah al-baghy atau pemberontak. Kaum Khawarij adalah sekelompok kaum Syi’ah yang menyempal dari kepemimpinan ‘Ali ibn Abi Thalib. Mereka tidak menyetujui tahkim (arbitrase) untuk perdamaian dalam perang Siffin, sebagaimana masyhur dalam sejarah. Mahmud az-Za’by, “Sunni yang Sunni
Tinjauan Dialog Sunnah-Syi’ah-nya al-Musawi”, http://luk.staff.ugm.ac.id/kmi/.

Nama Murji’ah diambil dari kata irja atau arja’a yang berarti penundaan, penangguhan, dan pengharapan. Kata arja’a mengandung pula arti memberi harapan, yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah. Selain itu arja’a berarti pula meletakkan dibelakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan amal dari iman. Oleh karena itu, Murji’ah artinya orang yang menunda penjelasan kedudukan seseorang yang bersengketa, yakni Ali dan Muawiyah serta pasukannya masing-masing ke hari kiamat kelak. Untuk mengetahui doktrin dan ajaran murji’ah, tidak ada salahnya berkunjung ke http://ajiraksa.blogspot.com/2011/08/murjiah-asal-usul-kemunculan-dan.html.

Harun Nasution dalam Fauzan Saleh, Op. cit., hlm. 276.

http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_al-Hasan_al-Asy%27ari. Agak sedikit berbeda dengan ulasan M. Abdul Hye yang dikutip Seyyed Hossein Nasr dan William C. Chittick ketika menceritakan proses al-Asy’ari keluar dari Mu’tazilah. Setelah diduga mimpi bertemu Rasulullah SAW –ungkap M. Abdul Hye-, al-Asy’ari pergi ke masjid Basra dan menyatakan, “Siapa yang mengetahui saya, dan siapa yang tidak mengetahui saya, kemudian mengetahui bahwa saya adalah Abu’l-Hasan ‘Ali al-‘Asy’ari, yang dahulu mempertahankan bahwa Al-Qur’an diciptakan, mata manusia tidak akan dapat melihat Tuhan, dan menyatakan bahwa makhluk menciptakan aktivitas gerak mereka sendiri. Oh! Saya menyesal bahwa saya telah menjadi seorang Mu’tazili. Saya meninggalkan aliran ini dan mengekspose pertumbuhan dan kejahatan mereka”. M. Abdul Hye dalam Hossein Nasr dan William C. Chittick, Op. cit. hlm. 26.

Jahmiyah ialah golongan yang menuduh kalangan Ahl al-Sunnah telah menyerupakan Allah dengan makhluk atau musyabbihah. Perbedaan interpretasi terhadap sifat-sifat Tuhan yang tertuang dalam teks al-Qur’an dan al-Hadis seperti pendengaran Tuhan (al-sam’a), penglihatan Tuhan (al-bashr), pembicaraan Tuhan (al-kalam), Tangan Tuhan (yad allah) menjadi pemicu polemik dan menimbulkan perbedaan sikap dan pandangan di internal umat Islam. Seluruh Ahl al-Sunnah telah bersepakat untuk menetapkan sifat-sifat yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengartikan secara zhahirnya. Tetapi mereka tidak menggambarkan bagaimananya sifat-sifat tersebut. Adapun Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Khawarij mereka mengingkari sifat-sifat Allah dan tidak mengartikannya secara lahiriah. Lih. http://manhaj-ahlussunnah.blogspot.com/2013/01/jahmiyah-dan-asyariyah-menuduh-ahlus.html.

Paham yang –versi Harun Nasution- tidak mau tunduk pada qadar Tuhan karena menganggap bahwa manusia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendak-Nya. Harun Nasution dalam Gusri Wandi, “Aliran dalam Ilmu Kalam (Qadariyah dan Jabariyah)”, http://gusriwandi.blogspot.com/2012/03/aliran-dalam-ilmu-kalam-qadariyah-dan.html

M. Dwi Satya Afriza, Gerakan Sosial Baru PMII dan Transformasi Nilai-Nilai Pergerakan di Ranah Akar Rumput, (t.p: Malta Printindo, 2008), Cet. 1, hlm. 91.

Greg Fealy, Peneliti Politik dan Sejarah Islam di Indonesia, dengan fokus Nahdlatul Ulama (NU) mengartikan “pesantren” secara harfiah sebagai “tempat para santri” yang lebih umum digunakan untuk menyebut sekolah Islam Tradisional. Nama sejenis yang dikenal di Jawa dan Madura ialah pondok sebagaimana meunasah di Aceh dan surau di Sumatera Barat. Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama;Sejarah NU 1952-1967, (Yogjakarta: Lkis, 2003), Cet. 1, hlm. 22-23.

Nahdliyyin adalah sebutan bagi penganut ormas Islam NU, organisasi yang berdiri pada tanggal 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagi Rais Akbar. Lihat selengkapnya di situs resmi NU dalam http://www.nu.or.

Madzhab yang dimaksud dalam tulisan ini merujuk pada konsepsi KH. Hasyim Asy’ari tentang qanun asasi (Undang Undang Dasar) NU yang secara eksplisit menganut paham Ahlussunah Wal Jama’ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Secara sederhana mengacu pada pemikiran Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi, mengikuti empat madzhab; Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali dalam bidang fikih atau hukum Islam dan mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat. Ibid.
Setelah mengalami beberapa kali perubahan Anggaran Dasar, dimulai tahun 1961 yang tidak menyebutkan secara eksplisit term “ahlusunnah waljamaah” sebagai dasar ideologinya, melainkan dengan kalimat lain yang berbunyi, “menegakkan syariat Islam dengan haluan salah satu dari Empat Mazhab”, kemudian direvisi pada Muktamar NU XXVI di Semarang tahun 1979 dengan mengganti tujuan organisasi, “menegakkan syariat Islam menurut haluan Ahlusunnah waljamaah ialah Ahlil-Mazahibil-Arbaah”, dan mengalami perubahan lagi pada Muktamar NU XXVII di Situbondo yang menetapkan Pancasila sebagai asas organisasi dan menambah pasal akidah, “Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyyah diniyyah Islamiyah beraqidah Islam menurut faham ahlusunnah wal jamaah mengikuti salah satu mazhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Namun, perubahan-perubahan anggaran dasar tersebut, meminjam istilah M. Ali Haidar, bukanlah soal yang penting untuk menilai ciri pokok faham keagamaan NU. Anggaran Dasar hanyalah “simbol kelamin organisasi”, lebih penting dari semua itu ialah memahami esensi substantif di balik simbol-simbol normatif. Pembahasan komprehensif bisa merujuk M. Ali Haidar, Nahdlatul Ulama dan Islam Indonesia,; Pendekatan Fikih dalam Politik, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1998), Cet. 2, hlm. 69-70.

Abdul Karim, “Reformulasi Aswaja sebagai Manhajul-fikr&Manhajul-amal”, http://aswajacenterpati.wordpress.com/

Ronald Alan Lukens-Bull, Jihad ala Pesantren di Mata Antropolog Amerika, Yogyakarta: Gama Media, 2004), Cet. 1, hlm. 121.

“Sunni”, http://id.wikipedia.org/wiki/Sunni

Ibn Taimiyah dalam Fauzan Saleh, Op. cit, hlm. 98.

Kajian lebih detail tentang penilaian para muhadditsin tentang kesahihan status hadis tersebut, lih. M. Ali Haidar, Op. Cit., hlm.

Fauzan Saleh, Op. cit., hlm. 101-102.

PENDIDIKAN; PENTINGKAH?

28 Okt

OLEH: AHMAD SAEFUDIN

A. Latar Belakang
Sebagai prolog, deskripsi film “Alangkah Lucunya (Negeri Ini)” sudah cukup untuk memberikan rumusan masalah dalam tulisan sederhana ini di mana perdebatan tentang penting atau tidaknya pendidikan (formal) bagi masa depan menjadi salah satu alur cerita. Dalam film inspiratif tersebut, menceritakan tentang kisah kehidupan seorang Sarjana Ekonomi, lebih tepatnya Sarjana Manajemen, yang urung mendapatkan mata pencaharian sesuai bidang studinya. Alih-alih bisa duduk di belakang kursi empuk kantor dengan laptop sebagai teman kerjanya, pakaian rapi berdasi ala eksekutif muda hight class (yang selalu diimpikan kala masih berstatus mahasiswa), justru nasib membawanya pada dunia sekumpulan para “pencopet terorganisir” yang kemudian menjadi mitra dalam menerapkan teori-teori pengetahuan “manajemen” yang diperoleh dari perguruan tinggi.

Ada lagi kisah seorang Sarjana Pendidikan, yang sehari-hari waktunya dihabiskan untuk bermain “kartu” karena menjadi pengangguran akibat belum juga mendapatkan tuah dari selembar ijazah “S. Pd.” nya.
Pantas saja, jika anggapan sinis tentang tidak pentingnya pendidikan (formal) masih merebak di kalangan masyarakat. Benarkah demikian? baca selengkapnya

BELAJAR MENCINTAI PMII !

26 Mar


Oleh: Ahmad Saefudin (Kader PMII Jepara yang masih belajar untuk mencintai PMII)

Salam Pergerakan!
Dengan tetap memegang semangat “Tangan Terkepal dan Maju Ke Muka”, tulisan ini ku
persembahkan untuk kader-kader PMII yang “belum sepenuhnya mencintai” wadah pergerakannya.

Wahai Kader PMII!
Jika kalian belum bisa mencintai PMII, maka berusahalah untuk mencintai kader-kader yang berada di dalamnya. Cintailah pengurusnya. Sayangilah Pengurus Cabang dan Komisariat, bila posisi kalian saat ini berada di struktural Rayon. Cintailah Pengurus Cabang dan Rayon bagi kalian yang sedang bergelut di tingkatan Komisariat. Dan bagi Pengurus Cabang (maaf kalau terkesan lancang dan menggurui), cintailah Pengurus Komisariat dan Rayon sebagaimana kalian mencintai diri sendiri. Pokok pikiran dari paragraf pertama ini berada di akhir karena yang dipakai adalah metode induktif, yakni cintailah kader kultural PMII bagi kalian kader struktural dan juga sebaliknya, kader kultural seyogyanya mencintai kader struktural. baca selengkapnya

LAPORAN PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN (PPL) FAKULTAS TARBIYAH INISNU JEPARA 2009 DI MTs AL-MUTTAQIN RENGGING PECANGAAN JEPARA

28 Jan

OLEH: AHMAD SAEFUDIN (225.001)

HALAMAN PENGESAHAN

Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah INISNU Jepara
Di
Tempat

Assalamualaikum Wr. Wb.
Bersama ini kami sampaikan bahwa setelah meneliti dan memeriksa laporan hasil Praktek Pengalaman Lapangan Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Islam Nahdlatul Ulama’ (INSNU) Jepara pada tanggal 6 Pebruari – 7 Maret 2009 di MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara yang disusun oleh:

1. AHMAD SAEFUDIN (225.001)
2. HESTI WIDYASTUTI (225.015)
3. SRI ENI (225.051)
4. ALI SYAHID (225.006)
5. M. QOMARUDDIN (225.022)
6. MINHATUL MILLAH (225.028)
7. ULFAH NUR KHASANAH (225.053)
8. ARIYANTI (225.010)
9. MUJAHIDIN (225.032)
10. MUKHAYATI (225.033)

Maka, dapat Kami terima dan disetujui. Karena itu, mohon dengan hormat kepada Dekan Fakultas Tarbiyah INISNU Jepara berkenan menerima hasil laporan PPL ini sebagai persyaratan menyelesaikan program studi S. 1 INISNU Jepara.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Jepara, 10 Maret 2009

Dosen Pembimbing Lapangan Kepala MTs Al Muttaqin

Saifur Rohman, S. Ag., M. Pd. Ridwan, S. PdI.

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala pujian bagi Allah Yang Maha Dipuji atas limpahan nikmat kasih sayang-Nya Kami masih mampu menimba sedikit ilmu yang telah menetes ke dunia ini. Semoga Kami termasuk ke dalam firman-Nya; yarfa’illahu al-ladzina amanu minkum walladzina utul ‘ilma darajat. Amin.

Muara rahmat kasih-Nya mudah-mudahan senantiasa tercurah ke pangkuan Nabi Muhammad SAW -Sang Pembebas Kebodohan-. Dengan selalu mengikuti dan menjalankan ajaran beliau, semoga kita termasuk umatnya yang kelak mendapatkan syafa’atul ‘udzma fi yaum al makhsyar.

Dalam pengantar sederhana ini ijinkanlah kami berterima kasih kepada:
1. Dekan Fakultas Tarbiyah INISNU Jepara;
2. Dosen Pembimbing Lapangan;
3. Kepala Madrasah Tsanawiyah Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara beserta dewan guru dan staf karyawan;
4. Siswa-siswi MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara.

Paling tidak, nama-nama yang kami sebut di atas sangat berperan penting dalam mendukung terselesaikannya laporan ini.

Kelemahan dan kekurangan pembuatan laporan PPL ini sekaligus mengundang berbagai pihak untuk memberikan saran kritik konstruktif kepada kami.

Akhir kata, semoga apa yang kami susun ini bisa memberikan manfaat dan inspirasi bagi dunia pendidikan. Amin.

Wallahul Muwafiq Ila Aqwamit Thariq
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jepara, 10 Maret 2009

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
BAB I PENDAHULUAN 1
A. NAMA KEGIATAN 1
B. LATAR BELAKANG PEMIKIRAN 1
C. TUJUAN PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN 2
D. PERSONAL PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN 2
E. WAKTU, TEMPAT DAN DOSEN PEMBIMBING 3
F. MATERI PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN 4
G. SASARAN PPL 4
H. ORGANISASI PELAKSANA PPL 4
BAB II ORIENTASI DAN PEMBEKALAN 5
A. PENGARAHAN 5
B. PENILAIAN DAN LAPORAN 6
C. KODE ETIK PPL 7
D. PEMBUATAN RPP 8
BAB III LAPORAN HASIL PPL 10
A. GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN 10
1. TINJAUAN HISTORIS MTs AL MUTTAQIN 10
2. STRUKTUR ORGANISASI MTs AL MUTTAQIN 11
B. BIDANG KURIKULUM MTs AL MUTTAQIN 11
1. PENGERTIAN KURIKULUM 11
2. PRINSIP PENGEMBANGAN KTSP 11
3. ACUAN OPERASIONAL PENYUSUNAN KTSP 12
C. BIDANG KESISWAAN 12
D. BIDANG SARANA PRASARANA 12
BAB IV ANALISIS PELAKSANAAN PPL 13
A. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN PPL 13
B. FAKTOR PENDUKUNG 15
C. FAKTOR PENGHAMBAT 16
D. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH 17
BAB V PENUTUP 19
A. KESIMPULAN 19
B. SARAN 19
C. KATA PENUTUP 20

BAB I
PENDAHULUAN

A. NAMA KEGIATAN
Kegiatan ini bernama : “Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) Fakultas Tarbiyah Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara Tahun Akademik 2008/2009”.

B. LATAR BELAKANG PEMIKIRAN
Pendidikan dipandang sebagai salah satu aspek yang memiliki peranan pokok dalam membentuk generasi mendatang, yang diharapkan dapat menghasilkan manusia berkualitas dan bertanggung jawab serta mampu mengantisipasi masa depan. Pendidikan dalam maknanya yang luas senantiasa menstimulir dan menyertai perubahan-perubahan dan perkembangan umat manusia dan berupaya untuk senantiasa mengantar dan membimbing perubahan dan perkembangan hidup serta kehidupan manusia.

Pendidikan juga dipandang sebagai agen tunggal yang bukan hanya untuk melatih generasi muda akan peranan-peranan orang dewasa yang lebih mapan, tetapi lebih penting lagi sebagaimana pandangan John C. Bock adalah : “… for socializing them to the new competencies required by the emergent role needs, of changing societies.” (John C. Bock, Education and Development: Conflict of Meaning, New York, 1982), yakni : untuk mensosialisasikan kompetensi-kompetensi baru kepada mereka yang dituntut oleh kebutuhan-kebutuhan peranan yang timbul dari masyarakat yang berubah.

Menyiapkan generasi penerus yang berkualitas dan bertanggung jawab lewat upaya pendidikan itu merupakan suatu tuntutan dan keharusan. Senada dengan pesan Ilahi : “Dan hendaklah takut kepada Allah seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak (generasi) yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka (nasibnya). Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mengucapkan perkataan (mendidik) yang benar.” (QS. 4 : 9).

Pada satu sisi, profesionalisme guru keberadaannya dalam pembangunan sangat dibutuhkan, di mana pengejawantahannya membutuhkan proses yang berkesinambungan dengan latihan-latihan dan pengamatan-pengamatan secara langsung. Hal ini tidak semata-mata untuk dimiliki dan diketahui, tetapi sekaligus sebagai dasar pijakan awal untuk pembelajaran pendidikan dan pengajaran berikutnya (sebagai calon pendidik profesional).

Fakultas Tarbiyah Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara telah memberikan bekal yang cukup dan memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk mengkaji dan mendalami ilmu pengetahuan (teori dan praktek) yang telah diterimanya.

C. TUJUAN PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN
1. Membentuk kepribadian mahasiswa sebagai calon pendidik/guru agama yang berkualitas, setia kepada profesinya, menguasai dan mampu menerapkan prinsip-prinsip ilmu keguruan dan keislaman selaras dengan arah pembangunan.
2. Membimbing mahasiswa ke arah terbentuknya pribadi yang memiliki nilai, sikap, pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan dalam pembentukan profesi sebagai Tenaga Pendidik.

D. PERSONAL PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN

1. Mahasiswa PPL
a. Mahasiswa PPL adalah mahasiswa sekurang-kurangnya semester V danb teklah lulus mata kuliah sekurang-kurangnya 100 sks, dan telah mendaftarkan diri sebagai peserta dan telah memenuhi persyaratan.
b. Mahasiswa PPL mempunyai beberapa tugas, antara lain :
- Mengikuti Orientasi Kampus
- Mengikuti upacara penyerahan dan penarikan (perpisahan)
- Mengikuti Pengajaran Model yang dijadwalkan
- Mengikuti Ujian PPL
- Membantu kelancaran informasi dari Fakultas ke Sekolah Latihan dan sebaliknya.
- Mentaati semua peraturan yang berlaku.
Adapun daftar nama Mahasiswa yang melaksanakan PPL di MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara sebagaimana terlampir.

2. Dosen Pembimbing
a. Dosen Pembimbing adalah para dosen fakultas Tarbiyah yang telah ditunjuk dan diberi tugas oleh pimpinan Fakultas.
b. Tugas dosen pembimbing PPL adalah :
a. Mengenalkan lokasi pada saat Orientasi Kampus (jadwal menyusul)
b. Mengikuti upacara penyerahan dan penarikan (perpisahan)
c. Menghadiri rapat-rapat koordinasi pelaksanaan PPL
d. Bersama guru pamong memberikan bimbingan kepada mahasiswa
e. Melaksanakan ujian PPL pada mahasiswa
f. Menyerahkan nilai PPL kepada Panitia selambat-lambatnya 1 (satu) minggu setelah ujian PPL.
g. Dalam menjalankan tugasnya, dosen pembimbing bertangung jawab kepada Dekan.
Dosen pembimbing lapangan bagi peserta PPL di MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara yaitu Bapak Saifurrohman, S. Ag., M. Pd.

3. Guru Pamong
a. Guru Pamong adalah guru-guru bidang studi pada sekolah latihan yang diusulkan oleh Kepala Madrasah.
b. Tugas guru pamong meliputi :
a. Mengikuti rapat-rapat koordinasi PPL bersama Kepala Madrasah
b. Bersama dosen pembimbing membimbing kepada mahasiswa PPL
c. Mengikuti upacara penyerahan dan penarikan (perpisahan)
d. Bersama dosen pembimbing mengadakan ujian pada mahasiswa
e. Menyerahkan hasil/ nilai ujian kepada Dekan melalui dosen pembimbing PPL selambat-lambatnya 3 (tiga) hari setelah ujian.
Guru pamong bagi peserta PPL di MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara adalah sebagaimana terlampir.

E. WAKTU, TEMPAT, DAN DOSEN PEMBIMBING
a. Waktu Pelaksanaan :
a. Tanggal, 5 Des 08 s/d 30 Jan 09: Pendaftaran
b. Tanggal, 2 – 3 Peb 2009 : Pembekalan
c. Tanggal, 4/5 Peb 2009 : Penyerahan mahasiswa ke lokasi
d. Tanggal, 6 – 8 Peb 2009 : Observasi/Penyesuaian jadwal
e. Tanggal, 9 – 22 Peb 2009 : Micro Teaching / Real Teaching
f. Tanggal, 23 Peb s/d 2 Mar 09 : Ujian PPL
g. Tanggal, 8 Maret 2009 : Batas akhir pengiriman nilai
h. Tanggal, 9/10 Maret 2009 : Penarikan/Perpisahan mahasiswa
i. Tanggal, 14 Maret 2009 : Batas akhir penyerahan Laporan
j. Tanggal, 28 Maret 2009 : Yudisium
b. Tempat Pelaksanaan PPL dan Dosen Pembimbing
a. MTs. Al Islam Jepara : Drs. Abdul Rozaq Alkam, M.Ag.
b. MTs. Matholi’ul Huda Bugel : Drs. Abdurrozaq Assowy, M.MPd.
c. MTs. Al Muttaqin Rengging : Saifurrohman, S.Ag., M.Pd.
d. MTs. Matholibul Huda Mlonggo: Drs. Maswan
e. MTs. Zumrotul Wildan Ngabul : Nur Khoiri, M.Ag.

F. MATERI PRAKTEK PENGALAMAN LAPANGAN
Materi yang disajikan oleh mahasiswa PPL adalah sesuai dengan penempatan pada masing-masing Madrasah/Sekolah dengan ketentuan sebagai berikut :

1. MTs/MTsN : Al Qur’an Hadits, Aqidah Akhlaq, Fiqh dan Bahasa Arab.
2. MA/MAN : Al Qur’an Hadits, Aqidah Akhlaq, Fiqh dan Bahasa Arab.
G. SASARAN PPL
Sasaran Praktek Pengalaman Lapangan (PPL) adalah siswa/wi kelas I dan II (kelas VII dan VIII untuk MTs.; serta kelas X dan XI untuk MA.) atau mengikuti petunjuk dari Madrasah tempat PPL.

H. ORGANISASI PELAKSANA PPL
1. Pelindung : Pembantu Rektor I INISNU Jepara
2. Penanggung jawab : Drs. H. Akhirin Ali, M.Ag. (Dekan Fakultas Tarbiyah)
3. K e t u a : Drs. Abdul Rozaq Alkam, M.Ag. (Pembantu Dekan I)
4. Sekretaris : Jamal Abd. Wahab, S.Ag. (Kabag TU)
5. Bendahara : Saifurrohman, S. Ag., M.Pd. (Pembantu Dekan II)

BAB II
ORIENTASI DAN PEMBEKALAN


A. PENGARAHAN

a) Gambaran Umum
• Dekan Fakultas Tarbiyah INISNU Jepara (Drs. H. Akhirin Ali, M. Ag.)

Dalam pengarahan yang beliau paparkan lebih menitik beratkan pada materi persiapan yang seyogyanya dipelajari oleh calon guru praktikan (peserta PPL) seperti:

a. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
b. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.
c. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetesi Lulusan (SKL).
d. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah.

• Drs. Abdul Rozak Alkam.
Beliau menyampaikan materi kode etik peserta PPL.

• Saifurrohman, S. Ag., M.pd.
Beliau menyampaikan materi keadministrasian yang harus dipersiapkan peserta PPL.

• Nur Khoiri, M. Ag.
Beliau menyampaikan tentang teknik dasar pembuatan RPP.

b) Evaluasi Umum

1. Pemateri dan Materi.
Akibat dari tidak adanya modul atau buku panduan yang baku pada PPL tahun ini, maka banyak peserta kebingungan. Idealnya, dari pihak Institut membuat modul panduan agar arah dan tujuan PPL mampu dipahami semua pihak. Bukan hanya mengalokasikan waktu dan tempat an sich, tetapi operasional teknis di lapangan terkonsep secara gamblang.

2. Metode.
Dalam menyampaikan materi pembekalan, para pemateri lebih banyak berceramah sehingga membuat peserta PPL merasa jenuh. Bahkan bisa dikatakan, capaian pemahaman peserta terhadap materi sangat minim.

3. Fasilitas.
Sebelum melaksanakan PPL, setiap peserta berkewajiban memenuhi syarat administratif dalam bentuk uang sebesar seratus Sembilan puluh ribu rupiah. Anggaran tersebut disiapkan untuk memenuhi kebutuhan selama PPL berlangsung. Namun, pada pelaksanaannya, alokasi dana tersebut masih dipertanyakan terutama terkait dengan fasilitas yang sewajarnya diterima oleh peserta PPL. Menganut asas keterbukaan, maka rekomendasi untuk pihak institut adalah perlunya trnasparansi pengeluaran dana PPL.

B. PENILAIAN DAN LAPORAN
1. Penilaian kegiatan PPL dilaksanakan secara terarah dan terpadu oleh dosen pembimbing dan guru pamong.
2. Komponen-komponen yang dinilai meliputi : komponen persiapan, profesional, personal dan kemasyarakatan.
3. Nilai masing-masing komponen di atur sebagai berikut :
a. Komponen Persiapan (N.1) dengan bobot nilai : 20
b. Komponen Profesional (N.2) dengan bobot nilai : 50
c. Komponen Personal (N.3) dengan bobot nilai : 20
d. Komponen Kemasyarakatan (N.4) dengan bobot nilai : 10
4. Rumus Nilai Akhir (NA) penilaian PPL adalah
NA : N.1 + N.2 + N.3 + N.4 = ………………
10
5. Mahasiswa PPL dinyatakan LULUS apabila mencapai Nilai Akhir (NA) sekurang-kurangnya 5,6 (lima koma enam)
6. Bagi mahasiswa yang TIDAK LULUS dapat mengulang pada semester berikutnya.

B. KODE ETIK PPL
Agar kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar, maka mahasiswa PPL diharapkan memenuhi aturan-aturan atau kode etik dalam praktek belajar mengajar di sekolah latihan yang meliputi :
1. Kode etik dalam berbicara
2. Kode etik dalam bersikap dan bertindak
3. Kode etik dalam berpakaian

Masyarakat mahami bahwa IQ bukanlah segala-galanya. Sebagai mahasiswa kita harus membawa nama baik INISNU. Kepandaian teori-teori keguruan harus lebih dimatangkan melalui praktek pengalaman lapangan dengan menghadapi siswa-siswa yang berbeda tingkah laku, latar belakang dan emosionalnya secara langsung. Selama PPL, mahasiswa diharapkan dapat menempatkan diri sesuai aturan yang berlaku di sekolah yang bersangkutan. Peran kita sebai mahasiswa PPL adalah :

1. Sebagai tamu
Sebagai tamu hendaknya kita harus bisa mengikuti aturan-aturan tuan rumah
2. Sebagai guru praktek

Sebagai guru praktek kita memerlukan yaitu :
• Bimbingan dari para guru pamong dan pembimbing
• Dicoba untuk mengajar
• Dinilai

3. Belajar mengajar
Diharapkan dengan belajar mengajar tersebut ada perubahan yang kita bawa, tentunya perubahan menjadi yang lebih baik.
4. Kehati-hatian
Mahasiswa PPL INISNU Jepara harus menjunjung tinggi kedisiplinan waktu, berpakaian dan mengikuti tata tertib yang ada.
5. Sebagai partner ( mitra )
Dalam berkomunikasi mahasiswa diharapkan dapat menciptakan suasana yang harmonis antara:
• Team PPL dengan Kepala Madrasah
• Team PPL dengan dewan guru, baik guru pamong maupun guru secara umum
• Team PPL dengan peserta didik Madrasah
• Team PPL dengan lingkungan masyarakat sekitar. Selain berkomunikasi, dalam pelaksanaan PPL mahasiswa diharuskan berpakaian rapi, sopan dan yang terpenting mahasiswa PPL harus mampu mengaplikasikan dasar-dasar ilmu keguruan seperti sabar, adil, bijaksana dan teliti.

C. PEMBUATAN RPP
Untuk mencapai tujuan ideal dalam pendidikan, setiap pendidik (baca: guru) dituntut untuk menyiapkan pembelajaran seefektif mungkin. Dalam dunia pendidikan, istilah tersebut dunamakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

1. Pengertian RPP
Dalam buku Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Konsep dan Implementasinya di Madrasah karya Drs. H. Khaerudin, M. A. dkk. menyebutkan bahwa RPP pada hakikatnya merupakan perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan atau memproyeksikan apa yang akan dilakukan dalam pembelajaran. Dengan demikian, RPP merupakan upaya untuk memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran. RPP perlu dikembangkan untuk mengkoordinasikan komponen pembelajaran, yakni: kompetensi dasar, materi dasar, indikator hasil belajar, dan penilaian.

2. Fungsi RPP
Paling tidak ada dua fungsi yang sangat penting dalam penyusunan RPP, yaitu:
a. Fungsi perencanaan.
b. Fungsi pelaksanaan.

3. Prinsip Pengembangan RPP.
Dalam menyusun RPP, hendaknya pendidik memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a. Kompetensi yang dirumuskan dalam RPP harus jelas, semakin konkrit kompetensi, semakin mudah diamati, dan semakin tepat kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan untuk membentuk kompetensi tersebut.
b. RPP harus sederhana dan fleksibel, serta dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran, dan pembentukan kompetensi peserta didik.
c. Kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam RPP harus menunjang, dan sesuai dengan kompetensi dasar yang akan diwujudkan.
d. RPP yang dikembangkan harus utuh dan menyeluruh, serta jelas pencapaiannya.
e. Harus ada koordinasi antar komponen pelaksana program di sekolah, terutama apabila pembelajaran dilaksanakan secara tim (team teaching) atau dilaksanakan di luar kelas, agar tidak mengganggu jam-jam pelajaran yang lain.

4. Langkah-langkah Pengembangan RPP.
a. Mengidentifikasi dan mengelompokkan kompetensi yang ingin dicapai setelah proses pembelajaran.
b. Mengembangkan materi standar.
c. Menentukan metode dan media pembelajaran yang dapat menumbuhkan aktivitas dan kreativitas peserta didik.
d. Merencanakan penilaian.

5. Cara Penyusunan RPP.
a. Mengisi kolom identitas.
b. Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan yang telah ditetapkan.
c. Menentukan standar kompetensi dan kompetensi dasar serta indikator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah disusun.
d. Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta indikator yang telah ditentukan.
e. Mengidentifikasi materi standar berdasarkan materi pokok.
f. Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan.
g. Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dar: kegiatan awal, inti dan akhir.
h. Menentukan sumber belajar yang digunakan.
i. Menyusun kriteria penilaian, contoh soal dan teknik penskoran.

Adapun RPP yang telah disusun guru praktikan di MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara sebagaimana terlampir.

BAB III
LAPORAN HASIL PPL

A. Gambaran Umum Obyek Penelitian
1. Tinjauan Historis MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara
Pada awalnya, para tokoh masyarakat muslim desa Rengging bagian barat bermaksud membangun tempat peribadatan (masjid), yang berlokasi di Dukuh Krajan Desa Rengging.
Hasil musyawarah para ulama setempat yang didukung oleh Kepala Desa dan Pengurus Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) Rengging, mengajukan permohonan bantuan kepada Bupati Jepara.
Hal tersebut mendapat tanggapan positif oleh Bupati, dan selanjutnya akan diajukan dan diusulkan ke tingkat pusat. Kebetulan saat ada kunjungan ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Pusat yakni Bapak K.H.E.Z Muttaqin ke Kabupaten Jepara, akhirnya Bapak Bupati Jepara (Bapak H. Hisom Prasetyo, SH.) mengusulkan aspirasi masyarakat Desa Rengging tersebut kepada beliau.

Selanjutnya diadakan peninjauan ke lokasi yang akan dibangun masjid tersebut, kemudian atas saran dan petunjuk Bapak K.H.M. Busro seorang ulama di Kabupaten Jepara segera dibuat permohonan tertulis kepada Ketua Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila (YAMP) di Jakarta.

Dengan mendapat rekomendasi dari yang berwenang, usulan baik itu mendapat tanggapan dan sangat diperhatikan dengan positif dengan wujud nyata berupa paket bangunan masjid senilai Rp. 92.740.000,- (Sembilan puluh dua Juta Tujuh Ratus Empat Puluh Ribu Rupiah) dengan ukuran masjid seluas 17 x 17 m 2. Selanjutnya pada tanggal 7 November 1985 diadakan peletakan batu pertama oleh Bupati Jepara a/n. Provinsi Jawa Tengah.

Untuk melengkapi kegiatan bidang pendidikan, Bupati memberi satu paket bangunan sekolah, lengkap dengan meubelairnya yang sampai sekarang digunakan untuk pendidikan Madrasah Diniyah dan Madrasah Tsanawiyah.
Kurang lebih 1 tahun, pembangunan masjid dan gedung sekolah telah selesai tepat pada tanggal 13 November 1986, masjid diresmikan oleh Bapak H. Ismail Saleh, SH. Selaku Pengurus Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila.

Untuk mengenang nama Bapak K.H.EZ. Muttaqin, maka masjid diberi nama masjid Al Muttaqin demikian juga untuk Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Diniyah Awwaliyah yang bernaung pada Yayasan Al Muttaqin dengan akta notaris no : 53 tanggal 25 / VII / Tahun 1985 atas nama H. HISOM PRASETYO, SH dan Bapak WAHYUDI B.A. dan sebagai ketua adalah K.H.M. BUSRO.

Demikian sejarah singkat berdirinya “Yayasan Al Muttaqin” Desa Rengging Kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara yang menaungi MTs Al Muttaqin.

B. Struktur Organisasi MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara
Adapun struktur organisasi MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara sebagaimana terlampir.

C. Bidang Kurikulum
Salah satu kunci sukses tujuan pendidikan adalah terkonsepnya kurikulum pembelajaran dengan apik. Tahun 2009 ini, pendidikan nasional mengacu kepada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

1. Pengertian Kurikulum
Dalam Buku Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; Konsep dan Implementasinya di Madrasah menyebutkan bahwa yang dimaksud kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Sedangkan silabus yaitu rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indicator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat ajar.

2. Prinsip Pengembangan KTSP
Prinsipi-prinsip utama dalam mengembangkan KTSP ialah:
a. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
b. Beragam dan terpadu yang meliputi substansi komponen muatan wajib, muatan local, dan pengembangan diri secara terpadu.
c. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
d. Relevan dengan kebutuhan kehidupan.
e. Menyeluruh dan berkesinambungan.
f. Belajar sepanjang hayat.
g. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

3. Acuan Operasional Penyusunan KTSP
KTSP disusun dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia.
b. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik.
c. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan.
d. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional.
e. Tuntutan dunia kerja.
f. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
g. Agama, yaitu mendukung peningkatan iman dan taqwa serta akhlak mulia dengan tetap memelihara toleransi dan kerukunan umat beragama.
h. Dinamika perkembangan global.
i. Persatuam nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
j. Kondisi social budaya masyarakat setempat.
k. Kesetaraan jender.
l. Karakteristik satuan pendidikan.
Adapun kurikulum yang berlaku di MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara adalah sebagaimana terlampir.

D. Bidang Kesiswaan
Program Waka Kesiswaan MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara sebagaimana terlampir.

E. Bidang Sarana dan Prasarana
Program kerja Waka Sarana dan Prasarana MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara adalah sebagaimana terlampir.

F. Bidang Hubungan Masyarakat
Program kerja Waka Humas MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara adalah sebagaimana terlampir.

BAB IV
ANALISIS PELAKSANAAN PPL

A. Waktu, Tempat, dan Pelaksanaan PPL
Setelah mendapat pembekalan dari Kampus, observasi PPL di MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara dilaksanakan pada Jum’at, 6 Pebruari 2009. Hari pertama yang kami lakukan adalah penyerahan secara resmi dari pihak Institut yang diwakili Bapak Saifur Rohman, S. Ag., M. Pd. sebagai Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) kepada pihak madrasah oleh Bapak Ridwan, S. PdI. yang juga menjabat sebagai Kepala Madrasah.
Susunan acara penyerahan peserta PPL yaitu:

• Pembukaan, dipimpin oleh peserta PPL yaitu Hesti Widyastuti.
• Sambutan-sambutan.

1. Dari Ketua Kelompok PPL (Ahmad Saefudin).
Dalam sambutannya, beliau memaparkan bahwa pelaksanaan PPL diharapkan bukan hanya sebagai formalitas tuntutan akademik belaka, melainkan benar-benar mampu dimanfaatkan oleh semua pihak terutama peserta PPL untuk mengaplikasikan teori-teori pendidikan yang selama ini diperoleh di kampus. Selanjutnya, beliau menambahkan ucapan terima kasih dan permohonan saran, arahan, bimbingan, dan kritikan dari berbagai pihak kerangka mencapai tujuan ideal yang didambakan.
Beliau juga minta maaf apabila kelak dalam pelaksanaan, terdapat kesalahan dan selalu merepotkan.

2. Dari DPL (Bapak Saifur Rohman, M. Ag., M. Pd.)
Setelah mengucapkan salam, syukur, dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW, beliau berterima kasih kepada Kepala MTs Al Muttaqin atas kesediannya menerima tim PPL dari INISNU Jepara. Karena momen ini merupakan perdana, beliau mengharapkan agar kerja sama ini bisa berkesinambungan.

Dosen yang juga tenaga pendidik di SMA Wali Songo Pecangaan ini kemudian meneruskan sanbutannya dengan memohon timbal balik, arahan, serta catatan dari pihak madrasah sebagai upaya perbaikan pelaksanaan PPL di tahun mendatang.

Pesan khusus bagi peserta PPL adalah menjadikan civitas madrasah sebagai keluarga sendiri.

3. Dari Kepala Madrasah Tsanawiyah Al Muttaqin Rengging Pecangaan (Bapak Ridwan, S. PdI.)
Tahap awal pasca mukadimah sambutan dari beliau adalah menceritakan sekilas historisitas dan sistem kurikulum madrasah. Di MTs yang diampu alumni INISNU ini, telah menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dalam sistem pembelajarannya.

Selain itu, aspek kedisiplinan menurut beliau menjadi faktor penting yang harus dimiliki oleh setiap tenaga pendidik.

Sebagai penutup, beliau berpesan agar PPL ini dijadikan sebagai rekreasi mahasiswa. Kepenatan dan kesibukan di kampus mudah-mudahan sedikit terobati dengan adanya PPL di MTs ini. Pasca PPL, harapan beliau terhadap mahasiswa adalah mampu membawa oleh-oleh yang bermanfaat.

Pada hari berikutnya, Sabtu, 7 Pebruari 2009, kami melakukan penyesuaian dan pembagian jadwal. Selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran.

Proses kegiatan pembelajaran berlangsung sesuai jadwal yang telah disepakati sebelumnya. Guru praktikan diminta pihak madrasah untuk mengkonsultasikan RPP yang dibuat kepada guru pamong masing-masing sebelum interaksi pembelajaran.

Adapun mata pelajaran yang kami ampu antara lain:
1. Al qur’an Hadits.
2. Akidah Akhlak.
3. Sejarah Kebudayaan Islam.
4. Fiqih.
Lebih jelas dapat dibaca dalam lampiran.

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan, hambatan, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan aktivitas PPL, kami juga rutin mengadakan evaluasi pada hari senin. Adapun hasil-hasil evaluasi akan kami jabarkan dalam sub bab di bawah ini.

Upacara pelepasan PPL bersamaan dengan peringatan mauled Nabi Muhammad SAW pada Sabtu,7 Maret 2009 di Masjid Al Muttaqin. Rangkaian acara meliputi:
1. Pembukaan.

2. Pembacaan ayat suci Al Qur’an.

3. Pembacaan kitab Al Barzanji.

4. Sambutan-sambutan.

• Ketua kelompok PPL INISNU Jepara
• Dosen Pembimbing Lapangan
• Kepala MTs Al Muttaqin

5. Pemberian Kenang-kenangan dari peserta PPL kepada pihak MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara.

6. Mauidoh Hasanah.

7. Doa/penutup.
MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara mempunyai beberapa pilihan yang ditawarkan kepada anak didiknya untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, dan skill. Madrasah ini memasukkan kegiatan khusus (takhassus) dalam kurikulum pembelajaran. Di antara pelaksanaan program takhassus di lembaga ini adalah:

1. Seni membaca Al qur’an.
Program tiap hai Jum’at yang bertempat di Masjid Al Muttaqin ini dipandu oleh Bapak Zaenal Arifin. Tujuannya adalah guna menggali bakat anak didik dalam bidang seni membaca Al Qur’an.

2. Seni Musik.
Sebagaimana seni membaca Al Qur’an, program seni musik juga diadakan untuk menampung potensi anak didik yang gemar bermain musik. Pembimbingnya adalah Bapak Juwarno, S. Pd.

3. Menjahit.
Bagi anak didik yang tidak menyukai seni baca Al Qur’an dan music, bisa memilih opsi yang ketiga yaitu menjahit. Karena keterbatasan alat (mesin jahit), program ini lebih menekankan pada teori-teori menjahit. Dra. Hartini menjadi pemandunya.

4. Olahraga Taekwondo.
Untuk program yang terakhir ini ditujukan kepada anak didik yang gemar olahraga keras. Mereka diajarkan teori dan jurus-jurus tertentu yang berguna untuk menjaga diri. Pemandu olahraga ini yaitu Bapak Nurul Huda.

B. Faktor Pendukung PPL di MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara
Evaluasi rutinan yang kami adakan membuahkan beberapa keputusan yang kami anggap sebagai faktor pendukung pelaksanaan PPL, antara lain:
a. Koordinasi dan komunikasi dengan pihak madrasah terutama guru pamong berjalan baik sehingga mempermudah peserta PPL dalam menjalankan tugasnya sebagai guru praktikan.
b. Keterbukaan guru pamong dalam memberikan arahan, bimbingan, saran, dan kritik membuat guru praktikan terbantu.
c. Letak geografis MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara yang setrategis (pinggir jalan raya) secara otomatis memperlancar proses PPL karena tidak terkendala dengan jarak.
d. Tenaga pendidik MTs Al Muttaqin banyak yang alumnus INISNU sehingga terjalin hubungan ideologis dan emosional yang berimbas pada kelancaran PPL.
e. Penempatan peserta PPL di lembaga madrasah yang akan dijadikan praktek pembelajaran sudah diatur pihak akademik, sehingga guru praktikan bisa langsung fokus di lapangan.
f. Adanya peran DPL yang membantu proses koordinasi antara pihak Kampus dan madrasah.
g. Di MTs Al Muttaqin, guru praktikan disediakan ruang khusus sehingga mendukung kelancaran PPL tanpa mengganggu aktivitas tenaga pendidik madrasah.

C. Faktor Penghambat PPL di MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara
Dalam aktivitas PPL di MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara menemui hambatan-hambatan, di antaranya:

a. Kesulitan dalam pengkondisian kelas (peserta didik)
Variasi metode dan teori pembelajaran yang selama ini dipelajari mahasiswa pada kenyataan di lapangan sulit dipraktekkan. Selain skill guru praktikan yang lemah (karena belum banyak jam terbang), faktor lain yang menyebabkan sulitnya menguasai kelas adalah adanya pengelompokan anak didik antara yang “pintar” dan yang “kurang pintar”. Saat guru praktikan menghadapi golongan ke dua tersebut (“kurang pintar”), maka kecenderungan kesulitan penguasaan kelas semakin besar.

Indikator dari hambatan ini yaitu:
1. Banyak peserta didik yang kurang memperhatikan dan mendengarkan ketika guru praktikan menyampaikan materi pembelajaran.
2. Banyak peserta didik yang keluar masuk kelas (baik meminta ijin kepada guru praktikan maupun tidak).
3. Banyak peserta didik yang membuat forum tersendiri saat forum pembelajaran berlangsung.

b. Guru praktikan dianggap bukan pendidik yang sebenarnya.
Peserta didik menganggap guru praktikan bukanlah pendidik yang sebenarnya (meremehkan). Sugesti ini secara kejiwaan telah membentuk mindset peserta didik yang berpengaruh pada kekuranghormatan kepada guru praktikan.

c. Sumber pembelajaran terbatas.
Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan menuntut semua pihak untuk selalu meng-up date referensi agar tidak gagap dalm menghadapi ilmu baru.
Secara umum kurikulum MTs Al Muttaqin menerapkan sistem KTSP. Karena itu, logis jika aneka sumber pembelajaran berbasis sekolah dipersiapkan. Namun, pada kenyataannya buku atau pun modul yang tersedia masih sangat terbatas dan masih mengacu pada buku panduan dari Depag maupun Depdiknas.

d. Belum tertanamnya budaya kedisiplinan.
Disiplin dalam hal ini bukan saja bagi siswa-siswi MTs Al Muttaqin, termasuk juga tenaga pendidik, staf karyawan dan guru praktikan.
Hal ini dapat dilihat dari seringnya keterlambatan yang terjadi baik saat datang di madrasah maupun pergantian jam pembelajaran.

e. Silabus pembelajaran tidak lengkap.
Tidak semua guru praktikan menerima silabus pembelajaran sehingga guru praktikan sedikit kesulitan dalam merumuskan RPP.

D. Alternatif Pemecahan Masalah
Dari problematika hambatan di atas, maka kami menawarkan beberapa alternatif pemecahannya, yaitu:

a. Bagi guru praktikan hendaknya melakukan variasi metode pembelajaran. Pelajari berbagai teori-teori mengajar seperti bagaimana kiat-kiat untuk mengkondisikan kelas. Bangunlah hubungan emosional dengan peserta didik dengan cara pendekatan indivual (di dalam maupun di luar kelas).

b. Mengubahmindset peserta didik tentang devinisi pendidik. Buka cakrawala mereka dan yakinkan bahwa yang dimaksud guru bukanlah hanya seseorang yang biasa berdiri di depan kelas dan selalu menceramahi mereka. Sebagai contoh, kutipkan pandangan Sayyidina Ali bin Abi Tholib yang mengatakan bahwa guru adalah setiap orang yang telah berhasil memberikan informasi kepada kita, meskipun sedikit (satu huruf). Dengan demikian, sugesti mereka tentang guru praktikan yang dianggap bukanlah guru sebenarnya akan mengikis.

c. Guru praktikan mencari referensi dari sumber-sumber lain yang mendukung materi pembelajaran. Bisa dari buku, modul, media cetak (Koran, tabloid, majalah, dll.), dan media elektronik (televise, radio, internet, dll).

d. Menanamkan budaya disiplin dimulai dari diri sendiri. Pembelajaran dengan metode uswatun khasanah sangat tepat dalam hal ini. Teknisnya adalah datang tepat waktu, jam pembelajaran tidak dikorupsi (ditambah maupun dikurangi), dan pulang juga tepat waktu.

e. Tidak terpaku pada silabus. Pada dasarnya silabus hanya sebagai acuan perencanaan pembelajaran. Karena itu, guru praktikan bebas merumuskan perencanaan pembelajarannya sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak didik. Tetapi, elemen penting dalam pengembangan silabus seperti ilmiah, relevan, konsisten, sistematis, memadai, actual, kontekstual, fleksibel dan menyeluruh harus tetap diperhatikan.

BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:

a. PPL merupakan media bagi para calon pendidik untuk mengaplikasikan teori-teori pembelajaran yang didapat dari kampus dalam realita yang sebenarnya.

b. PPL Mahasiswa Fakultas Tarbiyah INISNU tahun 2009 di MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara mendapat dukungan dan hambatan sebagaimana dalam bab IV laporan ini.

c. RPP yang matang merupakan elemen penting dalam mendukung kelancaran proses pembelajaran.

d. Guru praktikan dituntut untuk selalu siap untuk memberikan materi pembelajaran meskipun bukan dalam bidang keilmuannya. Hal ini untuk mengantisipasi kekosongan jam pelajaran.

B. SARAN

1. Saran untuk Fakultas Tarbiyah INISNU Jepara.
a. Hendaknya PPL dipersiapkan dengan matang, mulai perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi.
b. Pembekalan kepada peserta PPL harus dimaksimalkan agar tercapai tujuan yang diharapkan. Terutama terkait dengan materi, pemateri, metode penyampaian dan fasilitas.
c. Hendaknya peserta PPL dibekali modul atau buku panduan yang berfungsi mengarahkan mereka pada tujuan ideal pelaksanaan PPL.
d. Sasaran PPL (lembaga yang akan dijadikan praktek) hendaknya disurvei terlebih dahulu mengenai kesiapannya, meliputi letak geografis, jumlah siswa, kurikulum pembelajaran, maupun kualitas institusi.
e. Dosen Pembimbing Lapangan hendaknya aktif mengontrol proses PPL sehingga tidak terkesan posisinya hanya sebagai formalitas tanpa fungsi.
f. Transparansi dana dari pihak fakultas kepada peserta PPL wajib dilakukan untuk menghindari ketidaktepatan penggunaan hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak (Fakultas, Mahasiswa, dan lembaga yang ditempati).

2. Saran bagi peserta PPL (guru praktikan).
a. Peserta PPL hendaknya menyiapkan pembelajaran secara matang dengan pembuatan RPP.
b. Berusaha memenuhi standar kompetensi dan kecakapan sebagai pendidik mencakup kompetensi paedagogik, kepribadian, professional, dan social.
c. Interaksi kepada anak didik hendaknya bukan saja dilakukan di dalam ruang kelas, tetapi juga di luar jam pembelajaran. Hal ini untuk membangun hubungan emosional kepada mereka.
d. Peserta PPL seyogyanya menguasai berbagai metode agar tidak terjadi kejenuhan dalam proses pembelajaran.
e. Berusaha menjadi suri tauladan bagi anak didik.
f. Memberikan motivasi positif kepada anak didik supaya mereka sadar arti penting pendidikan.

3. Saran untuk MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara.
a. Hendaknya memenuhi standar isi yang telah ditetapkan pemerintah dengan menyusun kalender pendidikan untuk menentukan ketepatan permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif, dan hari libur.
b. Seyogyanya menyelenggarakan proses pembelajaran dengan tepat. Madrasah bukan hanya berfungsi mwngalihkan pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga transver of value (pemindahan nilai-nilai keteladanan).
c. Seyogyanya MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara memenuhi standar kompetensi lulusan.
d. MTs Al Muttaqin sebaiknya memenuhi standar pendidik dan tenaga kependidikan.
e. MTs Al Muttaqin harus berusaha memiliki standar sarana dan prasarana pendidikan.
f. Seyoyanya menerapkan standar pengelolaan manajemen berbasis madrasah dengan berasas kemandirian, kemitraan, dan keterbukaan.
g. Berusaha memenuhi standar pembiayaan.
h. Memenuhi standar penilaian pendidikan.

C. KATA PENUTUP
Demikian laporan PPL ini kami susun. Terima kasih atas dukungan semua pihak yang telah membantu terlaksananya PPL di MTs Al Muttaqin Rengging Pecangaan Jepara. Saran kritik tetap kami harapkan sebagai bahan perbaikan laporan ini. Mohon maaf dan semoga bermanfaat. Amin.

Rengging, 12 Maret 2009

TIM PENYUSUN

KESUKSESAN ALA MAHASISWA

4 Jan

Oleh: Ahmad Saefudin

Term “sukses” begitu subjektif. Tidak ada standar baku sebagai indikatornya. Apakah “sukses” tersebut diukur dari materi, finansial, jabatan, atau kecerdasan. Beda manusia, tidak sama pula pikirannya dalam menilai arti kesuksesan.

Tetapi, Jawahral Nehru -Tokoh Besar India- mengatakan bahwa sukses sering datang kepada orang yang berani bertindak. Jarang datang kepada penakut yang tidak berani menerima konsekuensi.

Pointer penting dari perkataan Nehru di atas ialah bahwa kesuksesan harus dibarengi dengan keberanian dalam aksi serta keberanian dalam manghadapi resiko.

Dengan cara pandang di atas, kita seharusnya pandai menempatkan posisi dalam menilai kesuksesan yang akan kita raih. Berperan sebagai apakah kita sekarang? Pertanyaan ini mungkin akan sedikit membantu untuk memaknai kesuksesan dalam hidup.

Katakanlah kini, posisi kita adalah mahasiswa. Bagaimana kita mengukur standar kesuksesan mahasiswa? Apakah yang berindeks prestasi komulatif tinggi? Atau yang selalu mengikuti ceramah dosen (yang terkadang membosankan akibat hanya itu-itu saja referensi yang dipakai)?

Masih bertolak pada pandangan Nehru di atas, Mahasiswa yang sukses adalah Mahasiswa yang berani bertindak dan mengambil segala resiko dari tindakannya. Pernahkah kita (sebagai Mahasiswa) berani memperdebatkan sistem perkuliahan yang cenderung jauh dari kualitas yang diharapkan, meskipun dengan resiko dicap dan masuk dalam daftar hitam para birokrat kampus?

Indikator dari carut marutnya sistem perkuliahan (setidaknya yang pernah Penulis rasakan):
1. Jadwal perkuliahan tidak pasti. Apa lagi ditambah banyaknya jam libur dan meliburkan diri. Imbasnya, materi perkuliahan tidak tuntas.

2. Kapasitas dosen kurang mumpuni. Di bidang kompetensi, masih tak beda jauh dengan lulusan S1, meskipun mengaku sudah lulus S2. Diktat dan buku rujukan dalam mengampu mata kuliah yang diajarkan pun terkesan tidak variatif bahkan kuno. Meskipun kurikulum perkuliahan telah berubah, yang jadi sumber bacaan utama hanya buku itu-itu saja, tak ada perkembangan. Ini juga yang menyebabkan stagnasi pemikiran mahasiswanya. Faktor lain adalah profesi dosen masih dianggap sebagai profesi sampingan. Terutama bagi kampus swasta. Bagaimana ingin mencetak mahasiswa yang berkarakter intelektual tinggi jika mengajarnya pun menggunakan tenaga sisa?

3. Sarana dan pra sarana kurang memadai. Alat-alat teknologi seperti komputer, note book, LCD, internet, belum semuanya mampu termanfaatkan dengan baik.

4. Fungsi perpustakaan kampus kurang maksimal. Bisa jadi karena perpustakaan kampus masih miskin referensi pokok yang mendukung materi perkuliahan, manajemen perpustakaan yang amburadul seperti sering hilangnya buku, jadwal buka-tutup yang sering tidak tepat waktu, dan desain ruang yang menjenuhkan sehingga mahasiswa enggan masuk, atau bahkan faktor apatisme mahasiswa yang phobia terhadap perpustakaan kampus.

5. Visi dan misi Perguruan Tinggi yang masih bersifat formal-simbolik. Dalam arti belum ada rancangan infrastruktur yang matang untuk mendukung terwujudnya visi-misi kampus tersebut. Sangat disayangkan indahnya visi-misi kampus hanya terpampang dan menggantung di pintu gerbang dan tembok-tembok kelas perguruan tinggi, tanpa implementasi berarti.

6. Feodalisme Birokrasi Kampus. Di era demokrasi ini, masih ada saja para pimpinan kampus yang belum bisa keluar dari kungkungan feodalisme. Terpaku pada pimpinan yang dianggap lebih senior (baca: tua). Akhirnya yang terjadi adalah tidak adanya daya progresif yang tercipta. (Dosen) yang muda berperan sebagai tokoh inferior dan harus dikondisikan mematuhi segala perintah pimpinan yang notebene (men)superior(kan diri tanpa mengaca lebih jeli). Seandainya sang inferior bertindak keluar dari frame umum, langsung diarahkan, dibimbing agar tidak neko-neko, dan kalau masih membangkang, disikat dan diganti dengan yang baru. Yang selalu taat dan tunduk pada fatwa-fatwanya dalam melanggengkan praktek feodalisme birokrasi.

Kemudian, apa yang bisa kita harapkan dari kampus dengan segala problematikanya di atas? Siapa yang menjamin alumnus dari kampus yang bercirikan di atas akan sukses?

Karena itu, tanamkan dalam diri kita. Lawan dan hancurkan segala bentuk feodalisme birokrasi kampus. Walaupun DO (Drop Out) konsekuensinya. Paling tidak, kita sudah bisa berperan sebagai mahasiswa sukses ala Jawahral Nehru.

TANTANGAN PENDIDIKAN ISLAM

25 Agu

Oleh: Ahmad Saefudin (Mahasiswa Fakultas Tarbiyah INISNU Jepara)

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah
Kapita Selekta Pendidikan Islam (KSPI)
Dosen pengampu: Drs. KH. Akhirin Ali, M. Ag.

A. PENDAHULUAN

Bagaimana mungkin kaum Muslim mengklaim hak pengakuan universal dan kehadiran global jika tetap terisolasi dan terpisah dari dunia lain? Farish A. Noor -Intelektual muda asal Malaysia- mencoba membuka mata Muslimin di dunia yang masih terlelap dalam tidur panjang dengan pertanyaan kritis di atas.

Sebagai Muslim, tentunya kita (di)harus(kan) menjawab dan mencari solusi dari permasalahan besar tersebut. Lebih jauh Beliau memaksa kita untuk instropeksi diri terhadap agama (baca: Islam) yang menurut Al-Qur’an telah disempurnakan oleh Allah SWT. Apakah Islam benar-benar telah sempurna? (terserah apabila ada yang sangsi terhadap keimanan penulis, akibat pertanyaan ini). Mampukah konsep Islam bi la hudud –Islam tanpa batas—yang menempatkan dirinya dalam realitas kekinian yang tanpa batas (borderless), plural, multikultural, dan kompleks berjalan dengan tegak? Apalagi kita sudah semakin terkepung oleh laju global yang mau tidak mau harus siap untuk menapak beriringan agar tetap eksis dan tidak tergerus oleh zaman.

Pada tahun 1980-an, cendekiawan Soedjatmoko sudah mewanti-wanti bangsa Indonesia dalam memasuki abad 21. Beliau mengatakan bahwa pendidikan menjadi “tumpuan” harapan bangsa untuk bisa bersaing di kompetisi global. SDM masa depan tidak hanya menguasai satu dua disiplin dan keahlian tertentu, melainkan beberapa bidang ilmu dan keahlian sekaligus.

Sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita kembali pada devinisi awal tentang pokok bahasan yang akan dikaji. Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, istilah tantangan berakar dari kata tantang yang berarti lawan. Adapun pendidikan bermakna bimbingan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan sebagaimana dikatakan oleh A. Fatih Syuhud merupakan suatu usaha yang dilakukan individu dan masyarakat untuk mentransmisikan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, dan bentuk ideal kehidupan mereka kepada generasi muda untuk membantu mereka dalam meneruskan aktifitas kehidupan secara efektif dan berhasil. Islam sebagaimana kita ketahui merupakan agama yang diturunkan oleh Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW. Sedangkan globalisasi adalah suatu proses pertukaran nilai budaya yang mendunia tanpa mengenal batas-batas demografi (ilmu tentang susunan, jumlah, dan perkembangan penduduk) suatu negara.

B. ISI

1. Globalisasi dan Dampaknya dalam Pendidikan.

Globalisasi, lengkap dengan dampak positif negatifnya meniscayakan kita untuk menyelaminya. Dia datang menembus ruang dan waktu. Dari Amerika sampai Australia, semua mengalami proses ini. Lebih-lebih Indonesia. Anehnya, negara kita belum siap untuk menyambut bola api globalisasi yang terus menggelinding. Akibatnya, globalisasi menjadi kambing hitam bagi pejabat dan politisi (para pemimpin bangsa) untuk menutupi ketidakmampuan mereka (Kompas, Jum’at, 15 Agustus 2008). Di bidang ekonomi, sejumlah perusahaan industri kolaps dan gulung tikar akibat kalah berkompetisi dengan perusahaan lain yang memiliki modal lebih besar. Mantan Gubernur Bank Indonesia Soedradjad Djiwandono mengakui Indonesia menghadapi kenyataan pahit menyangkut kekurangsiapan melaksanakan kesepakatan yang sudah dibuat sebelumnya dalam komitmen liberalisasi perdagangan. Lonjakan harga minyak dan komoditas pangan global membuat semua sektor kehidupan menderita.

Bertubi-tubi masalah juga masih mewabah dalam pendidikan kita. Dunia sekolah yang semestinya mampu menjawab tantangan global, justru ikut-ikutan terpuruk. Survei Angkatan Kerja Nasional menunjukkan, dari 10 juta penganggur usia kerja, 55 persen berpendidikan sekolah menengah (BPS, 2008). Sebanyak 4.516.100 dari 9.427.600 orang yang masuk kategori pengangguran terbuka Februari 2008 adalah lulusan SMA, SMK, program diploma, dan universitas. Rendahnya daya adaptsi lulusan sekolah formal memenuhi tuntutan pasar kerja kian menjadi persoalan mengatasi pengangguran. Agus Suwignyo (Pedagog FIB UGM) juga memberikan data pahit tentang ambruknya Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Kita. Dia menyebitkan, hanya 50 persen dari 2.756 PTS di Indonesia saat ini yang dinyatakan “sehat” dalam hal jumlah mahasiswa, rasio dosen mahasiswa, dan ketersediaan fasilitas. Di Jawa Tengah 174 dari 323 PTS terancam ditutup karena kurang diminati mahasiswa. Di mana posisi kampus kita (INISNU)? Termasuyk dalam kategori “sehat” atau “sakit”? (batin kita yang mampu menjawab). Privatisasi dan liberalisasi pendidikan semakin mengancam eksisitensi perguruan tinggi, setelah pemerintah membuat RUU BHP (Rancangan Undang Undang Badan Hukum Pendidikan) yang hingga kini masih digodok oleh DPR dan pengesahannya tinggal menunggu waktu.

Masih terlalu banyak indikator yang menunjukkan bahwa globalisasi menjadi momok bagi (yang menyadari tentang) kehidupan.

2. Tantangan Pendidikan Islam di Era Globalisasi.

Khan (1986), mendevinisikan maksud dan tujuan pendidikan Islam sebagai berikut:

a. Memberikan pengajaran Al Qur’an sebagai langkah pertama pendidikan.

b. Menanamkan pengertian-pengertian berdasarkan pada ajaran-ajaran fundamental Islam yang terwujud dalam Al Qur’an dan Al Sunnah.

c. Memberikan pengertian-pengertian dalam bentuk pengetahuan dan skill dengan pemahaman yang jelas bahwa hal-hal tersebut dapat berubah sesuai dengan perubahan masyarakat.

d. Menanamkan pemahaman bahwa ilmu pengetahuan tanpa basis Iman dan Islam adalah pendidikan yang tidak utuh dan pincang.

e. Menciptakan generasi muda yang memiliki kekuatan baik dalam keimanan maupun ilmu pengetahuan.

f. Mengembangkan manusia Islami yang berkualitas tinggi dan diakui secara universal.

Karena itu, yang dimaksud dengan pendidikan Islam di sini bukanlah dalam arti pendidikan ilmu-ilmu agama Islam yang pada gilirannya mengarah pada lembaga-lembaga pendidikan Islam semacam madrasah, pesantren atau UIN, akan tetapi bagaimana menanamkan nilai-nilai fundamental Islam kepada setiap Muslim terlepas dari disiplin ilmu apapun yang dikaji.

Menurut Center for Moderate Muslim Indonesia, setidaknya ada tiga tantangan pokok yang dihadapi pendidikan Islam di Indonesia dalam menelusuri arus global yaitu:

1. Konformisme kurikulum dan sumber daya manusia.

Konformisme atau cepat merasa puas dengan keadaan yang ada menjadi kendala mendasar dalam mengembangkan kurikulum pendidikan Islam. Lembaga pendidikan dasar dan menengah masih menggunakan model kurikulum lama dengan mengandalkan pendidikan dasar agama sebagai bekal mengajarkan pendidikan agama lebih lanjut kepada masyarakat. Pembahasan yang diajarkan pun masih banyak menekankan aspek normatif dengan (mohon maaf) menegesampingkan aspek transformatif dalam konteks sosio-kultural masyarakat kita. Jangan kaget, apabila ada sekelompok ikhwan yang sudah merasa cukup hanya dengan mengkaji ilmu-ilmu keislaman yang datang dari tokoh-tokoh salaf dan menganggap tabu ilmu-ilmu lain (kontemporer) yang sebenarnya sama pentingnya. Kiranya kita perlu menata ulang pemahaman hadis Nabi Muhammad SAW; “man arod al dunya fa ‘alaihi bi al ‘ilmi, wa man aroda al’akhirota fa ‘alaihi bi al ‘ilmi, wa man ‘arodahuma fa ‘alaihi bi al ‘ilmi”.

Dunia ini jauh lebih kompleks daripada yang kita pelajari dan bayangkan selama berada di tempat belajar. Indonesia tidak mungkin dilihat hanya melalui kaca mata sempit. Bagaimana kita akan mampu mengatasi pengangguran, kemiskinan, dan keterbatasan kalau kita hanya belajar zaidun qo’imun (istilah penulis)? Lembaga-lembaga Islam seperti pesantren perlu melepaskan diri dari keterkungkungan dan memodernisasi sistem dan metode pendidikannya agar tidak tertinggal dengan perkembangan keilmuan modern.

2. Perubahan Sosial Politik

Iklim sosial politik kita yang tidak menentu ikut memberi warna pada dunia pendidikan Islam. Sebagai negara demokrasi, politik merupakan hal yang tak bisa terhindarkan. Bahkan, tidak sedikit ulama (pengampu pendidikan Islam) menceburkan diri dalam kancah politik praktis. Mereka yang seharusnya berperan sebagai wasit, malah ikut andil menendang bola. Lalu apa yang terjadi dengan umat yang ditinggalkannya? Santri-santrinya? Lembaga pendidikannya? (biar mereka sendiri yang menjawab).

3. Perubahan orientasi.

Sang Proklamator Bung Hatta pernah mengatakan, agama hidup di masyarakat, sedangkan masyarakat itu sendiri senantiasa mempunyai dinamika dan perubahan. Oleh sebab itu, para pendidik agama pun harus bisa menangkap dan tanggap terhadap “roh” perubahan, agar Islam senantiasa compatible dengan perkembangan masyarakat. Pertanyaannya kemudian, sudahkah kita dan para tokoh agama merespon wejangan Sang Proklamator? Atau kita hanya menghormati dan mengingat beliau sebatas mengikuti rituak 17 Agustus-an tanpa mengindahkan gagasan-gagasan beliau?

Hari ini, tidak sedikit lembaga pendidikan Islam yang masih alergi dengan filsafat, bahkan ilmu sosial lainnya yang dituding sebagai bentuk hegemoni Barat di bidang ilmu pengetahuan. Kejumudan intelektual akut sedang dialami umat. Orientasi dari sekedar mendidik untuk memahami ilmu (pengetahuan) agama an sich harus di re(de)konstruksi menjadi paham terhadap ilmu agama, ilmu sosial, ilmu alam, dan ilmu humaniora.

C. PENUTUP

Demikian makalah ini kami buat. Semoga bisa menambah wacana ruang pikir kita terutama tentang pendidikan Islam dan globalisasi. Saran dan kritik senantiasa kami harap sebagai bahan evaluasi perbaikan. Terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

A. Noor, Farish, Islam Progresif: Peluang, Tantangan, dan Masa Depannya di Asia Tenggara, Yogjakarta: SAMHA, 2006), Cet. I.
Budiono, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Surabaya: KARYA AGUNG, 2005.
Center For Moderate Muslim Indonesia dengan judul artikel Tantangan Pendidikan Islam di Indonesia (17 Januari 2007).
Ishom, Nanang, Umat Islam dan Tantangan Globalisasi.
Susanti, Dewi, Relevankah Sekolah Menengah?, Kompas, edisi Kamis, 21 Agustus 2008.
Syuhud, A. Fatih, Tantangan Pendidikan Islam di Era Globalisasi(www.kammi.or.id).
INISNU

PERSEPSI INTERPERSONAL Sebuah resume dari buku Psikologi Komunikasi karya Drs. Jalaluddin Rakhmat, MSc.

18 Apr

OLEH: DEDI MERISA*

A. Prolog

Pada tahun 1950-an, dikalangan psikolog social lahirlah istilah persepsi sosial yang didefinisikan sebagai “the role of socially generated influences on the basic processes of perception” (Mc David dan Harari, 1968:173). Akhir tahun 1950-an dan awal tahun 1960-an fokus penelitian tidak lagi pada faktor-faktor sosial yang mempengaruhi persepsi, tetapi objek-objek dan peristiwa sosial. Persepsi sosial kini telah memperoleh konotasi baru sebagai proses mempersepsi objek-objek dan peristiwa-peristiwa sosial. Untuk tidak mengaburkan istilah dan untuk menggarisbawahi manusia (bukan benda) sebagai objek persepsi, disini digunakan istilah persepsi interpersonal. Persepsi pada objek selain manusia kita sebut saja persepsi objek.

Ada empat perbedaan antara persepsi objek dengan persepsi interpersonal. Pertama, pada persepsi objek, stimuli ditangkap oleh alat indera kita melalui benda-benda fisik; gelombang, cahaya, gelombang suara, temperature, dan sebagainya; pada persepsi interpersonal, stumuli mungkin sampai kepada kita melalui lambang-lambang verbal atau grafis yang disampaikan fihak ketiga.

Kedua, bila kita menanggapi objek, kita hanya menanggapi sifat-sifat luar obyek itu; kita tidak meneliti sifat-sifat batiniyah obyek itu. Pada persepsi interpersonal kita mencoba memahami apa yang tampak pada alat indera kita. Ketiga, ketika kita mempersepsi objek, objek tidak bereaksi kepada kita; kita pun tidak memberikan reaksi emosional padanya. Dalam persepsi interpersonal, faktor-faktor personal anda, dan karakteristik orang yang ditanggapi serta hubungan anda dengan orang tersebut, menyebabkan persepsi interpersonal sampai cenderung untuk keliru.

Keempat, objek relatif tetap, sedangkan manusia berubah-ubah. Persepsi interpersonal yang berobjekkan manusia kemudian menjadi mudah salah.

Betetapun kita sulit mempersepsi orang lain, kita toh berhasil juga memahami orang lain. Buktinya, kita masih dapat bergaul dengan mereka, masih dapat berkomunikasi dengan mereka, dan masih dapat menduga perilaku mereka. Dari mana kita memperoleh petunjuk tentang orang lain ? Apa yang menyebabkan kesimpulan kita bahwa X bersifat Y? Kita menduga karakteristik orang lain dari petunjuk-petunjuk eksternal (external cues) yang dapat diamanati petunjuk-petunjuk itu adalah diskripsi verbal dari pihak ketiga, petunjuk proksemik, kinesik, wajah, paralinguistik, dan artifaktual. Selain yang pertama, yang lainnya boleh disebut sebagai petunjuk non verbal (non verbal cues). Semuanya disebut faktor-faktor situasional.

B. Pengaruh Faktor-faktor Situasional Pada Persepsi Interpersonal

Deskripsi Verbal

Menurut eksperimen Solomon E. Asch, bahwa kata yang disebutkan pertama akan mengarahkan penilaian selanjutnya. Pengaruh kata pertama ini kemudian terkenal sebagai primacy effect. Menurut teori Asch, ada kata-kata tertentu yang mengarahkan seluruh penilaian kita tentang orang lain. Jika kata tersebut berada ditengah rangkaian kata maka disebut central organizing trait.

Walaupun teori Asch ini menarik untuk melukiskan bagaiana cara orang menyampaikan berita tentang orang lain mempengaruhi persepsi kita tentang orang itu, dalam kenyataan kita jarang melakukannya. Jarang kita melukiskan orang dengan menyebut rangkaian kata sifat. Kita biasanya mulai pada central trait, menjelaskan sifat itu secara terperinci, baru melanjutkan pada sifat-sifat yang lain.

Petunjuk Proksemik

Proksemik adalah studi tentang penggunaan jarak daam menyamaikan pesan; istilah ini dilahirkan oleh antroplog intercultural Eward T. Hall. Hall membagi jarak kedalam empat corak; jarak public, jarak sosial, jarak personal, dan jarak akrab. Jarak yang dibuat individu dalam hubungannya dengan orang lain menunjukkan tingkat keakraban di antara mereka. Betulkah kita pun mempersepsi orang lain dengan melihat jaraknya dengan kita? Bagaimana penanggap mentimpulkan sesuatu dari jarak interpersonal?

Pertama, seperti Edward T. Hall, kita juga menyimpulkan keakraban seorang dengan orang lain dari jarak mereka, seperti yang kita amati. Kedua, erat kaitannya dengan yang pertama, kira menangapi sifat orang lain dari cara orang itu membuat jarak dengan kita. Ketiga, caranya orang mengatur ruang mempengaruhi persepsi kita tentang orang itu.

Petunjuk Kinesik (Kinesic Cues)

Petunjuk kinesik adalah persepsi yang didasarkan kepada gerakan orang lain yang ditunjukkan kepada kita. Beberapa penelitian membuktikan bahwa persepsi yang cermat tentang sifat-sifat dari pengamatan petunjuk kinesik. Begitu pentingnya petunjuk kinesik, sehingga apabila petunjuk-petunjuk lalin (seperti ucapan) bertentangan dengan petunjuk kinesik, orang mempercayai yang terakhir. Mengapa? Karena petunjuk kinesik adalah yang paling sukar untuk dikendalikan secara sadar oleh orang yang menjadi stimuli (selanjutnya disebut persona stimuli-orang yang dipersepsi;lawan dari persona penanggap).

Petunjuk Wajah

Diantara berbagai petunjuk non verbal, petunjuk fasial adalah yang paling penting dalam mengenali perasaan persona stimuli. Ahli komunikasi non verbal, Dale G. Leather (1976:21), menulis; “Wajah sudah lama menjadi sumber informasi dalam komunikasi interpersonal. Inilah alat yang sangat penting dalam menyampaikan makna. Dalam beberapa detik ungkapan wajah dapat menggerakkan kita ke puncak keputusan. Kita menelaah wajah rekan dan sahabat kita untuk perubahan-perubahan halus dan nuansa makna dan mereka,pada gilirannya, menelaah kita”.

Walaupun petunjuk fasial dapat mengungkapkan emosi, tidak semua orang mempersepsi emosi itu dengan cermat. Ada yang sangat sensitive pada wajah, ada yang tidak. Sekarang para ahli psikologi sosial sudah menemukan ukuran kecermatan persepsi wajah itu dengan tes yang disebut FMST-facial meaning sensitivity test (tes kepekaan makna wajah). Dengan tes ini, kepekaan kita menangkap emosi pada wajah orang lain dapat dinilai skornya.

Petunjuk Paralinguistik

Yang dimaksud paralinguistik ialah cara orang mengucapkan lambing-lambang verbal. Jadi, jika petunjuk verbal menunjukkan aoa yang diucapkan, petunjuk paralinguistik mencerminkan bagaimana mengucapkannya. Ini meliputi tinggi-rendahnya suara, tempo bicara, gaya verbal (dialek), dan interaksi (perilaku ketika melakukan komunikasi atau obrolan). Suara keras akan dipersepsi marah atau menunjukkan hal yang sangat penting. Tempo bicara yang lambat, ragu-ragu, dan tersendat-sendat, akan dipahami sebagai ungkapan rendah diri atau … kebodohan.

Dialek ug digunakan menentukan persepsi juga. Bila perilaku komunikasi (cara bicara) dapat memberikan petunjuk tentang kepribadian persona stimuli, suara mengungkapkan keadaan emosional.

Petunjuk Artifaktual

Petunjuk artifaktual meliputi segala macam penampilan (appearance) sejak potongan tubuh, kosmetik yang dipakai, baju, pangkat, badge, dan atribut-atribut lainnya. Bila kita mengetahui bahwa seseorang memiliki satu sifat (misalnya, cantik atau jelek), kita beranggapan bahwa ia memiliki sifat-sifat tertentu (misalnya,periang atau penyedih); ini disebut halo effect. Bila kita sudah menyenangi seseorang, maka kita cenderung melihat sifat-sifat baik pada orang itu dan sebaliknya.

Selain berbagai petunjuk diatas, petunjuk verbal juga mempunyai peran. Yang dimaksud dengan petunjuk verbal disini adalah isi komunikasi persona stimuli, bukan cara. Misalnya, orang yang menggunakan pilihan kata-kata yang tepat, mengorganisasikan pesan secara sistematis, mengungkapkan pikiran yang dalam dan komprehensif, akan menimbulkan kesan bahwa orang itu cerdas dan terpelajar.

C. Pengaruh Faktor-faktor Personal Pada Persepsi Interpersonal

Persepsi interpersonal besar pengaruhnya bukan saja pada komunikasi interpersonal, tetapi juga pada hubungan interpersonal. Karena itu,keceramatan persepsi interpersonal akan sangat berguna untuk meningkatkan kualitas komunikasi interpersonal kita. Beberapa cirri-ciri khusus penanggap yang ceramat adalah :

Pengalaman

Pengalaman mempengaruhi kecermatan persepsi. Pengalaman tidak selalu lewat proses belajar formal. Pengalaman kita bertambah juga melalui rangkaian peristiwa yang pernah kita hadapi. Inilah yang menyebabkan seorang ibu segera melihat hal yang tidak beres pada wajah anaknya atau pada petunjuk kinesik lainnya. Ibu lebih berpengalaman mempersepsi anaknya daripada bapak. Ini juga sebabnya mengapa kita lebih sukar berdusta di depan orang yang paling dekat dengan kita.

Motivasi

Proses konstruktif yang banyak mewarnai persepsi interpersonal juga sangat banyak melibatkan unsur-unsur motivasi.

Kepribadian

Dalam psikoanalisis dikenal proyeksi, sebagai salah satu cara pertahanan ego. Proyeksi adalah mengeksternalisasikan pengalaman subjektif secara tidak sadar. Orang melempar perasaan bersalahnya pada orang lain. Maling teriak maling adalah contoh tipikal dari proyeksi. Pada persepsi interpersonal, orang mengenakan pada orang lain sifat-sifat yang ada pada dirinya, yang tidak disenanginya. Sudah jelas, orang yang banyak melakukan proyeksi akan tidak cermat menanggapi persona stimuli, bahkan mengaburkan gambaran sebenarnya. Sebaliknya, orang yang menerima dirinya apa adanya, orang yang tidak dibebani perasaan bersalah, cenderung menafsirkan orang lain lebih cermat. Begitu pula orang yang tenang, mudah bergaul dan ramah cenderung memberikan penilaian posoitif pada orang lain. Ini disebut leniency effect (Basson dan Maslow, 1957).

Bial petunjuk-petunjuk verbal dan non verbal membantu kita melakukan persepsi yang cermat, beberapa factor personal ternyata mempersulitnya. Persepsi interpersonal menjadi lebih sulit lagi, karena persona stimuli bukanlah benda mati yang tidak sadar. Menusia secara sadar berusaha menampilkan dirinya kepada orang lain sebaik mungkin. Inilah yang disebut dengan Erving Goffman sebagai self-presentation (penyajian diri).

D. Proses Pembentukan Kesan

Stereotyping

Seorang guru ketika menghadapi murid-muridnya yang bermacam-macam, ia akan mengelompokkan mereka pada konsep-konsep tertentu; cerdas, bodoh, cantik, jelek, rajin, atau malas. Penggunaan konsep ini menyederhanakan bergitu banyak stimuli yang diterimanya. Tetapi, begitu anak-anak ini diberi kategori cerdas, persepsi guru terhadapnya akan konsisten. Semua sifat anak cerdas akan dikenakan kepada mereka. Inilah yang disebut stereotyping.

Stereotyping ini juga menjalaskan terjadinya primacy effect dan halo effect yang sudah kita jelaskan dimuka. Primacy effect secara sederhana menunjukkan bahwa kesan pertama amat menentukan; karena kesan itulah yang menentukan kategori. Begitu pula, halo effect. Persona stimuli yang sudah kita senangi telah mempunyai kategori tertentu yang positif, dan pada kategori itu sudah disimpan semua sifat yang baik.

Implicit Personality Theory

Memberikan kategori berarti membuat konsep. Konsep “makanan” mengelompokkan donat, pisang, nasi, dan biscuit dalam kategori yang sama. Konsep “bersahabat” meliputi konsep-konsep raman, suka menolong, toleran, tidak mencemooh dan sebagainya. Disini kita mempunya asumsi bahwa orang ramah pasti suka menolong, toleran, dan tidak akan mencemooh kita. Setiap orang mempunyai konsepsi tersendiri tentang sifat-sifat apa yang berkaitan dengan sifat-sifat apa. Konsepsi ini merupakan teori yang dipergunakan orang ketika membuat kesan tentang orang lain. Teori ini tidak pernah dinyatakan, kerena itu disebut implicit personality theory. Dalam kehidupan sehari-hari, kita semua psikolog, amatir, lengkap dengan berbagi teori kepribadian. Suatu hari anda menemukan pembantu anda sedang bersembahyang, anda menduga ia pasti jujur, saleh, bermoral tinggi. Teori anda belum tentu benar, sebab ada pengunjung masjid atau gereja yang tidak saleh dan tidak bermoral.

Atibusi

Atribusi adalah proses menyimpulkan motif, maksud, dan karakteristik orang lain dengan melihat pada perilakunya yang tampak (Baron dan Byrne, 1979:56). Atribusi boleh juga ditujukan pada diri sendiri (self attribution), tetapi di sini kita hanya membicarakan atribusi pada orang lain. Atribusi merupakan masalah yang cukup poupuler pada dasawarsa terakhir di kalangan psikologi sosial, dan agak menggeser fokus pembentukan dan perubahan sikap. Secar garis besar ada dua macam atribusi: atribusi kausalitas dan atribusi kejujuran.

Fritz Heider (1958) adalah yang pertama menelaah atribusi kausalitas. Menurut Heider, bila kita mengamati perilaku sosial, pertama-tama kita menentukan dahulu apa yang menyebabkannya; factor situasional atau personal; dalam teori atribusi lazim disebut kausalitas eksternal dan kausalitas internal (Jones dan Nisbett, 1972).

Bagaimana kita mengetahui bahwa perilaku orang lain disebabkan factor internal, dan bukan factor eksternal? Menurut Jones dan Nisbett, kita dapat memahami motif persona stimuli dengan memperhatikan dua hal. Pertama, kita memfokuskan perhatian pada perilaku yang hanya memungkinkan satu atau sedikit penyebab. Kedua, kita memusatkan perhatian pada perilaku yang menyimpang dari pola perilaku yang biasa.

Menurut teori atribusi dari Harold Kelly (1972), kita menyimpulkan kausalitas internal atau eksternal dengan memperhatikan tiga hal: konsensus, -apakah orang lain bertindak sama seperti penanggap; konsistensi – apakah penanggap bertindak yang sama pada situasi lain; dan kekhasan (distinctiveness) –apakah orang itu bertindak yang sama pada situasi lain, atau hanya pada situasi ini saja. Menurut teori Kelly, bila ketiga hal itu sangat tinggi, orang akan melakukan atribusi kausalitas eksternal.

Sekarang bagaimana kita dapat menyimpulkan bahwa persona stimuli jujur atau munafik (atribusi kejujuran-attribution of honesty)? Menurut Robert A. Baron dan Donn Byrne (1979:70-71), kita akan memperhatikan dua hal: (1) sejauh mana pernyataan orang itu menyimpang dari pendapat yang popular dan diterima orang, (2) sejauh mana orang itu memperoleh keuntungan dari kita dengan pernyataan itu.

E. Proses Pengelolaan Kesan (Impression Management)

Kecermatan persepsi interpersonal dimudahkan oleh petunjuk-petunjuk verbal dan non verbal, dan dipersulit oleh factor-faktor personal penangkap. Kesulitan persepsi juga timbul karena persona stimuli berusaha menampilkan petunjuk-petunjuk tertentu untuk menimbulkan kesan tertentu pada diri penangkap. Erving Goffman menyebut proses ini pengelolaan kesan (Impression management).

Peralatan lengkap yang kita gunakan untuk menampilkan diri ini disebut front. Front terdiri dari panggung (setting), penampilan (appearance), dan gaya bertingkah laku (manner). Panggung adalah rangkaian peralatan ruang dan benda yang kita gunakan. Penampilan berarti menggunakan petunjuk artifaktual. Gaya bertingkah laku menunjukkan cara kita berjalan, duduk, berbicara, memandang, dan sebagainya.

F. Pengaruh Persepsi Interpersonal Pada Komunikasi Interpersonal

Perilaku kita dalam komunikasi interpersonal amat bergantung pada persepsi interpersonal. Karena perspsi yang keliru, seringkali terjadi kegagalan dalam komunikasi. Kegagalan komunikasi dapat diperbaiki bila orang menyadari bahwa persepsinya mungkin salah. Komunikasi interpersonal kita akan menjadi lebih baik bila kita mengetahui bahwa persepsi kita bersifat subjektif dan cenderung keliru. Kita jarang meneliti kembali persepsi kita. Akibat lain dari persepsi kita yang tidak cermat ialah mendistorsi pesan yang tidak sesuai dengan persepsi kita. Persepsi kita tentang orang lain cenderung stabil, sedangkan persepsi stimuli adalah manusia yang selalu berubah. Adanya kesenjangan antara persepsi dengan realitas sebenarnya mengakibatkan bukan saja perhatian selektif, tetapi juga penafsiran pesan yang keliru. Wallahu A’lam.

* Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Syariah Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara dan Litbang LPM BURSA.

Filsafat Pendidikan Islam

14 Apr

TUHAN, MANUSIA, DAN ALAM DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Oleh: Ahmad Saefudin dkk.

BAB I

PENDAHULUAN

Filsafat Pendidikan Islam sebagai ilmu pengetahuan telah menentukan objek pembahasan dalam dua kategori, yaitu makro dan mikro. Kajian tentang Tuhan, manusia, dan alam merupakan objek makro Filsafat Pendidikan Islam.[1] Sebagai objek makro, kita berpeluang untuk berfilosofi tentang Tuhan, manusia, dan alam dari berbagai sudut pandang dengan tetap memperhatikan nilai-nilai dan ranah pendidikan dan keislaman.

Sejak dahulu, para filosof telah merenungkan Tuhan, alam, dan manusia. Kita tentu pernah mendengar, Thales, Anaximenes, Anaximandros, dan tokoh filsafat Islam seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Shina, dan banyak nama lagi. Untuk itu, dalam makalah ini kita akan mencoba mengurai lebih dalam bagaimana Filsafat Pendidikan Islam memandang Tuhan, manusia, dan alam.

Toto Suharto dalam Filsafat Pendidikan Islam, menjelaskan bahwa dilihat dari perspektif sejarah kemanusiaan, hampir semua umat manusia memiliki kepercayaan adanya Tuhan yang mengatur alam ini. Orang-orang Yunani kuno dengan paham politeismenya meyakini bahwa bintang adalah tuhan (dewa), Venus adalah tuhan (dewa) kecantikan, Mars adalah dewa peperangan, Minerva adalah dewa kekayaan, sedangkan Tuhan tertingginya adalah Apollo atau Dewa Matahari. Orang-orang Hindu masa lampau juga meyakini banyak dewa yang diyakini sebagai tuhan-tuhan. Hal ini sebagaimana tercermin dalam Hikayat Mahabarata. Orang-orang Mesir juga tidak terkecuali. Mereka meyakini adanya Dewa Iziz, Dewa Oziris, dan yang tertinggi adalah Dewa Ra’. Masyarakat Persia pun demikian adanya. Mereka percaya adanya Tuhan Gelap dan Tuhan Terang. Pengaruh keyakinan-keyakinan ini terus marambah dalam mayarakat Arab, yang walaupun mereka ditanya tentang penguasa dan pencipta langit dan bumi, mereka menjawab “Allah”, tetapi pada saat yang sama, mereka juga menyembah berhala-berhala seperti Al Lata, Al Uzza, dan Manata, tiga berhala terbesar mereka di samping ratusan berhala lainnya.[2]

Jika boleh dibahasakan kembali, manusia sejak zaman dahulu hingga sekarang, meyakini adanya sesuatu di luar dirinya yang disebut Tuhan. Meskipun konsepsi Tuhan menurut mereka masih abstrak dan beragam sesuai dengan pengetahuan yang mereka peroleh selama perjalanan kehidupan.

Kita juga bebas berimajinasi mengenai Tuhan Sang Pencipta, tanpa harus takut dosa, murtad, kafir dan stereotip negatif lainnya yang justeru akan menghambat usaha kita memaknai hakikat uluhiyah sebagai modal keimanan terhadap-Nya. Bukankah Ibrahim as. memberikan uswah kepada kita di dalam Al Qur’an tentang proses panjang pencarian jati diri Tuhan (Allah)? Dia tak ragu untuk menyimpulkan bahwa Zat yang dianggap Maha Segalanya itu adalah berwujud bintang, bulan, dan matahari, sebelum akhirnya meyakini dan menemukan bahwa Tuhan asli adalah Allah SWT.

Manusia sebagai makhluk Tuhan paling sempurna, hendaknya sadar akan keberadaannya di bumi ini. Apa yang melandasi Tuhan menciptakan kita (yang masih mengaku manusia), bagaimana kita berperan maksimal dalam mengemban titah sebagai abdi sekaligus khalifah-Nya. Dengan begitu, hidup kita akan lebih bermakna. Alam sebagai relasi kita, juga perlu diposisikan secara proporsional sesuai fungsinya. Harapannya, pasca kajian makalah ini, kita mampu memahami dan menerapkan hubungan kita terhadap Allah (hablu min Allah), hubungan kita dengan sesaam manusia (hablu min nas), dan hubungan kita terhadap alam (hablu min alam).


BAB II

ISI

TUHAN, MANUSIA, DAN ALAM

DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

A. Tuhan dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam

1. Tuhan dalam Islam.

Dalam wawasan Islam, istilah “tauhid” memiliki makna yang sangat agung dan luas. Kalangan cendekiawan Muslim pada umumnya menggolongkan jenis-jenis ketauhidan menjadi “tauhid dalam zat” atau dzati, “tauhid dalam sifat” atau sifati, dan “tauhid dalam perbuatan” atau fi’li.[3]

Sengaja kami menggunakan istilah tauhid (monotheisme) untuk menunjukkan spirit Islam dalam memerangi praktik paganisme.

Ajaran tauhid ini berlaku bukan hanya bagi Muhammad saja, tapi juga bagi nabi-nabi sebelumnya, seperti Nabi Hud, Shaleh, Syu’aib, Ibrahim, Musa, dan Isa (QS. Al Anbiya’: 51-71).

Mengapa tauhid? Apakah konsep monotheisme lebih baik dan lebih benar jika kita bandingkan dengan konsep politheisme ataupun atheisme?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, Prof. Muhsin Qiraati memberikan beberapa argumen ketauhidan. Pertama, keserasian.[4] Pakar Islam kontemporer ini memaparkan bahwa bukti termudah dan tergamblang tentang ketauhidan adalah keserasian dan keteraturan yang terjalin di antara berbagai ciptaan yang tersebar di jagat alam. Ambil contoh, tiga orang pelukis yang masing-masing hendak melukis bagian-bagian dari tubuh seekor ayam jantan yang sama. Sang pelukis pertama melukiskan bagian kepalanya. Sedangkan pelukis kedua melukiskan kakinya. Dan pelukis ketiga melukiskan potongan tubuhnya. Setelah itu, ketiga lembar lukisan tersebut kita gabungkan. Pastilah ketiga bagian lukisan ayam tersebut tidak harmonis dan tidak beraturan. Dengan begitu, keserasian, keteraturan, serta keseimbangan yang saling jalin-menjalin dalam pelbagai ciptaan ini merupakan bukti terbaik dan termudah bagi ketunggalan Sang Pencipta. Kelemahan dan kekuatan, penyerangan dan pertahanan, kekerasan dan kelembutan, semuanya memang terjalin dalam suatu kesatuan yang membingungkan.biar pun begitu, kesemuanya ternyata merangkai sebuah system yang betul-betul harmonis.

Tidak sedikit rasionalisasi lain yang bisa menunjukkan ketauhidan. Mari kita berfilsafat sekaligus menjalankan amanat Tuhan dalam firman-Nya; afala ta’qilun, afala tatafakkarun, afala ta’lamun.

Argumen kedua –masih menurut Muhsin- yaitu tidak adanya jejak dan tanda-tanda Tuhan lain. Ini berkaitan dengan penjelasan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib –yang juga menyertakan himbauan agar kita betul-betul memperhatikannya- bahwa seandainya terdapat Tuhan lain (selain Tuhan Yang Tunggal), tentu Dia juga akan mengutus para Nabi dan menunjukkan jejak serta tanda-tanda kekuasaannya. Anggapan adanya dua bentuk kekuatan (Tuhan) tersebut juga meniscayakan keterbatasan eksistensial masing-masing, yang karenanya menjadikan keduanya sebagai “bukan Tuhan”.

Menurut Yusuf Musa dalam Al-Qur’an wa al-Falsafah, keyakinan kaum Muslim kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana dan maha-maha lainnya merupakan akidah Islamiyah tentang ketuhanan. Akidah ini menjelaskan bahwa Allah adalah Pencipta yang tidak memiliki awal dan akhir.[5]

Berbeda dengan Yusuf Musa, Abu Al ‘Ainain dalam Falsafah al Tarbiyah al Islamiyah fi Al-Qur’an Al Karim berpendapat bahwa keimanan kepada Allah merupakan pondasi segala sesuatu. Keimanan itu terkumpul dalam kalimah al aqidah al Islamiyah yang juga sering kita kenal dengan kalimat tauhid, yaitu La Ilaha Illa Allah Muhammad Ar Rasul Allah. Ucapan ini secara esensi mengandung dua keyakinan, uluhiyyah dan nubuwwah.

Uluhiyyah berarti keyakinan hanya Allah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, dan nubuwwah artinya meyakini kebenaran risalah Muhammad.

2. Eksistensi Tuhan.

Untuk mengawali diskursus ini, mari sejenak kita kembali kepada firman Allah:

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: ‘siapakah yang menjadikan matahari dan bumu dan menundukkan matahagri dan bulan?’ tentu mereka akan menjawab: ‘Allah’, maka betapa mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar)”. (QS. Al Ankabut: 61).

“Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka ‘siapakah yang menurunkan air dari langit, lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?’ tentu mereka akan menjawab: ‘Allah’ ; katakanlah: ‘segala puji bagi Allah,’ tetapi kebanyakan mereka tidak memahami (nya)”. (QS. Al Ankabut: 63).

Fuad Hasyem menggunakan dua ayat tersebut untuk menginformasikan kepada kita bahwa masyarakat Arab praIslam telah mengenal Tuhan dengan sebutan Allah. Dia kemudian menjelaskan:

Kata “Allah” juga digunakan untuk sumpah (QS. 35: 42), serta mengatasnamakan berbagai tabu kepada-Nya (QS. 6: 139) dan seterusnya. Selain itu, nama Ayah Muhammad sendiri adalah ‘Abd Allah, atau abdi Allah. Sejumlah prasasti dan syair jahiliah juga menyebut-nyebut “Tuhan Ka’bah”.

Sekali pun demikian, pengertian kata “Allah” sebagai pencipta punya pengertian kabur, keesaannya samar-samar dan selalu mempunyai makna konkret, sesuatu yang dapat dipegang dan bukan monoteisme dalam arti sejati.[6]

Setidaknya ada tiga hal yang perlu diingat manusia –kata Fazlur Rahman- untuk memahami eksistensi Tuhan, yaitu:

1. Segala sesuatu selain Tuhan, termasuk alam semesta, senantiasa bergantung kepada Tuhan.

2. Tuhan Yang Maha Besar dan Perkasa pada dasarnya adalah Tuhan Yang Maha Pengasih.

3. Hal-hal ini sudah barang tentu mensyaratkan adanya hubungan yang tepat antara Tuhan dan manusia, yaitu hubungan antara yang diper-Tuan dengan hamba-Nya, yang konsekuensinya melahirkan hubungan manusia dengan manusia.[7]

3. Argumen-Argumen Adanya Tuhan.

Ketika di awal bab makalah ini, kita sudah sedikit menyinggung tentang argument adanya Tuhan di alam semesta ini, maka dalam pembahasan lebih lanjut akan dipaparkan beberapa pendapat para tokoh mengenai Tuhan.

Yusuf Musa sebagaimana dikutip oleh Toto Suharto menjelaskan bahwa Filosof Islam Al Kindi mempunyai konsep dalil al huduts yang mengemukakan bahwa alam semesta ini, betapapun luasnya adalah terbatas. Oleh karena itu, alam yang terbatas ini tidak mungkin bersifat azali (tidak mempunyai awal). Ia memang mempunyai titik awal dalam waktu, dan materi yang melekat padanya juga terbatas oleh gerak dan waktu. Jika materi, gerak, dan waktu dari ala mini terbatas, berarti alam semesta ini baru (huduts). Segala sesuatu yang baru, pastilah dicipta (muhdats). Oleh karena itu, mengatakan bahwa ala mini baru berarti sama dengan mengatakan alam ini dicipta. Kalau al mini dicipta. Maka memunculkan adanya pencipta. Itulah Tuhan sebagai sebab pertama.

Selain Al Kindi, Filosof Islam lain yaitu Ibnu Sina memberikan argument tentang Tuhan melalui dalil jawaz (kemungkinan). Beliau membagi wujud ke dalam tiga kategori: wujud niscaya (wajib al wujud), wujud mungkin (mumkin al wujud), dan wujud mustahil (mumtani’al wujud). Wujud niscaya adalah wujud yang senantiasa harus ada, dan tidak boleh tidak ada. Wujud mungkin adalah wujud yang boleh saja ada atau tiada, sedangkan wujud mustahil adalah yang keberadaannya tidak terbayangkan oleh akal. Alam ini adalah wujud yang boleh ada dan boleh tidak ada, maka alam bukan wujud niscaya. Namun, karena alam juga boleh tidak ada, maka ia dapat juga disebut wujud mustahil. Akan tetapi, nyatanya ala mini ada, maka ia dipastikan sebagai wujud yang mungkin. Tema “mungkin” menurut Ibnu Shina adalah potensial, kebalikan dari actual. Dengan mengatakan bahwa alam ini mungkin pada dirinya, berarti sifat dasar ala mini adalah potensial, boleh ada, dan tidak bisa mengada dengan sendirinya. Karena ala mini potensial, ia tidak mungkin ada (mewujud) tanpa adanya sesuatu yang telah actual, yang telah mengubahnya dari potensial menjadi actual. Sesuatu yang actual yang telah mengubah alam potensial menjadi aktualitas, itulah Tuhan Yang Wujud Niscaya. Hal ini masih menurut Yusuf Musa sebagaimana dikutip M. Quraisy Shihab dalam wawasan Al Qur’an.

Beda dengandua argumen tokoh di atas, Ibnu Rusyd terkenal dengan konsep atau dalil inyahnya. Dengan pemikiran logis-spekulatifnya, ia berpendapat bahwa perlengkapan (fasilitas) yang ada di ala mini diciptakan untuk kepentingan manusia. Ini berarti merupakan bukti adanya Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Melalui “rahmat” yang ada di ala mini, membuktikan bahwa Tuhan itu ada. Selain itu, penciptaan alam yang menakjubkan, seperti adanya kehidupan organic, persepsi inderawi, dan pengenalan intelektual, merupakan bukti lain adanya Tuhan melalui konsep penciptaan keserasian. Penciptaan ini secara rasional bukanlah suatu kebetulan, tetapiharuslah dirancang oleh agen yang dengan sengaja dan bijaksana, melakukannya dengan tujuan tertentu.

4. Implikasi Konsep Tuhan bagi Filsafat Pendidikan Islam.

Menurut Toto Suharto, dampak atau implikasi dari beberapa pandangan tentang Tuhan di atas antara lain:

a. Allah sebagai Pencipta hendaknya dikenal, diketahui, dan diyakini manusia melalui tanda-tanda kekuasan-Nya. Eksistensi Tuhan ini harus dipahami sebagai tujuan utama pendidikan Islam. Ini merupakan unsur iman (akidah) dalam Filsafat Pendidikan Islam.

b. Allah sebagai Rabb mengandung arti bahwa Allah adalah Pengatur dan Pemelihara alam semesta ini. Allah sebagai rabb telah menentukan beberapa aturan (sunnatullah) yang perlu diperhatikan manusia. Manusia tunduk terhadap aturan-aturan ini, dan wajib mengikutinya dalam kehidupan sehari-hari. Ini merupakan unsur Islalam (syariat) dalam Filsafat pendidikan Islam.

c. Allah sebagai Pencipta memiliki beberapa sifat yang disebut al asma’ al khusna. Sifat-sifat ini hendaknya dapat ditransformasikan dalam dunia pendidikan islam, dalam rangka mewujudkan manusia sebagai khalifah yang bertugas mengemban amanat Allah di bumi. Sifat-sifat ini telah dimanifestasikan sedemikian rupa dalam kehidupan sehari-hari. Ini merupakan unsur ikhsan (akhlak) dalam Filsafat Pendidikan Islam.

d. Filsafat Pendidikan Islam mengandaikan keterbatasan manusia sebagai makhluk. Keterbatasan ini mengindikasikan adanya tujuan jangka pendek dan jangka panjang bagi pendidikan Islam.

e. Filsafat Pendidikan Islam mengasumsikan bahwa manusia sebagai wujud mungkin memiliki beberapa potensi yang kemudian dikembangkan oleh pendidikan Islam sehingga menjadi actual, yang bermanfaat bagi kehidupannya.

f. Filsafat Pendidikan Islam memformulasikan bahwa alamsemesta dirancang oleh Allahsebagai fasilitas hidup bagi kehidupan manusia. Fasilita ini harus dikembangkan melalui kreasi dan kreatifitas, sehingga memunculkan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar manusia mampu merancang hidupnya.

B. Manusia dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam

1. Hakikat Manusia.

Siapakah manusia? Untuk menjawab pertanyaan ini, Al-Syaibany menyebutkan delapan prinsip:

a. Manusia adalah makhluk yang paling mulia di alam ini. allah telah memberinya keistimewaan-keistimewaan yang menyebabkan ia berhak mengungguli makhluk lain.

b. Kemuliaan manusia atas makhluk lain adalah karena manusia diangkat menjadi khalifah Allah yang bertugas memakmurkan bumi atas dasar ketakwaan.

c. Manusia adalah makhluk berpikir yang menggunakan bahasa sebagai media.

d. Manusia adalah makhluk tiga dimensi seperti segi tiga sama kaki, yang terdiri dari tubuh, akal, dan ruh.

e. Pertumbuhan dan perkembangan manusia dipengaruhi oleh factor keturunan dan lingkungan.

f. Manusia mempunyai motivasi dan kebutuhan.

g. Manusia sebagai individu berbeda dengan manusia lainnya, karena pengaruh factor keturunan dan lingkungan.

h. Manusia mempunyai sifat luwes dan selalu berubah melalui proses pendidikan

a. Proses Penciptaan Manusia.

Musa Asy’arie menyebutkan empat tahap proses penciptaan manusia, yatiu:

1) Tahap Jasad

Al Qur’an menjelaskan bahwa permulaan penciptaan manusia dari turab (tanah), yaitu tanah berdebu. Terkadang juga disebut dengan istilah tin dan juga tsulalah. Penciptaan ini dari tanah ini bermakna simbolik, yaitu sari pati yang membentuk tumbuhan atau binatang yang kemudian menjadi makanan manusia.

2) Tahap Hayat

Awal mula kehidupan manusia menurut Al Qur’an adalah air, sebagaimana kehidupan tumbuhan dan binatang. Maksud air di sini adalah sperma yang kemudian membuahi sel telur yang ada dalam rahim perempuan.

3) Tahap Ruh

Adanya proses peniupan ruh yang ditiupkan Tuhan dalam diri manusia dan kemudian diiringi dengan pendengaran, penglihatan, dan hati merupakan bukti bahwa yang menjadi pimpinan dalam diri manusia adalah ruh.

4) Tahap Nafs

Kata nafs dalam Al Qur’an mempunyai empat pengertian, yaitu nafsu, napas, jiwa, dan diri (keakuan). Diri (keakuan) adalah kesatuan dinamis dari jasad, hayat, dan ruh.

b. Tujuan Hidup Manusia

Al Qur’an menyebutkan dengan jelas bahwa Allah menciptakan manusia tidak lain adalah untuk mengabdi kepada-Nya (QS. Al Dzariyat: 56). Pengabdian ini membawa implikasi pada ketaatan atas segala yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apapun yang dilarang-Nya. Kita sering menyebutkan dengan istilah takwa. Ketakwaan inilah yang akan membawa manusia pada norma-norma etis yang mengatur hubungan antara manusia dengan Allah, antar sesama manusia, dan hubungan manusia terhadap alam semesta. Ketika sudah memahami hal ini, manusia layak untuk mengemban amanat sebagai khalifatullah fi al ardhi sebagaimana Allah telah memberikan amanat ini selain aktivitas keabdian atau penghambaan.

2. Potensi Manusia

Sejarah menunjukkan bahwa kemuliaan manusia dibandingkan makhluk lain disebabkan oleh penganugerahan potensi dalam diri mereka oleh Tuhan yang tidak sematkan pada makhluk lain.[8] Sangat logis ketika potensi tersebut berimplikasi pada ketinggian derajat kita sebagai makhluk-Nya. Namun, tidak jarang dari kita yang kurang menyadari kemampuan bawaan ini. Lalu apa yang kita andalkan untuk berkompetisi jika potensi fitrah yang sejak lahir melekat tidak mampu digunakan dengan sebaik-baiknya? Apakah kita mampu menjalankan kewajiban sebgai abd Allah, lebih-lebih khalifat Allah?

Dewasa ini, banyak referensi yang menjelaskan tentang bagaiamana mengenali potensi yang terpendam dalam diri. Silahkan pergi ke toko buku, baca, dan kenalilah potensi Anda!

AL Qur’an telah mengenalkan dua kata kunci kepada kita untuk memahami manusia secara komprehensif.[9] Kedua kata kunci tersebut adalah kata insan dan al basyar. Abuddin Nata menjelaskan bahwa kata insan yang bentuk jamaknya al nash dari segi semantik atau ilmu akar kata, adapat dilihat dari akar kata anasa yang mempunyai arti melihat, mengetahui, dan minta izin. Musa Asy’ari sebagaimana dikutip oleh alumni Instiute of Islamic Studies McGill University ini kemudian menyimpulkan bahwa atas dasar ini, kata tersebut mengandung petunjuk adanya kaitan substansial antara manusia dengan kemampuan penalaran. Yakni, dengan penalarannya itu manusia dapat mengambil pelajaran dari apa yang dilihatnya, ia dapat pula mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, dan terdorong untuk minta izin menggunakan sesuatu yang bukan miliknya.

Jika kata insan dilihat dari asalnya nasiya yang artinyalupa, menunjukkan adanya kaitan erat antara manusia dengan kesadaran diri. Apabila dari kata al uns atau anisa, dapat berarti jinak. Dengan emikian, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang jinak, dapat menyesuaikan diri dengan realitas hidup dan lingkungan yang ada. Amnesia memiliki kemampuan yang tinggi untuk beradaptasi dengan perubahan yang terjadi dalam kehidupannya, baik perubahan sosial maupun alamiah. Manusia menghargai tata aturan etik, sopan santun, dan sebagai makhluk yang berbudaya. Manusia tidak liar baik secara social maupun alamiah.[10]

3. Filsafat Pendidikan Islam tentang Pengembangan Potensi Manusia

Manusia tidak bisa hidup sendiri. Faktor lingkungan menjadi dominan dalam membentuk karakter dan perkembangan mereka. Di sinilah arti penting pendidikan dalam upaya membantu manusia untuk menumbuh-kembangkan potensinya di tengah-tengah lingkungan masyarakat.

Dalam bahasa Toto Sudarto; Pendidikan pada hakikatnya bermaksud menyelamatkan dunia dari kehancuran yang tidak wajar.[11] Pendidikan Islam senantiasa bertujuan menimbulkan pertumbuhan yang seimbang dari kepribadian total manusia melalui latihan spiritual, intelek, rasional diri, perasaan dan kepekaan tubuh baik secara kolektif maupun individu untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan hidup.

kata basyar dalam Al Qur’an –menurut As-Syati-seluruhnya memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan kata tersebut adalahanak Adam yang biasa makan dan berjalan di pasar-pasar, dan di dalam pasar itu mereka saling bertemu atas dasar persamaan.

C. Alam dalam Tinjauan Filsafat Pendidikan Islam

1. Hakikat Alam

Al Jurjani dalam kitab al Ta’rifat mendevinisikan alam secara bahasa yaitu segala sesuatu yang menjadi tanda bagi suatu perkara sehingga dapat dikenali. Adapun menurut terminologi alam berarti sesuatu yang maujud selain Allah, yang dengan ini Allah dapat dikenali, baik dari segi nama maupun sifat-Nya.

Orang Arab (seperti paparan Muhammad Abduh) sepakat bahwa kata alamin (bentuk jama’ dari alam) tidak digunakan untuk merujuk pada sesuatu yang ada seperti alam batu dan tanah. Akan tetapi, mereka memakai alamin untuk merujuk kepada setiap makhluk tuhan yang berakal, seeprti alam manusia, hewan, dan tumbuhan.

2. Kedudukan Alam

Alam semesta terjalin erat dan bekerja dengan regularitasnya, sehingga pantas kalau ia dikatakan sebagai keajaiban Allah. Selain Allah, tak ada sesuatu apapun yang dapat membangun alam yang serbaluas dan kokoh ini. di sini lah letak dan posisi alam semesta sebagai keajaiban Allah.[12]

Sudah jelas di dalam Al Qur’an yang menerangkan kedudukan alam sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya. Mahdi Al-Ghulsyani dalam The Holi Quran and the Sciences of Nature, mengklasifikasikan alam dalam delapan kategori:

1. Ayat-ayat Al Qur’an yang menggambarkan elemen-elemen pokok alam semesta dan menyuruh manusia untuk menyingkapnya.

2. Ayat-ayat Al Qur’an yang mencakup masalah cara penciptaan alam semesta dan menyuruh manusia untuk menyingkap asal-usulnya.

3. Ayat-ayat Al-Qur’an yang menyuruh manusia untuk menyingkap bagaimana ala mini berwujud.

4. Ayat-ayat Al Qur’an yang menyuruh manusia mempelajari fenomena alam.

5. Ayat-ayat Al Qur’an yang menunjukkan bahwa Allah bersumpah atas berbagai macam objek alam.

6. Ayat-ayat Al Qur’an yang merujuk kepada kemungkinan terjadinya beberapa fenomena alam.

7. Ayat-ayat Al Qur’an yang menekankan pada kelangsungan dan keteraturan penciptaan alam semesta oleh Allah.

8. Ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan keharmonisan keberadaan manusia dengan alam semesta, dan ketundukan apa yang ada di langit dan di bumi kepada manusia.

3. Prinsip-Prinsip filsafat Pendidikan Islam tentang Alam

Prinsip-prinsip Filsafat Pendidikan Islam tentang alam mencakup sepuluh hal:

a. Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa pendidikan Islam sebagai proses pembentukan pengalaman dan perubahan tingkah laku, baik individu maupun masyarakat, hanya akan berhasil jika terjadi interaksi antara peserta didik dengan benda dan lingkungan alam sekitar tempat mereka hidup.

b. Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa alam semesta atau universe, baik materi maupun bukan, memiliki hukumnya sendiri-sendiri. Hal ini perlu diteliti dalam pendidikan Islam agar peserta didik mampu mengenali hukum-hukum yang mengendalikan alam semesta ini, sehingga memiliki keteraturan dan keharmonisan dalam kehidupannya.

c. Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa alam semesta yang terbagi dalam dua kategori: alam benda dan alam ruh, harus dipandang sebagai satu kesatuan yang sulit dipisahkan.

d. Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa alam semesta dengan segala manifestasi, elemen-elemen dan unsur-unsurnya itu berubah dan selalu bergerfak sesuai hukum dan tujuan yang telah digariskan Penciptanya.

e. Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa alam semesta yang berjalan dengan teratur itu harus dipahami sebagai suatu keajaiban dan keagungan Sang Pencipta. Pendidikan Islam harus dapat menunjukkan keajaiban dan keagungan ini.

f. Filsafat Pendidikan Islam meskipun percaya adanya hubungan kausal (sebab-akibat), akan tetapi ia terjadi secara mutlak. Tuhan adalah sebab hakiki yang tidak memiliki sebab.

g. Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa alam bukanlah musuh manusia, dan bukan penghalang bagi kemajuan manusia. Pendidikan Islam dapat diarahkan untuk member pemahaman kepada anak didik bagaimana mengelola and memanfaatkan alam.

h. Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa seluruh isi alam bersifat baru. Hanya Allah lah yang kekal dan abadi.

i. Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa kekekalan dan keabadian Allah sebagai pencipta merupakan hal yang keliuar dan bebas dari hukum alam.

j. Filsafat Pendidikan Islam percaya bahwa Allah adalah sumber alam semesta.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, maka kami menyimpulkan:

1. keimanan kepada Allah merupakan pondasi segala sesuatu. Keimanan itu terkumpul dalam kalimah al aqidah al Islamiyah yang juga sering kita kenal dengan kalimat tauhid, yaitu La Ilaha Illa Allah Muhammad Ar Rasul Allah.

2. Masyarakat Arab praIslam telah mengenal Tuhan dengan sebutan Allah, meskipun konsep ketuhanan mereka beraneka ragam.

3. Manusia adalah makhluk yang paling mulia di alam ini, karena manusia diangkat menjadi khalifah Allah yang bertugas memakmurkan bumi atas dasar ketakwaan.

4. Alam semesta adalah salah satu tanda kebesaran Allah yang perlu dikaji dan disingkap misterinya.

5. Filsafat Pendidikan Islam setidaknya mempunyai sepuluh prinsip tentagng alam sebagaimana tersebut dalam bab dua makalah ini.

B. Kata Penutup

Demikian makalah ini kami nuat. Keterbatasan referensi dan waktu, menjadikan pembahasan yang tersusun jauh dari sempurna dan masih perlu banyak koreksi.

Mohon maaf apabila kutipan-kutipan yang kami ambil memberi kesan plagiat, karena memang itulah kemampuan kami. Saran kritik selalu diharapkan. Terima kasih


[1] Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Jogjakarta: Ar-Ruzz,2006), hlm. 68.

[2] Ibid., hlm. 68-69.

[3] Muhsin Qiraati, Membangun Agama, (Bogor: Cahaya, 2004), cet. 1, hlm. 32.

[4] Ibid., hlm. 39.

[5] Yusuf Musa dalam Toto Suharto, Filsafat Pendidikan Islam, (Jogjakarta: Ar-Ruzz,2006), hlm. 71-72.

[6] Fuad Hasyem, Sirah Muhammad Rasulullah; Kurun Makkah Suatu Penafsiran Baru, (Jakarta: Tama Publisher, 2005), Cet. 1. Hlm. 148.

[7] Toto Suharto, op. cit., hlm. 74.

[8] Lihat QS. Al Baqarah: 30-34 tentang titah manusia sebagai khalifah.

[9] Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Ciputat: PT logos Wacana Ilmu, 2001), cet. IV, hlm. 29.

[10] Musa Asy’ari dalam Abuddin Nata Filsafat Pendidikan Islam, (Ciputat: PT logos Wacana Ilmu, 2001), cet. IV, hlm. 29-30.

[11] Toto Suharto, op. cit., hlm. 94.

[12] Pendapat Fazlur Rahman ini dikutip Toto Sudarto dalam Filasafat Pendidikan Islam.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.197 pengikut lainnya.