SANG DEWA PENOLONG ITU SEORANG NASRANI
Oleh: Ahmad Saefudin
Suatu hari, saya dan beberapa teman yang sudah berpredikat “ustadz” –karena mereka mengampu materi pembelajaran di salah satu pesantren- berencana menggelar pertemuan yang pada intinya akan membahas kemaslahatan kelembagaan. Secara kebetulan, tempat yang dipilih sebagai pelaksanaan terletak jauh dari lingkungan pesantren, yakni di daerah pesisir pantai –sekaligus itung-itung refresh-.
Pengalaman menarik justru datang saat pemberangkatan menuju lokasi. Dengan bersepeda motor, kita berangkat rame-rame. Ada yang sendirian, juga tidak sedikit yang berboncengan. Awal kisah, sebagai substansi dari apa yang akan menjadi topik pembicaraan saya, bermula dari kejadian naas yang menimpa salah satu dari rombongan. Teman saya mengalami kecelakaan sebab human error. Perjalanan harus terhenti sejenak untuk memberikan pertolongan kepadanya. Ternyata, luka yang diderita cukup parah sehingga dia harus segera dipulangkan untuk mendapatkan perawatan.
Karena Tempat Kejadian Perkara (TKP) berada di kampung sebelah, kita pun bingung, bagaimana dia bisa pulang, sementara efek dari luka itu memaksanya tidak kuat membonceng. Apalagi mengendarai motor sendiri. Kebingungan kita terjawab setelah ada “Dewa Penolong” yang mau dengan tulus berkorban. “Dewa Penolong” itu telah sudi menggadaikan waktunya yang sangat berharga. Padahal ketika itu, dia sedang menyelesaikan pekerjaan sebagai “tukang kayu” di rumahnya. Pengorbanannya bertambah dengan meminjamkan mobil yang dalam kesehariannya digunakan untuk mendistribusikan “kayu” hasil pekerjaannya. Artinya, untuk sementara, dia merelakan barang dagangannya tidak sampai ke tangan pembeli. Sikap “belas kasih”nya semakin kentara, karena dari hati yang paling dalam, dia menawarkan diri sebagai “sopir” yang akan mengantarkan shohibul musibah –yang tidak lain adalah teman saya yang ustadz itu- sampai rumah. Saya berperan sebagai penunjuk jalan. Tidak lebih. Supaya tidak tersesat.
Setelah tiba di rumah, orang tua dari shohibul musibah menitipkan uang kepada saya untuk diberikan kepada Sang Dewa Penolong sebagai isyarat balas budi. Namun, dengan bahasa yang sangat sopan, dia berkali-kali menolak. “Bukan apa-apa,” katanya, “Saya menolong karena panggilan kemanusiaan.” Mendengar alasan humanis tadi, saya pun berhenti memaksa dan mengembalikan uang titipan itu kepada yang berhak. Sambil berlalu, saya hanya bisa berucap terima kasih atas kebaikannya. Baca Selengkapnya …




