Arsip | ke-PMII-an RSS feed for this section

SANG “DEWA PENOLONG” ITU SEORANG NASRANI

14 Jun

SANG DEWA PENOLONG ITU SEORANG NASRANI
Oleh: Ahmad Saefudin

Suatu hari, saya dan beberapa teman yang sudah berpredikat “ustadz” –karena mereka mengampu materi pembelajaran di salah satu pesantren- berencana menggelar pertemuan yang pada intinya akan membahas kemaslahatan kelembagaan. Secara kebetulan, tempat yang dipilih sebagai pelaksanaan terletak jauh dari lingkungan pesantren, yakni di daerah pesisir pantai –sekaligus itung-itung refresh-.

Pengalaman menarik justru datang saat pemberangkatan menuju lokasi. Dengan bersepeda motor, kita berangkat rame-rame. Ada yang sendirian, juga tidak sedikit yang berboncengan. Awal kisah, sebagai substansi dari apa yang akan menjadi topik pembicaraan saya, bermula dari kejadian naas yang menimpa salah satu dari rombongan. Teman saya mengalami kecelakaan sebab human error. Perjalanan harus terhenti sejenak untuk memberikan pertolongan kepadanya. Ternyata, luka yang diderita cukup parah sehingga dia harus segera dipulangkan untuk mendapatkan perawatan.

Karena Tempat Kejadian Perkara (TKP) berada di kampung sebelah, kita pun bingung, bagaimana dia bisa pulang, sementara efek dari luka itu memaksanya tidak kuat membonceng. Apalagi mengendarai motor sendiri. Kebingungan kita terjawab setelah ada “Dewa Penolong” yang mau dengan tulus berkorban. “Dewa Penolong” itu telah sudi menggadaikan waktunya yang sangat berharga. Padahal ketika itu, dia sedang menyelesaikan pekerjaan sebagai “tukang kayu” di rumahnya. Pengorbanannya bertambah dengan meminjamkan mobil yang dalam kesehariannya digunakan untuk mendistribusikan “kayu” hasil pekerjaannya. Artinya, untuk sementara, dia merelakan barang dagangannya tidak sampai ke tangan pembeli. Sikap “belas kasih”nya semakin kentara, karena dari hati yang paling dalam, dia menawarkan diri sebagai “sopir” yang akan mengantarkan shohibul musibah –yang tidak lain adalah teman saya yang ustadz itu- sampai rumah. Saya berperan sebagai penunjuk jalan. Tidak lebih. Supaya tidak tersesat.

Setelah tiba di rumah, orang tua dari shohibul musibah menitipkan uang kepada saya untuk diberikan kepada Sang Dewa Penolong sebagai isyarat balas budi. Namun, dengan bahasa yang sangat sopan, dia berkali-kali menolak. “Bukan apa-apa,” katanya, “Saya menolong karena panggilan kemanusiaan.” Mendengar alasan humanis tadi, saya pun berhenti memaksa dan mengembalikan uang titipan itu kepada yang berhak. Sambil berlalu, saya hanya bisa berucap terima kasih atas kebaikannya. Baca Selengkapnya …

AL-’URFU ; SUATU DAKWAH BUDAYA ( Kajian Atas Tradisi Perjamuan Tahlilan)

12 Jun

AL-’URFU ; SUATU  DAKWAH BUDAYA

( Kajian Atas Tradisi Perjamuan Tahlilan)

Oleh : Abdul Wahab Saleem

 

DOSEN INISNU JEPARA

DOSEN INISNU JEPARA

I. ANCANG – ANCANG

Dalam kajian keislaman, ‘urf  atau dalam bahasa sederhananya adalah tradisi yang sudah sangat familiar di kalangan masyarakat karena telah dilakukan secara berulan-ulang menjadi salah satu bagian konsentrasi kajian yang sangat penting, karena ‘urf  merupakan salah satu hujjah yang memiliki pengaruh besar terhadap proses penerapan standar baku rumusan fiqh. Para fuqaha secara umum pasti menerima keberadaannya.

Penerapan ‘urf  ini didasarkan pada suatu kondisi dimana secara global terdapat suatu aturan atau tuntunan syara’, sementara secara terminologis belum ditemukan rumusan maupun batasan bakunya, maka penentuan standar bakunya adalah dikembalikan pada ‘urf , dengan catatan bahwa ‘urf  tersebut sarat dengan maslahah, berlaku stabil dan berkesinambungan, telah banyak dan lumrah dilakukan, telah terbentuk saat tindakan hokum dilakukan, serta tidak berlawanan atau bertentangan dengan nash-nash syar’i.

Kemudian tradisi perjamuan tahlilan merupakan sebuah realitas sejarah dan juga merupakan tradisi yang telah dilakukan secara turun temurun, yang dalam kaitannya dengan kajian ‘urf  ini ternyata tradisi perjamuan tahlilan termasuk dalam kategori ‘urf shahih, amm, dan sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama, bahkan secara esensial tradisi ini merupakan pengejawantahan dari tuntunan dan ajaran Rasulullah, serta didalamnya terdapat berbagai macam nuansa ibadah dan nilai-nilai maslahah, serta disamping sebagai penghibur, pelipur lara serta pengobat duka bagi ahli musibah, tradisi ini juga  sangat potensial untuk dijadikan sarana memperkuat tali silaturrahmi dan memperkokoh ukhuwwah Islamiyyah, ukhuwwah wathaniyyah, dan ukhuwwah basyariyyah.

Pendekatan yang penulis pakai dalam mengkaji masalah ini adalah pendekatan callange and response (tantangan dan tanggapan)[1] dimana didalamnya terdapat kubu yang menolak atau melarang tradisi perjamuan tahlilan akan tetapi juaga terdapat kubu yang menerima, menganjurkan serta mengembangkan tradisi tersebut –termasuk penulis-.

Oleh para –yang mengaku- “pembaharu“ dan “modernis“, tradisi perjamuan tahlilan ini menjadi sasaran tembak yang sangat empuk untuk dihapuskan dari kegiatan dan rutinitas kaum muslimin, karena dianggap sesat dan merupakan bid’ah munkarah (mengada-ada dan tidak ada dasar agamanya) dengan berbagai alasan (ma’adzallah). Mereka lupa bahwa tradisi perjamuan tahlilan ini merupakan sebuah keberhasilan besar para pendakwah dan ulama dalam melakukan islamisasi di nusantara ini. Bahkan penulis menilai bahwa tradisi perjamuan tahlilan ini merupakan media dan sarana yang sangat strategis bagi pengembangan umat.

II. SEKILAS TENTANG AL-‘URFU Baca lebih lanjut …

DI BALIK BUKU “ANAK SEMUA BANGSA”; MAHA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

22 Mei

DI BALIK BUKU “ANAK SEMUA BANGSA”; MAHA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER

Oleh: Ahmad Saefudin

 

Sampai halaman 112. Mataku memicing lelah dan tiada henti mengatup. Mulut pun bersepakat menguap. Memerintahkan tangan yang bertindak refleks, meskipun sebenarnya enggan untuk menutup auman. Detak jarum jam yang menggantung di sebelah lukisan pemain sepak bola favoritku, -Cristiano Ronaldo-, tepat menunjukkan angka dua. Tiga jam. Yah! Sudah tiga jam. Kusibak lembaran “Anak Semua Bangsa” dari Pramoedya Ananta Toer. Dan diharuskan berhenti di halaman 112.

Curahan anganku mencoba menelusur baris demi baris yang terlewat. Goresan pena dari Sang Begawan Sastra itu bak mutiara, yang tak pernah kuperoleh di mana pun. Di pesantren. Di kampus. Di organisasi kemahasiswaan. Dari wejangan kyai. Ceramah ilmiah dosen. Tak pernah kuperoleh. Entah dengan kalian! Yang pernah nyantri dan menjadi mahasiswa. Apakah juga akan berpendapat sama dan mengamini komentarku.Anak Semua Bangsa

Sedikit akan kuceritakan, pengalamanku membaca “Anak Semua Bangsa”.

Tentang “cinta”, Pramoedya mengingatkan kepada setiap manusia yang sedang dilanda perasaan yang satu ini di halaman 2, “Dan bayang-bayang cinta itu bernama derita”. Cinta dan derita bagai sekeping simbol mata uang yang tidak bisa terpisah dan dipisahkan. Karena jika terpisah, kepingan “cinta” tiada bernilai lagi. Berani men”cinta” harus berani “menderita”.

“kemuliaan” juga tak luput dari kacamata Pram. “Kemuliaan” terasa aneh –bagi Pram- jika dilahirkan di atas kesengsaraan yang lain (Pramoedya, 57). Tidak patut bagi kita, mendamba kemuliaan dengan segala cara. Apalagi harus digadaikan dengan “kesengsaraan” manusia lain. Peringatan keras bagi kita. Pemerintah kita. Politisi kita. Penegak Hukum kita. Kyai kita. Akademisi kita. Budayawan kita. Saintis kita. Guru kita. Murid kita. Siapapun kita.

Dalam kalimat yang agak panjang, Pram berpendapat tentang dunia pendidikan, “Memalukan. Bukan itu saja. Sesungguhnya aku menjadi geram karena kesadaran yang tak berdaya. Semakin lama aku semakin bingung dengan riuhnya pikiran dan pendapat begitu banyak orang. Sekolahan tetap yang paling sederhana. Orang hanya mendengarkan dan percaya tak bercadang pada beberapa orang guru. Dan angka terbaik diberkatkan pada setiap murid yang jadi sebagaimana dikehendaki guru-gurunya.” Memang! Kita sering terombang-ambing oleh begitu banyak pendapat yang semuanya menyatakan “kebenaran”. Dan ketidakberdayaan melingkupi kesadaran kita. Bingung. Harus memilih “kebenaran” yang mana. Sebagai orang awam, kita sering menyandarkan “kebenaran” melalui sabda para guru. Apa yang dikatakan guru kita, itulah yang kita anut karena tidak mungkin salah. Dan guru pun semakin memuncak kewibawaannya, saat tidak ada satu kata pun yang diingkari murid-muridnya. Padahal, “kebenaran” yang datang dari pikiran manusia, bersifat nisbi, dinamis, dan bisa berubah ketika ada “kebenaran” baru yang datang. Guru pun bisa salah. Dan itu lumrah. Bukan sesuatu yang luar biasa, ketika guru kita salah. Salah itu wajar. Yang tidak wajar ialah menyembunyikan kebenaran. Baca lebih lanjut …

KAPAN BANGSA KITA KEMBALI “BANGKIT”?

20 Mei

KAPAN BANGSA KITA KEMBALI “BANGKIT”?

Oleh: Ahmad Saefudin

 

Momentum kebangkitan nasional yang kita seremonialkan setiap tanggal 20 Mei selalu memantik semangat heroisme melawan setiap bentuk “kepentingan” sektoral berbasis individu yang bersifat temporal-oportunistik. Konsepsi kesadaran “bangkit” secara kolektif tidak lepas dari peran kaum “tercerahkan” pada masa awal abad XX. Tinta emas telah mengukir catatan sejarah tokoh-tokoh kebangkitan nasional seperti Haji Samanhudi, Dr. Soetomo, Ir. Soekarno, Dr. Tjipto Mangunkusumo, Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang kemudian populer dengan sebutan Ki Hajar Dewantara, dr. Douwes Dekker dan tentunya masih banyak tokoh lain yang tidak sempat terrekam oleh para sejarawan. Wajar saja, karena dimensi sejarah, -mau tidak mau-, mesti tersekat oleh ruang, waktu, dan pengetahuan yang serba terbatas.bangkit

Lebih dari satu abad, gairah “kebangkitan” seolah tidak lekang oleh masa, terpatri kokoh dalam sanubari “wajah pribumi”, menggejala bagai virus yang menebarkan sindrom “satu rasa berbangsa” sehingga dunia pun mengakui bahwa bangsa kita adalah bangsa besar yang tidak mau tunduk kepada paham kolonialisme-imperialisme. Limpahan Sumber Daya Alam (SDA) –sebagaimana senandung Koes Plus dalam bait lagu-lagunya- mendidik kita untuk “bangga” terhadap Nusantara yang ditakdirkan Tuhan tidak dipunyai oleh negeri lain di luar sana. Pengalaman getir era penjajahan tak sepantasnya menjadikan kita terasing, minder, dan takut terhadap kaum imperialis. Nyatanya, kegigihan kaum “tercerahkan” yang lahir dari perut Bumi Pertiwi telah menghadiahkan kemerdekaan yang pada saat itu seolah mustahil. Mereka mengakhiri penderitaan permanen dengan tebusan darah, pengorbanan jiwa, dan pencurahan pikir dengan visi kebersamaan, tanpa balutan tendensi apapun, apalagi yang berorientasi pada kebutuhan kelompok tertentu. Baca lebih lanjut …

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANGGOTA BARU PMII; UPAYA MEMAKNAI PROSES KADERISASI

18 Mei

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN ANGGOTA BARU PMII; UPAYA MEMAKNAI PROSES KADERISASI

Oleh: Ahmad Saefudin*

Lama tidak menginjakkan kaki di forum Rapat Tahunan Anggota Rayon (RTAR) PMII, penulis terhenyak dengan “curhatan” elit struktural rayon yang tidak henti-hentinya menarasikan degradasi loyalitas kader PMII di level grass roots (baca: Anggota Baru PMII). Tolok ukur sederhana yang dipakai sebagai acuan, masih menurut elit striktural tersebut, ialah minimnya kuantitas anggota baru PMII yang berpartisipasi di dalam sakralitas forum RTAR. Bahkan, cerita ini berakhir dengan nada keputusasaan Sang Elit Struktural. Segala cara sudah ditempuh sebagai ikhtiar pendampingan proses kaderisasi terhadap tunas-tunas baru yang diharapkan terus tumbuh, namun hasilnya justru berbanding terbalik. Tunas-tunas itu kerdil, layu, dan terancam mati.

Inilah ihwal awal yang menginspirasi penulis menyelesaikan tulisan simpel ini. Jika pada akhirnya belum menjawab kegalauan Sang Elit Struktural, semoga saja cukup diletakkan sebagai tanggapan yang akan ditindaklanjuti oleh semua pihak yang masih peduli terhadap eksistensi kibaran “Panji Biru” pergerakan.

Memaknai “proses” dalam mengarungi dunia gerakan mahasiswa, wabil khusus ber-PMII, meniscayakan pemahaman yang berujung pada tempurung multiinterpretasi bagi setiap kader. Perspektif psikologi perkembangan kaderisasi, setidaknya setiap kader PMII akan mengalami tiga fase penting sebagai tahapan “proses” yang sulit terhindarkan. Baca lebih lanjut …

“JIHAD ILMIAH” DARI JEPARA-WONOSOBO-YOGJAKARTA

29 Apr

“JIHAD ILMIAH” DARI JEPARA-WONOSOBO-YOGJAKARTA

Oleh: Ahmad Saefudin[1]

Melelahkan. Satu kata yang mewakili remuk redam tubuh ini setelah melakukan, oleh apa yang diistilahkan Prof. Yudian Wahyudi sebagai, “jihad ilmiah” dari Jepara-Wonosobo-Yogjakarta. Agenda yang sempat tertunda selama 3 bulan tersebut (karena proposal pengajuan studi banding dari SMP Islam Terpadu Kholiliyah Wedelan Bangsri Jepara sudah diajukan bulan oktober 2012 silam ke SMP Takhassus Al-Qur’an Kalibeber Mojo Tengah Wonosobo, namun baru di acc april 2013) akhirnya terlaksana. Persiapan pemberangkatan dengan segala “tetek bengek”nya begitu menguras tenaga. Tak lama setelah bus yang membawa rombongan melaju, ekspektasi besar terpancar dari sorot mata setiap peserta didik. Entah apa yang mereka pikirkan sehingga tidak ada yang tidak tersenyum dan semuanya berwajah sumringah.

KH. Muchottob Hamzah (paling kiri) memberikan motivasi kepada Rombongan Jihad Ilmiah dari JeparaTema besar yang dibidik dalam even rutin tahunan kelembagaan ini ialah “Efektivitas Model Pembelajaran Takhassus Al-Qur’an”. Sejak tahun 2007, institusi pendidikan formal berbasis pesantren ini meneguhkan diri sebagai lembaga swasta yang concern dalam mencetak tunas-tunas bangsa yang cerdas, terampil, berahlak mulia dan berwawasan qurani ala ahlu al-sunnah wa al-jama’ah. Di bawah Yayasan Kholiliyah Bangsri yang menaungi beberapa lembaga seperti  Pondok Pesantren “Darut Ta’lim” Bangsri, Madrasah Diniyah, dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Islam Kholiliyah, secara integral SMP Islam Terpadu Kholiliyah menyelenggarakan pola pembelajaran yang berorientasi kepada penguatan “tafaqquh fi al-din dan tamassuk bi al-dien” sebagai ikhtiar pengembangan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Baca lebih lanjut …

KEGERSANGAN RASA

26 Apr

Oleh: Ahmad Saefudin

Angan mencumbu rayu
Letupan cita menyemburat mesra
Nikmat sunyi berseri-seri
Membunuh ruang menyapu waktu
Bergelut pasrah dalam ukiran
Bait-bait merdu penerjemah kalbu

Guratan pena
Menjejal lembar demi lembar cerita
Hati nan hampa
Mengadu biru
Bersama rintikan tirta berseling bayu
Dingin
Beku
Tidak dengan akalku
Berkelana
Menelusur kegersangan rasa

Ah…
Ini bukanlah nasib
Tapi pilihan
Ada dan tiada
Sama saja
Karya
Hanya karya
Penjawab semuanya

TOR PKD PMII KOMISARIAT RATU KALINYAMAT INISNU JEPARA TAHUN 2008

16 Apr

TOR PKD PMII KOMISARIAT RATU KALINYAMAT INISNU JEPARA TAHUN 2008

REFLEKSI PERILAKU KEBERAGAMAAN KADER PMII

16 Apr

REFLEKSI PERILAKU KEBERAGAMAAN

KADER PMII

Oleh: Ahmad Saefudin[1]

 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Menguak tema “keberagamaan” dalam tubuh organisasi mahasiswa Islam, sungguh bukan perkara mudah. Apalagi jika konklusi yang nanti tertelurkan menjadi refleksi kolektif sebagai gambaran umum yang kini terjadi. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) secara definitif membawa embel-embel Islam dalam wajah organisasi. Islamnya pun jelas, karena secara spesifik (tertuang dalam AD/ART) berhaluan ahlu as sunnah wal jamaah sebagai manhaj al fikr. Kemudian timbul pertanyaan besar; mengapa repot-repot membuang energi untuk merefleksikan keberagamaan (baca: keislaman) kita? Apakah PMII tersandung masalah dengan perilaku keberagamaan kader-kadernya sehingga perlu proses re(de)konstruksi? Apakah Gus Dur dengan pluralismenya, Asghar Ali Engineer dengan teologi pembebasannya, dan Hasan Hanafi dengan paradigma kritisnya belum cukup  (kalau tidak ingin menyebut pantas) dijadikan acuan gerak keberagamaan kita?

Tidak terpungkiri, tak sedikit kader PMII yang fasih berretorika tentang “agama”, tetapi seolah berhenti pada tataran kognisi tanpa manifestasi laku. Contoh kasus yang sering terjadi di PMII Jepara, ketika semalaman suntuk kita mengkaji manfaat sholat dari berbagai perspektif (psikologis, fisiologis, dan al-Qur’an), justru subuh kita berlalu begitu saja akibat kalah dengan mentari saat bangun pagi. Mengapa bisa terjadi? kasus lain, kita sering mengkritisi teks kitab kuning seperti uqud al-ijayn yang dianggap bias jender dan prakteknya sudah tidak relevan lagi dalam konteks Indonesia, namun (ketika kita dipaksa) membedakan mana yang fi’il  (kata benda) dan mana yang isim (kata benda) saja kita kelabakan. Ironis bukan?

 Untuk menelisik lebih detail, maka penulis mengangkat tema “Refleksi Perilaku Keberagamaan kader PMII”. Baca lebih lanjut …

PELATIHAN PEMBUATAN MAKALAH (EDISI REVISI)

30 Mar

PELATIHAN PEMBUATAN MAKALAH (EDISI REVISI)

Oleh: Ahmad Saefudin

BAB I

PENDAHULUAN

 A.    Latar Belakang

Tema kepenulisan ilmiah dewasa ini semakin santer terdengar di hadapan publik terutama dunia kampus pasca edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nomor 152/E/T/2012  tertanggal 27 Januari 2012 terkait kewajiban bagi mahasiswa S-1, S-2, dan S-3 untuk memublikasikan karya tulis ilmiahnya[1]. Para pakar dan praktisi pendidikan masih berpolemik, ada yang mendukung dengan dalih mengembangkan budaya akademik mahasiswa dan ada pula yang pesimis, resisten bahkan antipati.[2]

Tanpa menafikan polemik yang terjadi, kebijakan publikasi jurnal ilmiah semakin menegaskan urgensi karya tulis mahasiswa bagi pengembangan kompetensi akademik sehingga agen perubahan bisa tidak bisa, mau tidak mau, harus mulai fokus mematangkan keterampilan tulis tulis menulis. Tentunya, orientasi kepenulisan mahasiswa bukan hanya berlandaskan paksaan kebijakan pemerintah semata, melainkan lebih kepada tanggungjawab intelektual dan sosial mereka terhadap keberlangsungan mata rantai pengetahuan yang tidak boleh terputus. Dengan menulis, mahasiswa menjadi –oleh apa yang diistilahkan Soekarno sebagai- “penyambung lidah” cerdik cendekia yang secara berkesinambungan senantiasa melakukan transfer of knowledge sebagai cikal bakal peradaban sebuah bangsa.

Untuk ke sekian kalinya penulis[3] berkesempatan mendiskusikan topik tentang dunia kepenulisan. Lebih tepatnya mengenai “makalah”. Seringnya kajian ini dielaborasi, sekaligus membuktikan bahwa forum-forum semacam ini masih sangat dibutuhkan, terutama oleh mahasiswa yang akan, sedang, atau bahkan sudah sering bergelut dengan disiplin ilmu jurnalistik.

Menulis, perspektif ilmu kesehatan, menurut Pennebaker, dapat menyehatkan tubuh dan jiwa.[4] Fatima Mernissi, salah seorang penulis produktif  yang concern mengangkat issu jender, juga berpendapat bahwa menulis setiap hari dapat mengencangkan kulit wajah.[5] Sebagai landasan teologis, secara eksplisit Al Quran juga memotivasi para pembacanya untuk selalu membuka ruang pengetahuan dengan membaca dan menulis. Melalui firman-Nya; alladzii ‘allama bi al qalami (“Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam”)[6], Allah SWT telah memuliakan manusia dengan ilmu pengetahuan. Terkadang, meminjam istilahnya Ibnu Katsir[7], ilmu berada di dalam akal fikiran dan terkadang juga berada dalam lisan. Juga terkadang berada dalam tulisan. Lebih lanjut Ibnu Katsir mengutip perkataan sahabat dalam atsar mereka; “ikatlah ilmu itu dengan tulisan”.  

Prolog di atas tidak lain hanyalah sebagai penyulut spirit bagi kita supaya tidak pernah patah semangat, enggan, apalagi malas menulis.

Mengapa menulis? Lebih spesifik lagi, mengapa menulis makalah? Sering kali pertanyaan ini yang kemudian timbul.

Baca lebih lanjut …

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.197 pengikut lainnya.